
Segala beban terasa meluruh. Digantikan oleh letupan bahagia yang semakin bergemuruh.
***
Setelah menempuh perjalanan selama lima belas menit, mereka akhirnya sampai di tempat pertandingan. Genathan memarkirkan motornya terlebih dahulu bersama anak SMA Cakrawala yang lain. Resha masih mengikuti. Ia harus meletakkan helm yang dipinjami Genathan ke motor cowok itu
Usai memarkir motornya, Genathan membalikkan badan. Sepenuhnya menghadap gadis yang ia bonceng tadi. Resha menyerahkan helm putih itu seraya berkata, "Makasih, Kak."
Genathan mengangguk. "Ayo masuk."
Resha mengerjap. Memastikan telinganya tidak salah dengar kali ini, dan otaknya tidak salah menangkap maksud Genathan yang satu ini. Apa maksudnya, Genathan sedang mengajaknya masuk ke dalam bersama?
"Temen lo belum ada, 'kan? Masuk dulu sambil nunggu temen lo," kata Genathan. Yang Resha balas dengan anggukan karena sampai saat ini Delia memang belum datang. Tatapan para murid kini sudah tertuju pada mereka karena Resha yang kini datang bersama Genathan tentu membuat mereka heboh.
"Kakak ... ng-gak sama temen-temen yang lain?" tanya Resha ragu-ragu.
"Gampang, tinggal chat mereka aja."
Setelah berpikir sebentar, Resha mengangguk. Bersama Genathan menyusuri halaman yang ramai untuk masuk dalam gedung. Di sana banyak orang-orang yang tengah berfoto ria. Entah bersama teman-temannya, atau juga bersama kekasihnya.
Resha tersenyum tipis melihatnya. Diam-diam, diliriknya cowok di sebelahnya ini yang tengah memasukkan tangan ke dalam saku celana. Dua tahun yang lalu, ia berdampingan dengan Genathan dalam rangka foto bersama. Resha kira, hari itu adalah yang pertama dan terakhir. Tapi lagi-lagi ia salah. Semesta masih punya skenario lain tentang takdir.
"Temen lo tadi gebetannya Arik, ya?" celetuk Genathan tiba-tiba.
"Iya, Kak. Kakak kenal Arik?"
"Pasti. Dia juga salah satu anak inti ultras," jawab Genathan tenang.
Garis-garis samar mencuat pada kening Resha. "Ultras?" ulangnya.
"Di wikipedia, ultras itu sebutan bagi kelompok suporter sepak bola yang cenderung fanatisme dan ekstrimisme dalam memberikan dukungan bagi klub sepak bola tertentu. Kalau menurut kompasiana, ultras adalah sebutan bagi sekelompok suporter yang mendukung timnya secara berbeda," jelas Genathan secara rinci hingga menyebutkan sumber-sumbernya. Resha hanya diam mendengarnya karena gadis tersebut juga tak mengerti hal seperti ini.
"Lalu kesimpulannya?" tanya Resha dengan mengerutkan keningnya bingung.
"Kesimpulannya, ultras itu sekelompok suporter yang mendukung timnya. Jadi secara nggak langsung, lo dan anak Cakrawala lainnya itu ya ultras Cakrawala. Tapi kalian yang pasif. Terus ada lagi anak inti ultras. Gue dan yang lain termasuk Arik. Kami yang aktif. Kami yang istilahnya bantu gerakin kalian supaya mau berpatisipasi dukung tim kebanggaan," terang Genathan. Resha menganggukkan kepalanya mengerti.
Berbincang dengan Genathan tanpa canggung seperti ini sudah lama Resha inginkan dan kali ini ia dapat mewujudkannya walau tangannya kini sudah gemetar dan keringat dingin. Belum lagi detak jantungnya yang tak pernah aman jika berdekatan degan Genathan, Resha harap laki-laki tersebut tidak dapat mendengar suara detak jantungnya yang berpacuh seperti drum.
