
Tersimpan luka di balik kata, “Aku baik-baik saja.”
***
Sudah hampir setengah jam Resha menunggu Genathan menjemputnya seperti ucapan laki-laki itu. Namun, sampai sekarang belum ada tanda-tanda kedatangan laki-laki itu.
Rintik hujan mulai turun menyapa malam yang mulai kelabu, menemani Resha yang sedang menunggu. Delia sudah pulang lebih dulu bersama Arik. Tadi Delia memaksa untuk menemani Resha menunggu Ganathan, tetapi Resha menolak mengingat hari yang sudah mulai malam. Ia tidak enak hati jika Arik dan Delia menemaninya terlalu lama tanpa kepastian.
Motor sport berwarna hitam berhenti tepat di hadapan Resha. Sang pemilik membuka helm full face yang melindungi kepalanya, memperlihatkan wajah tampannya. "Belum pulang?" tanya laki-laki tersebut menatap Resha.
"Udah kak, ini arwahnya yang di sini," kesal Resha. Sudah jelas Resha masih berdiri di tempatnya dan laki-laki yang tak lain adalah Gentala malah melemparkan pertanyaan retoris.
Gentala terkekeh geli mendengar nada sinis Resha. "Kalem dong, sensi banget lo sama gue. Yuk pulang, gue anter," ajak Gentala menawarkan diri untuk mengantar Resha.
Rintik hujan jatuh semakin banyak. Sedangkan di tempat, Resha semakin bingung. Bagaimana dengan Genathan? Bagaimana jika Genathan kembali kemari, tapi Resha tidak ada di sini?
"Udah malam, ayo buru," desak Gentala sembari menyodorkan helm pada Resha. Cowok itu memang membawa dua helm, karena tadi ia membantu memberi tebengan bagi anak Cakrawala yang berkendala dalam transportasi.
"Kak Gege ... gimana?" tanya Resha yang masih saja mengkhawatirkan Genathan. Takut laki-laki tersebut datang dan ia malah tak ada di sana. Atau malah akan ada yang memotret nya lagi dan menyebarkannya hingga Genathan akan cemburu dan marah lagi,.
"Gue yang ngomong. Ayo,” putus Genatala.
Akhirnya Resha menerima helm itu dan naik ke atas motor. Gentala mulai melajukan motor membelah jalanan yang dibaluri air hujan malam ini. Tidak ada percakapan di antara mereka, hanya keheningan yang menemani dengan hujan yang membasahi.
Gentala menatap tangan Resha yang hanya memegang ujung bajunya. Ia menyempatkan diri untuk melingkarkan tangan Resha ke perutnya. Samar-samar Gentala dapat merasakan tubuh Resha yang bergetar. Ia tahu gadis itu sedang menangis dan hatinya ikut terluka melihat gadis yang disayanginya seperti ini.
Gentala mengikhlaskan Resha pada Genathan bukan untuk disakiti. Ia kira Resha akan bahagia bersama, tapi nyatanya ia salah. Resha justru terluka terjebak oleh dilemanya Perasaan Genathan. "Gue selalu ada buat lo Res," ucap Genathan sambil mengelus tangan Resha.
Di malam bersama hujan hari itu, Resha merasa semesta turut menemani tangisannya.
***
Keesokan harinya, Resha semakin mengeratkan selimut yang dipakainya
Tubuhnya menggigil, kepalanya sangat pusing.
"Sayang, kamu gak papa?" tanya Andin—mama Resha— khawatir melihat kondisi anaknya.
Resha menggeleng pelan. "Pusing aja kok, Ma."
"Mama ambil air buat kompres dulu ya." Andin segera keluar menuju dapur, mengambil air kompres untuk anaknya.
Resha mencari keberadaan ponselnya untuk melihat apakah ada pesan atau panggilan dari Genathan. Namun hasilnya nihil, tak ada pesan dari Genathan. Apa pacarnya itu melupakan dirinya? Resha berdecak kesal sebelum menutup ponselnya dan meletakkannya ke sembarang arah.
Tidak menunggu lama, sang mama sudah kembali dengan nampan di tangannya. "Tadi ada temen kamu bawain bubur buat kamu." Andin meletakkan nampan yang dibawanya.
"Siapa, Ma?" tanya Resha yang sudah berharap jika itu adalah Genathan.
Andin berdehem. "Gentala. Dia anak perumahan sini juga, ya? Tapi, beda kompleks."
Resha hanya mengangguk, meski terselip rasa kecewa karena bukan Genathan yang membawakannya.
Andin meletakkan kain yang sudah terserap air kompres ke dahi Resha. "Nanti pulang sekolah katanya mau mampir."
__ADS_1
Tak beberapa lama Resha mulai tertidur lagi setelah makan dan meminum obatnya.
Saat bangun hal pertama yang Resha lihat adalah wajah Gentala yang tersenyum ke arahnya.
"Udah bangun?" tanya Gentala yang lagi-lagi menurut Resha adalah pertanyaan yang tidak harus dijawab.
"Kakak ngapain di sini?" Resha mengubah posisinya menjadi duduk.
"Jenguk lo lah, masa mau nge-date sama nyokap lo," jawab Gentala dengan tawanya. Namun Resha tidak tertawa, mood-nya memang cukup hancur kali ini.
Suara ponsel Resha mengalihkan perhatian mereka. Resha menatap ponselnya yang menampilkan pesan masuk dari Genathan.
Kak Gege :
Resha.
Res, maaf. Kemarin bener-bener ada urusan yang nggak bisa ditinggal.
