
Berbahagialah, meski bukan dengan aku.
***
"JADI LO UDAH PERNAH KETEMU SAMA KAK AYU?"
Resha mendesis dengan jari telunjuk yang diletakkan di depan bibir seolah memberi kode Delia untuk mengontrol suaranya. Delia mendelik lalu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Embusan napas kasar keluar dari hidung Resha seraya menatap tajam sahabatnya. "Jangan teriak-teriak!" kesal Resha.
Delia cengengesan. "Ya namanya refleks, Res. Nggak sengaja."
Setelah pelajaran olahraga selesai tadi, Resha dan Delia bergegas ganti pakaian. Lalu dilanjutkan dengan pergi ke kantin mumpung masih sepi. Resha menceritakan kejadian yang menimpanya kemarin. Tentang kabar buruk kecelakaan Genathan, permintaan Ayu, bahkan sampai insiden kembalinya sapu tangan tadi malam.
Berulang kali Resha mengingatkan Delia untuk tidak memekik heboh. Walaupun kantin masih sepi, tetap saja Delia harus mengontrol nada suaranya. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang mendengar teriakan heboh Delia soal Genathan?
"Pas sate lontong habis ultras, Genathan juga ngomong hal serupa, 'kan? Walau dia suka, dia nggak bisa apa-apa. Emang mereka ada apaan, sih, Res?" cecar Delia sangat penasaran.
"Lo kenapa suka banget panggil Kak Gege tanpa embel-embel 'kak' atau 'bang' gitu?" Resha malah bertanya balik yang melenceng dengan topik percakapan mereka sebelumnya.
"Kenapa, ya? Nggak papa, sih. Lo jangan belokin topik. Genathan sama Kak Ayu ada apa sebenarnya?" sahut Delia.
Resha berdecak. "Kagak tau gue. Gue juga bingung. Tapi ya, Del, kalau Kak Ayu emang suka sama Kak Gege, kenapa dia sedekahin Kak Gege ke gue? Kenapa gak dia aja gitu yang tarik gas? Padahal, mungkin Kak Gege tuh tinggal tunggu feedback Kak Ayu aja buat jadian."
Celotehan Resha itu segera mendapat jitakan di dahinya dari Delia. Sahabatnya itu memandangnya kesal dengan alis menukik tajam. "Heh lo tuh dah dikasih kesempatan, ya udah lo aja yang gas! Gak usah pikirin latar belakang. Istilahnya tuh dah pada menepi, jalannya sepi. Ya lo tinggal tancap gas aja," sungut Delia membara.
Resha menggeram. Delia tidak paham maksudnya yang sebenarnya. Ia membenahkan posisi duduknya. "Gini lho, Del, kalau jalannya awalnya ramai tiba-tiba jadi sepi apa nggak heran? Coba bayangin, lo udah gas di jalanan sepi, terus tiba-tiba dari arah yang lain ada kendaraan ngegas lebih kenceng. Jalanan sepi juga pasti ada sebabnya. Kayak Kak Ayu tuh. Dia nitipin Kak Gege ke gue juga pasti ada sebabnya."
"Kalau ada kendaraan yang lebih kenceng, ya jangan oleng, Naresha. Gas aja pokoknya! Ini kesempatan buat lo. Hampir empat tahun dan anggap aja ini titik cerah buat lo. Lo mau memanfaatkan titik cerah itu atau justru menutupnya karena dikuasai ragu?"
Sukses sudah ucapan Delia yang satu itu untuk membungkam mulut Resha rapat-rapat. Sebenarnya, ia juga bingung dengan dirinya sendiri. Di satu sisi, Resha merasa senang menjumpai titik cerahnya. Di sisi lain, keraguan malah kembali menyapa dan berusaha untuk berkuasa.
Delia membuang napas pelan. "Kalo Genathan gimana keadaannya? Dah mendingan?" Delia memilih mengganti topik soal keadaan Genathan.
"Delia, try to say, 'kak.' Kak Genathan atau Kak Gege eh kalau kepanjangan ." Resha mengajari Resha untuk menggunakan embel-embel 'kak' pada Genathan.
"Iya, Kak Gege. Gimana? Lancar tuh apelnya setiap hari."
"Udah mendingan, walau tangannya masih diperban," jawab Resha.
"Halo!" Delia refleks memegang tangan seseorang yang menutupi matanya. Melihat itu, Resha memutar bola mata malas.
Uwuphobia Resha tuh.
__ADS_1
"Rik, lepasin ah!" Delia terus meronta supaya Arik menjauhkan tangannya dari mata Delia.
"Pacaran terusss!" Arik meringis saat kepalanya dijitak oleh orang lain. Refleks, Arik menjauhkan tangannya dari mata Delia untuk mengusap kepalanya.
Arik mendesis. Ia duduk di samping Delia dan menatap sinis cowok di sampingnya. "Bang Tata, sih jomblo. Jomblo can't relate, Bang."
"Halah mending jomblo daripada deket tapi nggak jadian," balas Gentala pedas.
"Bodo ah, pundung sama Bang Genta. Del, pindah yuk."
"Kemana? Mager ah," tolak Delia.
"Gue gendong, nih?" ancam Arik dengan memegang bahu Delia.
Delia menepis tangan Arik. "Apaan, sih?" Selanjutnya cewek itu menatap Resha yang tengah memakan batagor sambil berpamitan, "Gue tinggal dulu ya, Res."