"Seru nggak, Kak?" tanya Resha mnimpali.
Genathan terkekeh pelan. "Seru itu pasti. Solidaritas anak ultras nggak diraguin lagi. Nggak ada leader, semua brother sister. Cuma tuh kadang kami dicap rusuh."
__ADS_1
Resha mengangguk paham. Setiap ada perlombaan yang mengarah di bidang olahraga, pasti ada yang menggerakkan anak-anak untuk mendukung. "Anak ultras juga jagain gerbang pas mau berangkat ngedukung ya, Kak?" tanya Resha. Ia pernah ditanya oleh salah satu anak ultras ketika hendak pulang dan bertepatan dengan perlombaan futsal dari tim Cakrawala.
"Iya. Ah, lo pasti pernah kena tegur, ya? Kelihatan, sih. Anak-anak kayak lo mah lebih milih rebahan santuy di rumah atau ngambis materi." Genathan menutup mulut dan hidungnya ketika tiba-tiba ia merasa hendak bersin. Cowok itu mendesis kesal ketika tidak jadi bersin. Pasti kalian tahu rasanya saat sudah merasa hendak bersin, tetapi gagal. Menyebalkan dan rasanya belum lega.
Diam-diam Resha memperhatikan itu dan mengulum bibir menahan tawa supaya tidak meledak. Cowok ini benar-benar terlihat lucu.
"Tapi, Dek. Lo—"
"GE, SINI FOTO!" pekikan itu memotong ucapan Genathan. Dalam hati Resha merutuk. Ia sudah penasaran tentang apa yang akan dikatakan Genathan, tapi seseorang justru mengganggunya.
"Ke sana bentar, yuk." Genathan memegang pergelangan tangan Resha. Mengajak cewek itu ke antara kerumunan teman-temannya.
Sekuat mungkin Resha berusaha mengendalikan debaran jantungnya yang terasa melompat-lompat. Menahan pekikan saat Genathan melingkarkan tangan di pergelangan tangannya. Mengajaknya menemui teman-temannya. Sangat banyak anak SMA Cakrawala di sana. Gentala dan Hasta sudah ada di sana. Bahkan Arik dan Delia ternyata juga berada di antara kerumunan itu.
"Wah, cewek baru, Bang?" celetuk salah satu cowok yang berbadan gembul saat melihat kedatangan Genathan dan Resha,
"Lah? Ini seangkatan sama lo. Kagak kenal?" sahut Genta.
"Ah elah lo, Mbul, bakso mulu di pikiran lo. Temen seangkatan kagak kenal," timpal Hasta.
Cowok yang dipanggil 'Mbul' itu mengernyit. Mencoba menatap Resha lebih intens bahkan mencondongkan wajahnya. Meski dalam jarak yang jauh, Resha tetap bergidik. Secara naluri merapat ke belakang Genathan.
Genathan mengangkat alis agak terkejut. Ia melirik Resha, gadis itu tampak tidak nyaman. "Jauh-jauh lo, Mbul," usir Genathan membuat si Mbul sontak menarik dirinya lagi.
Resha mengangguk kaku.
"Pacar baru Bang Ge? Kok nggak sama yang biasanya?" celetuk cowok di samping Mbul.
Resha mengatupkan bibir rapat-rapat. Mencoba mencerna ucapan cowok itu. Pikirannya berkelana lagi. Jadi selama ini ada perempuan yang sering diajak main dan dipertemukan ke teman-teman Genathan? Satu nama sudah terlintas di otak Resha.
Ayunindya. Sahabat Genathan.
"Jadi foto enggak?" Genathan membelokkan topik tanpa menjawab pertanyaan itu.
Semua mengangguk setuju. Langsung membentuk barisan menyamping. Karena banyak sekali orang, ada yang duduk di bawah. Tidak hanya cowok. Ada beberapa cewek juga di sana selain Resha dan Delia.
