
Terlalu tiba-tiba, tidak bisa diduga. Ya, itulah cinta.
***
Sisa hari Minggu itu Resha lalui dengan perasaan yang tidak menentu.
Tidak ada pesan meski sudah saling bertukar nomor telepon. Resha makin gusar. Apakah Genathan akan menjauhinya karena merasa risih? Kenapa juga tadi ia harus bertemu Herlambang dan cowok itu mengingatnya? Padahal, 'kan, Resha sudah banyak berubah. Kalau kata orang-orang, sudah glow up. Rambutnya yang dulu pendek, kini sudah tumbuh panjang dan tidak lepek.
Resha yang dulu masih dekil, kini sudah proses menjadi lebih cerah dan berseri. Bahkan sudah tidak ada lagi bruntusan dan sebagainya di wajah Resha. Kenapa Herlambang masih bisa mengenalinya dan dengan santainya mengucapkan semuanya pada Genathan?
Berdecak, Resha mengalihkan tatapannya ke arah ponsel yang hanya berisi notifikasi grup kelasnya. Entah apa yang teman-temannya bicarakan hingga notifikasi bisa tembus sampai seribu. Gadis itu membaringkan tubuhnya di kasur. Menaikkan selimutnya, membuka ponsel sekalian bersiap tidur.
"Ya udah deh, ketimbang nggak ada yang chat. Notif dari grup kelas juga gapapa lah," gumamnya. Tangannya kini mulai bergerilya di layar ponsel. Menggulir layar untuk membuka grup chat dengan kelasnya.
Malas untuk membaca satu persatu, Resha memilih untuk langsung ke bagian akhir. Pasti sudah banyak berita yang mereka bahas. Resha membelalak. Ia lupa ada tugas ekonomi yang harus dikumpul besok Senin setelah upacara. Segera saja gadis itu bangkit dari posisinya. Dengan gelagapan berlari ke meja belajar untuk membuka buku ekonomi.
Benar, ada catatan yang Resha buat untuk mengingatkannya jika ada tugas.
"KAN GUE UDAH NGANTUK, MAU TIDUR." Resha merengek dengan pipi yang ditempelkan ke meja belajar.
Resha bimbang. Ia harus melanjutkan tugasnya, atau dibuat di sekolah saja? Kalau dibuat di sekolah, artinya ia harus berangkat sangat pagi. Karena tugas dikumpulkan selepas upacara, belum tentu juga teman-temannya sudah datang.
"Buat sekarang aja kali, ya. Eh tapi ..." Lagi-lagi ia bimbang. Ia benar-benar mengantuk dan ingin tidur. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya. Hari Minggu memang ia tidur lebih awal, karena takut mengantuk saat upacara.
Beberapa detik Resha lalui dengan bergulat dengan dirinya sendiri. Ditatapnya lagi soal di buku paket, dan lembar buku tulisnya yang masih kosong.
"Mana sempat dibuat di sekolah. Banyak gini," gerutunya.
Dengan setengah perasaan dongkol, pada akhirnya Resha memilih untuk menyelesaikan tugasnya. Daripada besok dia bingung di sekolah karena belum selesai.
Sebelum berkutat dengan tugasnya, gadis itu berlari ke dapur untuk membuat segelas kopi panas yang akan menemaninya begadang malam ini. Baru setelah kopi itu siap, Resha berjalan ke kamarnya dengan hati-hati. Ia meletakan gelas itu di depan agak menyamping dari posisinya. Agak jauh supaya tidak tersenggol. Resha menyeruput sejenak kopi itu.
"Oke, gue siap perang."
Setidaknya, membuat tugas ekonomi juga membuat dirinya lupa tentang bayang-bayang Genathan.
***
Karena menyelesaikan tugas sekolah hingga larut, Resha lupa mempersiapkan atribut upacaranya. Ia lupa tidak memasukkan topi dalam tasnya, karena hari ini ia berganti tas. Ini yang tidak Resha sukai saat berganti tas. Rawan ketinggalan barang. Tapi mau bagaimana lagi? Tasnya yang lama mulai jebol.
