
Bryan keluar dari kamar Arsha saat melewati ruang makan ia tidak sengaja menoleh disana ia melihat ada berbagai masakan enak sudah tertata rapi di meja makan dan masih utuh. Dan bisa Bryan pastikan jika itu adalah masakan makan malam untuk Arsha dan istrinya menunggunya untuk makan bersama.
Bryan merasa bersalah karena ikut memaksa Arsha untuk pergi ke club.
Bryan kembali menuju kamar Arsha saat di depan pintu Bryan melihat Grizz tengah mengelap dengan telaten badan Arsha disitu Bryan merasa jika Grizz benar-benar menyayangi Arsha dengan tulus. Bryan perlahan masuk "Grizz aku benar-benar minta maaf telah mengajak Arsha pergi ke club"
"Tidak apa-apa. Tapi bisakah tuan jangan mengajaknya lagi pergi ke club. Ginjal miliknya tengah bermasalah akibat minuman beralkohol jika di teruskan kemungkinan dia akan hidup dengan satu ginjal, beruntung ia melakukan operasi ginjal jika tidak mungkin dua-duanya ginjal miliknya sudah rusak dan tidak akan hidup lama lagi" jelas Grizz.
"Apa ? Sorry. Aku benar-benar minta maaf aku tidak tau jika Arsha sedang sakit. Yang aku hanya saat penusukan itu Arsha sedang melakukan operasi ginjal tapi aku tidak tau jika ginjal Arsha bermasalah akibat minuman beralkohol" Bryan memang tidak mengetahui tentang keadaan Arsha karena pada saat itu Bryan tengah bermasalah dengan keluarganya dan kabur untuk menenangkan diri.
"Ya. Tolong bantu agar kedepannya ia tidak lagi bergantung dengan minuman itu"
"Tentu saja aku akan mengawasinya mulai saat ini" ucap Bryan
"Terima kasih" ucap Grizz.
"Tidak perlu berterima kasih, dia sahabatku juga sudah ku anggap seperti saudaraku. jadi audah sewajarnya aku ikut menjaganya. kalau begitu aku pamit pulang dulu" ucap Bryan melangkah keluar kamar.
Grizz sudah selesai mengelap tubuh suaminya begitu pula ia sudah menyiapkan obat pereda nyeri kepala dan air sudah di siapkan di atas nakas menatap lekat suaminya seketika lapar yang dideranya hilang. ia keluar kamar masuk ke kamarnya untuk beristirahat.
"Hahhh padahal aku ingin membicarakan masalah kuliahku tapi malah dia datang dengan keadaan mabuk, sudahlah lebih baik aku tidur" gumam Grizz sembari memejamkan matanya
pukul 3 pagi Arsha menggeliat kesadarannya mulai pulih "mmmhh.. Sssshhh kepalaku" gumam Arsha ia meneliti seluruh ruangan itu sesaat ia sadar jika dirinya sudah berada di kamarnya "Siapa yang membawaku pulang Sshh" batin Arsha ia menoleh kesamping diminumnya obat yang sudah di siapkan, air di gelas sudah tandas di minumnya namun masih merasa haus Arsha bangun berniat pergi ke dapur untuk mengambil air, sampainya di dapur Arsha melihat banyak macam makanan tertata rapi di meja makan masih utuh belum tersentuh seketika ia ingat
Deg !!
"S*alll, kenapa aku bisa lupa. Dia pasti menungguku untuk makan malam semalam. Apa dia sudah makan ?, tapi kenapa makanannya masih utuh ?" Batin Arsha "Gara-gara klien itu aku jadi melupakan ini, Apa dia akan marah ? apa dia bersedih ? Ahhh sudahlah ! kenapa aku jadi memikirkannya berlebihan seperti ini" gumam Arsha sambil menyugar rambutnya kebelakang. Arsha kembali ke kamarnya saat melewati kamar Grizz langkah Arsha terhenti tiba-tiba rasa penasaran muncul Arsha mendekat kearah pintu dan membukanya ternyata pintu kamar Grizz tidak terkunci. Arsha masuk perlahan di lihatnya Grizz yang tengah tidur meringkuk dengan seluruh tubuhnya di selimuti hanya kepalanya saja yang terlihat. Senyum tipis tersungging di bibir Arsha, ia segera keluar kamar Grizz dan kembali kemarnya.
