Genathan

Genathan
Kabar Buruk


__ADS_3

Rela bertaruh nyawa untuk bertemu dia. Jika sudah begitu, apakah masih ada harapan untuk saya?


*****


Percakapan kemarin malam masih saja terngiang di pikiran Resha. Tatapan bahagia Genathan saat menceritakan sosok Ayunindya, terekam kuat dalam ingatannya. Rasanya memang sedih, tapi bukannya ia sudah terbiasa berteman pedih? Sejak awal memutuskan menjadi pengagum dalam diam, ia sudah mempersiapkan semua konsekuensinya. Bahkan untuk yang terburuk sekalipun, yaitu Genathan menaruh hati pada orang lain.


Tapi, tetap saja. Saat ia benar-benar tengah mengalami kemungkinan terburuk itu, hatinya tidak siap. Tidak pernah siap untuk menerima kenyataan itu. Tatapan hampanya tertuju pada layar ponsel yang tengah menampilkan potret dirinya bersama Genathan dua tahun lalu. Sulit sekali bagi Resha untuk mendapat tempat pada memori Genathan.


"Lo kenapa, Res?" Suara Delia yang masuk dalam indra pendengarannya berhasil membuatnya tersentak. Resha segera mematikan ponselnya dan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


Resha menggeleng menanggapi pertanyaan Delia. Delia memicingkan matanya ketika sadar ada gelagat yang aneh dari sahabatnya. "Bukannya kemarin lo udah mulai ada kemajuan ya sama...Kak Gege?" tanyanya dengan memelankan suara saat menyebutkan nama Genathan. Mendengar pertanyaan sahabatnya tersebut resha menghela nafasnya.


"Gue kira gitu, Del. Tapi—"


"Tapi? Kenapa? Ada masalah lagi?" potong Delia yang sudah tidak sabaran.


Resha berdecak. "Bentar, ih! Jangan dipotong," kesalnya. Delia hanya menyengir menampilkan deretan gigi putihnya.


"Maaf-maaf. Terus gimana? Lanjutin dong ceritanya." Delia merapatkan kursinya ke kursi Resha.


Resha menghembuskan napas berat. Gerakan tangannya memasukkan buku ke dalam tas justru terhenti. Gadis itu memeluk tasnya. "Bener kata orang-orang, nggak ada persahabatan murni antara cowok sama cewek."


"HE GIMANA?" pekik Delia yang sudah tak sadar jika ia mengeraskan suaranya saking terkejutnya dengan ucapan sahabatnya itu.


"Del," desis Resha memperingatkan Delia untuk memelankan suaranya.


"Ayo dong lanjut lagi, yang jelas. Gue nggak paham,” desak Delia yang mulai tak sabaran.


"Jadi kemarin dia belok berlawanan arah dari gerombolan anak ultras. Kami mampir dulu di warung sate lontong. Nah pas sampai di sana, dia ditelepon sama Kak Ayu."


Resha menjeda ucapannya sesaat. Ia mengambil napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. "Katanya, Kak Ayu mau balik dari luar kota nemuin papanya. Cara Kak Ge nyeritain itu tuh beda. Matanya kayak berbinar bahagia gitu. Nada suaranya juga kedengarannya antusias banget. Apalagi ... waktu Kak Ge bilang kalau kak Ayu ... cantik."


Resha menunduk. Merasakan sesuatu yang besar terus menghimpit dadanya menciptakan sesak. "Gue sempet tanya-tanya tentang mereka. Kata Kak Gege, walaupun dia suka sama Kak Ayu, dia nggak bisa apa-apa juga. Kalau gitu, berarti bener kan Kak Gege ada rasa sama sahabatnya."


Delia mengusap bahu sahabatnya. "Udah, mau Gege suka sama sahabatnya, mantannya, ataupun siapa aja pokoknya lo nggak boleh nyerah. Terobos aja udah. Lo punya hak buat memperjuangkan perasaan lo. Udahan dong galaunya."


Resha menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Ia menarik sudut-sudut bibirnya membentuk senyum tipis. Selanjutnya gadis itu mengangguk. "Bener, pokoknya terobos aja!" kekehnya.


Delia tersenyum. Matanya melirik pintu kelas. Seorang laki-laki berdiri di sana dengan melambaikan tangan. Delia tampak tertegun, tapi setelahnya ia mengangguk. "Res, gue pulang dulu, ya. Udah ditunggu Arik di depan pintu."


Resha mengangguk. Setelah berpamitan, Delia beranjak menemui gebetannya. Sedangkan Resha menunggu kelas agak sepi dulu. Setelah agak sepi, Resha beranjak dari kelas. Mulai menyusuri koridor yang juga sepi. Tadi ia bilang untuk menerobos apapun yang menjadi penghalang antara dirinya dan Genathan. Nyatanya, itu hanya kamuflase semata untuk membuat dirinya baik-baik saja di depan Delia.


Padahal kenyataannya, Resha masih terbelenggu ragu. Segala ucapan Genathan tentang Ayunindya masih membekaskan sedih dalam dirinya. Mengingat Ayunindya termasuk orang yang paling berharga untuk Genathan, membuat Resha semakin hilang asa.


Apa benar ia bisa mendapat posisi di hati Genathan saat cowok itu justru mengharapkan orang lain?

__ADS_1


Resha menghembuskan napas kesal. "Ribet banget, sih. Lagian, kenapa juga bisa suka sama Kak Gege," rutuknya pelan seraya menuruni tangga.


Kini ia menyusuri koridor lantai bawah dengan pandangan mata ke arah lapangan. Banyak anak-anak ultras yang sedang berkumpul di tepi lapangan bagian berseberangan dari tempat Resha berdiri di sana. Cowok berbadan gembul yang kemarin ada di sana juga. Pun sahabat Genathan yang bernama Hasta. Namun sosok Genathan tidak ada.


