Genathan

Genathan
KECEMBURUAN GENATHAN


__ADS_3

Saat cemburu mulai menyapa, kuncinya ada satu. Yaitu percaya.


***


Resha mengembuskan napas kasar. Sudah beberapa kali ia memeriksa ponselnya untuk melihat apakah ada pesan masuk dari Genathan. Namun hasilnya nihil, belum ada satupun pesan dari Genathan. Resha mencoba positif thinking, mungkin saja Genathan sedang sibuk dengan Bentala—toko sepatunya.


Tetapi, saat melihat jam yang ternyata sudah menunjukkan jam delapan lewat, Resha jadi khawatir. Ia mencoba menghubungi kekasihnya itu. Panggilan pertama tak ada jawaban dari Genathan. Masih belum menyerah, Resha mencoba lagi namun hasilnya tetap sama.


Tidak ada jawaban, dan Resha memutuskan untuk merebahkan tubuhnya yang sudah mulai lelah. Pikiran Resha kini sudah tidak menentu memikirkan kemana kekasihnya itu? Mengapa hanya sekedar memberi kabarpun Genathan tidak ada? Resha mengembuskan napasnya dan memutuskan untuk mencari udara segar.


Gadis itu berjalan keluar rumahnya hanya menggunakan kaos yang dilapisi jaket dengan celana traing. Ia berjalan menuju taman yang berada tidak jauh dari rumahnya. Taman yang sama seperti tempo hari. Saat sampai di taman, Resha mendudukkan tubuhnya di kursi yang tersedia. Memejamkan matanya merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.


“Ngapain kesini malam-malam?” tanya suara di samping Resha membuat gadis itu membuka matanya untuk melihat siapa yang berada di sampingnya.


Ternyata seorang laki-laki yang sedari tadi menggangu pikirannya, kini sudah duduk dengan senyumannya. Resha hanya mendengus melihat Genathan tengah tersenyum padanya dengan wajah tanpa dosa. Ada perasaan lega namun juga kesal yang terlihat di wajah gadis tersebut.


Tidak tahukah laki-laki itu jika Resha sangat khawatir?


“Maaf ya, tadi aku lagi sibuk banget dan lupa ngabarin kamu," ucap Genathan merasa bersalah dengan gadisnya itu.


Resha mengembuskan napas kasar sebelum menjawab pernyataan Genathan. “Ya udah gak papa, lain kali jangan gitu lagi, Kak. Bikin khawatir aja,” balas Resha ahirnya.


Genathan tersenyum menanggapi ucapan Resha. Ia tahu dirinya salah karena membuat Resha khawatir padanya. Namun mau bagaimana lagi, tadi ia terlalu sibuk dengan urusannya.


“Kamu ngapain malam-malam kesini?” Genathan mengulang pertanyaannya.


“Cari udara seger. Di sini itu tempatnya bagus dan nenangin,” jawab Resha yang mendapat anggukan dari Genathan. Genathan menatap sekitar lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi taman.


“Udah malam, balik yuk biar aku anter,” ajak Genathan yang sudah berdiri lebih dulu lalu mengulurkan tangannya, Reaha sefera menerima uluran tangan tersebut lalu mereka berjalan saling beriringan menikmati momen mereka berdua.


Usai sampai di rumah Resha, Genathan berpamitan karena hari sudah malam. Ia menyuruh Resha untuk segera tidur. Tidur yang sangat nyenyak.


Esoknya, Resha menatap jam tangan yang melingkar indah di tangannya dengan kesal. Pasalnya, jam sudah menunjukkan pukul 6.45 dan Genathan belum menjemputnya. Padahal, cowok itu sudah berjanji kemarin untuk tidak terlambat saat menjemputnya.


Resha berjalan ke arah pos satam rumahnya. Ia memutuskan untuk meminta sopirnya mengantarnya ke sekolah karena Genathan yang tak kunjung datang. Setelah menempuh waktu selama sepuluh menit, akhirnya Resha sampai disekolah.


