
Sampai kapan kita harus beradaptasi dengan keadaan seperti ini? Sebenarnya, kita beneran niat nggak, sih, mau memperbaiki?
*
Setelah Genathan yang datang ke rumahnya sore kemarin, kini Genathan tak ada lagi menemuinya hanya sekedar untuk meminta maaf ataupun memperbaiki hubungan mereka. Resha yang masih malas untuk bertemu dengan Genathan akhirnya memutuskan untuk berangkat lebih dulu ke sekolah tanpa menunggu Genathan menjemputnya.
“Emang dasarnya gak niat minta maaf. Jadi susah sih buat bisa balik lagi,” kesal Resha yang kini berjalan di koridor sekolahnya. Bahkan kini sekolahnya masih sepi, tetapi ia sudah lebih dulu berangkat untuk menghindari Genathan.
Saat memasuki kelasnya ternyata di dalam sudah ada Lidia yang tengah menyalin catatan yang belum sempat dicatat. Lidia memang begitu rajin. Gadis itu selalu datang pagi tak heran jika wali kelas mereka kembali mempercayakan posisi ketua kelas pada Lidia.
“Tumben banget pagi, Res?” tanya Lidia saat melihat Resha yang kini duduk di belakangnya.
Resha menghembuskan napasnya kasar sambil membanting tasnya yang sama sekali tak bersalah.
“Lagi pengen dateng pagi aja,” jawab Resha yang tentu hanya bualan semata. Sebagai alibi untuk menutupi jika ia datang begitu pagi untuk menghindari Genathan.
“Masih berantem sama Kak Genathan?” tanya Lidia yang tepat sasaran. Gadis tersebut memang begitu pandai membaca situasi. Resha yang memang tak datang pagi tentu begitu mudah ditebak oleh Lidia. Apa lagi Resha yang kemarin bercerita jika ia kesal pada Genathan.
“Dianya aja gak niat berusaha buat memperbaiki ini, yang ada dia malah makin ngilang,” jelas Resha pada Lidia yang kini sudah membalikan kursinya agar saling berhadapan dengan Resha.
“Emang bener-bener gak ada Genathan minta maaf?” Lidia kini menatap serius pada Resha. Ia memang bukan orang yang mengerti tentang hubungan asmara, bahkan Lidia orang yang begitu sulit untuk dekat dengan laki-laki. Namun jika memberi nasihat ia adalah orang yang bijak.
“Ya ada, cuma gak niat. Ya lo bayangin aja, di mana ada orang minta maaf akan kesalahan dia tapi dia masih mikirin hal yang dia buat salah itu,” ucap Resha dengan dengusan kasarnya saat mengingat bagaimana cara Genathan meminta maaf yang begitu terburu-buru seolah teman-temannya jauh lebih penting.
Resha tak meminta Genathan untuk selalu ada untuknya. Resha juga tidak meminta Genathan terus memikirkannya dan hanya untuknya. Resha tahu jika dunia Genathan bukan hanya dirinya. Resha juga tahu kini Genathan bukan lagi anak SMA yang bisa lebih bebas. Resha tahu Genathan sudah memasuki dunia perkuliahan yang pasti akan membuatnya sibuk.
Hanya saja Resha ingin Genathan untuk mengingat jika ia memiliki Resha. Meluangkan sedikit waktu untuk Resha. Tak perlu bertemu cukup mengirim pesan untuk memberitahu Resha tentang apa yang laki-laki tersebut lakukan. Sedikit bercerita dan saling support.
Bukan seperti sekarang. Genathan terlalu fokus dengan dunianya sendiri seolah melupakan Resha. Seolah Resha tak ada dalam hidupnya. Bahkan saat bersama dengan Resha, pikiran Genathan masih ada pada teman-temannya. Dan sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
Bukan lagi marah, namu Resha cukup kecewa dengan sikap Genathan tersebut.
“Resha, lo denger gue gak sih?” tanya Lidia menyadar Resha yang malah melamun saat Lidia menyampaikan nasihat nya.
“Eh apa, Lid?” tanya Resha gelagapan.
