Genathan

Genathan
RESTART


__ADS_3

Setelah mengarungi kisah panjang bersama segala kerumitan, kamu akan selalu menemukan titik terang. Tetaplah bersabar melewati setiap perjalanan, hingga dapat keluar sebagai pemenang. Percayalah, Sang Pencipta lebih tau bagaimana akhir yang bahagia untuk tiap manusianya.


***


Hari demi hari silih berganti. Jeda tak kasat mata yang semula berdiri tegar kini mulai menyusut. Sapaan Genathan mulai mengisi hari-harinya lagi. Dimulai dari percakapan sederhana setelah terbentangnya jeda, sang waktu kembali mendekatkan mereka lagi. Gentala pun masih ada menemani harinya. Bersama Hasta yang kini mulai Resha kenal lebih dekat. Perlahan, Resha keluar dari zona nyamannya. Tidak lagi memilih menenggelamkan diri, melainkan membiarkan dirinya berjalan mengikuti alur semestinya.


Memaafkan kejadian masa lalu menjadi jalan yang Resha pilih. Termasuk tentang Ayu. Hubungan pertemanannya dengan Ayu terjalin baik. Adik Genathan itu sudah mengerti, bahkan semakin gencar meminta Genathan untuk segera mengajak Resha balikan lagi.


Setiap menanggapi itu, Resha hanya tersenyum tipis. Kini, ditatapnya surat undangan yang sudah dibuka plastiknya. Surat undangan ulang tahun Ayu yang dititipkan lewat Genathan. Jadi itu alasan Genathan mengajaknya pergi ke mall dan membeli sebuah liontin. Ternyata sebagai kado ulang tahun sang adik.


"Besok dateng, ya," ucap Genathan sambil mengusap lembut rambut Resha.


"Kenapa Kakak nggak bilang dari tadi? Kan bisa beli kado sekalian," protes Resha. Pasalnya, jika Genathan memberi tahu maksudnya mengajak ke mall yang sebenarnya, Resha bisa membawa uang lebih untuk membeli kado. Tetapi, Genathan hanya menjawab pergi ke mall karena iseng. Jangan salahkan Resha jika tidak membawa uang lebih.


"Nggak papa, nggak usah kado. Keenakan dia nanti. Lo dateng aja udah cukup kok," balas Genathan santai.


Resha tetap menggeleng tidak setuju. "Ya nggak bisa gitu, Kak. Kan nggak enak kalau ikut ambil makanan di sana, tapi nggak kasih kado."


Tawa Genathan pecah mendengar jawaban Resha yang satu itu. Dicubitnya gemas pipi gadis di hadapannya. "Gemes banget, sih. Kalau makanan mah santuy, ambil aja. Kan juga kewajiban yang nyelenggarain acara. Pokoknya lo dateng aja. Gue jemput, ya?"


"Lah, jemput? Kakak nggak sama keluarga Kakak?" tanya Resha bingung. Pasalnya, kan yang punya acara adalah adiknya. Bagaimana Genathan malah meminta untuk menjemputnya?


"Nggak papa, gampang itu mah. Pokoknya gue jemput, ya? Oke, gue jemput,” tegas Genathan seolah tak menerima penolakan.


Resha mencibir mendengar penuturan Genathan. Itu jelas bukan penawaran, tapi pemaksaan. Tanya sendiri, dijawab sendiri. Ya seperti itulah Genathan. Tapi tidak apa, Resha tetap sayang.


"Tapi tadi liontinnya beneran lo suka, 'kan?" tanya Genathan lagi memastikan.


Resha mengangguk. "Iya, good looking banget, Kak. Bentuk hati terus ada sayapnya. Kak Ayu pasti suka," jawab Resha sangat bersemangat. Mendengar itu, Genathan tersenyum lega. Tadi ia bingung harus memberi hadiah apa, jadi cowok itu mengajak Resha. Sebenarnya, ini juga saran dari Gentala, mengingat sahabatnya itu pernah mengajak Resha memberi kado untuk adiknya.


