
Hari-hari selanjutnya mungkin lebih sulit untuk kita. Tapi, aku mau kita tetap bisa melaluinya bersama. Apakah bisa?
*
"Lo waktu jemput Resha masih banyak orang di sana nggak, Ta?" tanya Genathan pada sahabatnya yang sedang main game online di depannya.
Sekarang ini, mereka berada di cafetaria FEB. Sebenarnya pertemuan ini tanpa direncanakan. Gentala menunggu kelas kedua yang jaraknya hampir 1 setengah jam. Cowok itu memang suka menelusuri setiap fakultas di kampusnya. Namun, untuk sekarang ini ia paling suka cafetaria FEB. Dibanding fakultasnya, fakultas Genathan lebih punya menu makanan yang beragam. Di cafetaria Fikom—Fakultas Ilmu Komunikasi—Gentala tidak bisa menemukan ayam kremes kesukaannya.
Menanggapi pertanyaan Genathan, Gentala menggeleng. "Nggak, sih. Kemarin daerahnya sepi. Lo gak jelas banget, Ge. Kalau nggak bisa jemput tuh bilang," jawabnya sambil mengomel.
"Gue lupa banget ngabarin. Awalnya gue pikir kan sempet-sempet aja, ternyata nggak," jelas Genathan.
"Kemana, sih, lo? Sibuk banget buset, masih maba juga," ucap Gentala tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.
"Anak kelas tuh ngajakin futsal abis kelas. Kemarin kan gue kelasnya sampai jam 11 doang, jadi gue pikir bisa dong jemput Resha jam setengah 3. Tapi ternyata habis itu mereka ngajak mampir makan dulu dan bablas sampai hampir jam 5. Gue nggak pegang ponsel pas itu," ujar Genathan.
"Habis itu gimana? Lo udah ngabarin Resha pas udah pegang ponsel?" tanya Gentala.
"Udah. Gue udah telpon. Dia bilang pulang sama lo. Dia kesel banget kedengarannya." Genathan teringat nada bicara Resha yang sangat tidak bersahabat kemarin. Namun, Genathan mengerti. Itu memang salahnya sepenuhnya. Siapa yang tidak kesal sudah menunggu lama tapi yang ditunggu tidak datang-datang?
"Ya kesel lah. Gue kalau jadi Resha, gue tinggal. Males banget nungguin lo," ucap Gentala.
Benar. Jika hal itu menimpa Genathan, Genathan juga pasti sangat kesal. Sekarang, Resha tidak membalas pesannya sama sekali. Genathan tidak bisa mengantarkan Resha ke sekolah hari ini karena dirinya juga ada kelas pagi pukul 07.00. Genathan sudah mengabari, tapi Resha tidak menanggapi. Pesan-pesannya sejak malam tadi tidak dibalas. Dibaca saja tidak.
"Hari ini lo bisa jemput, 'kan? Gue ada kelas pengganti nanti sore, jadi nggak bisa gantiin lo kayak kemarin," ujar Gentala. Rupanya, ia sudah selesai bermain game. Terlihat dari posisi hpnya yang kembali potrait dan mulai mematikan ponselnya.
"Bisa deh," jawab Genathan singkat tapi terdengar tidak meyakinkan di telinga Gentala.
"Lo yang bener aja, Ge. Jangan kayak ragu-ragu gitu," tegur Gentala.
"Gue nggak tau nanti ada diajak main apa enggak sama anak kelas," ujar Genathan.
"Ya tolak aja kenapa, sih? Atau lo izin aja mendahului kalau jamnya mepet," respon Gentala.
Genathan menggeleng. "Nggak enak, Ta."
"Lo dulu sama anak ultras pas ngumpul juga gitu loh, Ge. Waktu mau main ataupun jemput Ayu, terus posisi lagi ngumpul, lo izin cabut duluan. Bahkan beberapa kali lo nolak. Sekarang kan konteksnya sama. Kenapa nggak bisa?" cecar Gentala.
Genathan berdecak. "Nggak sama. Gue kenal kalian udah lama. Lah ini temen-temen baru gue, gue nggak enak."