Lidia menghembuskan nafasnya sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Resha yang ternyata memang tidak mendengarkannya.
“Kata gue kalian butuh waktu buat ngobrol berdua. Kalian harus saling menyampaikan keluhan kalian dan saling mengerti akhirnya. Kalian harus mengambil jalan tengah sebelum kalian makin jauh dan akhirnya terlambat untuk diperbaiki,” saran Lidia.
“Gimana mau ngobrol berdua kalau dia aja sibuk mulu,” ucap Resha yang kini mulai kesal jika mengingat Genathan yang selalu saja sibuk.
Suara pesan masuk membuat Resha dengan segera ponselnya membuat Resha menoleh dan mendapati pesan dari Genathan. Ia pikir Genathan akan mencarinya karena tak ada di rumah. Ternyata ia salah karena bukan itu alasan laki-laki tersebut menghubunginya.
“Nih liat, yang kayak begini emang masih bisa diajak ngobrol? Kalau dia aja malah makin ngejauh,” ucap Resha sambil menunjukkan pesan yang baru saja masuk dari ponselnya.
Kak Gege
Ada kegiatan kampus pagi ini bareng temen aku.
Nanti aku juga gak bisa jemput. Kamu bisa kan pulang sendiri dulu?
Lidia yang membaca pesan tersebut kini akhirnya juga tak tahu harus bereaksi seperti apa. Genathan yang dulu begitu bucin yang nempel terus pada Resha sekarang begitu jauh dan perlahan malah menjauhkan diri.
Resha
sekalian aja kak, jangan anter atau jemput aku kalau kakak masih belum ngerti dan sadar diri.
Setelah membalas pesan tersebut Resha segera mematikan ponselnya karena terlalu kesal dengan Genathan. Lidia yang melihatnya hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
*
Di tempat lain kini Genathan menelan ludahnya susah payah membaca pesan dari kekasihnya tersebut yang sepertinya sangat marah. Bahkan kemarin saja ia belum sempat bertemu dengan Resha dan kini Resha malah mengatakan hal tersebut.
“Kenapa, Ge, kusut aja muka lo?” tanya salah satu teman baru Genathan saat melihat Genathan yang memegang ponselnya dengan tatapan nanar nya.
“Gapapa, ini cuma masalah cewek gue yang lagi ngambek,” ucap Genathan dengan senyumannya lalu meletakkan kembali ponselnya di saku celananya.
“Biasa cewek mah emang demen banget ngambek,” ucapnya lagi dengan tawa yang mengiringi ucapanya.
Kini Genathan tengah berada di cafetaria yang berada di kampusnya bersama dengan teman-teman satu jurusannya. Tadi pagi sebenarnya ia sudah akan menjemput Resha. Namun teman-temannya malah mengajaknya untuk berangkat bersama. Genathan yang tak enak jika harus membuat teman-temannya ikut mengantar Resha jadilah memilih untuk berangkat lebih dulu.
Alasan yang aneh memang. Genathan bahkan yakin jika ia mengatakan alasan tersebut pada Resha, Resha akan semakin marah dan tidak mau memaafkannya.
“Udahlah, Ge, gak usah terlalu dipikirin. Nanti juga kalau dibelanjain udah gak ngambek lagi,” saran temannya yang lain.
Mereka hanya tak tahu saja jika Resha nya bukanlah gadis matre seperti itu. Resha bukan orang yang mudah menerima maaf hanya karena sogokan.
“Btw nanti jadi kan ya kita main futsal lagi?” tanya Genathan yang memilih untuk mengalihkan pembicaraan agar tak lagi membahas Resha.
“Jadi dong, ya kali nggak,” sahut yang lainnya yang langsung mengangguk setuju. Sepulang kampus mereka memang memiliki rencana untuk bermain. Hal inilah yang membuat Genathan tak bisa untuk menjemput Resha, ia tahu jika sampai telat lagi menjemput Resha dan membuat Resha menunggu lama. Jadi lebih baik ia mengatakan jika tak bisa menjemput saja.
*
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
__ADS_1
See you next chapter all.
Thank for Reading All