Genathan menatap Resha yang tengah fokus membaca setiap kata yang tertera pada undangan. Senyum manis terbit dari bibir cowok itu. Gadis sesabar dan setulus Resha, tidak akan ia sia-siakan lagi. Ia tidak akan membiarkan Resha pergi untuk kedua kali.


Tunggu sebentar lagi, Genathan akan berjuang untuk mengembalikan mereka yang dulu dan membuat kisahnya menjadi lebih indah. Dari rentetan kejadian yang menimpanya ini, Genathan percaya. Bahwa setelah segala kisruh yang terjadi, keadaan perlahan membaik.


Ganathan akan memperjuangkan aku dan kamu menjadi kita.


***

__ADS_1


"GEGE!" Suara teriakan dari luar kamar Genathan mengalihkan fokus laki-laki itu. Dengan berdecak kesal, Genathan segera menuju ke arah pintu dan membuka pintu kamarnya. Gadis dalam balutan dress berwarna peach di bawah lutut sudah menyambutnya dengan wajah kesal.


"Lo kenapa belum ganti baju? Buruan, ini acara gue. Nggak lucu kalau ada tamu yang duluan dateng dari pada kita," ucap gadis yang tak lain adalah Ayu sambil berkacak pinggang.


Genathan mengacak rambutnya. "Udah, lo pada berangkat duluan aja. Gue bareng Resha."


"Mentang-mentang mau balikan, adik sendiri dilupain. Awas lo kalau salah tempat, kita musuhan. Ya udah, buruan ganti baju terus—" ucapan Ayu yang tidak ada ujungnya tersebut akhirnya dipotong oleh Genathan yang lebih dulu menyela ucapannya.


"Ya ya ya, udah sono pergi ah," potong Genathan yang terganggu karena omelan adiknya. Ayu berdecak, lalu meninggalkan Genathan masih dengan merutuk.


Setelahnya, Genathan langsung bersiap untuk menjemput Resha ke acara ulang tahun Ayu yang diadakan di hotel berbintang.  Dirasa cukup dengan penampilannya yang malam ini terlihat sempurna, Genathan segera keluar dari kamarnya menuju mobil putih yang sudah terparkir di depan rumah. Cowok itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Resha. Segala rencana yang sudah ia persiapkan harus berjalan lancar malam ini.


Saat Genathan sampai di rumah Resha ternyata gadis itu sudah menunggunya di depan rumahnya bersama sang mama. Genathan segera turun menemui mama Resha untuk pamit dan menyalami wanita tersebut.


"Tante kita pergi dulu, ya. Assalamualaikum," pamit Genathan dan segera menyalami tangan Andin.  Usai berpamitan dan mendapat sedikit wejangan, Genathan mengajak Resha masuk ke mobilnya. Tak lupa ia membukakan pintu mobil untuk Resha masuk.


"Lo cantik," puji Genathan begitu duduk di kursi kemudi.


Perkataan Genathan selalu mampu membuat jantungnya berdetak dengan cepat.  Resha hanya tersenyum menanggapi ucapan tersebut walau kini pipi nya juga sudah memerah karena malu.


"Gue cantik?" Genathan mengangkat sebelah alisnya.


"Kakak ganteng maksudnya,” jelas Resha dengan kesal. Tak tahukan laki-laki tersebut jika kini ia sudah begitu malu karena Genathan yang terus menggodanya.


Genathan terkekeh, lalu mulai menjalankan mobilnya menuju tempat tujuan. Begitu sampai disana, ternyata disana sudah ramai dengan para undangan. Mata Resha berbinar melihat indahnya dekorasi yang ada. Ia tersentak kecil saat tangan Genathan tiba-tiba mengisi ruang jemarinya lalu mengajaknya masuk.


Genathan memberikan kotak kado yang sudah disiapkan, begitu juga Resha.


"Wah, makasih banyak abang gue sama kakak ipar. Semoga langgeng, ya!" ujar Ayu dengan riang. Genathan tersenyum lebar, sedangkan Resha malah menunduk malu.