Tanpa menunggu jawaban dari Resha, Arik sudah terlebih dulu menggandeng tangan Delia dan membawanya pergi. Hanya tersisa Resha dan Gentala.
"Nanti jengukin Gege bareng gue mau nggak? Gue mau minta temenin dulu beli kado buat Gadis. Bentar lagi dia ulang tahun."
Resha meletakkan sendok yang ia pegang. Diseruputnya segelas es teh yang tadi ia pesan. "Nanti sore banget, Kak? Kalau beli kadonya habis dari Kak Gege gimana?"
"Kemaleman. Kalau nggak bisa ya nggak papa sih, Res."
Gentala terkekeh pelan. "Nggak papa. Gue mau tanya boleh?"
Resha mengangguk mempersilakan.
"Lo sebenernya udah kenal Gege dari lama? Soalnya dari tatapan lo tuh beda gitu kalau ke Gege. Terus akhir-akhir ini kalian kelihatan deket. Kalian diem-diem pacaran apa gimana?"
Resha mendelik mendengar kalimat terakhir Gentala yang tadi. Diam-diam pacaran apanya, Genathan notice perasaan Resha saja sudah bersyukur.
"Tapi kalo diem-diem pacaran nggak mungkin, sih. Itu anak kayaknya masih nyangkut ke Ayu," imbuh Gentala.
Garis tipis muncul di kening Resha saat mendengar ucapan Gentala. "Nyangkut? Kak Gege naksir?"
"Dia aja masih abu-abu sama perasaannya sendiri. Tapi, emang baiknya Gege nggak usah naksir Ayu."
"Lah kenapa?"
Gentala menghembuskan nafas kasar. "Nggak tau, ya, gue nggak cocok aja lihat Ayu. Nggak pernah akur sebenarnya kalau kita main bareng. Kayaknya juga si Ayu dah punya cem-ceman," celoteh Gentala.
__ADS_1
Kini tatapan Gentala jadi menajam ke arah Resha yang ada di sampingnya. Resha memundurkan badannya sedikit. Agak takut mendapat tatapan seperti itu secara tiba-tiba. "Gue udah investigasi sejak pertama gue lihat lo interaksi sama Gege, dan gue menemukan kejanggalan. Lalu gue observasi sebelum akhirnya menyimpulkan." Gentala menjeda ucapannya. Tidak sadar jika ia membuat gadis di sampingnya ini semakin deg-degan tidak terkendali.
"Lo naksir Gege," lanjutnya tegas.
Resha mendelik. Kedua kalinya ditembak tepat dengan pertanyaan itu. Menurutnya, selama ini ia sudah menutupinya baik-baik. Tetapi mengapa orang seperti Genathan dan Ayunindya malah mengetahui perasaannya?
"Apa sih, Kak? Nggak usah ngarang." Resha berkelit.
"Halah udah jujur aja sama gue. Dari cara lo ngelihat Gege aja udah kelihatan, apalagi pas nyebut namanya." Resha tertegun. Lewat tatapan mata dan panggilan nama katanya sudah bisa ditebak. Lalu, apa Genathan juga menyadari?
"Kayaknya udah lama ya, Res? Gas aja sekarang. Gege tuh kalo udah klop sama orang nih, ya, dia lebih santuy. Enggak kaku gitu. Bisa cerita juga ke orang itu. Lo ada diceritain Gege?"
Resha mengangguk. "Iya, soal ... Kak Ayu."
Gentala menjentikkan jarinya. "Topik Ayu tuh sebenernya sensitif buat Gege. Dia enggan jawab atau nyeritain tentang Ayu. Boro-boro ke orang yang baru dikenal, ke gue sama Hasta aja kadang suka belokin topik."
"Emang ... kenapa sih, Kak antara Kak Gege dan Kak Ayu? Bukannya tinggal jadian aja?"
"Lo serius mau mereka jadian? Ntar lo patah hati, gue belum mahir ngobatin luka hati lho," tanggap Gentala.
Gentala memandang Resha dalam. "Jangan korbanin perasaan lo lebih lama lagi. Lo berhak nunjukin perasaan lo. Buat Gege sadar selama ini ada yang bener-bener tulus sayang sama dia. Kalian berdua orang yang berharga di hidup gue, makanya gue gak mau kalian terluka."
Resha berdehem. "Kalau Kak Gege, aku paham karena dia sahabat Kakak. Tapi kalau aku? Aku cuma orang yang baru Kakak kenal beberapa hari ini. Kenapa Kakak sepeduli itu sama aku?"
Gentala tersenyum. "Jawabannya mudah, gue sayang lo makanya gue mau lo bahagia."
Mendengar jawaban itu cukup membuat Resha terkejut. Gadis itu jadi memikirkan ucapan Gentala. Sayang yang dimaksud Gentala itu, sayang seperti apa, ya? Sayang sebagai teman, adik, atau ... yang lain?
Ah, pasti sayang kayak seperti seorang kakak ke adiknya, 'kan?
***
Gentala kalo di suruh nyindir suka bener.
Hayo ngaku kalian siapa yang ada di posisi deket tapi gak jadian? Jangan kelamaan nanti di embat orang
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
__ADS_1
See you next chapter all.
Thanks for reading all.