
"Tuan ini brosur dari beberapa universitas terbaik dan juga dekat dengan apartemen anda silahkan anda pilih" ucap Asisten Lee menyerahkan beberapa brosur pada Arsha.
Arsha menerimanya hanya dan melihat satu persatu brosur di tangannya "Baiklah aku akan memberikannya pada Grizz biar dia yang memilihnya sendiri" ucap Arsha.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi" Asisten Lee membungkuk hormat keluar dari ruangan Arsha.
"Wahh stressnya kumat mulai senyum-senyum sendiri" ucap Bryan yang mendapati Arsha senyum sendiri menatap beberapa lembar kertas yang berada di tangannya.
Arsha melempar sebuah pulpen pada Bryan dan menatap tajam pada Bryan.
"Ahhh.." Bryan mengusap keningnya yang terkena lemparan Arsha "Liat apaan sih ? Lahh ngapain liatin brosur universitas".
"Ini bukan untukku, ini untuk Grizz" ucap Arsha.
Bryan hanya Ber oh ria "Ini ada beberapa dokumen yang harus segera ditandatangani olehmu" Bryan menyerahkan dokumen pada Arsha.
"Bagaimana kau dengan orang tuamu ?" tanya Arsha.
"Tidak ada perubahan" jawab Bryan santai.
"Kau tidak ingin pulang ?"
"Tidak"
"Apa kau tidak merindukan mereka ?"
"Tidak"
"Hahhh.. Berusahalah memaafkan mereka" ucap Arsha.
"Ya, tapi tidak sekarang" ucap Bryan kemudian dari ruangan Arsha.
Arsha menatap punggung Bryan yang keluar dari ruangannya. ia cukup iba tentang kehidupan Bryan sahabatnya.
"Sayang" panggil Arsha saat tiba di apartemen.
"Kakak sudah pulang ?" Grizz segera menghampiri Arsha.
"Ya. Ikut aku ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu" Arsha menggandeng Grizz ke kamar.
"Ada apa kak ?" tanya Grizz saat sudah sampai di kamar mereka.
"Duduk sini" Arsha menyuruh Grizz duduk di sampingnya.
"Bukalah"
"Ini apa ?" tanya Grizz saat menerima amplop putih dari Arsha.
"Buka saja" ucap Arsha tersenyum.
"Ini---" Grizz menatap Arsha.
"Iyaa pilih salah satu yang kamu suka, besok biar Lee yang mengurus semuanya" ucap Arsha.
"Kakak.., Kakak mengizinkanku kuliah ?" ucap Grizz.
Arsha mengangguk dengan segera Grizz memeluk Arsha erat "Terima kasih"
"Sama-sama" Arsha mengelus punggung Grizz menenangkan wanitanya yang tengah terisak.
"Sudah jangan menangis, Jadi mana pilihanmu" tanya Arsha.
"Aku mau ini" jawab Grizz mantap.
"Baiklah besok biar Lee yang mengurus semuanya" ucap Arsha.
Grizz mengangguk "Terima kasih kak".
"Tapi ini tidak gratis sayang" ucap Arsha yang menatap Grizz intens menyelipkan beberapa anak rambut Grizz.
"Baiklah aku akan kembali kerja part time di kafe mama untuk membayar kuliahku bagaimana ?" tanya Grizz.
"Heyy aku tidak membutuhkan uang"
__ADS_1
"Lalu ??"
"Aku mau kau membayarnya dengan ini" Arsha segera me**l**mat bibir Grizz dengan rakus.
"Hahh.. Hah.. Hah.." Grizz mengambil nafas sebanyak mungkin setelah c**man terlepas.
"Aku merindukanmu.. Apakah boleh ?" Arsha menyatukan keningnya dengan kening Grizz.
Menganggukkan kepalanya. Akhirnya sore itu Grizz dan Arsha kembali menyatu dalam leburan cinta yang sebenarnya sudah tumbuh dalam hati keduanya.
"Sayang.." Arsha mengelus pipi Grizz untuk membangunkannya "Sayang.. Bangun dulu ayoo"
"Ennggghhh" Grizz menggeliatkan badannya tak lama Grizz membuka matanya.
"Kakak" panggil Grizz dengan suara seraknya.
"Ayo makan dulu ini sudah jam makan malam, setelah itu mandi" ucap Arsha lembut.
"Apaa ?? Sudah malam ?" Grizz kaget saat melihat jam sudah jam 19:30.
