
Bagian tersulit setelah ditimpa kegagalan, adalah menerima kenyataan. Namun, tidak ada kegagalan yang selamanya. Setelah kegagalan, akan selalu kita temukan cerita-cerita bahagia.
***
Hari demi hari berganti. Luka akibat penolakan masih terasa sangat nyata untuk Genathan. Sebenarnya, ia malu. Ia malu bertemu banyak orang. Ia malu menjawab pertanyaan, "Gimana hasil SNMPTN lo, Ge?" Ia malu ketika orang-orang jadi tau kegagalannya.
Meskipun berulang kali ia mendengar kalimat, "Nggak apa-apa buat gagal." Tetap saja Genathan kenapa-kenapa. Namun, Genathan mencoba untuk mengikhlaskannya perlahan. Hidupnya harus tetap berjalan.
Genathan menghembuskan napas pelan ketika melihat teman-temannya banyak yang foto bersama. Hari ini, hari terakhir Genathan ujian sekolah. Rencananya selepas ujian sekolah ada kumpul angkatan di lapangan. Mereka akan melaksanakan ultras terakhirnya sebelum kelulusan dan sibuk mempersiapkan SBMPTN serta Ujian Mandiri. Hari ini, Genathan setidaknya harus mengesampingkan kesedihannya. Ia harus melewati hari ini dengan bahagia.
"Lo kapan ke Jogja?"
"Nantilah semingguan sebelum OSPEK kali ya."
"Ngekos?"
"Enggak, ada saudara di sana."
"Widih, enak yaa. Gila keren banget temen gue udah resmi jadi anak UGM."
Temannya tertawa. "Lo bisa aja. Gue tunggu lo di UGM. Nanti kita foto bareng pakai almet karung goni."
"Oh iya jelas. Nanti kita nyanyi anthem PPSMB Palapa bareng-bareng ya."
"Makanya lo semangat belajar buat UTBK. Kalau ada apa-apa jangan sungkan cerita ke gue ya."
"Siap. Gila aja masa gue pusing-pusing sendiri? Lo ikutan lah pusing dengerin gue cerita soal UTBK. Walaupun lo udah lolos SNMPTN, gue bakal ceritain euforia belajar UTBK ke lo."
"Harus dong, biar gue juga ngerti gimana rasanya."
"Gue juga pengen ngerti gimana rasanya lolos SNMPTN deh."
Genathan tercekat mendengar. Ucapan dua gadis di kursi panjang seberang sana cukup menarik perhatiannya. Sepasang sahabat, satunya lolos SNMPTN, sedangkan lainnya harus berjuang lagi di jalan lain. Ucapan terakhir dari gadis berkacamata itu sedikit banyak mewakili perasaannya.
Genathan juga ingin tau bagaimana rasanya lolos SNMPTN. Genathan juga ingin tidak usah pusing-pusing lagi memikirkan belajar UTBK.
Detik selanjutnya, obrolan dari dua gadis itu tidak terlalu Genathan dengarkan. Cowok itu asik menenggelamkan diri dalam pikirannya sendiri. Matanya memang tertuju pada keramaian di lapangan. Namun pikirannya bergelut sendiri.
Sebuah tepukan membuat Genathan mengerjap pelan. "Woi, Ge!" seru Gentala seraya mendudukan dirinya di samping Genathan.
"Lo ngagetin aja dah," gerutu Genathan.
__ADS_1
"Habisnya lo ngalamun, sih. Mikirin apa?" tanya Gentala.
Genathan tidak menjawab.
"Masih belum rela, ya, Ge?" tebak Gentala.
Genathan masih tidak menjawab. Dari kebungkaman Genathan itu, Gentala mencoba mengambil kesimpulan.
Jawabannya iya. Genathan masih belum rela dan belum bisa menerima kenyataan sepenuhnya.
"Gue nggak punya kata-kata motivasi, mutiara, penyemangat, atau sejenisnya," celetuk Gentala.
"Gue juga enggak butuh. Gue sampai muak denger kata-kata kayak gitu, Ta," balas Genathan.
"Oke kalau gitu. Berarti gue enggak usah pusing-pusing mikir kata-kata kayak gimana yang harus gue kasih buat nenangin lo."
Beberapa detik kemudian hanya berisikan kebungkaman di antara dua cowok itu. Sama-sama asyik dengan pikirannya sendiri-sendiri.
"Dulu gue maunya sekolah di SMA negeri, Ge. Pandangan gue ke sekolah swasta tuh nggak bagus. Iya, dulu gue sesombong itu. Sampai akhirnya kenyataan nampar gue dengan gue yang nggak berhasil lolos PPDB SMA negeri. Sedih banget asli awal-awalnya tuh. Gue ngerasa ngecewain banyak orang. Gue malu tiap ditanya temen-temen SMP gue, gue lanjut sekolah dimana. Gue masih nggak terima jadi anak swasta. Gue nggak terima gue gagal."
Cerita Gentala yang mengalir begitu saja cukup menarik perhatian Genathan. Kini cowok itu memusatkan perhatiannya pada sahabatnya ini.
