
Setetes air mata mengalir di pipi mulus Grizz. Sekuat tenaga Grizz berusaha menahan segala emosi yang ia rasakan namun akhirnya runtuh pertahannya.
Grizz menghapus air matanya kasar dan tersenyum getir kala mengingat suaminya membiarkan wanita lain menyentuhnya.
"Grizz are you okey ?" tanya Aira.
"Ya. I'm fine" jawab Grizz dengan memaksakan senyum.
"Apa ada masalah ? Kamu bisa menceritakannya padaku, tidak baik memendam sesuatu sendiri" ucap Aira.
Grizz hanya tersenyum dan mengangguk.
Setelah beberapa lama berdiam di kafe akhirnya Grizz dan Aira.
Grizz berpapasan dengan Arsha yang tengah menggendong Axel yang sedang tertidur di pelukan Arsha. Keduanya sama-sama berhenti tepat dihadapan masing-masing.
Karin tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, Karin kembali melingkarkan tangannya di lengan Arsha menyandarkan kepalanya di bahu Arsha.
Degg !!
Grizz diam mematung menatap Arsha tanpa berkedip ada segudang kekecewaan dihatinya pada seorang pria yang berdiri di hadapannya. Tidak kata yang keluar dari mulut Grizz dari tatapan matanya sudah mewakilkan kalau dirinya benar-benar terluka dan kecewa padanya.
Sementara Arsha sama diamnya dengan Grizz menatap balik mata yang menyiratkan kekecewaan padanya. Lagi-lagi dirinya membuat istrinya terluka, lagi-lagi dirinya membuat istrinya kecewa padanya. Mata Arsha beralih pada sebuah kantong belanja yang dibawa Grizz tanpa sengaja ia melihat susu ibu hamil didalamnya, Tatapannya seketika menjadi sendu.
"Wanita baik-baik tidak akan menjadi murahan dan merendahkan dirinya untuk menggoda suami orang. Dan suami yang baik akan mengutamakan membahagiakan istrinya dari apapun di luar sana tentu tidak akan tergoda dengan apapun jenis godaan yang wanita muharahan itu lakukan" ucap Grizz tenang sambil tersenyum. Setelah mengatakan itu Grizz menarik Aira untuk menjauh dari mereka.
Arsha merasa tertampar atas perkataan yang diucapkan Grizz semua yang dikatakannya benar. Dengan segera Arsha memberikan Axel pada Karin.
"Arsha kau mau kemana ?, Nanti kalau Axel bangun dan mencarimu bagaimana ?" tanya Karkn saat Arsha akan pergi.
"Aku harus pergi. Kamu urus dia dulu" ucap Arsha kemudian meninggalkan Karin yang berteriak memanggil-manggil namanya.
Arsha akan mencari Grizz dia akan meminta maaf padanya selama ini ia memang salah lebih mengutamakan orang lain daripada calon anaknya sendiri.
Arsha berkeliling mall namun tidak menemukan Grizz, puluhan panggilan ia tujukan pada Grizz namun tidak ada satupun Grizz mengangkatnya.
"Arrrghhh.." Arsha mengacak-ngacak rambutnya frustasi. Bayang-bayang Grizz pergi darinya muncul difikirannya membuat Arsha semakin frustasi.
"Tidak-tidak, Kau tidak boleh meninggalkan ku, maafkan aku" gumam Arsha sambil berlari kecil menuju parkiran.
Sementara Grizz di taxi diam saja sedari tadi.
"Grizz kamu mengenal tuan muda Arsha ?"
Grizz menoleh pada Aira dan tetap diam
"Kamu mengenalnya ?" balik tanya Grizz
"Tentu saja. Siapa yang tidak mengenal pewaris MHS Company" ucap Aira.
Grizz hanya tersenyum.
"Sialan, gara-gara bertemu gadis ingusan itu Arsha jadi meninggalkanku. Dasar perusak suasana" gerutu Karin saat tiba di rumahnya untuk mengantar Axel.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu kusut begitu ?" tanya mama Karin
"Bagaimana tidak kusutArsha meninggalkan ku sendiri di mall hanya demi mengejar istrinya" ucap Karin ketus.
"Istri ? Arsha sudah menikah ?" tanya mama Karin dengan mengerutkan keningnya.
