
Semoga saja tentang sesuatu bernama bahagia, tidak hanya singgah sementara.
*****
"Ya udah sama Genta aja sono."
Resha tersenyum geli mendengar Genathan yang berkata demikian. Ia memang sedang menjahili pacarnya. Hari ini, Genathan mengajaknya ke supermarket untuk menemaninya membeli jajanan bulanan. Resha baru tahu fakta bahwa Genathan tidak tinggal bersama kedua orang tuanya, melainkan di rumah sederhana peninggalan neneknya.
Katanya, Genathan ingin belajar mandiri. Cowok itu mulai tinggal di rumah sendiri sejak kenaikan kelas sebelas. Terhitung hampir satu tahun.
"Dih cemburu lagi, ya? Jangan cemburu atuh, Kak," goda Resha geli. Kali ini sepertinya menggoda Genathan akan menjadi hobi nya.
"Cemburu kan tanda cinta. Nggak papa dong." Genathan menjawab dengan nada datar. Tangannya meraih beberapa makanan ringan di rak lalu memasukkannya ke dalam keranjang. Resha rasanya geli sendiri mendengar kekasihnya yang tengah cemburu tersebut, Genathan benar-benar begitu lucu saar sedang cemburu.
"Iya-iya, walau sama Kak Tata ditraktir nasi goreng, jalan-jalan sama Kek Gege kayak sekarang nggak kalah asik kok," lontar Resha berupaya menenangkan Genathan.
Genathan hanya berdehem tanpa menatap Resha. Cowok itu malah mendorong troli meninggalkan Resha begitu saja. Sedangkan Resha mendelik tak percaya.
"Kok gue ditinggal, sih?" gerutu Resha.
Selanjutnya, gadis itu berjalan cepat menghampiri pacarnya. Ingin berteriak memanggil, tapi malu kalau dilihat orang. Kesal karena cowok itu tidak berhenti menunggunya, akhirnya Resha berlari. Dengan tiba-tiba ia berhenti tepat di depan troli yang didorong Genathan.
Genathan spontan menghentikan langkahnya. Untung saja tidak sampai menabrak Resha yang kini ikut memegang trolinya. "Kenapa sih, Dek? Kalau tadi ketabrak gimana?" omel Genathan. Ia khawatir jika ia malah akan melukai kekasihnya tersebut.
"Ya lagian Kakak ninggalin aku, sih. Ulah pundung atuh, Kak," bujuk Resha.
"Iya-iya, nggak pundung." Genathan menjulurkan tangan mengacak gemas rambut gadisnya. Ia menyuruh Resha untuk mendekat ke samping, lalu menggenggan tangan mungil gadisnya dengan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya mendorong troli santai.
Resha tersenyum riang dalam genggaman Genathan. Ia merasakan kehangatan yang menjalar saat berada dalam kungkungan tangan besar cowok itu. Keduanya tanpa sadar menyita perhatian banyak orang, tapi mereka tidak ambil pusing. Biarkan orang-orang dengan asumsi mereka sendiri.
"Dek mau naik troli nggak? Biar kayak couple goals di novel novel," celetuk Genathan iseng.
"Kalau jatuh gimana, Kak? Takut ah. Nggak usah aneh-aneh," tolak Resha bergidik ngeri.
"Nggak bakal. Ya kali aku biarin kamu jatuh." Sejak Genathan mengubah sebutannya menjadi 'aku-kamu' Resha merasa semakin dekat dan nyaman. Meski debaran dan desiran itu masih saja sering menyapa.
"Res, ayoo sini aku dorong." Genathan menggoyangkan gengaman tangannya untuk menyadarkan Resha dari lamunannya.
"Kak ...," rengek Resha masih merasa takut.
"Nggak jatuh, Dek. Percaya deh sama Kakak." Genathan masih saja meyakinkan Resha. Resha memicingkan matanya sebelum menjawabnya dengan anggukan.
