GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Hati Yang Tersakiti


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Ranti dan Zahra tampak menutup mulutnya masing-masing dan saling pandang satu sama lain. Aqila pergi dari ruangan guru itu menuju ruangan kesenian, Aqila memang selalu kesana kalau dia sedang ada masalah.


Ranti dan Zahra tadi sama-sama sudah selesai mengajar, awalnya mereka berdua hendak masuk ke dalam ruang guru itu tapi karena mereka mendengar Aqila dan Fathir sedang berbicara, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk menguping pembicaraan Aqila dan Fathir.


"Apa barusan you dengar apa yang dikatakan Pak Fathir?" tanya Ranti.


"Iya, aku tidak menyangkan kalau Tuan Raffa ternyata seperti itu, kasihan Aqila aku harus menyusulnya," seru Zahra.


"Aku ikut," sahut Ranti.


Akhirnya Ranti dan Zahra menyusul Aqila ke ruangan kesenian, seperti biasa Aqila selalu memainkan gitar yang sudah tersedia disana.


Zahra menepuk pundak Aqila, seketika Zahra dan Ranti terkejut melihat Aqila berlinang airmata.


"Astaga Aqila, sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Zahra.


Ranti menghapus airmata Aqila dengan tangannya.


"You kenapa? cerita sama kita, dulu setiap punya masalah you selalu cerita sama kita," seru Ranti.


"Iya, kita itu sahabatan sudah lama Qil, aku tahu kamu sedang menyimpan masalah saat ini, cerita sama kita kali aja dengan you cerita, beban you bisa sedikit berkurang," sambung Zahra.


"Aku bingung harus mulai cerita darimana," sahut Aqila dengan menundukkan kepalanya.


"Ceritakan saja semua masalah you, kita siap mendengarkannya," seru Ranti.


Aqila menghapus airmatanya dan menghela nafasnya sebelum bercerita.


"Satu bulan yang lalu, kalian ingat waktu aku ngajak kalian untuk jalan-jalan ke Mall tapi kalian tidak bisa dengan alasan kalian ada kepentingan dan akhirnya aku pergi sendiri ke Mall. Aku ingin membeli sepatu karena sepatu aku sudah pada lapuk," seru Aqila mulai bercerita.


Ranti dan Zahra menjadi pendengar setia bagi Aqila.


"Disaat aku mau pulang, aku tidak sengaja menabrak Nenek-nenek dan ternyata Nenek itu adalah Eyang Puteri pemilik Sekolahan ini. Sebagai permintaan maafku, aku menawarkan bantuan kepadanya dan ternyata Eyang memintaku untuk mengantarnya pulang. Ya aku mau tidak mau harus mengantarkan Eyang pulang dan dari sanalah aku mulai mengenal Mas Raffa."


"Semenjak kejadian itu, Eyang selalu menghubungiku hingga suatu hari Eyang memintaku untuk menikah dengan Mas Raffa. Aku dan Mas Raffa sama-sama menolak permintaan Eyang karena memang kami tidak saling mencintai, hingga akhirnya jantung Eyang kambuh dan tidak sadarkan diri, waktu itu Mas Raffa datang ke rumahku dan kebetulan saat itu aku mau pergi nonton sama Fathir."


Aqila menghentikan ucapannya, kalau ingat kejadian itu Aqila selalu merasa bersalah kepada Fathir dan tanpa terasa airmata Aqila pun kembali menetes. Ranti mengusap-usap punggung Aqila menyalurkan kekuatan untuk Aqila.


"Aku sampai membatalkan acara nonton aku bersama Fathir dan memilih pergi bersama Mas Raffa ke rumah sakit, disanalah Mas Raffa memintaku untuk menyetujui pernikahan yang tanpa cinta itu demi Eyang dan dengan bodohnya aku juga malah mengiyakan ajakan Mas Raffa. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja tapi ternyata kenyataannya itu merupakan awal keterpurukanku, semenjak menikah Mas Raffa menjadi sangat kasar tidak pernah menganggapku ada, malah dengan terang-terangan Mas Raffa meminta aku mengizinkan dia untuk menjalin hubungan dengan wanita lain."


Luruh sudah airmata Aqila, dia tidak bisa lagi melanjutkan ceritanya. Bahkan Ranti dan Zahrapun sudah ikut meneteskan airmata dan sekarang mereka berdua memeluk Aqila.


