Genathan

Genathan
KECEWA


__ADS_3

Coba tanya pada dirimu sendiri. Sebenarnya, perasaan untuk aku itu benar-benar ada, atau hanya pelarian semata?


***


Tadi pagi, Resha merasa sangat bersemangat datang ke sekolah. Pikirnya, ia akan melihat Genathan setelah beberapa hari terakhir. Namun, hingga bel pulang sekolah berbunyi sosok Genathan belum juga menyapa matanya.


Istirahat tadi ia tidak sempat ke kantin. Resha harus ke ruang guru untuk melakukan ulangan susulan. Kata Delia, Genathan juga tidak ada di antara Hasta dan Gentala. Semalam, ada satu notifikasi dari Genathan. Tapi belum sempat ia baca, cowok itu sudah menghapusnya terlebih dahulu. Saat Resha bertanya, malah tidak ada balasan.


Belum ada satu bulan ia menyandang status pacar Genathan, hubungannya serasa diombang-ambingkan. Ayunindya dan malam puncak Cakrawala Cup hari itu mengubah semuanya. Ia justru lebih dekat dengan Gentala. Namun, cowok itu juga selalu bungkam setiap ditanya perihal Genathan.


"Kalau kaget jadi pacar Gentala!"


Refleks, Resha latah kecil. Tubuh gadis itu agak tersentak ke depan saat kedua tangan Gentala memegang bahunya tanpa aba-aba. Lalu dengan tanpa dosanya cowok itu malah tertawa puas. "Kak Tata!" kesal Resha menginjak kaki Gentala yang berbalut sepatu putih.


"Sepatu gue putih. Kotor atuh diinjek kayak gini," sungut Gentala melepas rangkulannya. Kini gadis itu sudah berjongkok untuk mengusap-usap sepatunya yang berbekas kotor.


Resha juga mengikuti Gentala untuk berjongkok. "Yah kotor, Kak. Habisnya Kakak, sih, usil banget. Kan aku jadi kaget. Maaf ya, Kak."


"Nggak, musuhan kita,”rajuk Gentala yang sudah cemberut seperti anak kecil.


Resha mengangkat alisnya tinggi. Agak geli juga mendengar nada merajuk dari cowok di sebelahnya ini. "Ih kok ngambek. Aduin Gadis nih, kakaknya ngambekan."


Gentala mencubit pipi Resha gemas. "Kenapa bawa-bawa Gadis mulu sih, Naresha. Kangen sama Gadis? Ah elah kangenin abangnya aja."


"Kak Tataa, tangan Kakak kotor habis pegang sepatqu!" protes Resha dengan memukul-mukul tangan Gentala.


Cowo itu terkekeh dan melepas tangannya dari pipi Resha. Selanjutnya, Gentala mengajak Resha untuk berdiri. "Gue anter pulang, ya?" tawar Gentala pada Resha.


Resha mengembuskan napas pelan. "Kak Gege masuk sekolah nggak sih, Kak? Aku nggak ada ketemu dia hari ini. Chatku juga nggak dibalas. Kak Gege ada urusan sama Bentala, ya?"


Tidak ada respon dari Gentala membuat Resha menurunkan bahu lemas. Ia berjalan lebih dulu meninggalkan Gentala yang segera disusul oleh cowok itu.


"Gege ada tadi. Tapi dia nggak keluar kelas. Lagi ada masalah kayaknya,” jawab Gentala akhirnya. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sahabatnya tersebut, namun melihat Genathan yang malah menjauh dan mengabaikan Resha ia jadi kasihan pada gadis tersebut. Andai saja Resha memilihnya ia pasti tak akan melakukan apa yang Genathan lakukan pada Resha.


Kening Resha mengerut mendengar itu. "Masalah gimana? Kak Gege nggak ada cerita sama aku, Kak. Terakhir, dia pergi pas mau kenaikan koreo tiga dimensi di malam puncak Cakrawala Cup."


Resha merasa cukup kesal dan kecewa dengan sikap Genathan. Tak pernah mempercayainya dan kini malah menghilang tiba-tiba. Resha mengerti akan privasi namun Resha juga ingin bisa berbagai beban dengan Genathan.


"Gue lihat kok, Res. Gue ada di tribun belakang lo. Gue lihat semuanya. Semenjak Ayu balik, itu anak emang kelihatan aneh. Dan dia ngaku ada masalah yang nggak bisa di sampaikan ke lo,” ucap Gentala dengan tatapan sendunya. Gentala tahu pasti, jika kini gadis tersebut pasti tengah terluka.