Saat sampai di depan gerbang sekolah, banyak yang berbisik sambil melihatnya. Berbagai pandangan tidak suka langsung menghantam Resha. Ia sudah biasa mendapatkan tatapan sirik semenjak Resha menjadi kekasih Genathan, namun pandangan yang kali ini Resha dapat berbeda dan hal itu membuat Resha bingung ada apa sebenarnya.


Saat Resha memasuki kelasnya teman sekelasnya pun banyak yang menatap Resha tajam.


“Del, mereka pada kenapa dah?” tanya Resha saat duduk di samping Delia yang sedang fokus menyalin tugas yang untung saja Resha sudah selesain mengerjakannya.

__ADS_1


“Akhirnya lo dateng jaga, lo gak kenapa-napa, 'kan?” tanya Delia saat melihat Resha yang duduk di sampingnya. Resha yang mendengar pertanyaan dari sahabatnya tersebut menaikkan sebelah alisnya bingung.


“Ada apa, sih, Del?” Resha masih tidak mengerti ada apa sebenarnya yang terjadi.


“Lo gak tau?” tanya Delia memicingkan matanya.


Resha menggeleng dengan tatapan bingung sambil berkata, "Enggak."


“Foto lo pas lagi berduaan sama kak Genta kesebar,” ungkap Delia yang sukses membuat Resha terkejut.


“Di sana kalian berdiri dampingan, Kak Genta ketawa. Kalian gak ada apa-apa kan?” Delia memastikan, tapi malah mendapat jitakan oleh sahabatnya itu.


“Aduh sakit tau, ngapa lo malah jitak gue dah,” kesal Delia sambil mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat ulah Resha.


Resha mendelik, “Ya lo gila aja, mana mungkin gue selingkuh dari kak Gege?”


Delia memang seharusnya tak menenanyakan hal tersebut, karena selama ini ia lah yang paling mengetahui seberapa besar ciunta yang Resha miliki untuk Genathan. Jadi tak mungkin jika sahabatnya tersebut akan selingkuh.


“Kak Gege tau gak ya, Del? Kalau kak Gege tau gimana?” ringis Resha membayangkan bagaimana jika Genathan tau? Mereka baru saja jadian tapi masalah silih bergantian hadir menyapa hubungan mereka yang baru seumur jagung. Tak hanya itu, ia juga tak ingin menjadi alasan rusaknya hubungan persahabatan kedua laki-laki tersebut.


“Nanti pas istirahat deh coba lo tanyain kak Gege, kalau perlu lo jelasin biar dia gak salah paham,” saran Delia yang mendapat anggukan dari Resha.


***


Tidak seperti jam istirahat sebelumnya, kali ini tidak ada Genathan yang menjemputnya untuk pergi ke kantin. Mungkin Genathan sedang ada urusan, jadilah Resha ke kantin bersama kedua sahabatnya. Resha masih berusaha untuk berpikir positif.


Saat Resha berjalan ke arah kantin, banyak murid yang malah berjalan ke arah taman belakang. Tiidak seperti biasanya, taman belakang yang biasanya selalu sepi kini terlihat ramai. Hal itu membut Resha penasaran begitupun kedua sahabatnya.


Mereka sama bingungnya. Lidia memutuskan bertanya pada salah satu kakak kelas yang ia kenal. Kakak kelas itu juga sepertinya hendak menuju taman belakang sekolah. Tapi, mereka dibuat kaget atas jawabannya.


"Gege lagi berantem sama Genta."


Resha yang mendengar ucapan tersebut segera berlari menuju taman belakang. Kemungkinan, ini karena kesalah pahaman foto yang tersebar itu. Apa kini Resha benar-benar akan menjadi alasan dari rusaknya persahabatan mereka? Tidak, Resha tak bisa membiarkannya.