"Kita tidak menyangka kalau kejadiannya seperti itu Qil," sahut Ranti.


"Ternyata Mas Raffa benar-benar keterlaluan dan kejam, kenapa kamu ga minta cerai saja Qila darinya?" seru Zahra.


"Kalian tahu kalau aku dan Mas Raffa baru menikah empat hari, aku ga mau sampai melihat Ibu sedih, Ibu terlalu berharap kalau pernikahan aku ini akan bisa membuatku bahagia, makannya aku mencoba bertahan dan pura-pura bahagia di depan Ibu karena aku tidak mau menambah beban pikiran Ibu," ucap Aqila dengan tangisannya.


"Ya Alloh Qila, aku ga nyangka kalau Mas Raffa sekejam itu, dulu aku sangat mengagumi sosok Raffael Abraham tapi setelah mendengar cerita you, aku jadi illfeel sama tuh orang," sahut Zahra.


"Malahan sekarang aku pengen bejek-bejek tuh sama yang namanya Raffael Abraham," sambung Ranti.


"You yang sabar ya Aqila, tapi kalau suatu saat nanti you sudah merasa tidak kuat dengan pernikahan you, lepaskan saja aku yakin Tante Ami pun akan mengerti karena semua Ibu tidak akan mungkin rela melihat anaknya diperlakukan seperti itu," seru Zahra.


"Aku do'akan mudah-mudahan yang namanya Raffael Abraham itu menerima karma atas perlakuannya sama you Qila," sahut Ranti dengan menggebu-gebu.


Sementara itu diluar, Fathir tampak mengepalkan tangannya dari tadi Fathir memang menguping pembicaraan ketiga guru muda itu tapi Fathir tidak menyangka kalau ternyata Aqila begitu menderita menikah dengan Raffa.


***


Sedangkan di Perusahaan Abraham Corp, Raffa tampak frustasi dengan perkataan Eyang Puteri, dia membutuhkan Aqila untuk membujuk Eyang lagi.


"Aqila, kamu sungguh sudah mencuci otak Eyang dengan prilakumu yang berpura-pura polos dan lembut, lihat saja aku akan membongkar prilaku kamu yang sebenarnya," gumam Raffa.


Raffa benar-benar sudah dibutakan oleh dendam masa lalu yang sebenarnya tidak beralasan. Akibat cinta Raffa yang begitu besar terhadap Claudia membuat dirinya kejam dan tidak bisa membedakan mana orang yang tulus dan mana orang yang berpura-pura.


***


Pak Burhan sudah setia menunggu Aqila, disaat Aqila hendak memasuki mobil, Fathir dengan cepat menarik lengan Aqila.

__ADS_1


"Aqila, maafkan perkataanku tadi aku tidak bermaksud membuatmu marah," seru Fathir.


"Tidak apa-apa Fathir aku sudah melupakannya kok," sahut Aqila dengan senyuman ramahnya.


"Tapi mengenai ucapanku kalau aku mencintaimu itu memang benar adanya, aku memang sudah sejak lama menyukai dan mencintaimu Qila," seru Fathir.


Aqila melepaskan tangan Fathir dengan lembut...


"Maaf Fathir, kamu kan sudah tahu kalau aku sudah menikah tidak pantas kamu mencintai wanita yang sudah menjadi istri orang lain, lagipula kamu adalah pria baik kamu pantas mendapatkan wanita yang jauh lebih baik daripada aku, kalau begitu aku pulang dulu aku takut Mas Raffa sudah pulang," ucap Aqila dan perlahan masuk kedalam mobilnya.


Fathir hanya diam membeku dengan ucapan Aqila, Fathir merasa sangat sedih dan terluka tapi bukan karena Fathir ditolak oleh Aqila, melainkan Fathir terluka karena harus melihat wanita yang dia cintai menderita hidup dengan orang yang kejam.


"Aku akan membantumu keluar dari jeratan pria tak punya hati itu Qila," batin Fathir.


Sementara itu Aqila tampak termenung di dalam mobilnya, dia terus saja memikirkan perkataan Fathir barusan. Dulu Aqila memang mengharapkan Fathir mengatakan cintanya tapi kenapa sekarang rasanya sangat berbeda, tak ada rasa bahagia yang dirasakan oleh Aqila.