Naresha:
Iya gak papa kok kak
Balasan Resha tentu saja berbohong. Sudah jelas ia marah dan kesal, namun sulit untuk mengungkapkannya pada Genathan.
Kak Gege :
Nanti aku hubungin lagi, ya.
Love you.
"Genathan?" tanya Gentala mengerutkan keningnya dan Resha hanya menganggukkan kepalanya.
"Kak Ayu penting banget, ya, buat Kak Gege?" tanya Resha menatap Gentala dengan wajah sendunya.
"Lo jauh lebih berharga." Gentala menenangkan Resha.
"Tapi Kak Ayu yang prioritas Kak Gege, bukan aku." Resha tanpa sadar sudah meneteskan air matanya. Ia ingin jadi wanita yang kuat, tetapi air matanya selalu mendesak untuk keluar.
"Ada gue Res, lo sangat berharga buat gue. Lo prioritas gue, dan gue hancur saat lihat lo nangis. Jangan nangis lagi ya." Gentala mengusap air mata yang membanjiri wajah cantik Naresha.
Resha merasa bersalah pada Gentala. Laki-laki itu sangat menyayanginya, dan ia tidak bisa membalasnya. Ia malah mencintai Genathan yang justru memprioritaskan Ayu, bukan dirinya sebagai kekasihnya.
"Cepet sembuh, Res, nanti gue temenin jalan-jalan,” ucap Gentala dengan senyumannya menenangkannya sambil mengelus puncak kepala Resha sayang.
Andai bisa, Resha memilih untuk jatuh pada Gentala saja. Namun hati tak bisa memilih dan di paksa untuk siapa ia berlabu. Meskipun Resha berharap jika hatinya untuk Gentala namun mesta berkata lain karena hatinya sudah terlalu jatuh pada Genathan.
***
Hari-hari silih berganti tanpa kabar dari Genathan. Sudah dua hari Resha tidak masuk sekolah. Kata Delia saat tempo hari datang menjenguk, Genathan jarang terlihat di sekolah bersama anak-anak ultras maupun Hasta dan Gentala.
Gentala, laki-laki itu menepati janjinya menemani Resha jalan-jalan di taman dekat kompleks.
"Kak Tata setelah lulus mau lanjut kuliah di mana?" tanya Resha saat mereka berjalan di trotoar jalan.
__ADS_1
"Di sini aja nemenin elo, ntar lo kesepian lagi kalau gak ada gue," jawab Gentala dengan tawanya yang membuat Resha bergidik mendengarnya.
Resha ikut tertawa geli. "Pede banget, Kak."
"Gue tau kali Res, lo bakal kesepian kalau gak ada gue makanya gue di sini aja nemenin elo." Gentala mengacak rambut Resha dengan gamas membuat si empunya menggerutu kesal.
"Berantakan Kak, ihh," kesal Resha yang malah disambut tawa oleh Genatala.
Mata Resha menangkap penjual es krim di ujung taman. "Kak, mau es krim ...."
"Gak boleh. Lo baru aja sembuh Res," tolak Gentala yang membuat Resha mengerucutkan bibirnya.
"Kak Ta, please satu aja deh, ya ya boleh ya." Resha menyatukan kedua tangannya, bermaksud memohon.
Gentala mengembuskan napas pelan. Tidak tega juga melihat wajah melas Resha. Akhirnya Gentala mengiyakan. Hari ini, Resha habiskan dengan Gentala. Beban pikirannya tentang Genathan sedikit berkurang walau tak semuanya hilang.
Namun bersama Gentala, Resha merasa lebih baik-baik saja. Bagaimana jika akhirnya hatinya menemukan rumah lain? Bagaimana jika akhirnya Resha untuk Gentala bukan lagi Resha untuk Genathan.
***
Genathan menatap gadis di depannya dengan nanar Ayu benar-benar hancur kali ini satu fakta yang harusnya tak ia tahu justru kini mengetahuinya.
"Tenang Yu, masih ada gue." Genatha memeluk Ayu untuk menenangkan sahabatnya itu.
"Engga, lo udah berubah berubah semenjak punya Resha. Lo gak peduli lagi sama gue. Sekarang gue tahu alasan Papa gue gak suka sama gue, gue bukan anak kandungnya."
Tangis Ayu pecah. Ia mengetahui fakta jika papa yang selama ini ia sayang bukan papa kandungnya. Lalu siapa papanya? Hal itu terus menjadi pikiran Ayu.
"Gue akan selalu ada buat lo Yu, lo prioritas gue. Please, jangan gini. Lo harus bisa bangkit," ujar Genathan yang masih memeluk Ayu dengan erat. Bahkan kini Genathan melupakan bagaimana keadaan kekasihnya demi menjaga dan menemani Ayu.
"Janji sama gue Ge, lo akan selalu ada buat gue." Genathan mengangguk saja.
Bagaimanapun Ayu adalah sahabatnya. Genathan akui, Ayu adalah cinta pertamanya. Dalam hati ia mencoba menguatkan dirinya. Ia tidak boleh jatuh lagi pada Ayu. Apalagi, sekarang ia punya kekasih. Mengingat itu, Genathan jadi merasa bsrsalah.
Ia tidak kembali untuk menjemput Resha malam itu.
Res, apa kabar?
***
Genathan lo egois banget. Kesel banget gak sih sama Genathan?
Ayu juga gak tepat sama omongannya dulu.
Mending Resha sama Genatala aja deh Res.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
__ADS_1
Thanks for reading all.