Genathan

Genathan
TEGURAN GENTALA


__ADS_3

Jika hadirmu hanya membawa luka, pergilah. Biarkan aku yang menjaganya.


***


Setelah kejadian di rumah Genathan kemarin, sampai sekarang laki-laki itu belum ada menghubunginya. Resha menghembuskan nafasnya kasar. Sebenarnya siapa Resha bagi Genathan? Jika tak ada artinya, biarkan Resha pergi. Hatinya sudah terlalu jauh terluka. Jika dari awal hati Genathan bukan untuknya, untuk apa laki-laki itu memberikannya harapan? Mengapa ia mengatakan cinta jika tak ada rasa yang terselip untuk Resha?


Jika sayang, harusnya Genathan hadir dan menjadi penenang bagi Resha. Namun kini, laki-laki itu malah menjauh tanpa kabar sedikitpun seolah Resha bukan siapa-siapa baginya. Resha kecewa? Jelas, Resha sangat kecewa. Hatinya juga terluka, tetapi apa yang bisa Resha lakukan? Jika hati Genathan memang untuk Ayu, Resha akan mencoba untuk mengikhlaskan.


Berjuang sendiri, mencintai sendiri, dan berharap sendiri tidaklah semudah itu. Banyak rasa sakit dan lara yang ikut andil memainkan segalanya. Mungkin bagi laki-laki, pergi semaunya adalah hal yang menyenangkan. tanpa tau bagaimana perasaan wanita yang ia permainkan. Miris, mereka hanya hadir untuk melepas penat dan pergi saat menemukan yang baru.


"Ngelamun aja lo," sentak suara di belakang Resha mengagetkan gadis itu membuyarkan lamunan Resha.


"Ngagetin aja lo," kesal Resha pada si pelaku yang tak lain adalah Delia— sahabatnya.


Delia nyengir. "Lagian lo ngelamun mulu, lo kenapa, sih? Akhir-akhir ini ngelamun mulu?" tanya Delia yang melihat perubahan Resha. Delia tau pasti semua ini ada hubungannya dengan Genathan. Namun, Delia tidak tahu apa yang terjadi pada Resha dan Genathan. Bahkan kini sahabatnya itu tidak pernah terlihat bersama Genathan lagi.


Resha menggeleng pelan. “Gak papa, gue mau tidur nanti kalo ada guru bangunin.” Ia malas membahas masalahnya. Ia belum siap menceritakannya pada siapapun karena semakin mengingatnya hanya akan membuatnya semakin dalam terluka.


Delia hanya menghembuskan napas pasrah. Ia mengerti jika Resha belum siap saat gadis itu siap pasti Resha akan menceritakan tanpa ia minta.


Dalam hati Delia berharap, semoga sahabatnya itu segera kembali baik-baik saja.


***


"Gege!" Suara teriakan dari depan lobi membuat Genathan yang bersiap pulang sontak menghentikan langkahnya. Cowok itu mendelik melihat Ayu ada di depannya. Mereka berbeda sekolah, untuk apa Ayu sampai datang menemuinya kemarin? Apakah terjadi sesuatu lagi?


Gentala yang berada di depannya mendengus dengan malas saat melihat siapa yang memanggil Genathan, sedangkan Hasta yang berada di samping Gentala hanya menggeleng melihatnya.


"Masuk sekolah orang tuh salam kek, malah teriak-teriak. Lo kira ini hutan!" sarkas Gentala dengan kesal pada gadis yang kini sudah berdiri samping Genathan.


Ayu melirik sinis, lalu menjulurkan lidahnya mengejek. "Apa sih, sewot mulu! Gue nggak pernah nyenggol lo ya, Ta!"


"Nyinyinyi, serah," sungut Gentala lalu mengalihkan tatapannya.

__ADS_1


Genathan yang melihat perdebatan keduanya hanya menggeleng kecil. Sudah biasa, Ayu dan Gentala tidak bisa akur. "Udah, tawur mulu. Ngapain kesini, Ya? Kan gue yang mau jemput ke sekolah lo,” ucap Genathan menengahi kedua sahabatnya tersebut.


"Lama, tadi nebeng temen. Lewat sini, ya udah gue mampir. Tapi sekarang laper nih, Ge. Mampir kantin sekolah lo dulu dong," ajak Ayu sambil sedikit merengek.


Genathan yang tak bisa menolak akhirnya hanya menganggukkan kepalanya. Padahal ia sedang malas. Kepalanya sedikit pusing, apalagi memikirkan hubungannya dengan Resha yang sudah berada di ujung tanduk.


"Turutin aja terus, pacar mah lupain," sindir Gentala yang langsung pergi berbalik ke area sekolah lagi. Hasta buru-buru membuntuti Gentala daripada jadi obat nyamuk antara Ayu dan Genathan.


Ayu mengayunkan lengan Genathan. "Laper, Ge. Buruan ke kantin, keburu habis." Genathan mengangguk dan tersenyum sekilas.


Saat mereka berjalan di Koridor banyak mata yang menatap mereka kagum dan penuh tanya. Tumben sekali Ayu mampir ke sekolah Genathan? Ayu memang terkenal di SMA Cakrawala meski tidak menjadi murid di sana. Akun yang sering di-tag oleh Genathan, tentu saja jadi bahan stalk anak-anak.


