
Perlahan tapi pasti, akan menemukan titik cerah setelah berkali-kali kehilangan arah dan terbelenggu resah.
***
Pulang adalah kata paling menyenangkan untuk Genathan. Setelah beberapa hari terpenjara dalam rumah sakit, akhirnya ia sudah dibolehkan pulang. Ditatapnya adik kelasnya yang selama ini tidak bosan mengunjunginya di rumah sakit. Adik kelas yang awalnya hanya sebatas pembeli yang memesan sepatu di online shop miliknya, kini malah terasa dekat. Sedangkan sang sahabat, justru menghilang tidak ada kabar.
Tapi lama-lama, kekosongan pada diri Genathan saat Ayunindya tidak ada, malah tak lagi terasa karena hadirnya Resha. Adik kelasnya itu benar-benar menemaninya di segala suasana. Dia bisa menjelma menjadi pendengar yang baik, dan perespon cerita yang bijak. Umurnya memang lebih muda dari Genathan, tapi pola pikirnya jauh lebih dewasa. Genathan tidak mengerti mengapa ada debaran asing dalam dirinya saat bersama Resha. Padahal dulu, biasa saja.
"Ge, lo jangan ngelamun. Atau ada yang sakit, Ge?" tegur Hasta panik di samping Genathan yang masih duduk di ranjangnya. Mereka memang menunggu taksi online yang dipesan untuk Genathan datang.
Tidak ada papa mama. Keduanya sama-sama ada urusan di luar kota. Tidak apa, Genathan sudah terbiasa. Toh sekarang ia punya keluarga kedua.
Yaitu teman-temannya. Gentala, Hasta, Arik, Mbul, dan lima orang lainnya ada untuk mengawal Genathan pulang ke rumahnya. Tak lupa sekarang ada Resha dan pacar Arik yang turut menyambutnya.
Genathan menggeleng menanggapi ucapan Hasta. "Nggak papa. Turun aja, yuk. Kamarnya dibuat gantian pasien lain."
"Taksi online-nya belum dateng, Bang," sahut Arik.
"Nggak papa nunggu di bawah aja." Genathan masih bersikeras untuk turun. Sejujurnya ia sudah pengap dan ingin menghirup udara bebas di luar sana.
Cowok itu bersiap turun dari brankar yang ia duduki. Sontak saja semua teman-temannya mendekat. Tetapi Genathan justru mengibaskan tangannya yang tidak terluka ke arah mereka. Seolah memberi kode untuk tidak mendekat. Ia bisa sendiri.
Semuanya tampak cemas melihat Genathan yang mencoba berjalan sendiri meski tertatih. Gemas, Gentala mendekat dan membantu menuntun sahabatnya untuk berjalan. Dengan sabar ia menyesuaikan langkah Genathan.
Gentala menatap semua orang yang ada dalam ruangan. "Ayo turun. Barang-barang Gege jangan lupa dibawain, ya."
Mereka semua mengangguk dan mengikuti langkah keduanya di belakang.
Resha berjalan berdampingan dengan Delia yang ada di samping Arik. Ingin rasanya berjalan di samping Genathan, tapi harusnya ia sadar untuk tidak berharap aneh-aneh. Langkah Genathan yang tiba-tiba berhenti membuat teman-temannya sontak menghentikan langkah juga. Gentala sama terkejutnya. Apalagi Genathan justru menjauhkan diri dan membalikkan tubuhnya ke belakang.
Resha mengangkat kedua alis tinggi saat tatapan Genathan berhenti tepat di arahnya. "Sini, Dek." Suaranya yang lembut benar-benar membuat Resha berdesir. Disusul senyum manis cowok itu hingga membuat matanya menyipit. Teman-teman Genathan kompak bersuara batuk yang dibuat-buat. Hal itu membuat pipi Resha terasa memanas.
Melihat Genathan yang menghampirinya dengan langkah tertatih membuat Resha mendelik dan refleks mendekat pada Genathan. "Kenapa, Kak?"
"Takutnya hilang. Sini aja, di sana jadi obat nyamuk Arik sama pacarnya."
Resha terkekeh. "Di sini malah jadi obat nyamuk Kakak sama Kak Genta."
"Heh yang bener aja. Gue masih normal. Ogah banget ya sama ini bucin olshop," sahut Gentala tidak terima.
Genathan melirik sinis. "Siapa juga yang mau sama lo."
"Gue tinggalin nih," ancam Gentala.
Tetapi, Genathan malah terkekeh tidak peduli. "Gue sama Resha dong."
__ADS_1
"Dih, Resha tadi berangkat sama gue. Lo naik taksi online aja sendiri, emang Resha siapa lo?" sewot Gentala.
"Kok nyolot?" Nada suara Genathan naik satu oktaf.
"Lo sama Ayu aja ah. Nggak usah ganggu Resha."
"Siapa juga, sih, yang ganggu?" Genathan balik menyentak.
Perdebatan keduanya terhenti saat tiba-tiba seseorang mendudukkan paksa Genathan di kursi roda lalu mendorongnya. Genathan berontak dan misuh-misuh, tapi cowok berbadan gembul itu tetap tenang mendorong kursi roda.
Resha terkekeh geli. Genathan bisa menjadi menggemaskan seperti ini.
