
Tidak perlu menyimpan dendam. Cukup maafkan dan hidupmu akan kembali tentram. Sekalipun sulit untuk melupakan, setidaknya cobalah untuk mengikhlaskan. Akan ada bahagia untuk setiap manusia.
*****
Beberapa hari berlalu dengan semua orang yang mulai menerima keadaan. Genathan kembali ke rumah orang tuanya. Tinggal bersama keluarga barunya dimana ada Ayu di dalamnya. Cowok itu mulai membagi fokus antara bentala online dan offline. Keduanya sama-sama ramai.
Perjalanan bentala dimulai saat ia kelas tiga SMP dulu. Bersama sang papa diajarkan berbisnis. Lalu, ia ikut kerja bersama teman papanya dalam berniaga. Hasil demi hasil Genathan kumpulkan untuk dapat membangun olshop kecil-kecilan. Dimulai hanya menjadi drop shipper, reseller, hingga akhirnya berdirilah Toko Bentala dengan dirinya sebagai owner.
Dalam toko offline-nya, papanya juga membantu modal dan mencarikan karyawan terbaik supaya Genathan tetap bisa fokus dengan sekolah. Papanya tak mau Genathan jadi melupakan kewajibannya sebagai pelajar.
Kini, cowok itu tengah menggunting stiker logo Bentala yang baru dicetak di rumahnya. Bersama Ayu yang ikut membantunya. Awalnya, Genathan merasa ada sedikit kecanggungan antara mereka. Ayu yang sempat menjauh bahkan tidak mau menemuinya. Hingga perlahan, gadis itu sudah bisa menerima kenyataan yang ada.
"Ge, lo sayang gue nggak?" Pertanyaan itu hanya mendapat deheman dari Genathan. Cowok itu masih fokus menggunting stiker sebagai salah satu printilan jika membeli sepatu di Bentala.
"Sama Naresha lebih sayang mana?" tanya Ayu lagi.
Kali ini, Genathan mengerutkan kening. Namun, segera mungkin ia menetralkan raut wajahnya. "Sama sayangnya, Yu. Tapi dalam konteks yang berbeda. Lo sebagai adik gue, sedangkan Resha sebagai cewek gue."
"Mantan," koreksi Ayu yang mendapat dengusan dari Genathan. Melihat ekspresi Genathan tersebut Ayu hanya tertawa geli.
Benar, sekarang status Resha dan Genathan adalah sepasang mantan. Tidak apa, Genathan tidak mau terburu-buru.
"Kalau disuruh milih, lo pilih gue atau Resha?" Tanya Ayu lagi yang masih tak mau mengalah memperebutkan kasih sayang kakaknya itu.
Genathan berdecak. Tak suka dengan pertanyaan menjebak seperti ini. "Gue pilih ke rawa-rawa aja lah," jawabnya kesal membuat Ayu ikut kesal tapi juga geli.
"Udah ah. Pokoknya kalian sama-sama gue sayang, tapi konteksnya beda. Lo juga harus ngerti, Yu. Gih cari cowok, biar nggak naksir sama abang lo sendiri," tegur Genathan sembari membereskan potongan stiker yang sudah digunting.
Ayu mendengus sebal, meremas sisa kertas stiker yang tidak terpakai lalu melemparkannya pada Genathan. "Nggak usah diingetin terus, gue udah inget! Lagian, dulu juga lo pernah naksir gue!" ketusnya.
"Ya maaf, khilaf. Sekarang kan udah nggak. Lagian emang cocoknya kita kakak adik. Sana cari cowok. Apa mau sama anak Cakrawala? Ganteng-ganteng loh. Oh itu aja, Gentala atau nggak Hasta. Mereka jomblo." Genathan mempromosikan sahabatnya pada sang adik.
"Gila aja sama Genta! Nggak! Galak gitu kalau sama gue. Tenang aja, gue bisa cari cowok sendiri habis ini." Ayu mengibaskan tangannya. Genathan terkekeh mendengar ucapan adiknya tersebut, karena memang nyatanya Ayu dan Gentala tak pernah akur.
__ADS_1
Genathan hanya mengangkat kedua bahunya. "Ya udah sih, gue cuma kasih rekomen aja. Ya daripada lo cari jauh-jauh, kan mending sama sohib gue aja."
"Gue minta maaf ya, Ge." Lagi-lagi Genathan dibuat mengerutkan kening bingung. Kenapa hari ini Ayu mengucapkan sesuatu yang tidak diduga seperti ini?
"Setelah lulus, gue mau lanjut kuliah di luar kota, Ge. Jadi sebelum gue pindah, gue mau minta maaf dulu. Sekalian biar gampang move on kalau jauh dari lo," jelas Ayu dengan senyuman mirisnya.
"Apa sih, Yu? Kenapa pakai pergi segala coba?" Genathan tak terima. Genathan hanya takut tak bisa mengawasi adiknya tersebut.
"Ya gak papa. Gue bisa jaga diri kok, Ge. Baik-baik di sini. Ini rumah lo, temenin papa sama mama ya, Ge. Oh iya, maaf karena kelakuan mama gue dulu nyakitin bunda lo," ujar Ayu. Ayu pikir sebenarnya Genathan bisa saja membenci ibunya tersebut namun Genathan tak melakukannya, Ayu tahu pasti semua ini berat bagi Genathan. Bahkan laki-laki tersebut bukan hanya kehilangan Ayu yang dicintai nya sebagai seorang laki-laki pada wanitanya namun ia juga kehilangan Bunda nya. Dan semua ini karena ulah ibu Ayu sendiri.
Genathan tersenyum kecil. "Itu udah masa lalu, Yu. Bunda nggak pendendam kok. Toh, sebelumnya bunda juga udah anggap lo kayak anak sendiri,” ucap Genathan menenangkan.