Apalagi, fakta bahwa Ayunindya adalah orang terdekat seorang Genathan. Cocok pula. Banyak yang mengira jika Genathan kembali memilih Ayu dan meninggalkan Resha. Ditambah sekarang Genathan sudah tidak pernah terlihat bersama Resha lagi.


"Sampai diapelin ke sekolah gini dong."


"Naresha mah cuma selingan sekilas."


"Ditinggal juga kan si Resha."


Masih banyak lagi perkataan dari penghuni sekolah yang membuat Genathan muak. Namun, ia memilih menulikan telinga.


"Mau makan apa? Biar gue pesenin," tanya Genathan saat mereka sudah berada di kantin.


"Hmm, nasi goreng sama es teh aja." Genathan mengangguk dan segera langsung memesan makanan. Saat menuju stan makanan, mata Genathan tak sengaja menangkap sosok Resha yang menyeruput minuman dengan tatapan berbeda. Tumben gadis itu tidak langsung pulang seperti biasanya?


Genathan menghela nafasnya berat. Semua ini karenanya. Harusnya ia selalu hadir untuk Resha. Namun, justru kini ia terjebak dengan masalah yang ia buat sendiri. Genathan memang mencintai Resha, tapi perasaan untuk Ayu masih terlihat semu.


Benang merah yang diberikan semesta dalam takdirnya seolah tak mengizinkan Genathan untuk mendapat kisah kasih yang tenang seperti yang lainnya. Ia justru terjebak dalam permainan takdir di tengah dua perempuan yang sama-sama penting dalam hidupnya.


Baru saja Genathan berniat melangkah menghampiri Resha, tangannya dicekal oleh Ayu yang entah sejak kapan berada di sampingnya. "Ayo buruan pesen, udah laper," gerutu Ayu. Genathan berdecak singkat, segera memesankan makanan untuk Ayu.


Usai memesankan makanan, Genathan kembali ke meja Ayu. "Gue ke kamar mandi dulu, ya. Nanti makanannya diantar. Udah gue bayar kok. Pulangnya tunggu gue, jangan duluan."

__ADS_1


Setelah mendapat anggukan dari Ayu, Genathan mulai melangkah menuju kamar mandi. Di kamar mandi, ternyata ada Gentala yang tengah mencuci mukanya dengan sabun wajah di wastafel. Satu kebiasaan yang tidak diketahui oleh orang lain, Gentala selalu membawa sabun wajah dan memakainya saat pulang sekolah. Katanya, biar tidak terlalu dekil.


Genathan mendekat, membuka keran dan menatap kaca di depannya. "Semua malah rumit, Ta."


Gentala membilas wajahnya sekali lagi. Kedua tangannya bertumpu pada pinggiran wastafel dengan tatapan mata melihat Genathan dari kaca. "Lo yang buat semuanya rumit," jawabnya datar.


"Gue tau, tapi semuanya sulit. Ayu sangat berarti bagi gue, dia yang selalu nemenin gue disaat gue down." Genathan mematikan kran dan mengusap tangannya dengan tisu yang disediakan tak jauh dari sana.


"Dan Resha sangat berarti bagi gue. Kalau lo gak bisa ngasih dia kasih sayang juga kebahagian dan hanya bisa ngasih dia luka, lepasin. Gue siap gantiin lo dan hapus semua luka Resha untuk diganti sama bahagia," tegas Gentala.


Genathan meremas tisu dan mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. "Maksud lo apa?" tanya Genathan dengan suara yang serak sarat akan menahan amarah.


"Selama ini gue ngalah, karna gue sadar yang dicinta Resha itu elo. Dan gue rasa Resha akan bahagia dengan cowok yang dicintai. Tapi kalau kayak gini terus, gue nggak bisa diem. Cewek yang gue suka harus nahan luka karena ketidak tegasan lo." Gentala mengusap wajahnya. Ia mengambil sabun wajahnya lalu berbalik meninggalkan Genathan.


Sebelum benar-benar jauh, Gentala berhenti sejenak. "Lo harusnya tau apa yang harus lo lakuin. Pikirin baik-baik ya, Ge. Ada yang nunggu kabar putus lo," lontar Gentala dan segera pergi meninggalkan Genathan.


Genathan menggeram marah mendengar ucapan Gental. Di satu sisi, ia marah. Namun disisi lain, ia memang selalu memberi luka pada Resha. Ia bimbang, jelas ia tidak bisa berpisah dengan Ayunindya. Cowok itu mengacak rambutnya frustasi. Bingung apa yang harus ia lakukan. Benang merah ini tak kunjung menemukan ujung.


Andai semua berjalan lancar dan baik-baik saja, mungkin kini ia tengah tertawa bahagia bersama Resha. Namun semua itu hanya angan semata.


Angan sesederhana itu, mengapa sulit sekali mendapat restu semesta?


Sebenarnya yang mempersulit itu semesta ... atau justru dirinya sendiri?


***


Wah Genathan bener-bener emosi ya.


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.

__ADS_1


See you next chapter all.


Thanks for reading all.


__ADS_2