
"Dia memang pantas mendapatkannya, mengatakan anak yang aku kandung anak haram" ucap Grizz menatap Arsha.
"Dia tidak mungkin mengatakan itu, dia bukan gadis seperti itu" ucap Arsha.
"Jadi kau menganggap apa yang aku katakan bohong begitu ?" tanya Grizz.
"Mungkin saja Karin tidak bermaksud seperti itu, kau saja yang berlebihan menanggapi perkataannya" ucap Arsha.
Grizz tersenyum pada Arsha ia kecewa pada Arsha yang tidak mempercayai ucapannya "Yang dia hina itu calon bayi kita, bayi kita! Kenapa kamu terus saja berusaha membelanya. Apa anak ini memang tidak berarti untukmu. Aku tidak mungkin menamparnya jika saja dia bisa menjaga mulutnya dalam berkata" ucap Grizz pelan.
Arsha mengusap wajahnya kasar ia bingung harus bersikap seperti apa.
"Aku tau dia mantan kekasihmu bukan ? wajar saja kamu membelanya bahkan kamu terlihat sangat mengkhawatirkan anaknya. Dia kembali, Kamu rela meninggalkan aku hanya demi anaknya. Perasaan kakak padanya juga kembali tumbuh lagi kan. Aku sadar posisiku disini aku tidak berharap banyak padamu" ucap Grizz tenang dan tersenyum pada Arsha. Sekuat tenanga ia menyembunyikan perasaannya yang teramat sakit saat suami membela orang lain daripada istrinya sendiri.
"Tolong lepaskan tanganku. Ini menyakitkan" ucap Grizz yang sudah tidak kuat lagi menahan cengkraman tangan Arsha pergelangan tangannya seakan remuk .
Seketika Arsha menatap tangannya yang mencengkram kuat tangan Grizz hingga memerah perlahan Arsha melepas tangan Grizz.
Grizz langsung melangkah meninggalkan Arsha.
"Mau kemana ? kita periksa dulu" Arsha menahan Grizz untuk pergi.
"Satu jam lagi aku ada kelas aku harus ke kampus lagian kemarin aku audah memeriksanya. Kakak disini saja temani anak kak Karin" ucap Grizz berlari meninggalkan Arsha.
"Arrrghhhh... " Arsha mengacak-acak rambutnya frustasi.
Diperjalanan Grizz menatap tangannya yang memerah bahkan sedikit memar matanya memerah tak lama setelahnya air matanya kembali mengalir mengingat kejadian tadi. secara tidak langsung Arsha menunjukkan kalau dirinya memang tidak artinya bagi Arsha.
Grizz segera menghapus air matanya saat tiba di halaman kampusnya.
"GRIZZ" teriak Aira berlari menghampiri saat melihat Grizz tiba.
"Hey jangan berteriak lihat kamu diliatin tuh" ucap Grizz pada Aira.
"Biarkan saja, Kamu kemana kemarin ?" tanya Aira.
"Aku gaenak badan kemarin" ucap Grizz melangkah beriringan bersama Aira menuju kelas.
"Kamu sakit ?"
"Nggak. Cuma sedikit agak pusing aja"
Aira mengangguk mengerti apa yang dikatakan Grizz.
"Grizz kita mau kemana ?" tanya Aira yang diajak Grizz berkeliling mencari sesuatu yang tiba-tiba ia ingin setelah kelas selesai.
"Cari kedondong" ucap Grizz santai.
__ADS_1
"Whatt kedondong ? ini bukan musimnya oh my god kita mau cari mana ?" tanya Aira.
"Kemana saja sampai ketemu" ucap Grizz.
Mereka berkeliling mendatangi setiap penjual buah.
"Kita mau cari kemana lagi Grizz ini udah hampir malam" ucap Aira.
"Ntahlah. Tapi aku sangat menginginkannya" ucap Grizz lesu.
"Kamu seperti orang hamil saja Grizz" ucap Aira pada temannya yang ngebet menginginkan buah itu.
"Ehh bukankah itu kak Darren ?" ucap Aira saat melihat Darren berjalan di sebrang jalan.
Grizz melihat kearah yang Aira lihat.
Darren yang menyadari keberadaan mereka menyebrang jalan menghampiri keduanya.
"Kak Darren" sapa Aira
Darren menganggukkan kepalanya dan tersenyum "Kalian ngapain disini ?" tanya Darren.
"Grizz lagi cari kedondong kak. Dari tadi keliling belum ada" jawab Aira saat Grizz diam tidak menjawab.