__ADS_1
"Kalau jatuh kita musuhan," cetus Resha galak.
Genathan tertawa geli mendengar nada galak dari gadisnya. "Iyaa, duh jadi gemes.” Genathan menjulurkan tangan untuk mencubit pipi Resha hingga melar. Resha menggelengkan kepalanya dan meronta meminta tangan Genathan lepas dari pipinya.
Setelah omelan kecil dari Resha, gadis itu akhirnya melangkah ke depan troli. Ia mengambil dulu makanan ringan yang ada di sana, turut dibantu oleh Genathan. Untung saja, makanan yang diambil belum terlalu banyak. Troli belanja di sini juga terhitung besar.
Setelah troli belanja bersih dari jajanan, pelan-pelan Resha mencoha masuk ke dalamnya. Jajanan yang sempat diambil, mereka letakkan di lantai begitu saja. Genathan fokus membantu Resha naik ke dalam troli. Usai berhasil masuk, Resha bertepuk tangan riang. Sedangkan Genathan tertawa geli.
Satu tangan cowok itu tetap memegang troli dan tangan yang satunya lagi ia gunakan untuk memungut jajanan yang ia letakkan di lantai.
"Pegangin jajannya, ya, Res," pinta Genathan yang mendapat anggukan dari Resha. Usai berkutat dengan jajanan, mereka melanjutkan perjalanan lagi. Dengan Genathan mendorong troli, dan Resha di dalamnya.
Seulas senyum tidak luput dari kedua insan yang tengah kasmaran itu.Ia benar-benar senang sekarang, tak menyangka jika yang awalnya ia pikir jika ini semua hanya akan menjadi mimpi untuknya.
"Sama Genta nggak kayak gini 'kan?" ujar Genathan menyombongkan. Sepertinya laki-laki tersebut masih merasa cemburu pada Gentala membuatnya Resha gemas pada kekasihnya tersebut.
"Iyaa, Kak Gege. Sama Kakak emang paling uwu. Udah, nggak usah bawa Kak Tata, nanti kesandung-sandung."
Genathan tertawa mendengar kalimat Resha. Setelahnya mereka lanjut membeli jajan dengan tawa yang turut serta menghiasi mereka.
Semoga saja bahagia ini tidak bersifat sementara.
***
"Wih, Pak Bos dah dateng, nih."
Suara itu membuat tubuh Genathan seolah membeku. Resha tak kalah terkejutnya meski baru mendengarnya sekali di rumah sakit. Mereka kompak berbalik, menemukan gadis cantik dalam balutan jeans dan sweater tengah tersenyum.
"Loh—"
"Long time no see, Ge. Miss me?" lontarnya memotong ucapan Genathan. Senyuman lebar menghiasi wajah tersebut, berbeda dengan wajah tegang Genathan juga Resha yang memilih mengatupkan bibir rapat-rapat, walau tanpa alasan yang pasti ia justru merasa takut.
"Naresha, ya? Wah congrats ya udah official sama Bos Bentala, nih. Thanks udah nemenin Gege waktu gue nggak ada di samping dia. Tapi, sekarang gue udah balik, nih,” ucap gadis tersebut dengan tawanya. Resha hanya diam, ucapan tersebut seolah mengatakan jika tugasnya menjaga Genathan sudah selesai. Resha jadi penasaran apa sebenarnya mau gadis tersebut, bukankah dulu ia yang mendukung Resha bersama Genathan?
"Inget gue lo? Gue kira udah asik sama cem-ceman lo," sarkas Genathan yang sebenarnya ingin mencairkan suana yang tegang.
Ayu, gadis yang kini di antara Resha juga Gentahan, tertawa geli. "Cemburu? Jangan gitu ah, kan udah punya cewek sekarang," balasnya melirik Resha yang mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Biasanya kalau baru ketemu gue setelah beberapa hari, lo peluk gue, Ge. Sekarang nggak bisa, ya?" Ayu bersuara dengan nada sedih. Sedangkan Resha mati-matian mengendalikan dirinya, meski sebenarnya ia ingin pergi dari sini sekarang juga.