"Sudah ayo buka mulutnya aaa" Arsha segera menyuapkan sesendok nasi pada Grizz.
"Kakak yang masak ?" tanya Grizz sambil mengunyah makanannya.
"Tidak, Aku pesan online tadi" jawab Arsha kembali menyuapi Grizz sampai habis.
Setelah itu mereka membersihkan diri masing-masing dan kembali tidur dengan lelap.
"Kakak ayo bangun ini sudah siang" Grizz membangunkan Arsha namun Arsha masih nyenyak dalam tidurnya.
"Kakak ini sudah siang memangnya kakak harus kekantor ayo cepat bangun" Grizz mengguncang badan Arsha agar segera bangun.
"Ehh memangnya kenapa tidak ke kantor, kakak sakit ?" Grizz menyentuh dahi Arsha mengecek suhu badan suaminya namun suhu badannya normal.
"Aku tidak sakit. Hari ini kita jalan-jalan ke mall untuk membeli perlengkapanmu kuliah 5 menit lagi aku bangun dan tidak ada penolakan" jawab Arsha.
"Ehh.."Grizz menatap bingung pada suaminya.
"Kenapa perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak begini" gumam Grizz yang sedang duduk di depan meja rias
Ntah tiba-tiba Grizz merasakan hatinya resah tidak tenang seperti akan terjadi sesuatu.
"Sayang kenapa masih belum siap-siap, cepat ganti baju" ucap Arsha yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ehhh, Kakak hari ini tidak usah keluar ke mall ya dirumah saja bagaimana" ucap Grizz.
Arsha mengernyitkan dahinya "Memangnya kenpa ?"
__ADS_1
"Ntahlah perasaanku tidak enak saja"
"Hahaha sayang sudah tidak perlu memikirkan apapun" cepat sana ganti baju.
Grizz tetap menuruti suaminya ia segera berganti baju setelah siap mereka keluar dari apartemen dengan Arsha yang merangkul pinggang Grizz posesif. Tiba di basmen apartemen Grizz mengedarkan pandangannya ia merasa seperti ada yang mengawasinya.
"Sayang ayo cepat masuk" ucap Arsha.
"I-iya kak" Grizz segera masuk kedalam mobil, Arsha segera melajukan kuda besinya menuju mall.
Disudut basmen tampak wanita yang memang sedari tadi memperhatikan keduanya "Akhirnya aku ada kesempatan untuk menghabisi kalian berdua" ucap wanita itu yang memakai hoodie dengan masker dan kacamata serba hitam. ya wanita itu memang sudah mengawasi Arsha sejak bnerapa hari yang lalu. Dan hari ini Arsha keluar berdua dengan Grizz tanpa di damping Asistennya atau sahabatnya Bryan.
Arsha dan Grizz sudah tiba di mall mereka berdua segera berkeliling mall untuk berbelanja semua keperluan Grizz yang akan kuliah.
"Kak sudah, Ini sudah lebih dari cukup" ucap Grizz.
"Kau yakin ini semua sudah cukup?" tanya Arsha.
Grizz menangguk mantap "Kita pulang yukk, Cape aku kak" ucap Grizz manja pada Arsha.
Arsha tersenyum "Baiklah, Ayo kita pulang" ucap Arsha "Kita mampir ke kafe mama ya" ucap Arsha.
Grizz hanya menganggukan kepalanya dengan bergelayut manja pada Grizz. Arsha sangat menyukai Grizz yang tiba-tiba bersikap manja padanya.
Tiba di basmen Arsha segera menaruh semua barang belanjaannya di bagasi mobil dan Grizz menunggu suaminya dengan menyenderkan badannya di mobil.
Tanpa mereka ketahui wanita yang mengikutinya sedari tadi tengah membidikkan senjatanya pada Arsha di mobilnya. "Bidikanku pasti tidak akan meleset" ucap wanita itu dengan menyeringai.
"Jika aku tidak bisa memilikimu maka orang lain juga harus tidak bisa memilikimu"
Grizz yang secara tidak sengaja melihat seseorang tengah seperti membidik seseorang memicingkan matanya ia melihat arah bidikan orang itu dan Grizz betapa kagetnya saat menyadari yang diincarnya adalah suaminya sendiri "Kakakk.." Dengan segera Grizz berlari kearah Arsha dan..
DOORR...
"Eggghhh"
Seketika mata Arsha membulat saat percikan d\*rah mengenai wajahnya.
__ADS_1