
Bukan perihal siapa yang lebih sempurna, tapi tentang siapa yang selalu ada.
*****
Rasanya masih seperti mimpi untuk Resha. Berulang kali gadis itu diam-diam mencubit tangannya sendiri untuk memastikan bahwa ini nyata. Hubungannya dengan Genathan bukan ilusi semata. Resha tidak bisa mengelak bahwa semuanya terasa terlalu cepat. Namun, ia mengingat kutipan yang berbunyi bahwa waktu yang tepat itu dibuat, bukan ditunggu. Mungkin Genathan menerapkan kutipan itu.
Akan menjadi lama jika selalu menunggu datangnya waktu yang tepat. Mengapa tidak mencoba dari diri sendiri untuk membuatnya? Ia mencoba mengabaikan ragu yang sebenarnya masih membelenggu. Ia tetap menanamkan percaya bahwa Genathan tidak mungkin sejahat itu memainkan perasaan. Genathan tidak mungkin hanya menjadikannya pelampiasan.
Resha percaya itu.
"Dek, kok ngelamun?" Tangan yang melambai di depan wajahnya membuat Resha tersentak kecil dan mengerjap. Ditatapnya cowok yang sekarang berstatus sebagai kekasihnya.
Pulang sekolah kali ini Genathan mengajak Resha untuk mampir sebentar di mall dekat sekolah. Katanya, cowok itu sedang ingin bubble tea. Tapi, tidak ingin pergi minum sendiri. Sekalian sebagai first date mereka sebagai kekasih. Meskipun tidak romantis dengan makan malam yang dihiasi lilin dan alunan melodi pemanis, Resha sudah bahagia dengan sesuatu sesederhana ini.
"Mikirin apa, sih? Gue di sini loh, masih aja mikirin gue, hm?" tanya Genathan setengah menggoda dengan agak memajukan wajahnya menatap Resha. Selanjutnya, cowok itu dengan manisnya menyedot minuman tanpa mengalihkan tatap dari Resha.
Melihat itu, Resha malah terkekeh geli. "Kenapa sih, Kak? Jangan deket-deket."
"Nanti kalau dekatnya sama cewek lain, lo cemburu," balas Genathan seraya menarik diri dan menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Dih, apaan,” sungut Resha dengan senyumannya. Ucapan Genathan tak salah karena jelasa ia akan cemburu, meangnya siapa yang tak cemburu saat kekasihnya di dekati gadis lain?
"Sok gitu yaa kamu yaa,” ucap Genathan dengan kekehannya.
Mendengar kata 'kamu' dari mulut Genathan membuat Resha terbahak. Sungguh, Genathan terlihat imut apalagi dengan matanya yang menyipit.
Entah untuk alasan apa, keduanya jadi tertawa bersama. Seolah beban berat dan segala halang yang selama ini membentang di antara keduanya, terbang begitu saja. Dulu, melihat Genathan tersenyum saja sudah cukup untuk Resha. Sedangkan kini, ia justru terbahak bersama dan menjadi alasan tawa Genathan berderai indah.
"Res, gue mau tanya deh,” ucap Genathan yang kini menatap Resha dengan serius.
"Tanya apa, Kak?" tanya Resha dengan menaikkan sebelah alisnya penasaran apa lagi saat melihat Akasa yang terlihat begitu serius.
Genathan menyeruput minumannya sekali lagi sebelum akhirnya meletakkan cup itu di atas meja. Cowok itu melipat kedua tangan. "Awal mula lo naksir gue gimana? Langgeng banget bisa bertahan sampai sekarang."
Pertanyaan itu membuat pipinya memanas. Bingung juga harus menjawab apa.
"Spill dong," desak Genathan.
"O-oke. Jadi dulu pas SMP, mungkin Kakak lupa, sih. Pas aku mau beli sate usus di kantin pojok, banyak anak-anak cowok yang nongkrong di depannya. Terus ... Kakak lewat sambil nyuruh mereka diam. Denger suara Kakak, buat jantung aku ... nggak sehat. Habis itu pas aku mau ambil minum di kulkas ibu kantin, kebetulan Kakak juga mau ambil. Karena sisa satu, minumnya dikasih ke aku. Sederhana sih, tapi sejak itu aku jadi kepikiran Kakak."
Genathan mengangguk dengan tangan menopang dagu. "Jadi itu elo? Maaf, ya, gue bener-bener nggak ngeh. Terus apalagi?"
__ADS_1
"Terus ... Kakak tanpa sadar buat aku kagum. Guru-guru yang ngajar di kelas, sering nyebut nama Genathan. Pas itu Kakak masih bandel. Pas try out aku sering lihat papan pengumuman nilai, nama Kakak pasti di urutan 30 terakhir."
"Wahh lo stalking, ya? Duh, malu gue pernah bego," timpal Genathan menutup wajahnya geli.
Resha tertawa. "Tapi Kakak keren. Waktu UN, bahkan nilai matematika Kakak sempurna dan paralel tiga di sekolah."
"Lo tau? Gue dikira beli jawaban dong. Lagian ngapain juga. Gue dulu nggak punya duit, mana sempat beli kunci jawaban. Dulu toko Bentala belum seberkembang ini, gue luntang-luntung. Emang nggak ada akhlak, bisa-bisanya pada nuduh gue beli KJ," sewot Genathan saat mengingat masa lalunya. Ia memang dari keluarga berada namun ia tak ingin merepotkan orang tuanya dan ingin memiliki usaha sendiri untuk membeli apapun.
