
Saat rahasia tidak lagi bersembunyi, apakah sudah saatnya untuk kita membuka lembar baru kini?
***
Hari minggu kali ini terasa berbeda bagi Resha. Pasalnya hari minggu kali ini, Genathan mengajaknya untuk jogging. Laki-laki itu sudah berada di ruang tamu Resha menunggu Resha bersiap. Setelah dirasa cukup dengan penampilannya, Resha segera menuju ruang tamu menghampiri Genathan yang ternyata sedang mengobrol bersama Papanya yang hari ini juga libur bekerja.
"Nah itu Resha," ucap Papa Resha saat melihat anaknya yang sedang menuruni tangga rumahnya.
"Ya udah, Om, kalau gitu kita pamit dulu, assalamu'alaikum." Genathan menyalami tangan Papa Resha dan bergantian pada Resha yang juga mencium tangan papanya.
"Waalaikumsalam, hati-hati ya," seru Papanya yang mendapat anggukan dari Genathan serta senyuman manis laki-laki itu.
Setelahnya, Genathan dan Resha langsung menuju motor Genathan yang terparkir di depan rumah Resha. Genathan menyodorkan helm pada Resha dan langsung membantu gadis itu untuk naik ke atas motornya. "Udah siap?" tanya Genathan memastikan yang mendapat sahutan 'siap' dari Resha.
"Nggak pegangan nanti jatuh loh." Genathan agak memundurkan badannya seolah memberi kode. Resha terkekeh, memegang sedikit kaos Genathan. Baru setelahnya cowok itu melajukan motor.
Tak beberapa lama, akhirnya mereka sampai di taman yang sudah ramai dengan banyak orang. Ada yang berolahraga dengan alat seadanya, berjalan santai, bahkan ada yang sedang bersepeda.
Resha segera menyerahkan helm-nya pada Genathan. Mereka mulai memasuki area jogging dan memulai pemanasan sebelum berlari.
"Kakak beneran udah nggak apa-apa?" Berulang kali Resha menanyakan hal yang sama. Pasalnya, cowok itu baru keluar dari rumah sakit beberapa hari yang lalu.
"Gue udah baik kok, Dek," jawab Genathan untuk kesekian kalinya. Menegaskan bahwa dirinya sudah baik-baik saja.
"Tapi kok malah aku ya yang ngeri lihatnya, takut kenapa-napa," ringis Resha yang malah membuat Genathan tertawa melihat ekspresi Resha yang menurutnya menggemaskan. Resha terpesona melihat tawa Genathan yang baginya menambah kesan tampan laki-laki di sampingnya ini.
"Lo mah berlebihan. Gue udah gak papa sans aja, kuy lari." Genathan menarik tangan Resha, menggiring gadis itu untuk lari bersamanya. Tanpa Genathan tau perlakuannya itu malah membuat kupu-kupu di perut Resha berterbangan. Detak jantungnya bahkan sudah berpacu dengan cepat padahal ini baru lari kecil.
Mereka terus berlari bersama dengan sesekali mereka bercanda membuat senyum Resha tak pernah luntur dari wajah cantiknya.
Resha mendudukkan tubuhnya di kursi yang berada di dekatnya. Nafasnya terlihat ngos-ngosan. "Capek," ucapnya.
"Makanya kalau lagi lari itu jangan sambil ngomong jadi cepat capek, padahal baru satu kali putaran," tutur Genathan sambil mengelus puncak kepala Resha gemas. Lagi-lagi tindakan Genathan membuat debaran jantung Resha memompa kian cepat.
"Lari satu kali lagi, setelah itu kita cari makan," usul Genathan yang langsung mendapatkan anggukan semangat dari Resha.
Mereka kembali berlari kali ini tanpa pembicaraan di antara mereka. Hanya deru napas dan diiringi pembicaraan pengunjung lain yang terdengar.
"Gege, Genathan?" Sebuah suara dari arah berlawanan dengan mereka membuat Genathan mengerutkan keningnya mengingat siapa yang memanggilnya itu.
"Herlambang?" tanya Genathan terkejut. Pasalnya tubuh teman SMP-nya kini lebih kurus dari saat mereka terakhir bertemu.
__ADS_1
"Weh, lo apa kabar?" tanya Herlambang sambil bersalaman ala laki-laki dengan Genathan.
"Seperti yang lo lihat, lo sendiri gimana? Diet lo ya?" ujar Genathan memicingkan matanya membuat tawa Herlambang pecah. Sedangkan Resha yang tidak tahu harus berkata apa hanya diam menonton percakapan dua teman yang baru bertemu itu.
"Kenapa? Iri lo ya liat badan gue yang sekarang," cetus Herlambang dengan percaya dirinya yang kini malah membuat Genathan yang tertawa.
"Serah lo aja deh, yang penting badan gue lebih bagus." Genathan tak mau kalah.
Herlambang mengalihkan tatapannya. "Ini pacar lo?" tanya Herlambang saat melihat Resha yang tangannya masih digenggam Genathan.