Pagi hari Grizz sudah berada di dapur menyiapkan sarapan. Setelah selesai Grizz kembali ke kamar untuk membersihkan diri.
Grizz menuju kamar Arsha berniat memanggil Arsha untuk sarapan, sebelum mengetuk pintu pintu itu sudah terbuka lebih dulu.
"Ehh tuan anda sudah siap. Kalau begitu ayo sarapan sudah siap" Ajak Grizz.
"Hmmm" Arsha mengikuti Grizz menuju ruang makan
Mereka makan dengan tenang tidak ada yang bersuara hanya terdengar suara dentingan swndok dan garpu
"Ehem masalah semalam aku minta maaf" ucap Arsha setelah selesai sarapan
__ADS_1
"Tidak apa-apa tuan" ucap Grizz dengan tersenyum
"Mmm tuan ada yang ingin saya bicarakan" ucap Grizz.
Arsha menatap Grizz "Bicaralah" jawab Arsha dingin
"Mmm.. Apakah saya boleh kuliah ?" ucap Grizz pelan
"Kenapa kamu ingin kuliah ?" tanya Arsha
"Saya bosan dirumah tuan, saya tidak memiliki kegiatan apapun saat anda sudah berangkat ke kantor, jadi saya ingin kuliah tapi jika tidak boleh kuliah tidak apa-apa tapi apakah saya boleh kembali bekerja di kafe mama" ucap Grizz
Arsha diam sejenak sebelum menjawab penuturan Grizz "*Benar juga dia pasti bosan sendirian di apartemen tanpa melakukan apapun. Tidak ada salahnya jika aku mengizinkannya kuliah*" batin Arsha.
"Jika tidak di izinkan tidak apa-apa tuan tidak masalah"ucap Grizz saat melihat Arsha diam saja.
"Ahh terima kasih tuan" Grizz tersenyum manis pada Arsha.
Arsha tertegun melihat Grizz tersenyum
"Ini pakailah" ucap Arsha dan mengeluarkan sebuah kartu di dompetnya menyerahkan pada Grizz.
"Apa ini tuan" tanya Grizz
"Ini untukmu pakailah untuk membeli semua keperluannmu maaf baru memberikannya sekarang" ucap Arsha.
"Tidak perlu tuan saya masih ada tabungan" ucap Grizz menolak mengambil kartunya
__ADS_1
"Ambillah" ucap Arsha dingin
Melihat itu Grizz segera menerimanya "I-iya baiklah terima kasih"
"Bisakah kau ubah panggilanmu itu"ucap Arsha karena merasa risih jika di panggil tuan"
"Jika dirubah,saya harus memanggil anda apa ? saya sudah terbiasa menggil anda dengan sebutan tuan" tanya Grizz
"Terserah kau saja yang penting ganti panggilannya dan jangan berbahasa formal padaku" ucap Arsha.
Grizz berpikir panggilan apa yang cocok untuk suaminya. "Bagaimana jika kak Arsha ya.. Kak Arsha saja"
"Terserah kau saja yang jelas jangan terlalu formal jika berbicara padaku"
"Baiklah kak Arsha" jawab Grizz kemvali menampilkan senyum manisnya
"Yasudah aku ke kantor dulu" ucap Arsha dan Grizz mengantarkannya kedepan
Grizz segera ke kamarnya ia sangat bahagia kerena akhirnya ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah. ia segera mencari informasi tentang unversitas yang akan menjadi tempat ia menimba ilmu di ponselnya.
Dikantor Arsha tengah disibukkan dengan setumpuk kertas-kertas penting yang harus ia selesaikan.
"Bagaimana keadaanmu bro ?" tanya Bryan yang sudah tiba-tiba berada di ruangan Arsha
"Memangnya aku kenapa ?" tanya Arsha balik
"Semalam sorry yaa. Kenapa tidak bilang padaku kalau kau itu punya masalah ginjal? kalau tau tidak mungkin aku memaksamu ke club" ucap Bryan.
__ADS_1
"Untuk apa aku meberitahumu tidak ada untunynya" ucap Arsha santai