Ayunindya yang ada di hadapannya, bukan seperti Ayunindya yang terakhir kali berbincang dengannya di rumah sakit. Atau sebenarnya beginilah aslinya? Resha tersentak saat Genathan melepas genggamannya lalu melangkah maju. Ada yang bergejolak dalam dirinya saat melihat Genathan kini berdiri tepat di hadapan Ayu.
__ADS_1
Ia menahan napas saat melihat tangan Genathan mulai terjulur. Apakah kekasihnya benar-benar akan memeluk Ayu tepat di depan matanya? Namun jauh di luar dugaan, Genathan malah menoyor kening sahabatnya itu. "Nggak ada akhlak lo. Ngilang lama ngga ada kabar, sekarang kayak nggak ada dosa balik lagi minta peluk. Dih, ogah. Sini kenalan dulu lo sama pacar gue."
Genathan berbalik kembali menghadap Resha yang usai mengembuskan napas lega. Berbeda dengan Ayu ang kini tersenyum sinis melihatnya, namun ia berusaha menutupi kekesalannya tersebut.
"Gue udah kenal sama pacar lo waktu di rumah sakit," balas Ayu tapi tak urung ikut mendekat ke arah Resha.
"Hai, Naresha! Maaf, ya, tadi gue cuma bercanda kok. Ambil aja si Gege, tapi jagain baik-baik. Kalau bandel, tabok aja."
Senyum lega tak bisa Resha tahan. Ia sudah parno jika kembalinya Ayu untuk memisahkannya dengan Genathan.
"Pas gue pergi hari itu, gue minta tolong Resha buat selalu nemenin lo. Karena gue tau, dia ada rasa sama lo. Dari tatapannya kelihatan, elo aja yang nggak peka, Ge," cerocos Ayu.
Genathan nyengir. "Ya maaf, tapi sekarang udah peka. Makasih, ya, kemarin lo pergi. Nggak usah balik juga nggak papa."
Ayu memukul lengan Genathan yang berbalut jaket bomber dengan kesal. "Mentang-mentang udah punya pacar."
Resha ikut terkekeh meski canggung. Tapi ia mencoba menghapuskan semua pemikiran buruknya tentang Ayu. Ayu adalah gadis yang baik, tidak mungkin dia merusak hubungannya dengan Genathan.
"Eh makan-makan, yuk. Gue traktir, deh. Gue mau ngobrol-ngobrol banyak sama kalian. Terutama Naresha, yuk gibahin Gege," ajak Ayu semangat seraya memegang lengan Resha membuat gadis itu tersenyum kikuk.
"Dek, kalau dia ngomong yang baik-baik tentang Kakak, itu fakta. Kalau yang buruk, berarti hoax," peringat Genathan.
Resha terkekeh geli, sedangkan Ayu mendelik tak terima. Tanpa menunggu Genathan, Ayu menarik tangan Resha berjalan duluan di sampingnya. "Ge, kita tunggu di depan mobil, ya!"
Ayu berjalan dengan Resha di sebelahnya. Resha mulai merasa rileks dengan keadaan ini.
"Res, gue boleh minta satu hal?" celetuk Ayu saat mereka sudah sampai di depan mobil.
Resha mengangguk. "Apa Kak?"
"Gue tau lo pacar Gege. Mungkin susah buat lo nerima kehadiran gue sebagai sahabat Gege. Tapi tolong, Res. Jangan suruh Gege atau gue buat menjauh. Gimanapun juga, dia sahabat gue. Tolong, Res ...."
***
Ayu balik nih, gimana? Apa hubungan Resha sama Genathan akan goyah?
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
__ADS_1
See you next chapter all.
Thanks for reading all.