
Cukup terima apa yang sudah digariskan. Tidak perlu berontak, karena hanya akan membuat hatimu semakin terkoyak.
***
"GE, KENAPA SELAMA INI LO NGGAK BILANG KALAU KITA SATU PAPA?" Pertanyaan dengan nada membentak kembali masuk dalam indra pendengaran Genathan. Sepeninggal Gentala, Ayu terus saja menanyakannya tentang sang papa.
"Yu, gue mau bilang, tapi kondisi lo dari kemarin nggak memungkinkan ...," jawab Genathan lirih.
Ayu terduduk di sofa. Pikirannya mendadak blank. Menerima fakta bahwa mereka bersaudara saat mamanya resmi menikah dengan papa Genathan saja, sudah cukup mengguncangkan bagi Ayu. Bagaimana bisa ... adik kandung? Itu artinya ... mamanya selingkuh dengan papa Genathan?
Ayu menangis jika mengingat fakta itu. Hidup bertahun-tahun dengan keluarga yang ia kira paling harmonis, ternyata beginilah fakta sebenarnya. Apa karena ini juga, mamanya bercerai dengan sang papa dulu?
"Yu, sekarang lo tau kan kenapa gue nggak bisa ungkapin sayang yang lebih ke lo buat balas perasaan lo? Lo adik gue, Yu. Gue menjaga lo sebatas abang ke adiknya. Kita nggak bisa memaksa sekat itu," tutur Genathan hati-hati. Ia tak ingin melukai perasaan Ayu lebih jauh lagi. Karena Genathan tahu mendengar ibunya yang berseling, Papa Genathan adalah ayah kandung nya, dan Genathan adalah kakak kandungnya. Laki-laki yang ia cintai ternyata adalah kakak kandungnya sendiri, Ayu tak pernah memikirkannya.
Ayu menggeleng. Tamparan realita itu benar-benar menyakitinya. Ia sudah jatuh kepada perasaan yang salah. Perasaan yang seharusnya tak ia punyai.
"Maaf, Ge ... gue udah sayang sama abang gue sendiri," isaknya.
Melihat adiknya dalam keadaan seperti ini, Genathan sungguh tak tega. Ia merengkuh Ayunindya dalam pelukannya. Mengusap punggung gadis itu bermaksud menenangkan. "Yu, tolong lupain perasaan itu. Gue awalnya juga punya dan sadar tentang perasaan itu, tepatnya setahun lalu. Tapi gue sadar, gue nggak bisa nerobos sekat yang udah jelas nggak bisa gue lewatin. Jadi gue mundur. Yu, tolong lakuin hal yang sama, ya?"
Isakan Ayu terdengar semakin mengiris. "Gue udah pernah coba, Ge. Gue pergi saat lo sakit dulu buat nerima kenyataan kalau kita saudara, meski dulu gue cuma taunya kita saudara tiri. Tapi, nggak bisa. Walau gue punya cowok, tetep aja nggak senyaman sama lo. Gue kalah, gue nggak bisa jauh dari lo. Dan gue sadar, perasaan itu susah buat gue hapus. Kita udah sama-sama dari lama, Ge ...."
Genathan masih saja gencar menenangkan Ayu. Membiarkan bajunya basah ditumpahi air mata gadis itu. Hingga sebuah suara membuat keduanya spontan menoleh. Kedua orang tuanya ternyata sudah sampai di rumah. Mereka tampak bingung melihat kondisi anaknya.
Mama Ayu mendekat ke arah anaknya. Sedangkan sang papa duduk di sofa single di bagian kanan. "Kamu kenapa, Nak?" tanyanya merangkul Ayu membuat Genathan perlahan menjauhkan diri.
"Ma, Ge ... Genathan, abang kandungku?" Pertanyaan itu sukses membuat kedua orang tuanya terpaku di tempat.
"Kamu—" baru saja ibu nya akan menjawab namun Ayu lebih dulu menyela ucapan tersebut.
"Ma, tolong jelasin," desak Ayu.
