
Menemukanmu, jatuh hati kepadamu, dan membuka lembaran kisah bersama kamu akan selalu kusyukuri sebagai anugerah terindah dalam hidupku.
***
Hari demi hari silih berganti. Tidak terasa sudah 3 bulan sejak Genathan masuk kuliah. Resha kini sudah bisa beradaptasi dengan kesibukan Genathan. Meskipun sesekali cekcok kecil, tapi tak apa. Angap saja bumbu dalam sebuah hubungan. Resha pun mulai sibuk dengan kegiatan kelas 12 yang rasanya semakin padat. Mereka sama-sama memiliki kesibukan, tapi tidak berhenti untuk saling berbagi.
Resha menceritakan kesehariannya pada Genathan, begitupun sebaliknya. Termasuk Genathan yang menceritakan bahwa akan ada reuni anak ultras dalam waktu dekat ini.
“Kakak besok jadi buat reuninya?” tanya Resha sambil menatap Genathan yang kali ini tengah menyetir di sampingnya. Mereka habis dari perpustakaan kota untuk mencari beberapa buku. Genathan membutuhkan buku refrensi untuk pengerjaan makalah dan Resha menemaninya.
Kemarin Genathan mengajak Resha untuk ikut bersama dengan laki-laki itu untuk acara reuni anak ultras di malam minggu.
“Jadi dong,” jawab Genathan dengan semangat sambil menampilkan senyuman nya pada Resha yang hanya menganggukkan kepalanya sambil memakan makanan ringan yang kini berada di pangkuannya.
“Tumben banget mereka pada ngadain acara begini,” ucap Resha menoleh ke arah Genathan dengan kerutan bingungnya.
“Gak tumben, kamu aja yang gak tau. Tiap tahun kita memang selalu ngadain acara reuni. Ya kan kapan lagi kita bisa kumpul-kumpul,” ucap Genathan menjelaskan sambil menarik pipi Resha, merasa gemas dengan gadis nya tersebut yang memang begitu menggemaskan.
“Ya kan emang pertama kalinya aku tahu yang beginian, kakak aja juga baru lulus,” tukas Resha dengan wajahnya yang sudah cemberut sedangkan Genathan hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan gadisnya tersebut.
“Tiap tahun kakak akan ajak kamu buat selalu hadir,” ucap Genathan begitu yakin jika ia akan terus bersama dengan Resha. Jelas Genathan begitu yakin, karena memang ia akan terus selalu mengusahakan agar Resha terus menjadi miliknya.
Hingga tak lama mereka akhirnya sampai di depan rumah Resha.
“Kakak gak turun dulu?” tanya Resha saat sudah membuka seat belt-nya.
“Nggak dulu deh, udah sore. Lain kali aja,” jawab Genathan yang Resha balas dengan anggukan karena tak ingin untuk memaksa. Hari memang sudah begitu sore mungkin sebentar lagi akan mati hari akan segera kembali pada peraduannya.
"Eh, bentar ada telepon," celetuk Genathan yang membuat Resha menghentikan langkahnya untuk membuka pintu.
"Ayu nelpon, Res. Bentar, jangan keluar dulu ya," sambung Genathan yang direspon anggukan oleh Resha.
Panggilan video itu akhirnya diangkat oleh Genathan. Di sana terlihat Ayu dengan wajah gembiranya.
"HALOOOO GE! Apa kabar? Eh itu ada Resha, ya? HALOO RESHA, GUE KANGEN BANGET." Ayu begitu antusias menyapa Resha dan Genathan.
__ADS_1
"Duh, lo bisa nggak ngomongnya kalem aja? Sakit kuping gue," omel Genathan sedangkan Resha tertawa geli.
"Kak Ayu apa kabar?" timpal Resha.
"Baik banget. Duh gue kangen banget sama kalian. Enak ya ini kalian bisa ketemu tiap hari. Gue pengen ketemu sama kalian plis," celoteh Ayu.
"Sini lo balik. Betah amat di Semarang, ada cem-ceman, ya," ujar Genathan.
"Lo gatau aja, Ge, cowok-cowok Semarang cakep-cakep. Lo mah lewat. Ntar dah liburan semester gue balik," jawab Ayu.
"Di sini juga cakep. Noh Gentala nganggur," ucap Genathan.
"Dih ogah amat sama Gentala. Ngeselin."
Dan setelahnya, mereka bertiga melanjutkan obrolan itu melalui telepon. Menghabiskan sisa sore itu dengan berbincang dengan Ayu yang sedang berada jauh di Semarang untuk melanjutkan pendidikan.
*
Seperti yang sudah direncanakan, malam minggu kali ini Genathan mengajak Resha untuk menghadiri acara reuni yang memang rutin dilakukan oleh anggota ultras. Mereka kini sudah sampai di cafe yang sudah di-booking untuk acara ultras.
“Ramai banget, ya, Kak,” ucap Resha saat baru saja keluar dari mobil.
