
π
π
π
π
π
Pagi-pagi sekali Aqila sudah bangun karena suara cacing-cacing di perutnya.
"Ya ampun, kamu lapar ya Nak," gumam Aqila dengan mengusap perutnya.
Dilihatnya Raffa yang masih terlelap di sampingnya. Di ciumnya pipi Raffa tapi tidak sedikit pun Raffa merasa terganggu mungkin karena lelah dengan pekerjaan.
"Suamiku sangat menggemaskan kalau sedang tidur seperti ini," gumam Aqila.
Perlahan Aqila turun dari tempat tidurnya karena takut membangunkan Raffa. Aqila memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, setelah selesai Aqila turun ke bawah untuk membuat makanan, perutnya sudah sangat lapar.
"Hmm..enaknya buat apa ya?" gumam Aqila dengan menyimpan telunjuknya di dagu.
Aqila mulai membuka kulkas dan melihat bahan-bahan yang ada disana.
"Ah, aku buat pancake saja deh sepertinya enak."
Aqila mulai mengikat rambutnya tinggi-tinggi supaya tidak menggangu acara masak-memasaknya. Setelah itu, Aqila mulai menimbang bahan-bahan yang akan di olah.
"Nyonya, kenapa pagi-pagi sudah ada di dapur?"
"Eh Bi Ria, iya Bi aku lapar ingin makan sesuatu."
"Kenapa Nyonya tidak bangunkan saya? ya sudah, Nyonya mau makan apa biar Bibi yang buatkan."
"Tidak usah Bi, saya hanya akan membuat pancake saja biar saya saja."
"Tapi Nyonya kalau Tuan sampai tahu, dia bisa marah."
"Tidak akan, Bibi masak buat sarapan saja jangan pikirkan saya, saya ingin membuatnya sendiri karena sudah lama saya tidak masak."
"Baiklah Nyonya, tapi kalau Nyonya butuh bantuan, Nyonya bisa panggil saya atau pelayan yang lain."
"Iya, tenang saja."
Sementara itu di kamar, Raffa meraba-raba kesamping tapi orang yang dia cari tidak ada.
"Sayang, kamu dimana?" seru Raffa dengan suara seraknya khas bangun tidur.
Tidak ada jawaban membuat Raffa bangun dan mendudukan tubuhnya.
"Kemana dia?"
Akhirnya dengan langkah gontai, Raffa pun masuk ke kamar mandi.
"Akhirnya selesai juga."
Aqila pun membawa pancake hasil buatannya ke kamar karena dia ingin memakannya dengan Raffa. Sesampainya di kamar Aqila melihat tempat tidurnya sudah kosong dan terdengar gemericik air dari dalam kamar mandi, Aqila langsung menyiapkan pakaian untuk Raffa.
Tapi disaat Aqila sedang memilah pakaian yang cocok, tiba-tiba sebuah tangan melingkar di perut Aqila.
"Astaga Mas, ngagetin saja."
"Kamu darimana, pagi-pagi sudah menghilang?" tanya Raffa dengan terus mengendus-ngendus leher Aqila.
"Ih bisa diam tidak? geli mana basah lagi, ini pakaiannya cepat pakai."
"Kamu dari mana, Sayang? tadi aku nyariin kamu."
"Tadi aku habis buat pancake, habisnya aku lapar banget."
Aqila membantu Raffa memakaikan pakaiannya, semenjak menikah dengan Aqila, Raffa memang sudah terbiasa semua pakaian disiapkan oleh Aqila dan dibantu memakaikannya juga.
"Ya ampun, suamiku tampan sekali aku jadi takut ada wanita yang mengambilnya," ucap Aqila sembari berjinjit dan mencium sekilas bibir Raffa.
"Dasar, sudah mulai nakal ya sekarang."
Raffa menundukkan kepalanya dan mencium perut Aqila.
"Selamat pagi boy, sehat-sehat ya di dalam sana jangan nakal nanti malam Daddy jengukkin kamu, ok."
"Tidak Daddy, aku tidak mau di jengukkin Daddy," sahut Aqila dengan suara kaya anak kecil.
Raffa menegakkan kembali tubuhnya..
"Kok gitu?"
"Apa? sudah ah pagi-pagi sudah membahas hal kaya gitu, ayo kita sarapan dulu aku sudah membuatkan pancake."
Aqila menarik tangan Raffa dan duduk di sofa yang ada di kamar mereka. Aqila menyuapi makanan ke mulut Raffa yang saat ini sedang sibuk membuka email yang masuk.