“Kak Gege, stop!" Resha berteriak setelah menyela di barisan peling depan para murid SMA Cakrawala yang sedang menonton setelah bersusah payah.


Genathan menghentikan pukulannya pada Gentala saat mendengar suara gadis yang familiar di telinganya. “Mau belain selingkuhan kamu, ya?” tanya Genathan tajam.


“Apa sih, Kak? Kakak cuma salah paham. Ikut aku sekarang." Resha menarik Ganathan menuju UKS saat melihat wajah laki-laki itu yang juga babak belur.


“Kak Hasta bantu kak Genta ya,” pesan Resha pada Hasta sebelum berjalan ke UKS bersama Genathan di sampingnya.

__ADS_1


Sampai di UKS, Resha langsung meminta Gege duduk di brankar. “Kakak tuh cuma salah paham. Aku gak ada hubungan apa-apa sama Kak Genta, kemarin dia cuma nemenin aku nunggu jemputan kak. Gak ada apa-apa, gak usah cemburu gitu sampai berantem sama Kak Genta. Kalian sahabatan, aku gak mau ngerusak persahabatan kalian." Resha menjelaskan kejadian kemarin pada Genathan, sambil mengambil kotak P3K dan mulai mengobati Genathan.


“Apa salah kalau gue cemburu sama pacar sendiri?” tanya Genathan yang mendapat embusan napas dari Resha.


“Ya gak salah cuma Kakak berlebih sampai mukul Kak Genta.”


Suara pintu di buka mengalihkan perhatian mereka pada orang yang membuka pintu yang ternyata Gentala dan Hasta. “Santai aja Res, gue ngerti kok Gege lagi emosi,” ujar Gentala dengan senyumannya. Genathan mendengus melihatnya. Ia bukannya tak tahu jika sahabatnya tersebut menyukai gadisnya. Jadi tak salah bukan jika ia salah paham dengan apa Resha juga Gentala. Lagi pula memang Gentala juga Hazel sudah kenal lebih dulu dari dirinya.


“Maaf ya, Kak atas perilaku Kak Gege." Resha mewakili Genatha  meminta maaf. Ia merasa bersalah, bgaimanapun juga ia terlibat dalam kesalah pahaman ini.


“Ngapain lo minta maaf?” tanya Genathan sarkas merasa tidak suka Resha meminta maaf pada Gentala.


“Ya udah kalau gitu Kakak yang minta maaf," cetus Resha telak. Lagi-lagi Genathan mendengus, membuat Resha gemas ingin mencakar wajah tampan pacarnya. Namun tetap saja Genathan meminta maaf pada Gentala walau terdengar tidak ikhlas.


“Sans aja udah gue maafin tapi jangan larang gue buat berteman sama Resha, Ge," pinta Gentala. Genathan  hanya mengangguk seadanya.


Gentala mengalihkan perhatiannya pada Resha. "Luka Gege udah diobatin kan, Res?"


Resha mengangguk. "Udah, kenapa?" tanya Resha bingung.


“Obatin gue juga ya,” canda Gentala dengan cengirannya yang langsung mendapat tatapan tajam dari Genathan.


“Dikasih hati minta jantung. Pergi lo, gangguin pacar orang mulu. Makanya cari cewek!” amuk Genathan kesal.


Gentala terbahak. Mereka berdua memang mudah bertengkar, tapi juga mudah untuk berbaikan. Akhirnya, Gentala memutuskan keluar dari UKS dengan menarik tangan Hasta.


Genathan kembali angkat bicara. "Aku ngaku salah. Kesannya, aku nggak percaya sama kamu. Aku nggak terima aja lihat foto kayak gitu. Janji deh, nggak diulang lagi. Maaf."


***


Cowok emang kalau nyelesein masalah kudu adu otot ya?


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.


See you next chapter all.


Thanks for reading all.

__ADS_1


__ADS_2