"Iya. Kalian saudara kandung. Maaf, Papa dulu melewati batas dengan Mamamu. Jauh sebelum kami berumah tangga, kami sudah terikat kisah terlebih dulu. Tapi, karena orang tua Arlin tidak merestui, kami tidak bisa bersatu. Beberapa tahun berlalu baik-baik saja, hingga waktu kami ketemu lagi di posisi saling punya pasangan, kami ... ternyata masih belum bisa sama-sama melupakan perasaan kami,” kali ini Papa Genathan yang akhirnya angkat suara untuk menjelaskan saat di lihat istrinya tersebut hanya terdiam dan tak mampu untuk menjelaskannya.
Genathan sudah pernah mendengar penjelasan ini. Sebuah pengakuan yang membuatnya membenci sang papa berkali-kali. Ayu terdiam mendengar penjelasan tersebut tak menyangka jika ibunya tersebut mengkhianati ayahnya dengan berselingkuh dan malah mengambil ayah Genathan dari ibu Genathan.
"Maaf, tapi ini kenyataannya ... saya selingkuh dari Bunda Genathan."
Meski sudah pernah mendengar, tetap saja rasanya masih sakit dan mencelos acap kali pengakuan itu menyapa indra pendengarannya.
"Beberapa bulan setelah kehamilan Bunda Genathan, saya juga dapat kabar yang sama dari Mama Ayu. Arlin, sudah bingung mau gimana. Tapi kami sepakat bersikap seolah anak yang dikandung Arlin, itu benar-benar dari Papa Ayu. Sejak itu, selama mengandung, kami mulai jarang ketemu," jelas Gino—papa Genathan—dengan panjang lebar.
"Lalu, ternyata kalian malah saling mengenal sebagai teman. Jadi Mama sama papa membiarkan kalian berteman dan bersahabat. Setelah bunda Genathan meninggal karena serangan jantung, papamu mulai tau semuanya, Nak. Kamu tau sendiri, dulu hubungan Mama sama papamu nggak mulus. Dua tahun terakhir, kami mulai sering terlibat cekcok. Hingga akhirnya papamu tau fakta kalau kamu ... bukan anak kandungnya," timpal Arlin. Ayu terdiam mengetahui fakta jika ia hanya anak diluar nikah dan hasil perselingkuhan.
__ADS_1
Tenggorokan Genathan rasanya tercekat. Bayangan almarhum sang bunda dengan wajah cantiknya membayangi Genathan.
"Ini alasan mama selalu ngingetin kamu untuk nggak jatuh cinta sama Genathan. Dia abang kandung kamu. Kalian satu papa." Arlin mendekap erat putrinya.
Melihat itu, Genathan menghembuskan napas pelan. Ia rindu pada sang bunda.
***
Beberapa hari setelah putus dengan Genathan, Resha kembali dalam hidupnya yang dulu. Kabar putusnya lama-lama hanya menjadi angin lalu. Syukurlah, ia malas menjelaskan semuanya satu persatu. Kalau dipikir-pikir, Resha rindu masa tenangnya. Perasaan untuk Genathan tetaplah ada. Bagaimanapun juga, cowok itu adalah cinta pertamanya setelah sang papa. Namun, Resha mulai ikhlas. Ia tidak bisa terus memaksa dan membiarkan dirinya larut dalam samudra luka.
Hidupnya tidak boleh berhenti hanya karena Genathan pergi.
Kini Resha mengerti, tentangnya dan Genathan memang bukan sebatas andai kata. Melainkan sebuah sementara. Tidak apa, Resha menerima.
"Kalau ngelamun, jadi pacar Gentala!"
Gentala memang sepertinya begitu hobi untuk membuatnya kaget. Namun ia juga begitu beruntung karena cowok itu seringkali menemaninya. Perlahan mengobati hatinya yang sempat patah berkeping.
"Kak Tata, suka banget ngagetin?!" kesal Resha tetapi juga terkekeh.
"Jangan sambil ngelamun kalau jalan, nanti diculik orang. Oh iya, habis beli apa tadi?" tanya Gentala menunjuk plastik putih berlogo minimarket yang dibawa Resha.
Resha mengangkat plastik putih itu. "Oh ini, habis beli botol ganteng."