"Kenapa aku sama sekali tidak merasakan bahagia, apa jangan-jangan benar kalau aku sudah mulai mencintai Mas Raffa," batin Aqila.


Sesampainya di rumah Eyang, ternyata Raffa sudah berdiri di depan teras sembari bertolak pinggang menunggu kedatangan Aqila.


"Mas Raffa..." seru Aqila.


Dengan emosi yang memuncak, Raffa menyeret tangan Aqila dengan kasar dan membawanya ke dalam kamar.


"Mas lepaskan, sakit..." rengek Aqila.


Raffa sama sekali tidak mendengarkan rengekan Aqila, bahkan semua pelayan dan Bi Ria pun sampai ngeri melihat amarah Raffa yang seperti itu.


Sesampainya di dalam kamar, Raffa melempar tubuh Aqila sehingga Aqila tersungkur di lantai, Aqila tampak meringis kesakitan.


"Ada apa Mas? apa salah aku?" tanya Aqila dengan meringis menahan sakit.


"Berhenti bersikap sok polos di hadapanku, rayuan apa yang sudah kamu lakukan kepada Eyang, sampai-sampai Eyang sangat menyayangimu?" bentak Raffa.


"Ma--maksud Mas apa?" tanya Aqila dengan deraian airmata.


Raffa menghampiri Aqila dan mencengkram wajah Aqila dengan kencang membuat Aqila semakin meneteskan airmatanya.


"Eyang terlihat membenci Clarissa, pokoknya aku tidak mau tahu kamu harus membujuk Eyang supaya bisa menerima Clarissa karena sebentar lagi aku akan menikahi Clarissa," bentak Raffa.


"Kenapa Mas sangat membenciku, apa salahku Mas? dulu aku menerima pernikahan ini karena rayuanmu juga yang meyakinkan aku supaya aku mau menikah denganmu tapi kenapa sekarang Mas seperti ini?" teriak Aqila dengan tangisannya.


"Mas, kalau memang itu mau kamu ceraikan aku sekarang juga," tantang Aqila.


Raffa mencengkram kedua lengan Aqila dengan tatapan yang sangat mengerikan, Aqila sangat kesakitan dengan perlakuan Raffa.


"Sakit Mas, lepaskan..." seru Aqila.


"Aku belum bisa menceraikanmu sebelum melihat kamu menderita seperti yang sudah aku alami selama ini."


"Maksud kamu apa Mas?"


"Kamu adalah anak dari seorang pembunuh," bentak Raffa.


Aqila melotot mendengar ucapan Raffa...


"Kamu ingat, dulu Ayah kamu kecelakaan karena menabrak sebuah taxi? dan taxi itu yang sudah membawa Claudia, kalau Ayah kamu bisa menggunakan motornya dengan benar Claudia tidak akan meninggal dan saat ini aku sudah hidup bahagia dengan Claudia," bentak Raffa.


Dada Aqila terasa dihujam ratusan belati, sangat sakit dan perih saat Raffa menyebut Ayahnya tidak becus menggunakan motornya sehingga mengakibatkan kecelakan fatal yang harus merenggut nyawa Ayahnya juga.


Plaaaaakkkkk.....


Dengan kerasnya Aqila menampar Raffa dan itu membuat Raffa bertambah emosi.


"Jaga ucapan kamu Mas, memangnya kamu pikir cuma kamu yang merasa kehilangan dan menderita, aku juga sama harus kehilangan orang yang paling aku sayangi, dan jangan pernah kamu menyebut Ayah aku sebagai pembunuh karena Ayahku juga harus pergi meninggalkan aku dan Ibu akibat kejadian itu, aku ga nyangka pikiran kamu sepicik itu Mas," bentak Aqila.


Aqila mengambil tasnya dan hendak meninggalkan kamar Raffa, tapi dengan sekali hentakkan Raffa menarik tangan Aqila sehingga membuat Aqila terhempas keatas ranjang.


"Jangan pikir kamu bisa keluar dari rumah ini semudah itu, karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi," bentak Raffa.


Dengan cepat Raffa keluar dari kamarnya dan mengunci Aqila dari luar, Aqila menggedor-gedor pintu itu.


"Mas, buka pintunya aku mau pulang ke rumah Ibu," teriak Aqila dengan terus menggedor-gedor pintu kamar itu.