"Calon." Genathan menaik turunkan alisnya. Resha yang mendengar ucapan Genathan malah melongo dengan kupu-kupu yang sudah berterbangan di perutnya. Hari ini Genathan sukses selalu membuat Resha terbang.
"Eh bentar deh, kok gue kayak pernah liat ya?" tanya Herlambang yang lebih tepatnya pada dirinya sendiri namun masih bisa didengar oleh orang di sekitarnya. Resha mematung. Ia juga mengingat kakak kelasnya ini.
Kakak kelas yang dua tahun lalu ia tanyakan keberadaan Genathan. Kakak kelas berbadan gempal yang kini terlihat lebih kurus.
"Ah gue inget lo yang waktu itu nanya Gege waktu alumni dateng di 17-an dua tahun lalu, 'kan? Lo pas itu mau ajak Gege foto, ya? Gimana? Dapet?" cecar Herlambang.
Resha menelan saliva susah payah mendengar penuturan Herlambang. Bahkan kini, Genathan sudah menatap ke arah Resha dengan wajah terkejutnya. Jadi, adik kelas yang ia cari adalah Resha? Dan bodohnya waktu itu Genathan menceritakan tentang ini pada Resha.
Resha gugup, keringat mulai turun dari wajah gadis cantik itu. Ia bingung ingin menjawab apa, apa lagi kini dua laki-laki di hadapannya malah menatap Resha penuh tanya.
"Iya, bener, 'kan? Gue gak salah, 'kan?" tanya Herlambang beruntun. Resha menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Resha pasrah.
"Wah keren, hanya berawal dari foto bareng sekarang malah jalan bareng." Herlambang bertepuk tangan dengan tertawa riang, tanpa tau orang di sekitarnya kini tengah canggung.
"Eh gue duluan ya, kasihan pacar gue udah nunggu," pamit Herlambang menunjukkan dua botol yang satunya akan ia beri untuk sang pacar.
Genathan mengangguk. "Hati-hati, langgeng, ya!"
Setelah sepeninggal Herlambang, ini tak ada pembicaraan di antara mereka. Sampai Genathan yang membuka pembicaraan. "Jadi?" Genathan ingin mendengar penjelasan dari Resha.
Resha menunduk, tak berani bertatap dengan cowok di hadapannya ini. "Aku ... haus, Kak." Ia menyengir, membuat Genathan mendengus.
"Ya udah kita cari makan sekalian, nanti di sana kamu harus cerita," pinta Genathan yang mendapat anggukan dari Resha.
Mereka berjalan ke arah pedagang pinggir jalan yang menjual bubur tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. Banyak tatapan memuja pada Genathan dan tatapan iri untuk Resha yang tangannya digenggam oleh Genathan.
"Mang buburnya dua ya," pesan Genathan telah mereka sampai di tempat penjual bubur.
__ADS_1
"Siap, Den," balas penjual tersebut. Setelah memesan, mereka memilih tempat yang sedikit sepi dari pembeli bubur.
"Gimana?" tanya Genathan lagi. Resha menghela napas sebelum menceritakannya pada Genathan.
"Ehm iya, jadi yang waktu itu minta foto bareng Kakak, itu aku." Resha mengakui juga.
"Kenapa waktu itu gak bilang?" tanya Genathan lagi mengingat saat ia menceritakan kejadian adik kelas yang meminta foto bersama. Resha malah memberikan pertanyaan yang sama sekali tidak membuat Genathan curiga jika orang itu adalah Resha.
"Ya aku mau ngasih tau, tapi aku rasa bukan saat itu. Aku malu, Kak." Pipi Resha sudah terdapat semburat merah membuat tawa Genathan pecah melihat berapa menggemaskan Resha saat sedang blushing.
"Gemes gue," ujar Genathan sambil mencubit pipi Resha dengan gemas.
"Sakit tau kak," gerutu Resha menghentikan aksi Genathan.
"Hehe sorry," ucap Genteng dengan cengiran nya.
"Gue jadi ngerasa yakin," celetuk Genathan ambigu membuat kerutan di dahi Resha mulai muncul.
"Maksud Kakak?" tanya Resha bingung.
"Ya gue semakin yakin kalau lo suka sama gue."
Resha mencelos. Ucapan Genathan sukses membuatnya terdiam. Bagaimana bisa? Apa sikapnya sangat agresif menunjukkan rasa ketertarikannya pada Genathan hingga bukan hanya Ayu dan Gentala yang bisa menebaknya, tapi Genathan juga melihatnya. Apa yang bisa Resha lakukan kini? Ia sudah ketahuan, Resha sudah tertangkap basah jika ia menyukai Genathan. Dulu hal ini tak pernah terpikirkan oleh Resha namun kini malah terjadi.
Apakah kali ini ada yang menjauh? Atau terikat dalam perasaan yang utuh?
Sekali lagi, kali ini Resha benar-benar pasrah.
***
Duh Resha sama Genathan makain deket aja.
Gimana ya kalau mereka udah official?
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
__ADS_1
Thanks for reading all.