"Tapi lambat laun, gue lebih bisa menerima. Gue nemuin banyak hal, termasuk temen-temen yang baik di sini. Gue ketemu anak ultras yang solid dan baik banget. Gue nemuin guru-guru yang peduli banget. Gue jadi mensyukuri karena gue sekolah di Cakrawala. Gue nggak bayangin kalau gue keterima pas PPDB negeri, mungkin cerita masa putih abu-abu gue nggak bakal kayak gini. Mungkin gue nggak bakal punya cerita seru waktu naikin koreo 3 dimensi pas malam puncak Cakrawala Cup. Hal yang dulu gue nggak suka, ternyata malah kasih banyak kebahagiaan buat gue." Gentala sedikit menjeda ucapannya.
"Gue emang nggak tahu persis gimana rasanya ketolak di SNMPTN yang lo ikutin, ya karena gue aja udah kesingkir duluan pas pemeringkatan. Tapi lo keren. Lo udah bisa bersaing sama banyak orang di lingkup nasional. Walau hasilnya enggak sesuai yang lo mau, tapi lo udah keren. Rencana Tuhan ke depannya, nggak ada yang tau, Ge. Mungkin satu, dua, tiga, empat tahun lagi setelah ini, lo bakal bersyukur atas kegagalan ini. Mungkin setelah ini, lo bakal nemu pelangi yang lebih indah. Jatah kegagalan lo udah berkurang satu, Ge," ujar Gentala panjang lebar.
Perlu beberapa menit untuk Genathan mencerna ucapan Gentala. Sebelum akhirnya cowok itu menghembuskan nafas pelan dan meninju bahu Gentala pelan. "Lo bilang nggak punya kata-kata penyemangat, terus itu tadi apaan panjang lebar."
Gentala tertawa. "Lo nggak usah kepedean. Itu gue cerita doang soal dulu gue yang nggak lolos PPDB SMA negeri. Terus kalau yang terakhir-terakhir, nggak tau itu bukan gue dah yang ngomong."
Genathan ikut tertawa mendengarnya. "Dih lo tsundere bener, Ta. Hati-hati, susah dapet cewe loh."
"Eh lo jangan gitu ya, mentang-mentang punya pacar. Gue tikung baru tau rasa lo," balas Gentala.
Genathan tertawa saja.
"Ayo dah kita gabung sama anak ultras yang lain. Udah pada nyiapin drum sama cek sound noh. Ini ultras terakhir kita sebelum lulus, Ge. Sedih banget gue kalau inget bentar lagi kita lulus," ucap Gentala.
Genathan kembali menengok ke arah lapangan. Benar, sudah ada Hasta dan beberapa anak ultras lain yang mulai mengeluarkan barang-barang. Sebelum mengadakan ini, mereka sudah meminta izin oleh pihak sekolah dan disetujui.
"Gabung sama anak kelas dulu, Ta. Ini kelas kita apa kagak mau fotbar kayak kelas-kelas lain, ya?" bingung Genathan karena di pinggir-pinggir lapangan banyak sekali kelas-kelas yang sedang berfoto bersama.
__ADS_1
"GEGE, TATA, LO JANGAN GABUNG ULTRAS DULU. SINI FOTBAR DULU WOI. DITUNGGU DARI TADI, KURANG KALIAN DOANG!" Panjang umur. Salah satu dari teman sekelas mereka berteriak dan meminta Genathan serta Gentala untuk segera mendekat.
Genathan dan Gentala pun bangkit dari duduknya dan menghampiri anak-anak kelasnya. Tanpa menunggu lama, mereka segera mengambil banyak foto sebagai kenang-kenangan. Genathan juga memberikan ponselnya untuk foto. Dia ingin mengirimnya ke Resha setelah ini.
Setelah berfoto, Genathan menepi sejenak. Ia ingin mengirimkan pesan ke Resha.
Genathan : [send a pict]
Genathan : Aku habis foto bareng sama anak kelas. Coba cari aku yang mana.
Belum ada dua menit, sudah ada balasan dari kekasihnya itu.
Nareshayang : itu kakak yang di depan sendiri, tengah, duduk. kelihatan jelas banget, di samping kak tata
Genathan : 100 buat kamu. Hadiahnya nanti kalau pulang, aku mampir bawain kwetiau kantin ya.
Nareshayang : ASIKKKK. OKEY DITUNGGU KAK GEGE
Genathan terkekeh. Sekali lagi ia ditegur Gentala untuk segera bergabung dengan anak ultras. Ia mengangguk dan memasukkan ponselnya ke saku. Baru setelah itu bergabung dengan anak-anak ultras yang lain.
Setelah cek sound dan briefing sejenak, anak-anak ultras segera meminta seluruh angkatan kelas 12 untuk berkumpul di tengah lapangan dan membentuk lingkaran. Dinyanyikan lagu mars sekolah mereka dan beberapa lagu-lagu yang biasa dinyanyikan ketika ultras. Mereka sempat duduk melingkar dan memberikan kesempatan kepada siapapun yang ingin mengungkapkan sesuatu sebelum kelulusan.
Kegiatan hari itu, diakhiri dengan foto angkatan.
Hari itu, Genathan melupakan kesedihannya. Genathan mau bangkit lagi. Genathan mau mencoba untuk menerima kenyataan sepenuhnya.
Genathan bertekad untuk menjadi sosok yang lebih kuat lagi.
Untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang di sekitarnya.
***
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
Thank for Reading All
__ADS_1