"Kak Gege kemana? Ah, iya, Kak Ayu kan udah pulang. Lagi kangen-kangenan kali," gumam Resha.


"Hayo, siapa yang kangen-kangenan?"


Resha terperanjat kecil begitu mendengar suara berat khas laki-laki memasuki indra pendengarannya. Jantungnya berdetak kencang saking kagetnya. Ia berhenti sejenak. Mengusap dada naik turun sembari menetralkan detaknya.


Cowok di sampingnya malah tertawa, membuat Resha merengut sebal. "Kak, jangan buat orang kaget," gerutunya.


Masih dengan sisa-sisa tawa cowok itu menjawab, "Iya, maaf. Habisnya lo ngelamun sambil ngomel-ngomel kecil. Lagi kangen siapa, sih? Gue disini kok."


"Kak Ta nguping, ya?" tuduhnya pada Gentala.


"Enggak. Gue nggak nguping, kedengeran aja," bantah Gentala.


Resha mendesis. "Nguping!"


"Enggak!" Gentala tak mau kalah.


"Nguping Kak Ta!"


"I—"


"Eh, itu anak ultras kenapa pada lari?" potong Gentala saat melihat anak inti ultras sedang tergopoh-gopoh lari meninggalkan lapangan.


Resha sontak menoleh untuk mengikuti arah pandang kakak kelas di sampingnya. Benar, mereka seperti tergesa-gesa mengkhawatirkan sesuatu.


"MBUL, MAU PADA KEMANA?" pekik Gentala pada cowok berbadan gempal yang ikut lari dengan tangannya membawa plastik pentol. Cowok itu bahkan sempat menyuapkan satu pentol ke mulutnya. Jawaban dari Mbul membuat Resha dan Gentala mengerut bingung. Benar-benar tidak jelas karena sambil mengunyah pentol.


Gentala berdecak. Tidak ada lagi yang bisa ia teriaki kecuali Mbul, tapi cowok itu tidak bisa diharapkan. Sedangkan yang lain sudah menghilang dari pandangan keduanya saking cepatnya berlari. Tidak lama, ponsel Gentala berdering. Kerutan dalam dahi Gentala semakin dalam. "Ini Ayu sohibnya Gege ngapa nelpon gue?"


Resha mendelik. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.


Gentala menerima panggilan telepon itu. Menempelkan ponselnya pada telinga. "Halo?"


Resha agak mendekat.


Cowok itu membulatkan mata. "Heh, jangan ngadi-ngadi!"


Wajah Gentala memias. "Iya-iya, gue kesana." Dengan tergesa ia mematikan telepon dan memasukkan ponselnya ke saku.


"Kenapa, Kak?" tanya Resha cemas.

__ADS_1


"Gege kecelakaan."


Dunia Resha seakan runtuh saat mendengar kabar itu.


"Gue ke rumah sakit dulu, ya,” pamit Gentala pada Resha dan sudah hendak pergi namun Resha sudah lebih dulu menahan tangan laki-laki itu.


"Kak, ikut!" cegah Resha.


Tidak ingin membuang waktu, Gentala menganggukinya. Memegang tangan Resha lalu mengajaknya berlari menuju parkiran. Keduanya sama-sama panik. Mungkin ini juga alasan anak-anak ultras lari tergesa tadi. Untungnya parkiran sepi. Gentala leluasa mengeluarkan motornya. Tanpa basa-basi, Resha naik ke atas motor. Setelah meminta Resha untuk berpegangan, Gentala melajukan motornya cepat.


Membelah padatnya jalanan ibu kota dengan perasaan yang berkecamuk. Resha tak kalah panik. Air mata bahkan mulai membanjiri wajah gadis itu. Baru saja kemarin ia dan Genathan mulai dekat, kenapa sekarang cowok itu justru di rumah sakit. Sisa perjalanan mereka hanya diisi bungkam dengan perasaan cemas tentang Genathan.


Begitu sampai di rumah sakit, mereka berlari menuju UGD. Di depan sana, ada beberapa anak ultras yang tengah menunggu sama kalutnya.


"Gege gimana?" tanya Gentala cemas.


"Nggak sadarkan diri. Lagi dicek sama dokter," jawab Hasta lemas.


Tatapan Resha justru tertuju pada gadis cantik dalam balutan dress biru di bawah lutut. Air mata terlihat jelas membanjiri wajah gadis itu.


"Yu, kok bisa sampai kecelakaan gimana ceritanya?" tanya Gentala pada gadis itu.


Benar. Itu Ayunindya. Seseorang yang berharga dalam hidup Genathan dalam status persahabatan.


"Gue minta jemput Gege di stasiun. Tapi Gege lama, jadi ... gue duluan. Di jalan, gue papasan sama dia dan gue sapa dari taksi. Gege ... kaget. Dia langsung belokin motornya dan ... ketabrak mobil di belakangnya yang jalan kenceng," jelasnya lalu terisak lagi.


Air mata Resha semakin deras. Demi menemui Ayunindya, Genathan rela sampai terluka dan mempertaruhkan nyawa. Dunianya semakin runtuh. Hatinya turut retak. Resha cepat-cepat menghapus air matanya karena tak ingin ada yang melihatnya menangis.


Apakah masih bisa untuk Resha menggenggam asa?


***


Resha jangan nangis, malu kan kalau di liatin yang lain.


Ketahuan di saat kayak gitu gak seru Res.


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.


See you next chapter all.


Thanks for reading all.

__ADS_1


__ADS_2