Genathan

Genathan
Bukan Sekedar Mimpi


__ADS_3

Menikmati hal menyenangkan bersama orang yang singgah di hati, ternyata tidak hanya menjadi bagian dari dunia mimpi.


*****


"Makanya, jangan jomblo."


Resha mencebik kesal mendengar cibiran Delia. Mentang-mentang sahabatnya itu bersama gebetan dari kelas sebelah, Delia malah mengejek Resha. Bukannya menenangkan, sahabatnya itu malah membuat kesal. Resha sedang bingung bagaimana caranya ia bisa sampai ke tempat pertandingan basket.


Ganesha Champion ialah pertandingan olahraga yang diadakan oleh SMA Ganesha. Hadiah yang diperebutkan juga besar. Tahun ini yang dilombakan ialah basket. SMA Cakrawala rutin mengikuti event ini setiap tahunnya. Turnamen itulah yang sedang membuat gempar SMA Cakrawala saat ini. Pasalnya, sekolah mereka akan tanding sore ini. Hampir semua murid sangat antusias untuk datang ke tempat pertandingan.


Selain untuk mendukung tim basket sekolah, para cewek juga antusias menonton anggota basket dari sekolah lain. Apalagi, kabarnya SMA Cakrawala akan bertanding dengan SMA Bumiputra. Sekolah itu dipenuhi oleh cowok-cowok ganteng. Resha dan Delia sama antusiasnya. Tadi, mereka sudah membeli tiket dari Gentala sebagai distributor tiket. Padahal, awalnya Resha ingin membeli pada Genathan. Tetapi, tahun ini cowok itu tidak bertugas sebagai distributor tiket.


Jadi sistemnya, beberapa anak SMA Cakrawala pergi ke SMA Ganesha yang sedang membuka penjualan tiket. Mereka membeli dengan jumlah yang banyak, lalu dijual lagi ke sekolah. Istilahnya, calo. Selain lebih nyaman karena dengan teman sendiri, harganya juga lebih murah.


Sekarang yang menjadi masalah adalah, dengan siapa Resha akan pergi ke tempat pertandingan basket. Tidak ada tebengan. Tadi, Resha hendak bergabung bersama anak-anak cewek di kelasnya untuk naik taksi online. Terbagi dua kelompok dan penuh semua. Hendak naik ojek online, tapi saldonya habis belum top up lagi. Ditambah, ia lupa tidak membawa dompetnya.


"Res, lo nggak ada kenalan selain anak kelas?" tanya Delia lagi.


Resha berdecak. "Dari dulu gue main cuma sama lo doang."


Delia meringis.


"Maaf, ya, gue nggak tau kalau lo nggak punya tebengan. Jadi gue nggak bawa mobil,"  sahut Arik—gebetan Delia.


Jadi, di depan gerbang sekolah Arik dan Delia menunggu Resha mendapat tebengan. Arik nangkring di atas motor, sedangkan Delia berdiri di samping Resha. Resha mengangguk menanggapi ucapan Arik. "Iya, nggak papa."


Kini, tatapan Resha memandang murid-murid SMA Cakrawala yang kompak mengenakan baju berwarna hitam. Begitupun Resha. Ia memang membawa baju ganti dari rumah. Baju ini digunakan setiap ada event seperti perlombaan di luar sekolah. Dipakai saat datang mendukung SMA Cakrawala. Berwarna hitam, dengan tulisan cakrawala berwarna putih di bagian depan. Di bagian belakang bergambar sayap putih. Bermakna supaya SMA Cakrawala selalu mengudara bersama prestasi murid-muridnya.


Dari sekian banyaknya orang-orang ini, tidak ada yang bisa Resha minta tebengan karena tidak ada yang benar-benar ia kenal, selain sebatas tahu nama. "Itu kok bisa pada dapat tebengan, ya? Itu mereka yang minta tolong atau ditawarin sendiri, sih?" tanya Resha saat melihat beberapa cewek naik ke atas motor cowok.


"Ada yang minta tolong, ada yang ditawarin, sama ada yang udah janjian," jawab Arik membuat Resha dan Delia menoleh.


"Dalam event kayak gini tuh, SMA Cakrawala punya penggerak. Anak-anak inti yang memang suka ngurus kayak gini. Bukan OSIS, malah kebanyakan dari anak-anak yang dicap badung sama guru-guru. Tapi, mereka punya kepedulian yang tinggi soal ngedukung tim sekolahnya," terang Arik.


Delia tampak tertarik. "Iya?"


Arik mengangguk. "Ada yang bagian distributor tiket kayak Bang Genta dan yang lain. Dulu ada Bang Gege, tapi udah pensiun. Terus ada juga yang bagian transportasi, ngasih tebengan gini. Bagian ini biasanya peka soal mana anak-anak yang perlu tebengan dan harus bersedia bolak-balik."


"Kok lo tau sedetail itu?" tanya Delia.


"Gue juga gabung bareng mereka semua. Ada grup chat buat koordinasi. Saat sekolah justru nggak begitu peduli, kami yang maju buat gerakin teman-teman nyemangatin tim sekolah," jelas Arik.


"Lah sekarang kok lo sama gue?" tanya Delia lagi.

__ADS_1


Arik tersenyum. "Emang salah sama gebetan sendiri? Gue tuh bagian tiket, tapi udah habis duluan di kelas jadi nggak sempet nawarin lo."