"Kak, aku ... masuk duluan aja, ya?" ucap Resha merasa tak enak jika harus ikut di antara anggota inti ultras tersebut.
"Lah? Sini aja ikutan fotbar nggak papa kali,” ucap Genathan sambi menarik Resha agar mendekat.
"Iya, Res. Nggak papa kok." Delia sudah ada di sampingnya dan menenangkan.
__ADS_1
"Ceweknya banyak juga. Nggak papa. Biar nggak nolep," celetuk Gentala yang sudah mengambil posisi jongkok di bawahnya.
Akhirnya Resha mau, meski masih merasa kaku. Berpikir untuk menonton pertandingan seperti ini saja sebenarnya tidak pernah. Apalagi, berada di tengah anak-anak inti ultras Cakrawala dengan Genathan di sampingnya. Hasta meminta tolong pada salah satu orang yang lewat dari sekolah lain. Setelah memberikan kameranya, cowok itu buru-buru berlari. Menyempil di sebelah Gentala.
Sedangkan Resha berdiri di antara Delia dan Genathan. Di depannya ada Gentala yang berjongkok. Lalu di samping Delia ada beberapa anak cewek yang lain. Orang yang menjadi fotografer dadakan itu mulai menghitung. Dalam hitungan ketiga, mereka mulai berpose bebas dengan senyum bahagia.
Setelah beberapa kali berfoto dan membuat boomerang, akhirnya mereka semua masuk ke dalam tempat pertandingan.
Gelanggang olahraga ini sangat besar dan luas. Di bagian selatan sudah ramai oleh pendukung SMA Bumiputra. Sedangkan SMA Cakrawala memilih di bagian utara. Sampai mencari tempat duduk Resha masih bersama Genathan. Memilih di bagian tengah-tengah. Untung saja Delia dan Arik mengikuti. Jadi ia tidak terlalu canggung disini. Sedangkan Gentala dan Hasta pada tempat duduk satu tingkat di atas mereka.
"Belum pernah nonton kayak gini?" celetuk Genathan.
Resha menggeleng. "Pas aku kelas 10 juga nggak lihat Cakrawala Cup, malah di rumah sakit."
Genathan terkekeh. Selanjutnya hanya diisi kebisingan sekitar. Hingga akhirnya datang waktu pertandingan. Semuanya bersorak begitu melihat tim basket SMA Cakrawala. Tak kalah heboh begitu melihat tim SMA Bumiputra.
Benar.
Cogan semua.
Pertandingan dimulai. Semuanya saling bersorak mendukung. Bahkan Hasta dan Genta sudah turun ke bagian paling bawah tribun. Mengangkat tangan ke atas bermaksud memulai yel-yel untuk menyemangati tim basket kebangaan yang tengah berjuang.
Ada kain panjang berwarna hitam dengan gambar sayap dan tulisan Cakrawala yang dibentangkan di tribun Cakrawala. Anak SMA Cakrawala kompak mengangkat tangan dan memegang kain panjang itu. Pada bagian tengah, kepala mereka bahkan tertutupi oleh kain. Sorak-sorak semakin ramai seiring kain yang digoyangkan ke kanan dan kiri secara kompak. Bersama lagu-lagu yang disenandungkan untuk tim kebanggan.
Resha tertawa bahagia di tengah nyanyiannya. Seolah semua beban yang ia bawa lepas kali ini. Genathan memperhatikan raut bahagia Resha. Merasa diperhatikan, Resha turut menoleh. Tawanya perlahan pudar, berganti dengan lengkungan senyum. Senyum manis juga terbit dari bibir Genathan.
Di bawah naungan kain hitam yang membentang, Resha merasa jantungnya berdebar semakin kencang.
***
Aku pernah nih ada di posisi Resha gini nribun bareng mas crush.
Tapi bedanya aku cuma mimpi wkwk.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
__ADS_1
Thanks for reading all.