__ADS_1
"Terus sampai kapan lo mau nggak enakan gini? Lo berubah nyadar nggak? Lo bukan kayak Genathan yang dulu. Lo lihat Bentala deh, sekarang sering nggak lo nyamperin toko lo itu? Waktu luang lo, banyakan lo habisin nongkrong sama temen-temen baru lo itu, 'kan?" semprot Gentala.
Gentala menghembuskan napas pelan. "Gue tau, Ge, tau banget lo masih ngerasa seneng-senengnya sama euforia yang sekarang. Lo ketemu banyak orang baru, temen-teman baru, lingkungan baru. Semua hal baru ini terasa menarik buat lo. Tapi hidup lo nggak cuma soal temen-temen baru, 'kan? Lo punya Resha. Lo punya Bentala. Prioritas jangan lupa, Ge," nasihat Gentala.
Gentala melihat jam tangan di pergelangan tangan kanannya. Setelahnya, cowok itu berdiri dari duduknya. "Gue duluan, ya. Kelasnya 15 menit lagi mulai. Hidup lo jalanin yang bener. Baikan sama Resha jangan lupa," pamit Gentala menyempatkan diri menepuk pundak Genathan. Tanpa menunggu respon Genathan, Gentala segera beranjak dari sana.
Sedangkan Genathan masih mencerna dan memikirkan baik-baik ucapan Gentala.
*
"Sebentar aja, Res, Kakak udah di depan." Resha berdecak pelan mendengarnya.
Ketika sedang mengerjakan tugas, ponsel Resha berdering. Resha sudah mengabaikan ketika melihat nama penelpon tertera di sana. Namun, ponselnya terus berdering berulang kali. Mau tidak mau Resha mengangkat daripada pacarnya semakin berisik meneleponnya.
"Mau apa, sih? Kalau ditunggu aja lama nggak nongol, giliran nggak ditunggu tau-tau di depan," omel Resha masih kesal.
"Iya maaf, ya, soal itu. Kakak cuma mau ketemu kamu, bicara sama kamu, dan kasih kamu jajan. Kakak udah beliin jajan tadi sebelum ke sini." Genathan masih tidak menyerah membujuk pacarnya untuk menemuinya.
"Bicara di telepon aja. Aku males ke bawah," jawab Resha singkat.
"Nggak. Kakak mau ketemu kamu," tegas Genathan.
"Aku yang nggak mau ketemu Kakak," ucap Resha.
"Sebentar aja, Res. Beneran deh. Habis ini juga Kakak mau pergi sama temen-temen, nggak lama-lama deh."
Rasa bersalah yang sempat hinggap dalam diri Resha mendadak menghilang. Bahkan di keadaan seperti ini pun, Genathan masih saja kepikiran untuk pergi bersama teman-temannya.
"Ya udah Kakak pergi aja sama temen-temen Kakak. Habisin banyak waktu sama temen-temen Kakak," ujar Resha.
"Ini Kakak sempetin buat kamu loh? Mampir kesini buat perbaiki kesalahan Kakak. Bukan mau cari-cari masalah lagi." Genathan terdengar kesal.
"Pikiran Kakak nggak sepenuhnya buat aku. Buat apa kalau gitu?" ucap Resha.
"Kamu maunya gimana? Hidup Kakak juga nggak selalu tentang kamu. Kakak punya urusan-urusan lain," kesal Genathan.
Jujur, Resha agak sakit hati mendengarnya. Memang benar, hidup Genathan memang tidak selalu soal Resha. Resha juga tidak bermaksud selalu ingin dinomorduakan. Namun, apa tidak bisa Genathan fokus pada Resha sepenuhnya juga memang Genathan benar-benar ingin memperbaiki kesalahannya?
"Kemarin Kakak nggak pegang HP sehabis futsal sama anak kelas. Kami makan dan sekalian nyicil tugas. Kakak minta maaf banget buat itu," jelas Genathan kembali mengungkit pusat masalah di sini.