Ia gusar di lapangan. Biasanya, ada pasukan kedisiplinan bersama STP2K yang akan merazia anak-anak yang tidak lengkap dalam beratribut. Resha takut. Meski posisinya di tengah, setiap barisan akan dimasuki dan ia akan tertangkap.
"Ke UKS sono, pura-pura sakit," usul Delia.
Sontak Resha mendelik. "Nggak. Kalau gue sakit beneran gimana?" Drama yang paling tidak Resha sukai adalah pura-pura sakit. Bagaimana jika itu malah menjadi nyata?
"Ya udah, lagian hukumannya nggak berat. Keliling lapangan dua sampai tiga kali, habis itu bersihin sekolah."
__ADS_1
Baru saja hendak membalas, ia jadi mengatupkan bibir rapat. Seorang anggota pasukan kedisplinan yang ia tau juga berasal dari kelas sebelas berdiri di depannya.
"Maaf, topinya mana, ya?" tanya cewek anggota pasukan kedisiplinan.
Resha membuang napas pasrah. "Gue ... lupa."
"Kalau gitu, ikut saya ke barisan sana, ya." Resha juga pasrah saat diminta baris di dekat ring basket. Baru kali ini Resha ikut baris di sana. Pancaran matahari langsung menghadap ke tempat Resha baris membuat gadis itu semakin merutuk.
Tidak lama, ia jadi mengernyit ketika tidak terpancar sinar. Seseorang bertubuh tegap berbaris di sebelah kanannya dengan agak memajukan tubuh untuk menghalau. Tepat saat Resha mendongak, cowok itu agak menunduk menatap Resha. "Kak Ge?" panggil Resha pelan dan ragu. Genathan hanya tersenyum tipis. Cowok itu melepaskan topi lalu memakaikannya ke kepala Resha.
"Biar nggak kepanasan banget," ucap Genathan kalem.
"Ma-makasih, Kak. Kakak atributnya kurang apa?"
Genathan menunduk menatap sepatunya. Resha juga mengikuti arah pandang Genathan. Ia mengulum bibir. Di saat yang lain memakai sepatu hitam, Genatha justru memakai sepatu merah.
Sisa upacara hari itu, Resha lalui di sebelah Genathan meski dalam barisan murid yang tidak tertib peraturan. Setelah upacara selesai, mereka diminta berkumpul. Sesuai dugaan, lari tiga kali lapangan lalu membersihkan sampah di sekitar sekolah. Tidak lupa untuk meneriakkan, 'Saya berjanji akan disiplin!'
Serius, Resha malu. Wajahnya muram berada di sini padahal biasanya ia sudah ngadem di kelasnya. Meskipun di sana ada Genathan, pujaan hatinya namun tetap saja ia merasa malu dan tak ingin berada di sana.
"SAYA BERJANJI AKAN DISIPLIN!" Resha refleks menutup telinganya. Si pelaku justru terbahak.
"Kak Ge, ih! Kaget!" sewotnya kesal.
"Yuk teriak bareng. Kalau teriaknya bareng-bareng, bebannya lebih ringan katanya,” saran Genathan. Ia tahu jika Rehsa kini kurang nyaman berada di sana, hal tersebutlah yang membuatnya mendekati gadis tersebut untuk menghiburnya.
Resha tertawa bersama yang lainnya. Mereka jadi berlari bersama dengan diiringi tawa.
Jadi begini masa SMA.
"Nggak seburuk itu, 'kan?" tanya Genathan yang langsung saja mendapat anggukan dari Resha.
Usai berlari, dilanjut dengan membersihkan sekolah. Ada yang menyapu, membuang sampah di depan kelas ke tempat sampah utama. Mengambil daun dan sampah yang jatuh berserakan.
Resha masih melongo. Ia bingung harus mengerjakan yang mana.