***
"Kak, aku pulang aja deh."
Genathan menggeleng tidak setuju. "Apa-apaan. Udah sampai malah minta pulang," tolak Genathan.
"Kan Kakak yang paksa, aku juga nggak minta diajak," balas Resha tak mau kalah.
"KITA PARTY, BRO!" seru Mbul heboh.
Segera saja Hasta menyumpal mulut Mbul dengan selada yang ada di sana. Setelah beberapa hari keluar dari rumah sakit dan melewati masa penyembuhannya, akhirnya Genathan benar-benar bebas. Sebagai rasa syukur atas kesembuhannya, sekaligus terima kasih karena teman-temannya ini tetap menemaninya saat sedang sakit, Genathan mentraktir teman-temannya di sebuah kafe.
Lokasinya tidak jauh dari tempat tinggal Genathan. Kafe dengan dua lantai yang tempatnya sangat instagramable. Resha memandangi teman-teman Genathan canggung. Ia takut jika merusak agenda Genathan bersama anak inti ultras yang lainnya.
Resha tersenyum kikuk.
Mengerti Resha yang belum terbiasa dengan keadaan seperti ini, Genathan mengajak Resha untuk berpindah tempat. Di lantai dua dengan konsep terbuka.
"Kok pindah, Kak? Temen-temen Kakak gimana?" Resha terlihat kebingungan saat Genathan menyuruhnya duduk di salah satu kursi.
"Gue tau lo belum bisa berbaur sama temen-temen gue. It's okay, lama-lama terbiasa kok,” ucap Genathan dengan senyuman menenangkannya.
Resha mengernyitkan kening. "Lama-lama? Emangnya kami bakal sering ketemu?"
"Kalau sama gue, lo bakal sering ketemu temen-temen gue,” jelas Genathan menjawab kebingungan gadis tersebut.
"Emang bakal sama Kakak?" Resha berusaha memancing supaya Genathan mau menjelaskan maksudnya
Genathan hanya tersenyum kalen lalu memanggil pelayan. "Emang nggak mau sama Kakak?" Genathan bertanya balik, menggoda Resha yang kini malah ia yang salah tingkah. Senjata makan tuan.
Resha mengatupkan bibir rapat. Matanya berulang kali mengerjap. Berusaha menangkap maksud ucapan itu yang paling benar hingga tidak terjadi salah paham. Apalagi, salah paham kepada perasaan. Rumit.
Resha menatap Genathan yang menyebutkan beberapa menu pada pelayan itu. Setelah pelayan pergi, cowok itu kembali pada fokusnya untuk Resha.
__ADS_1
"Kakak kenapa, sih? Kangen Kak Ayu?"
Genathan berdecak. "Nggak usah dibahas. Dia nggak peduli gue. Semalem dia chat, minta jangan dicari."
"Maaf, Kak, aku nggak tau."
"Nggak papa, santai aja. Oh iya, gue mau cerita."
Resha tampak tertarik dengan cerita Genathan.
"Kejadian ini udah lama. Wajahnya aja gue udah lupa. Tapi, suaranya hampir mirip sama lo, Res."
"Apaan, Kak?" Resha tidak mengerti.
"Dulu pas gue ke SMP, dua tahun lalu kayaknya. Ada adik kelas yang minta foto padahal gue nggak kenal dia. Suaranya hampir sama kayak lo, tapi samar-samar gue ingetnya soalnya dia ngomongnya pelan," jelas Genathan.
Resha berusaha menahan diri untuk tidak menarik ujung-ujung bibirnya. Nyatanya, Genathan masih mengingatnya meski tanpa nama. "Kakak nggak keganggu tiba-tiba dia ngajak foto?"
Genathan tertawa. "Ya enggak lah. Justru lucu tau. Tapi sayangnya kita lupa belum kenalan. Gue juga baru ngeh kalau belum kenalan pas dia udah pamit."
Resha menggigit pipi bagian dalamnya menahan senyum. "Kakak pengen banget ketemu dia? Kenapa?"
Genathan tampak berdehem panjangan seolah berpikir. "Kenapa? Ya gue mau minta fotonya. Masa cuma dia yang nyimpen sedangkan gue enggak? Sama mau gue ajak kenalan lebih lanjut, terus bilang secara langsung kalau dia itu lucu."
"Kakak mau bikin anak orang jantungan?" sergah Resha yang langsung mendapat respon Genathan yang terbahak.
"Tapi, Res ... gue nggak tau, nih. Dulu waktu dia ngajak foto bareng, kok gue juga deg-degan, ya? Padahal foto sama fans lain biasa aja loh."
Resha mengangkat kedua bahu. "Jodoh Kakak kali." Harusnya Resha tidak berkata demikian karena tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Apalagi, saat Genathan justru meng-aamiin-kan.
"Tapi debarannya itu sama kayak yang gue rasain ke lo akhir-akhir ini, Res. Ehm ... lo jodoh gue kali, ya?"
Genathan ini ... sukses membuat hati Resha jadi tidak karuan.
***
Tutor cara deket sama Mas Crush dong Resha.
Pengan juga deh deket sama cowok yang di suka.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
__ADS_1
See you next chapter all.
Thanks for reading all.