"Kenapa, Kak? Aku pacarnya," tegas Resha.


"Naresha, ada batas privasi yang nggak bisa diterobos sekalipun elo itu pacarnya."


Ucapan itu sukses menohok Resha. Ia jadi mengatupkan bibir rapat-rapat. Bukan maksudnya untuk mencampuri privasi Genathan, ia hanya khawatir. Apakah rasa khawatirnya ini salah?


"Lo nggak salah kalau khawatir. Tapi maaf, Res, gue nggak ada hak buat bilangin ini. Lebih baik lo tunggu Gege buat jelasin."


Resha mengangguk tak semangat. "Tapi, Kak, aku mau ketemu Kak Gege. Aku boleh minta tolong Kakak buat antar ke tempatnya Kak Gege?"


***


Rumah Genathan sudah tampak di depan mata Resha. Setelah pulang sekolah dan berganti pakaian, Gentala akhirnya mau mengantar Resha untuk bertemu sang pacar. Ia harap, Genathan ada di rumah.

__ADS_1


"Ketuk pintu dulu Kak Ta," tegur Resha saat melihat Gentala yang hampir memutar knop pintu rumah Genathan.


"Langsung masuk aja," balas Gentala santai. Rumah Genathan sudah seperti rumah sendiri sepertinya bagi Gentala. Bahkan masuk tanpa permisi.


"Nggak sopan, ih,” ucap Resha dengan menggelengkan kepalanya yang membuat Gentala justru menyengir.


"Biasanya gitu, Naresha. Gege sering mager,” keluh Gentala dengan tawanya.


"Ketuk dulu, Kak. Aku nggak enak kalau asal masuk, kalau Kak Tata sendiri mah nggak papa,” dengus Resha lagi.


Mengalah, Gentala mengangguk dan mengetuk pintu.


"GE, MAU AMBIL SEPATU!" teriak Gentala heboh membuat Resha mendelik. Bagaimana kalau tetangga Genathan terganggu dan menghampiri mereka?


"Kak Tata ih, jangan teriak-teriak!" lagi-lagu kini Gentala mendapatkan keluhan dari Resha akan sikap laki-laki tersebut yang memang aneh.


Gentala berdecak. "Gege budek."


"Mulutnya, ya!" peringat Resha galak. Ada saja alasan Gentala untuk menjawabnya dan akhirnya selalu menjelekkan Genathan.


Gentala  meringis dengan tangan kanan yang mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V. Tidak lama kemudian, knop pintu terputar menandakan bahwa ada orang yang membukanya. Resha dan Gentala spontan agak mundur ke belakang.


Resha tersenyum lebar karena akan melihat Genathan kali ini. Tapi harapannya pupus begitu melihak sosok perempuan, bukannya sang pacar. "K-kak Ayu?"


Ayunindya ada di sana dengan kaos oversize dan celana selutut. "Lah? Ceweknya Gege? Ngapain ke sini?"


"Ka-kak juga ngapain di ... sini?" tanya Resha balik, memberanikan diri.


"Gue nginep di sini."


"Nginep?"


Ayu mengangguk santai. "Iya, udah beberapa hari ini sih."


Gentala membuang napas kasar. "Gege mana?" sahutnya jauh dari kata ramah. Gentala memang sensi tiap bertemu Ayu.


"Lagi mandi. Kalian masuk aja dulu." Ayu mempersilakan Resha dan Gentala untuk masuk, menunggu di ruang tamu. Meski dengan perasaan berkecamuk, Resha akhirnya menapak ke ruangan itu bersama Gentala di sampingnya.


Mereka duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Tapi tatapan Resha tertuju pada foto yang dipasang tak jauh dari tempatnya. Potret Genathan dan Ayunindya dari kecil hingga besar. Resha mencelos. Sebanyak ini kisah Ayu dan Genathan dibanding dengannya.


"Yu, lo udah makan belum? Pesanan makanannya udah dateng, ‘kan? Kan gue udah bilang nggak usah nunggu gue kalau makanannya udah datang." Genathan keluar dengan celana training dan kaos oblong berwarna hitam.


Rambut Genatha  masih basah dan disisir menggunakan tangan oleh cowok itu. Genathan tampak terkejut saat melihat Gentala dan Resha duduk di ruang tamu bersama Ayu.


"Loh? Res, kok bisa di sini?"


Resha tersenyum getir. "Halo, Kak."