"Yuk, nyapu." Genathan ada di depannya dengan menyodorkan satu sapu lidi.
Resha tersenyum. Daripada tidak tahu harus mengerjakan apa, lebih baik ia menyapu. "Kakak juga nyapu?" tanya Resha saat cowok itu juga memegang sapu lidi.
Genathan mengangguk. "Tapi sebelum nyapu, gue mau tanya dulu boleh nggak?"
Resha menaikkan alisnya. "Tanya apa, Kak?"
Genathan mendekat. Di bagian atas gagang sapu lidi, ia menopang dagunya. Tidak lupa sudah ada punggung tangannya sebagai alas.
"Kak?" panggil Resha saat tak mendapatkan jawaban dari Genathan.
__ADS_1
"Biar gue konsen nyapunya, gue mau tanya dulu jadi nggak ada yang mengganggu pikiran gue," ucap Genathan pelan. Seolah supaya hanya Resha yang bisa mendengarnya.
Resha menelan saliva mendengar nada rendah Genathan. "A-apa, Kak?"
"Lo suka gue? Sejak lama?" tanya Genathan begitu berterus terang seolah tak ada beban saat ia mengatakannya. Resha mengatupkan bibir rapat. Maulu? Jelas, ia kini begitu malu karena tertangkap basah jika ia menyukai Genathan.
"Kenapa nggak mau akuin? Kenapa memilih diam? Kenapa nggak bilang kalau lo yang gue cari selama ini? Kenapa buat gue seolah bodoh karena nggak tau apa-apa? Kena-" pertanyaan yang beruntun dari Genathan terpotong karena Resha yang pusing mendengar banyaknya pertanyaan dari Genathan akhirnya menyela pertanyaan tersebut.
"Karena aku kira Kakak nggak pernah tau tentang aku. Karena aku kira Kakak nggak inget insiden fotbar dua tahun lalu. Karena ... Kakak terlalu sempurna buat gadis biasa kayak aku," potong Resha dengan melirihkan nada di bagian akhir. Tatapan gadis tersebut kini menunduk menatap sepatunya, seolah sepatunya tersebut lebih tempan dari wajah Genathan.
Genathan tampak terhenyak. Cekalan di gagang sapunya semakin erat. Cowok itu berdehem, "Gue ... nggak peka. Res, maaf, ya."
Resha kembali mendongakkan kepalanya lalu menatap Genathan dengan menaikkan sebalah alisnya.
"Buat apa?" tanya Resha karena tak mengerti dengan Genathan yang malah meminta maaf padanya.
"Maaf karena ketidak pekaan gue selama ini justru buat lo sakit. Gue nggak mau lo terlalu lama sakit kalau terusan terjebak kayak gini di samping gue," ungkap Genathan.
Perasaan Resha berkecamuk. Apa Genathan benar-benar akan menjauhinya? Apa kali ini ia benar-benar akan mendapatkan sebuah penolakan? Padahal baru saja ia berharap lebih pada hubungan tersebut.
"Gue ... nggak mau nyakitin lo lebih lama lagi dengan kayak gini. Posisi lo pasti berat banget. Makanya, gue ingin bantu meringankan," lanjut Genathan. Laki-laki tersebut manarik nafasnya dalam.
"Maksud Kakak gimana?" tanya Resha yang masih tak mengerti dengan ucapan Genathan yang menurutnya penuh teka teki.
"Nggak perlu menyimpan perasaan sama Kakak secara diam-diam. Nggak perlu bersembunyi, karena gue akan bersedia menerima."
"Kak?"
"Ayo jadian, Res. Gue yakin kalau lo rumah gue yang sesungguhnya."
***
Ahh akhirnya official juga ya mereka.
Genathan ini tipe cowok yang peka dan begitu menghargai perasaan wanita.
Sisain satu yang kayak gini.
Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.
So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.
Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.
See you next chapter all.
Thanks for reading all.
__ADS_1