"Kedondong ?"
"Ahh kebetulan sekali ini aku barusan juga beli kedondong di ujung sana" ucap Darren menunjukkan kantong plastik yang dibawanya.
"Wahh kak boleh memintanya sedikit saja untuk Grizz" ucap Aira.
"Airaa" Grizz menatap Aira.
"Tidak apa-apa Grizz mumpung ada ini. Boleh kan kak ?" tanya Aira.
"Tentu saja. ini ambillah" Darren menyerahkan kantong plastik yang dibawanya pada Grizz.
"Tidak usah kak" ucap Grizz enggan menerimanya.
"Tidak apa-apa ambil saja"
"Tapi kakak ?"
"Aku bisa membelinya lagi. Di toko buah sebrang sana lengkap buahnya. Ini ambilah" ucap Darren.
"Ambil aja Grizz daripada kamu ngiler kan biar cepat pulang juga udah mau malem nih" ucap Aira.
Dengan ragu-ragu Grizz mengambilnya "Terima kasih kak" Grizz tersenyum kikuk pada Darren.
__ADS_1
"Sama-sama".
"Sudah dapat kan, kita pulang yuk cape nih" ucap Aira.
"Aaa iya. Kak kita pulang dulu ya terima kasih " ucap Grizz sopan.
"Iya hati-hati"
Grizz mengangguk. Grizz dan Aira masuk ke taxi yang sudah mereka pesan.
Diapartemen Arsha gelisah karena Grizz tidak ada di apartemen. Bolak balik menghubungi ponsel Grizz namun ponselnya tidak aktif.
Ceklek
"Darimana saja kau hah ? Kau tidak melihat ini sudah malam kluyuran saja. Kau lupa kalau punya suami" bentak dan teriak Arsha pada Grizz yang baru saja masuk.
Grizz seketika tersentak kaget baru saja masuk sudah di suguhkan bentakan dari suaminya. Lagi-lagi ia mendapatkan bentakan dari suaminya.
"Jangan seperti anak kecil main kabur-kaburan saat ada masalah. Masalah itu harus diselesaikan bukan malah kabur" ucap Arsha dingin.
"Apa maksud kakak. Kakak kira aku masih marah kejadian tadi ? Ya aku memang marah tap Aku berkeliling mencari kedondong baru dapat aku bukan kabur" ucap Grizz.
"Kenapa ponselmu tidak dapat dihubungi ?" tanya Arsha dingin.
"ponselku mati kehabisan daya" Grizz menunjukkan polselnya pada Arsha.
"Masuk"
"Bisakah jangan membentakku saat aku belum menjelaskan sesuatu yang membuat aku melakukan sesuatu" Tanya Grizz.
"Kau sudah keterlaluan kau sudah bersuami dan pulang malam. Kau memang harus ditegur" ucap Arsha.
"Apa setiap hari aku pulang malam ? apa selama ini aku melupakan kewajibanku sebagai seorang istri ? Kenapa semua yang aku lakukan hampir selalu saja salah dimata kakak. Aku pulang malam karena ada alasan. Ini aku sudah menjelaskannya pada kakak ini yang membuatku pulang malam. Aku mencarinya berkeliling. Ntah kenapa tadi ku sangat ingin makan kedondong" ucap Grizz sambil menunjukkan lagi kedondongnya pada Arsha.
Grizz kemudian meninggalkan Arsha ia menaruh kedondong yang dibawanya diatas meja makan Grizz langsung masuk ke kamar memberaihkan diri setelah itu Grizz langsung tidur tanpa memperdulikan Arsha.
Arsha pergi kedapur untuk minum. Arah matanya melihat plastik yang diletakkan Grizz. Arsha mendekat melihat memang isi dari plastik itu adalah kedondong.
Tengah malam Grizz terbangun karena masih terbayang-bayang akan kedondong yang dibawanya. Akhirnya Grizz bangun untuk kemeja makan.
Grizz sangat menikmatinya satu persatu buah itu mulai habis.
Arsha yang menyadari Grizz tidak ada di sebelahnya segera bangun
"Kemana lagi anak itu" gumam Arsha sambil mengedarkan pandangannya keseluruh kamar namun masih tidak ada Grizz.
Arsha melangkah keluar kamar untuk mencari Grizz. Arsha yang melihat lampu ruang makan hidup ia berjalan mendekat. Arsha dapat melihat Grizz yang tengah sangat menikmati buah yang di bawanya tadi.
__ADS_1