Tak beberapa lama serangkaian acara mulai digelar. Mulai dari sambutan, hingga pemotongan kue. Setelah pemotongan kue, diisi dengan free agenda. Ada yang makan, ada pula yang foto di photo booth yang disediakan.


Mendadak, musik yang digunakan menjadi slow. Pembawa acara berdehem sejenak. "Halo! Udah puas makan, sekarang kita dansa kuy! Yang punya pasangan, bisa lah. Yang jomblo, kuy cari pasangan. Siapa tau nemu jodoh,” kelakar sang pembawa acara berusaha untuk menyesuaikan diri agar terlihat asik, padahal hanya sok asik.


Genathan tersenyum mendengarnya. Ini adalah salah satu bagian yang diusulkan Genathan untuk ada di ulang tahun Ayu. Cowok itu mencolek punggung tangan Resha membuat Resha malah salah tingkah.


Musik mulai teralun. Paham akan Resha yang masih kaku, Genathan memilih menggenggam tangan Resha dan menatap tepat di manik mata gadis itu. "Maaf karena dulu pernah nyakitin lo. Maaf udah pernah jadi orang brengsek buat lo. Tapi, bisa izinin gue buat selalu cinta sama lo?"

__ADS_1


Resha meneguk saliva susah payah. Ucapan Genathan benar-benar menyentuh hatinya. Hanya ucapan sederhana namun seolah penuh makna di dalamnya.


"Naresha, makasih karena sudah mencintai aku dengan tulus, menyayangi aku dengan segenap rasa yang kamu punya. Maaf, aku belum bisa menjadi laki-laki sempurna yang selalu bisa membuat kamu bahagia. Aku sadar, aku banyak kekurangan. Maka dari itu, aku minta kamu untuk saling menyempurnakan." Ucapan panjang yang terdengar manis Genathan mampu membuat kakinya melemas. Harusnya Genathan tak mengatakan hal tersebut saat Resha masih tak memiliki tumpuan, tak tahukah laki-laki tersebut mental nya hanya mental yupi?


"Kakak ... yakin sama perasaan Kakak kali ini?" tanya Resha memastikan ia hanya tak ingin jika nantinya Genathan akan kembali untuk bingung dengan perasaannya sendiri. Baginya sudah cukup dengan luka nya, ia hanya tak ingin kembali mengulang dengan orang yang sama dan berujung menciptakan luka kembali.


Genathan mengangguk dan tersenyum lembut. Genggaman tangannya seolah meyakinkan bahwa ia tidak main-main. "Merem bentar, Dek."


"Mau apa?" Resha mengerutkan kening bingung.


"Nggak macem-macem, janji,” ucap Genathan dengan serius.


Meski masih agak ragu, Resha akhirnya mengangguk dan memejamkan matanya. Ia bisa merasakan genggaman tangan Genathan yang terlepas. Hampir saja ia membuka mata jika Genathan tidak menegurnya.


"Sekarang buka mata." Resha menurut lagi. Perlahan, ia membuka matanya dan tidak bisa menahan rasa kagetnya.


Genathan tengah tersenyum dengan tangan kanan yang membentangkan liontin. Liontin yang tempo hari Resha pilih. Dengan bandul berbentuk hati, dan ada sayap di kedua sisinya. "Naresha, will you be my girlfriend ... again?"


Resha menutup mulutnya terkejut. Jantungnya semakin berdebar tak beraturan diperlakukan semanis ini. Genathan mengangkat alisnya, menunggu jawaban Resha.


Akhirnya, gadis itu mengangguk pelan. "Yes, i will.” Genathan menghembuskan napas lega, lalu tersenyum bahagia bersama Resha.


Kisah mereka yang sempat terjeda, kini kembali dengan lembaran baru.


Semoga kali ini, Genathan dan Naresha benar-benar berhasil melewati segala rintang dan menjadi pemenang.


***


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.


See you next chapter all.


Thanks for reading all.

__ADS_1


__ADS_2