"Iya ma. Dan itu membuatku sepertinya akan sulit untuk menjadi nyonya muda Mahesa"
"Kamu benar, Kita harus menyingkirkannya"
"Tentu saja aku akan menyingkirkannya aku akan membuat rencana agar Arsha benci padanya"
"Bagus, Ini baru anak mama. Jangan kalah dengan istrinya kamu harus bisa mengambil posisinya menjadi istri Arsha"
"Mama tenang saja aku punya Axel untuk membuat Axel kembali padaku secepatnya" ucap Karin.
Grizz tiba di sebuah danau setelah mengantar Aira pulang. Ia duduk termenung menatap lurus kedepan. Ia memikirkan apa yang terjadi pada dirinya selama ini. Di asingkan di keluarga sendiri, tidak mendapat perhatian dan kasih sayang orang tua sedari kecil dan sekarang setelah menikah diapun tidak merasakan kebahagiaan, Suaminya masih terpenjara oleh masalalunya, dan Kini suaminya lebih mementingkan mantan kekasihnya daripada dirinya. Ntah apa kesalahan yang Grizz perbuat hingga sampai saat ini tuhan masih menguji kesabarannya.
"Bengong aja. Ntar kesambet loh mana sendirian lagi"
Grizz tersadar dari lamunannya dan menoleh kesamping "Eh kak Darren"
Darren duduk di samping Grizz.
"Kamu ngapain disini ?" tanya Darren.
"Hanya ingin bersantai saja".
Darren mengangguk-angguk "Kamu tau aku selalu kesini saat perasaanku sedang kacau ini adalah tempat favoritku disini aku merasa damai dan tenang"
"Aku tidak menanyakannya" ucap Grizz.
"Hahaha.. Aku memberitahumu"
"Perasaanmu pasti sedang kacau kan"
Grizz diam tak menjawab
"Kau mau tau agar perasaanmu lebih tenang ?"
__ADS_1
Grizz menoleh pada Darren. Tanpa meminta persetujuan dari Grizz Darren menggandeng tangan Grizz mengajaknya ketepi danau
Darren tersenyum menatap Grizz.
"Kakak mau ngapain ?"
Darren tidak menjawab justru ia berteriak dengan kencang
AAAAAAAAAA................
"Kakak ngapain sih teriak teriak gitu ?" tanya Grizz sambil menutup telinganya.
"Coba kamu sekarang yang teriak"ucap Darren
"Tidak mau"
"Coba saja. Tidak ada yang melihatnya disini sepi. Ayyo teriak" paksa Darren.
Ragu-ragu Grizz berteriak.
AAAAAAAAA...........
"Bagaimana rasanya ? hatimu sedikit lega bukan setelah berteriam kan ?"
Grizz mengangguk
"Ini adalah caraku meluapkan emosi. Setelah berteriak aku pasti akan sedikit lebih tenang dan lega" ucap Darren.
"Terima kasih kak" ucap Grizz tulus.
"Terima kasih untuk apa aku tidak memberimu apa-apa"
"Terima kasih saja pokoknya" Grizz tersenyum manis pada Darren.
"Sudah hampir malam aku pulang dulu ya kak" pamit Grizz
"Tunggu, biar aku antar"
"Ehh tidak usah aku naik taxi saja" Tolak Grizz.
"Hahh kau selalu saja menolak. Baiklah aku akan menemanimu menunggu taxi datang" ucap Darren.
Akhirnya Grizz pulang setelah mendapat taxi.
Saat tiba di apartemen Grizz menghela nafas sebelum kemungkinan yang ia pikirkan terjadi. Pasti Arsha lagi-lagi akan membentak dan memarahinya karena pulang telat lagi.
Setelah menekan password Grizz masuk dengan perlahan sambil menutup matanya. Perlahan Grizz membuka matanya dan terperanjat kaget saat Arsha sudah berada didepannya. Grizz kembali menghela nafas dan menutup mata ia sudah siap menarima emosi suaminya.
Lama menunggu namun Grizz tak kunjung mendengar teriakan suaminya. Akhirnya Grizz membuka mata dilihatnya Arsha masih berdiri di tempat yang sama.
Tiba-tiba badan Grizz mundur kebelakang bahkan menabrak pintu akibat Arsha yang memluknya begitu erat.
Grizz diam mengernyit tidak membalas pelukan Arsha. Sementara Arsha memeluknya semakin erat.
"Ada apa dengannya ? kenapa tiba-tiba memelukku seperti ini ?" Batin Grizz.
"Maafkan aku" ucap Arsha.
__ADS_1
"Jangan meminta maaf kalau ujungnya nanti akan mengulanginya lagi" ucap Grizz.