"Menemukan lo, bunda lo, dan papa Gino sebagai keluarga, buat gue bahagia. Sekali lagi, maaf, Ge, udah ngerusak kebahagiaan lo," cicit Ayu.
Genathan tak tega mendengar suara Ayu yang terdengar serak dan bergetar. Ia bersiap merengkuh gadis itu, tapi segera ditahan oleh Ayu. "Gue mau menebus semua kekacauan yang gue sebabin. Ge, perjuangin Resha lagi. Dia cewek baik. Jangan jadi pengecut untuk kedua kalinya."
***
"Naresha!" Gadis yang hendak masuk ke minimarket itu sontak menghentikan langkahnya. Ia berbalik, mendapati seorang gadis dengan celana panjang dan sweater coklat susu tengah melangkah mendekatinya.
"Hai! Apa kabar?" tanya Ayu ramah begitu sampai di hadapan Resha.
Resha tersenyum kecil meski jatuhnya jadi kikuk. "Baik, Kak. Ada apa?"
"Duduk situ dulu, Res. Biar enak ngomongnya." Ayu menunjuk bangku yang ada di dekat sana. Resha mengangguk menanggapi. Ia mengikuti langkah Ayu untuk duduk di sana.
Resha mendudukkan tubuh di kursi. Sebelumnya, ia sempat mengeluarkan ponsel dan menaruhnya di meja. Gadis itu tidak nyaman jika duduk dan ponsel masih ada di saku celananya. Gadis itu memajukan kursinya mendekat ke arah meja. "Kenapa, Kak?"
Ayu berdehem sejenak. Senyumnya kini tampak canggung, tidak seperti sebelumnya. "Gue mau minta maaf, Res. Habis ini, gue nggak bakal ganggu kalian lagi. Gue sadar, Gege ditakdirkan buat gue cuma sebatas kakak. Gue terima kok kalau lo jadi kakak ipar gue," ucapnya dengan tertawa kecil di bagian akhir.
"Lo pasti udah dijelasin dong sama Gege? Ya gitu kenyataannya, Res. Dia abang gue ternyata. Waktu gue titipin Gege ke elo dulu, gue taunya cuma kita saudara tiri. Pas itu, gue coba ngikhlasin Gege ke orang lain. Tapi nyatanya nggak bisa, makanya gue balik lagi. Eh pas balik, malah dapet kenyataan kayak gini. Kali ini, gue nggak bisa memaksa," jelas Ayu lagi. Resha diam mendengarkan penjelasan itu dengan saksama. Jujur saja ia malu rasanya untuk menemui Resha lagi, setelah apa yang ia lakukan dulu.
Memberikan Resha sebuah kepercayaan dan harapan namun setelahnya ia malah menghancurkan segalanya dan menimbulkan luka untuk gadis sebaik Resha. Bahkan setelah apa yang ia lakukan Resha masih baik padanya dan mau menemuinya. Mungkin jika Ayu yang berada di posisi Resha ia sudah akan memberikan pelajaran bagi orang yang telah melukainya.
__ADS_1
"Maaf, Res, dulu gue yang titipin Gege ke elo, terus gue sendiri yang coba hancurin. Maaf, ya. Kali ini, lo nggak perlu khawatir. Gue nggak akan ganggu kalian berdua lagi. Gue bener-bener ikhlasin Gege buat bahagia sama lo. Jagain, ya. Kadang dia emang bego. Sabar-sabar aja kalau sama Gege,” ucap Ayu dengan bersungguh-sungguh.
Resha mengerjap sejenak. Gadis itu mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ia kembali merapatkan kursinya agak dekat ke meja lagi. "Aku ngerti kok gimana perasaannya Kak Ayu. Pasti kaget, nggak terima, ya gimanapun Kak Gege yang temenin Kakak dari kecil. Aku udah maafin kok. Aku juga nggak mau ada dendam, apalagi gegara masalah cinta-cintaan."
Ayu sontak menghembuskan nafas lega dan tersenyum tenang. Genathan memang tidak salah pilih untuk menjatuhkan hati. Sosok gadis di hadapannya ini benar-benar memiliki kesabaran yang luar biasa. Tangan Ayu tergerak untuk memegang punggung tangan Resha. "Makasih, ya, Res. Semoga langgeng sama Gege."
Pipi Resha memerah. Tersipu malu sekaligus mencelos mendengarnya. Langgeng bagaimana yang dimaksud? Sedangkan hubungannya dengan Genathan saja kini teralih jeda.
"Semua tinggal tunggu waktu kok. Gue percaya, Gege juga lagi persiapin semuanya. Dia nggak mau nyakitin lo untuk kedua kali. Makasih, Res, karena lo Gege jadi lebih bijak dalam ngambil keputusan. Selalu temenin Gege, ya."
Resha tersenyum. Kini ia merasa semua mulai membaik. Semesta mulai berkombinasi bersama penghuninya untuk merestui kisahnya dengan Genathan.
Tentang Ayu, ia sudah memaafkan. Resha juga tidak bisa menghakimi Ayu begitu saja. Dulu, Ayu tidak mengetahui posisinya. Sekarang berbeda, gadis itu sudah menerima.
Tidak perlu ada dendam. Cukup memaafkan untuk mendapat hidup yang lebih nyaman dan tentram. Itulah pemikiran yang Resha pegang selama ini. Sekalipun sulit untuk melupakan, setidaknya cobalah untuk mengikhlaskan.
Karena Resha percaya, semesta tidak akan sejahat itu dalam memberi garis takdir.
***
***
Gimana pendapat kalian tentang part ini?
Kalau aku jadi Resha udah aku jadiin perkedel tuh sih Ayu
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
__ADS_1
Thanks for reading all.