__ADS_1
"Nggak sekali dua kali, Kak. Sejak Kakak masuk kuliah, Kakak sering banget kayak gini. Kakak berubah. Kakak sering main HP walaupun sama aku. Aku ngerasa aneh aja, kayak aku nih nggak ada. Kakak sering tiba-tiba ngilang waktu kita lagi chat dan tau-tau ngabarin kalau lagi keluar sama temen-temen kampus Kakak. Kakak sering nggak ada kabar dan berakhir aku tau dari story instagram Kakak yang repost temen Kakak lagi ngumpul. Aku udah nggak cukup bikin Kakak nyaman, ya? Atau Kakak, ketemu cewek lain yang lebih bisa kasih nyaman, ya?—"
"Nggak, Res. Jangan mikir kayak yang satu itu. Aku nggak pernah sekalipun mikir untuk cari nyaman yang lain di perempuan lain." Genathan memutus ucapan Resha.
"Aku nggak terbiasa sama kita yang kayak gini, Kak. Kakak berubah, dan aku jadi makin banyak takutnya," aku Resha.
"Kakak nggak bakal kepikiran cari cewek lain. Kamu udah cukup buat Kakak." Genathan masih meyakinkan Resha.
"Ini kamu beneran nggak mau turun? Kakak mau pergi habis ini udah ditunggu yang lain," sambung Genathan.
Tentu saja Resha kesal. "Kakak kalau emang lagi nggak bisa fokus mikirin ini, nggak usah sekalian deh, Kak. Emang hidup Kakak nggak soal aku doang, tapi apa nggak bisa kali ini kita beneran perbaiki ini? Kakak aja masih kepikiran temen-temen Kakak mulu."
"Ada tugas kelompok dan mau dicicil hari ini. Aku udah kesini tapi kamu nggak mau nemuin? Terus ini aku harus gimana lagi? Aku harus batalin janji tugas kelompok buat selalu nunggu kamu di sini sampai nanti-nanti?" Genathan tidak lagi menggunakan panggilan 'Kakak-kamu' melainkan 'aku-kamu' dengan nada yang mulai kesal.
Resha tidak menjawab.
"Ke depannya, mungkin bakal lebih pelik. Aku sama jadwalku yang mungkin nggak bisa seluang dulu untuk sama kamu. Aku cuma pengen kamu ngerti. Gitu aja, Res. Susah, tapi aku pengen kita sama-sama beradaptasi soal keadaan kayak gini. Hidup berjalan, dan kita nggak mungkin stuck disitu aja. Bakal banyak yang kita hadapi kedepannya. Aku mau kita sama-sama ngerti. Kali ini, aku minta pengertian kamu, ya, Res? Aku nggak main doang, tapi ngerjain tugas kelompok sama yang lain," jelas Genathan panjang lebar.
Resha menghembuskan napas pelan. Tenaganya seolah terkuras untuk menjawab Genathan. Segala hal yang sudah ia susun demikian rupa, tidak jadi terungkapkan.
"Res? Masih nggak mau turun?" panggil Genathan.
Resha menggeleng meskipun Genathan tidak melihat. "Maaf, ya, Kak. Aku masih susah buat beradaptasi sama keadaan kaya gini. Rasanya terlalu cepat. Kakak lanjut aja kumpul buat tugas kelompoknya. Kalau aku temuin dulu malah makin lama temen-temen Kakak nunggunya."
Terdengar juga helaan nafas Genathan. "Ya udah deh. Ini jajannya Kakak taruh di meja depan rumah kamu. Sekali lagi, Kakak minta maaf, ya. Kakak tutup dulu telponnya. Jajannya jangan lupa dimakan." Setelahnya, sambungan telepon ditutup oleh Genathan.
Resha melihat dari jendela kamarnya. Genathan menaiki motornya yang sudah lama tidak ia lihat sejak kelulusan. Sejak lulus, Genathan lebih sering mengendarai mobil.
"Hati-hati, Kak Ge," lirihnya seiring melihat Genathan yang perlahan menjauh bersama motornya.
Resha menghembuskan nafas pelan lalu mendudukkan dirinya di kasur. Rasanya, hari-hari selanjutnya akan lebih sulit. Resha ... harus bisa segera beradaptasi, ya?
***
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
__ADS_1
See you next chapter all.
Thank for Reading All