“Dari sekian banyak yang lo sebutin tadi kenapa gak ada yang nawarin buat nebengin Resha?” rutuk Delia yang membuat Arik menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena ia juga tak tahu kemana perginya semua anggota yang mengurus masalah transportasi, Arik terlalu fokus pada tugasnya saja.


"Eh, Res, coba minta tolong Genathan," celetuk Delia.


"Mana bisa. Bang Gege nggak tugas," sahut Arik.


"Emang minta tolong cuma boleh pas dia tugas?" balas Delia sewot.


Arik menghela napas. "Bang Gege tuh ditaruh di bagian distributor tiket dulu, karena nggak mau bagian tebengan."


Resha mengerjap. "Ke-kenapa?"


Arik mengangkat kedua bahu. Cowok itu turun dari motornya. "Nggak tau juga. Tapi dulu kalo ada event kayak gini, dia sama temennya. Cewek. Karena itu kali, ya. Banyak yang bilang pacarnya, tapi kata Bang Genta sama Bang Hasta cuma sahabat, sih."


Seperti ada sesuatu dalam diri Resha yang berontak tidak terima. Ia jadi menyesal baru tertarik menonton pertandingan olahraga akhir-akhir ini.


"Naresha!" Resha tersentak begitu mendengar suara memanggil namanya.


Sebuah motor sport berwarna merah berhenti di belakang motor Arik. Cowok itu turun menghampiri Resha dengan temannya.


"Kak Genta?" panggil Resha ragu.


"Bareng—"


"Heh lo bareng gue, ya! Jangan ngadi-ngadi. Tanggung jawab gara-gara motor gue lo tabrakin kemarin, hari ini gue nggak bisa tugas nebengin degem!" potong teman Gentala. Gentala berdecak kesal karena gara-gara temannya itu ia jadi tak bisa memberikan tumpangan untuk Resha.


"Bang Genta kenal Resha? Bang Hasta juga?" sahut Arik merasa heran jika sahabat gebetannya tersebut ternyata mengenal kedua kakak kelasnya itu. Karena yang ia tahu Resha tak banyak mengenal murid sekolah mereka.


"Oalah lo nggak mau tugas bagian transport karena punya gebetan," seloroh teman Gentala bernama Hasta yang bukannya menjawab pertanyaan Arik malah mengalihkan pembicaraan.


Gentala mengangguk. "Iya, gue kenal Resha," jawabnya cepat.


Gentala beralih menatap Hasta. "Has, lo sama—"


"Ah gue tau!" Lagi-lagi cowok bernama Hasta itu memotong membuat Gentala berdecak kesal. Ia mengalihkan tatapannya.


"HEH, GEGE!" pekiknya memanggil Genathan yang tengah mengeluarkan motor. Genathan tampak mengendarai motor dan berhenti di depan mereka.


"Apa?" tanya Genathan membuka helm.


"Boncengan lo lagi kosong, 'kan? Tuh ada adik kelas. Tebengin, gih," tunjuk Hasta pada Resha.

__ADS_1


Genathan mengalihkan pandangannya. Menatap Resha yang tersenyum kikuk. Ia mengangguk. "Yuk. Kosong, nih," ajaknya membuat Resha mengerjap.


Arik dan Delia juga sama kagetnya.


"Nah, udah. Tata, sekarang yuk kita berangkat. Kuy," kata Hasta pada Gentala.


"Jangan panggil gue Tata kayak si Gadis!" sungut Gentala kesal. Cowok itu akhirnya berpamitan pada mereka semua. Lalu kembali menaiki motornya dan melaju terlebih dulu. Delia dan Arik juga sama. Mereka pamit pada Resha dan Genathan untuk duluan. Tak lupa Delia memberi senyuman jahil yang malah membuat Resha salah tingkah.


Kini tersisa Resha dan Genathan.


"Sebentar ya." Genathan turun dari motornya. Berlari menuju pos satpam, lalu kembali dengan membawa sarung helm berwarna merah.


Cowok itu membuka resleting sarung helm. Lalu memberikan helm berwarna putih pada Resha dan memasukkan sarung helm ke tasnya. "Gue selalu nitipin helm itu di pos satpam."


Resha tersenyum seraya mengambil helm itu. "Makasih, Kak," tuturnya.


Genathan tersenyum. Kini naik ke atas motor dan memakai helm. "Yuk naik," cakapnya pada Resha.


Resha mengangguk. Seperti kemarin, dengan bantuan Genathan ia naik ke atas motor. Duduk dengan perasaan yang berkecamuk. Setelahnya, Genathan mulai mengendarai motornya. Dengan tenang kini berada di tengah kendaraan anak-anak SMA Cakrawala.


Padatnya lalu lintas sore ini, turut diramaikan dengan anak-anak SMA berbaju hitam yang hendak mendukung tim basket kebanggan mereka. Dulu Resha kira, hal seperti ini hanya terjadi di dunia fiksi. Menjadi bagian dari khayalannya saja.


Namun, Resha salah.


Hari ini semua terbukti. Masa-masa SMA memang seperti ini. Yang katanya putih abu-abu, di dalamnya mengandung banyak warna-warni pelangi. Resha senang, bisa menikmati ini bersama Genathan di depannya. Di bawah naungan semesta sore ini. Di tengah padatnya jalanan yang dipenuhi anak-anak Cakrawala, Resha bersyukur.


Hal menyenangkan ini, tidak hanya menjadi bagian dari mimpi.


***


Di Sekolah kalian ada gak sih pertandingan begini?


Buat cerita ini aku jadi kangen masa SMA lagi


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.


See you next chapter all.


Thanks for reading all.

__ADS_1


__ADS_2