"Orang sirik mah gitu, Kak. Lagian kalau Kakak mampu kenapa nggak dari zaman try out aja Kakak nunjukinnya?" Tanya Resha penasaran.
Genathan menggeleng. "Gue belum tobat pas try out. Masih bandel. Terus ya gue anggap itu cuma coba-coba aja, yang serius ya pas ujian beneran. Toh nggak masuk rapor, jadi ya buat apa?"
"Kan bisa buat target, Kak. Sama ancang-ancang soalnya.”
Genathan berdehem. "Pas try out gue masuk ke fase sulit keluarga gue juga sebenarnya. Masalah itu buat fokus gue buyar. Jadi ya ... ya udah gitu."
Pengakuan Genathan itu membuat Resha agak mengernyit. Ia mendapat satu fakta bahwa keluarga Genathan pernah tidak baik-baik saja. Resha urung menanyakan, karena tau batas privasi di antara mereka. Baru saja hendak merespon ucapan Genathan, ponsel Resha di atas meja terbuka dan menampilkan pop up dari nomor tidak dikenal.
Jagain Gege. Baik-baik, ya. Gue yakin lo bisa buat Gege bahagia.
Btw, gue Ayu. Nggak usah mikir dapat nomor lo darimana.
"Dari siapa?" tanya Genathan.
Resha menggeleng. "Bukan siapa-siapa. Salah kirim kayaknya."
Genathan mengangguk. "Oh iya, gue mau ngadain give away sebagai tanda jadian kita."
******
Genathan tidak main-main dengan perkataannya. Cowok itu benar-benar mengadakan give away. Sepatu couple untuk dua orang beruntung. Satu jam tangan, dan tiga string bag. Resha terkejut saat melihat postingan di instagram bentala dan akun pribadi Genathan. Kini, ia tidak perlu kucing-kucingan menggunakan akun kedua.
Di akun menfess sekolah, banyak juga yang mengirim untuk Genathan. Ada yang minta dimenangkan dalam give away, ada juga yang bilang patah hati.
Kini, status mereka sudah tersebar. Di komentar postingan give away pada akun pribadi cowok itu, banyak yang menandai akun Resha. Apalagi, Genathan juga memposting foto saat mereka di mall tadi meski tidak mengekspos wajah Resha. Perasaannya campur aduk. Senang karena Genathan tidak malu mengakuinya. Tapi di satu sisi ia takut. Takut jika kehidupannya menjadi terusik mengingat banyak yang mengagumi pacarnya.
Dering ponsel di tangan Resha kembali menyadarkannya. Genathan menelpon. Seulas senyum tipis terbit, segera saja Resha mengangkatnya.
"Malam, Dek."
Suara Genathan benar-benar termasuk boyfriend material.
__ADS_1
"Malam juga, Kak. Kenapa?"
"Nggak papa, chat gue belum dibalas gue kira kenapa-kenapa. Jadi ya ... gue telpon aja. Nggak ganggu 'kan?"
Resha refleks menggeleng, padahal Genathan tidak bisa melihatnya. "Nggak lagi ngapa-ngapain, juga lagi mikir aja mau ikut give away apa enggak."
Terdengar kekehan di seberang sana. "Kan yang ngadain pacar sendiri, masa mau ikutan juga? Mending bilang aja mau yang mana, tinggal Kakak ambil di toko."
Resha tertawa geli mendengar itu. Ia beralih posisi dengan menyandarkan punggungnya ke kepala kasur. Tak lupa memeluk guling. "Mentang-mentang yang punya bentala."
"Iya dong, sombong dikit. Tapi serius, lo ada mau yang mana? Bilang aja, nggak papa."
"Nggak kok. Semuanya udah cukup buat aku, nggak minta apa-apa lagi."
Ada jeda panjang yang menyapa. Hingga tiba-tiba Genathan berdehem. "Naresha, gue ngerti awalnya bakalan berat buat lo adaptasi soal ini semua. Mungkin salah gue juga yang terlalu tergesa. Gue cuma nggak mau lo hilang lagi. Jangan pernah mikir kalau lo cuma pelampiasan. Nggak ada kata pelampiasan dalam hidup Genathan."
Resha tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ucapan itu sukses membuat hatinya menghangat.
"Nggak perlu mikir omongan orang, toh mereka ngomong juga nggak pakai mikir dulu. Jangan pernah mikir juga kalau lo nggak pantas buat gue. Karena itu juga bakal nyakitin gue."
Genathan seolah bisa menangkap resahnya meski tak disampaikan lewat kata oleh Resha.
"Gue percaya kalau lo adalah orang yang tepat. Jadi lo juga harus percaya sama diri lo sendiri kalau lo itu pantas. Naresha, gue beruntung dicintai oleh orang setulus lo. Makasih, ya."
Resha lebih merasa beruntung, karena di antara banyaknya perempuan di luar sana, Genathan justru memilihnya yang hanya gadis biasa.
Resha percaya bahwa semesta selalu mempunyai takdir baik untuk setiap manusia.
***
Jadi pengen punya support sistem juga.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
Thanks for reading all.
__ADS_1