Gentala yang paham bahwa mereka berdua butuh privasi sontak menarik tangan Ayu. "Yu, gue numpang buat mie instan. Ayo temenin, biar dapurnya nggak meledak." Gentala mengajak Ayu untuk menjauh dari sana. Hingga di ruang tamu tersisa Resha dan Genathan yang sama-sama berdiri kaku.


Genathan mengerjap, mendekat ke arah Resha. "Res, maaf ... aku—"


"Nggak papa, Kak, aku diantar sama Kak Genta pas pulang Cakrawala Cup. Aku ada videoin pas koreonya dinaikin, tapi Kakak kayaknya sibuk."

__ADS_1


"Malem itu Ayu lagi ada masalah, gue harus nemenin dia. Maaf, ya,” ucap Genathan penuh sesal. Resha hanya tersenyym sambil mengangguk.


"Iya,” jawab Resha menahan sesak di dadanya melihat apa yang kini terjadi dan alasan apa yang membuat Genathan meninggalkannya dan menghilang beberapa hari ini. Bahkan saat ia sakit pun aki-laki tersebut tak tahu. Padahal ia sakit karena kehujanan menunggu Genathan.


"Gue ... lupa ngabarin lo karena ada masalah yang nyangkut Ayu juga. Maaf."


"Iya, nggak papa, Kak,” ingin rasanya Resha menangis merasakan sesak di dadanya itu namun ia berusaha menahannya karena tak ingin terlihat lemah di mata Genathan.


"Gue juga minta maaf, nggak cerita kalau Ayu ada di sini”


"Iya."


Genathan tampak gusar. "Kenapa cuma iya aja?"


"Memangnya aku bisa ngapain lagi selain menerima dan mengiyakan?" tandas Resha yang berhasil membuat Genathan tampak tertohok.


"Gue ngaku salah, gue minta maaf. Gue belum bisa ceritain sama lo kalau—"


"Kalau perasaan Kakak emang buat Kak Ayu, harusnya Kakak perjuangin. Jangan buat semuanya makin rumit dengan malah bilang sayang sama aku. Aku nggak bisa bahagia sama perasaan semu Kakak."


Genathan menggeleng cepat. "Res, nggak gitu."


"Aku memang suka Kakak sejak lama. Tapi aku juga sadar diri, kalau Kakak terlalu tinggi buat aku gapai." Nada getir terdengar jelas di sana.


"Aku ke sini karena khawatir Kakak kenapa-napa. Kakak nggak ngabarin. Kakak nggak ada waktu aku sakit. Tapi waktu sampai sini, yang aku dapat malah fakta kalau Kak Ayu nginap di sini beberapa hari di saat Kakak juga ngilang dari aku,” senyuman getir terlihat di wajah Resha.


"Res, tolong jangan simpulin sendiri," tegur Genathan.


Resha tersenyum sendu. "Kakak nggak jelasin apa-apa, lalu aku nyimpulin dari siapa selain dari pemikiranku?"


Resha menarik napas dalam. Menguatkan hatinya untuk melontarkan kata selanjutnya.


"Aku nggak ganggu setelah ini. Silakan yakinin diri buat siapa sebenarnya hati Kakak. Maaf, Kak, tapi kali ini aku nggak bisa buat nggak kecewa. Aku emang cinta banget sama kakak, tapi aku juga gak bisa kalau harus bersama kakak yang nyatanya hatinya bukan buat aku," tegas Resha. Ia rasa kini ia harus tegas dengan perasaannya sendiri.


Semuanya terasa menyakitkan.


Semuanya terasa mengecewakan.


Sayangnya, itu semua harus ia rasakan karena Genathan.


Ah ... karena Genathan, atau karena dirinya yang terlalu memaksakan? Atau karena harapannya terlalu melambung tingi? Di cintai oleh laki-laki seperti Genathan? Harusnya ia tak pernah bermimpi akan hal itu.


***


Genathan bisanya buat Resha makin kecewa.


Aku balik lagi dengan cerita teenfiction nih, semoga kalian suka ya sama cerita ini. Karena cerita ini juga gak kalah seru dari cerita aku yang lain loh.


So, jangan lupa buat like, koment, vote, dan love untuk menambahkan cerita ini ke perpustakaan ya! Biar kalian gak ketinggalan update tersebaru dari cerita ini.


Cek profil aku juga ya buat baca cerita aku yang lain, dan jangan lupa buat follo akun ini ya.


See you next chapter all.

__ADS_1


Thanks for reading all.


__ADS_2