Raffa tidak mendengar teriakan Aqila, Raffa berlalu meninggalkan Aqila.


"Bi Ria..." teriak Raffa.


"Iya, ada apa Tuan?"

__ADS_1


"Jangan ada yang berani membukakan pintu kamarku kalau sampai aku tahu diantara kalian ada yang membukanya, aku tidak akan segan-segan untuk memecat kalian" bentak Raffa.


"Ba--baik Tuan."


Raffa langsung pergi meninggalkan rumah itu dan mengendarai mobil sportnya, entah mau kemana dia.


"Ya Alloh, kasihan sekali Nyonya Aqila aku pikir Tuan Raffa menikahi Nyonya Aqila karena Tuan Raffa sudah mulai bisa melupakan masa lalunya tapi kenyataannya Tuan Raffa sama sekali tidak mencintai Nyonya Aqila," gumam Bi Ria dengan tatapan sedihnya.


Sementara itu di dalan kamar Raffa, Aqila tampak duduk di balik pintu dengan tangisannya yang tersedu-sedu.


"Ibu, Aqila tidak kuat Bu," gumam Aqila.


Raffa melajukan mobilnya kesebuah rumah yang tidak lain merupakan rumah Clarissa.


Tok..tok..tok..


"Mas Raffa," seru Clarissa dan langsung menghambur ke pelukkan Raffa.


"Maaf aku sudah mengganggumu."


"Tidak, justru aku sangat senang Mas datang ke rumah, ayo Mas masuk," ucap Clarissa sembari merangkul lengan Raffa.


"Mama Mirna kemana? kok sepi?" tanya Raffa.


"Oh, Mama lagi pergi berkunjung ke rumah Bibi yang ada di kampung jadi aku sudah dua hari ini tinggal sendirian di rumah, Mas duduk dulu ya sebentar aku ambilin dulu minum," seru Clarissa yang langsung pergi ke dapur.


Raffa duduk sembari mengotak-ngatik ponselnya. Tidak lama kemudian, Clarissa datang dengan membawa segelas teh manis hangat untuk Raffa.


"Ini Mas, aku buatkan teh manis hangat buat Mas supaya Mas merasa segar soalnya aku lihat Mas sepertinya sedang ada masalah," seru Clarissa.


"Terima kasih Clarissa, aku memang sedang ada masalah di rumah," sahut Raffa yang mulai menyesap teh manis hangat buatan Clarissa.


"Bagus, habiskan Mas minumannya dan sebentar lagi aku akan mendapatkanmu seutuhnya," batin Clarissa dengan senyuman liciknya.


Raffa memghabiskan teh buatan Clarissa yang sebelumnya sudah dimasukan sesuatu oleh Clarissa.


"Bagaimana Mas, apa sekarang Mas sudah merasa segar?" tanya Clarissa dengan senyuman liciknya.


Raffa melihat kearah Clarissa, tiba-tiba Raffa melihat Clarissa seperti Claudia wanita yang sangat Raffa cintai.


"Claudia..." seru Raffa dengan membelai pipi Clarissa.


"Iya Mas, ini aku Claudia," sahut Clarissa.


Tanpa menunggu lama lagi, Raffa langsung mencium Clarissa tentu saja dengan senang hati Clarissa membalas ciuman itu, lama-lama ciuman mereka berubah menjadi panas.


Saat ini Raffa sedang berada dalam pengaruh obat yang Clarissa masukkan ke dalam minuman Raffa. Raffa menjadi mabuk dan berhalusinasi seakan Clarissa itu adalah Claudia.


***


Sedangkan Aqila karena lelah terus menangis, akhirnya dia tertidur di lantai. Aqila terbangun karena rasa dingin yang seakan menusuk tubuhnya.


"Astaga, aku ketiduran di lantai," gumam Aqila.


Aqila memperhatkan sekeliling ternyata sudah gelap, Aqila menyalakan lampu dilihatnya jam sudah menunjukan pukul 21.00 malam. Aqila melihat kearah ranjang, ternyata Raffa belum pulang.


Aqila memutuskan untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Sebenarnya saat ini Aqila merasa sangat lapar, tapi pintunya masih terkunci. Aqila terpaksa melanjutkan tidurnya dengan menahan rasa lapar.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2