“Emang selalu ramai gini,” ucap Genathan dengan senyumannya yang membuat Resha menjawabnya dengan anggukan.
“Weh yang ditunggu akhirnya datang juga nih,” kelakar Gentala menyapa Genathan juga Resha yang baru saja datang. Resha tersenyum ke arah Gentala lalu duduk di samping laki-laki tersebut yang memang kosong. Sedangkan Genathan duduk di samping kirinya yang juga kosong.
Kini Resha duduk diapit oleh Gentala dan Genathan sedangkan di sekitarnya ternyata sudah banyak kakak kelasnya yang sudah lulus. Resha bukan perempuan sendiri. Ada beberapa anak ultras perempuan juga. Juga ada anak-anak ultras yang turut membawa pacarnya.
“Pacar lo Ge?” tanya laki-laki yang kini duduk di depan Genathan sambil menghisap sebatang nikotin. Dan jujur saja hal itu membuat Resha risih karena ia tak suka menghirup asap rokok.
“Iya, Bang, cantik kan? Jelas lah pacar gue,” ucap Genathan dengan senyumannya membanggakan Resha. Resha yang mendengar pujian Genathan kini rasanya sudah dilambungkan dengan tinggi oleh Genathan. Kupu-kupu yang berada di perutnya kini terasa sudah berterbangan.
“Nanya sendiri jawab sendiri, bucin dasar,” cibir Gentala dengan desahannya sambil menggelengkan kepalanya menatap Genathan yang kini hanya menatapnya datar.
“Lah jelas, lo aja ngakuin kalo Resha cantik kan? Mangkanya lo suka dia,” ucap Genathan dengan bangganya yang membuat Gentala kini hanya menelan ludahnya susah payah lalu mengalihkan tatapannya. Sedangkan Resha hanya menggelengkan kepalanya melihat pertengkaran kedua sahabat tersebut
__ADS_1
“Gue baru tau kalau ada drama ini,” ucap kakak kelas Genathan yang tadi bertanya.
“Heboh pada masanya, Bang,” jawab Hasta dengan tawanya yang malah membuat Gentala langsung menoyor kepala sahabatnya tersebut dengan kesal.
"Terus gimana nih sekarang? Masih naksir kagak, Ta?" tanya Kakak kelasnya lagi.
Gentala tertawa. "Kepo lo, Bang. Ini biar jadi rahasia aja."
Setelahnya mereka saling bercanda dan tertawa bersama dengan banyaknya cerita di antara mereka.
Memang tidak ada yang menebak bagaimana takdir berjalan selanjutnya. Naresha yang awalnya stuck sebagai pengagum dalam diam, pada akhirnya menemukan titik terang dalam perjuangannya. Sapu tangan dan pesanan di online shop milik Genathan, mengantarkannya pada gerbang kisah mereka berdua.
Jangan lupakan insiden foto tanpa perkenalan yang hampir 3 tahun berlalu. Menjadi awal tanpa disadari keduanya. Berawal sebatas pengagum tanpa kata, pada akhirnya siapa sangka bisa mempunyai rasa yang sama?
Meskipun beberapa kali terombang-ambing di ujung perpisahan, tetapi mereka akan selalu kembali untuk saling menemukan.
Genathan dan Resha telah mengantarkan sebuah kisah sederhana yang mungkin dialami oleh banyak orang. Memendam rasa sendiri, lalu sakit sendiri, hingga akhirnya bisa saling menjadi wadah untuk berbagi.
Dari Resha, Genathan belajar bahwa cinta adalah tentang rasa sabar. Bagaimana dengan tabahnya gadis itu tetap mempertahankan perasaan untuknya, di saat banyak rintangan yang dapat mengombang-ambingkan perasaannya sendiri. Entah untuk keberapa kalinya, Genathan mengungkapkan betapa bersyukurnya dirinya dapat dicintai setulus itu oleh Naresha.
Sedangkan untuk Naresha, ia jadi tahu bahwa dibalik sosok Genathan yang terlihat sempurna, nyatanya memiliki kisah hidup berurai luka.
Jangan lupakan Ayunindya dan Gentala. Seorang gadis cantik seperti Ayunindya, nyatanya pun sama memiliki luka. Diombang-ambingkan keadaan, bahkan hampir membuatnya salah jalan. Untung saja, ia masih sadar dan dapat kembali memutar haluan.
Gentala. Pemuda manis dengan netra memancarkan kehangatan itu, juga mengajarkan tentang sebuah ikhlas. Tidak semua yang disuka, pada akhirnya bisa kita punya.
Genathan dan semua orang yang terlibat dalam kisahnya, semoga senantiasa menemukan bahagia.
Tidak perlu marah atas skenario takdir, cukup sabar tunggu masanya saat bahagia akan mengalir. Tanamkan percaya, bahwa semesta akan selalu memberi dengan adil.
***
Hai makasih ya udah baya cerita ku dan ini.
Dan sekarang kita udah di penghujung cerita.
__ADS_1
Dukung terus ya karya aku yang lai.
See You next story all.