Resha mendesis. "Bukanlah, Kak! Ini loh." Gadis itu membuka plastik dan mengambil botol hijau yang di bagian kemasannya terdapat gambar laki-laki, salah satu personil boyband Korea.
"Oh ini, Gadis juga punya banyak di rumah. NCT, ‘kan? Kadang kalau lagi streaming, botolnya dijejer-jejer di sebelahnya," lontar Gentala. Resha yang mendengar ucapan tersebut memelototkan matanya tampak bersemangat.
"Wah iya? Kapan-kapan harus nobar sama Gadis, nih,” ucap Resha dengan semangatnya.
Gentala mengangguk. "Hooh, gue ikut, ya?"
"Lah? Kak Tata tau?"
Gentala meringis sambil menggaruk tengkuknya. "Gara-gara sering diajak Gadis nonton, jadinya ya ... ngertilah dikit-dikit."
Melihat Resha yang terbahak, malah membuat pipi Gentala memerah malu. Ia segera berpikir untuk mengalihkan pembicaraan. "Eh, hati lo apa kabar? Udah baikan?"
"Lumayan kok, Kak. Makasih, ya," ucap Resha dengan senyuman manisnya.
"Buat apa eh?" tanya Gentala bingung, tak tahu untuk apa Resha mengucapkan terima kasih padanya.
"Makasih, udah nemenin aku. Walau nyebelin, tapi Kakak bisa jadi moodbooster," ucap Resha tulus.
__ADS_1
Seulas senyum terbit begitu saja di wajah tampan Gentala. "Sama-sama. Oh ya, gue mau tanya."
Resha mengerutkan kening. "Tanya apa, Kak?"
"Misal nih, Gege jelasin sesuatu sama lo. Terus penjelasannya itu masuk akal dan dia jujur. Lo terima penjelasan itu nggak?" tahnya Gentala dengan penasaran.
Resha mengangguk saja menanggapi. "Terima."
"Kok gampang banget?" tanya Gentala cenderung ke protes. Ingin sekali rasanya ia egois dengan tak membiarkan Resha memaafkan dan menerima penjelasan Genathan dengan mudah. Namun jika memang Resha bahagia dengan Genathan malah ia akan menerimanya juga. Karena menurutnya kebahagian Resha yang paling penting.
Resha membuka botol minuman itu dan meneguknya, lalu kembali menutupnya. "Ya kan emang tugas aku terima dan percaya. Tentang dia yang bohong atau enggak, ya itu urusan dia. Toh aku cuma terima penjelasannya. Sebagai bentuk apresiasi juga karena seseorang udah berani menjelaskan sesuatu walau rumit."
"Kalau perasaannya gimana?" tanya Gentala dengan hati-hati.
Resha terdiam sejenak. Ia menghembuskan napas pelan seiring dengan bahunya yang menurun. "Nggak tau, Kak. Aku bingung."
"Kalau gue bilang Gege sama Ayu nggak ada hubungan spesial, lo percaya nggak?" tanya Gentala lagi.
"Apa sih, Kak. Nggak usah bahas Kak Gege dulu. Hati aku perlu waktu,” ucap Resha yang tak ingin melanjutkan ucapannya tersebut.
Gentala tersenyum sekilas. "Ya udah, bahas gue aja. Gue masih bisa sepik nggak, nih?"
"Aku anggap Kakak kayak abangku, karena aku anak tunggal," jawab Resha cepat.
Gentala mendengus. "Gue udah punya adik, si Gadis!"
Resha terkekeh geli mendengar nada merajuk itu. "Iya, atulah Bang Tata jangan ngambek."
Suara bujukan itu membuat Gentala tak kuasa menahan tawanya. "Geli gue. Ya udah asal lo nggak jauh dari gue, udah cukup kok walau cuma dianggap abang. Karena gue menganut tim cinta itu ikhlas nggak menuntut balas. Nggak semua rasa cinta bisa saling punya."
Resha tersenyum tenang mendengarnya. Dari Gentala, Resha belajar bahwa cinta adalah tentang sebuah ikhlas.
***
Genathan ini benar-benar baik baik. Kalau aku ada di posisi itu pasti gak akan mau nerima Ayu dan keadaan yang aku jalanian.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
__ADS_1
Thanks for reading all.