"Oh iya Sayang, nanti jam makan siang kamu ke kantor ya bawain makan siang aku ingin makan masakan kamu."
"Tumben."
"Aku sangat ingin makan masakan kamu, Sayang," rengek Raffa.
"Baiklah, nanti aku kesana."
"Terima kasih, love you."
Raffa mencium sekilas bibir Aqila membuat Aqila terkekeh. Setelah sarapan, Aqila pun mengantar Raffa sampai ke depan rumah.
***
Angel yang saat ini sedang merias wajahnya di depan cermin, terlihat senyum-senyum saat mengingat pertemuannya tadi malam. Angel tidak menyangka kalau laki-laki yang akan di jodohkan dengannya adalah laki-laki yang saat ini mengisi hatinya.
Dengan semangat Angel menuruni tangga dan bergabung bersama yang lainnya untuk sarapan.
"Kenapa kamu senyum-senyum, kaya orang gila," ledek Linda.
"Sayang, kamu jangan begitu adik kamu itu sedang bahagia karena dia akan segera menikah," sahut Mama Ratna dengan pura-pura bahagia.
"Apa? menikah? syukurlah, siapa yang mau menikah dengan Angel?" tanya Linda tampak meremehkan.
"Dengan anak dari sahabatnya Papa kamu."
"Syukurlah, kalau si Angel sudah menikah otomatis dia akan pergi dari rumah ini dan kesempatan aku untuk mendapatkan rumah ini semakin terbuka lebar," batin Linda dengan senyuman liciknya.
__ADS_1
Angel hanya diam tidak mau menanggapi ucapan Mama dan Kakak tirinya itu karena Angel tahu mereka hanya pura-pura dan sebenarnya ingin cepat-cepat Angel pergi dari rumah ini.
"Angel, Papa siang ini akan berangkat ke Malang kamu baik-baik ya jangan terlalu capek kalau kamu butuh apa-apa segera hubungi Papa."
"Iya Pa."
Hati Angel yang awalnya berbunga-bunga sekarang kembali muram karena mendengar Papanya akan pergi ke luar kota dan itu artinya Angel akan kembali tersiksa.
"Dan kamu Linda, selama Papa pergi kamu urus perusahaan yang benar kalau kamu tidak mengerti tanya kepada Pak Bugi yang merupakan asisten Papa."
"Siap Pa, oh iya Pa nanti jam makan siang Linda di suruh datang ke Perusahaan ABRAHAM, Pak Raffa sendiri yang menyuruh Linda untuk menemuinya."
"Ok, tapi ingat pesan Papa jangan sampai kamu macam-macam dengan Pak Raffa, Papa tidak mau kerjasama antara Papa dan Pak Raffa hancur karena keteledoranmu," seru Papa Willy.
"Tenang saja Pa, justru perusahaan Papa akan semakin maju berkat Linda," sahut Linda.
"Apa? Kak Linda akan menemui Pak Raffa, jangan sampai Kak Linda menggoda Pak Raffa kasihan Mbak Aqila," batin Angel.
Pak Willy pun berangkat ke kantor bersama Linda.
"Tunggu Pa."
"Ada apa Angel?"
"Pa, boleh Angel ikut mobil Papa soalnya mobil Angel mogok dan saat ini sedang di bengkel."
"Ya tentu saja Sayang, ayo naik."
Angel pun duduk di samping Papanya sementara Linda duduk di depan bersama Sopir Pak Willy.
"Angel, bagaimana soal perjodohan itu apa kamu mau menerimanya atau tidak? Papa tidak akan memaksakan kamu, kalau kamu tidak mau ya sudah tidak apa-apa."
"Tidak Pa, Angel mau kok," sahut Angel dengan semangatnya.
"Benarkah? syukurlah nanti Papa akan menghubungi Pak Suryo dan Nyonya Elena."
"Iya Pa, terima kasih ya Pa."
Sedangkan Linda tampak muak melihat keakraban antara Papa dan anak itu. Setelah Angel berpamitan kepada Papanya, Angel pun turun dari mobil dan hendak masuk ke dalam ruangan guru tapi Angel terkejut saat sebuah tangan menariknya dan membawanya ke Aula sekolah.
"Ya ampun Pak Fathir, ada apa ini kok aku di tarik-tarik?" tanya Angel.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Fathir menyodorkan dompet milik Angel.
"Astaga, ini kan dompet aku kenapa ada padamu?"
"Kemarin tertinggal di mobilku," sahut Fathir dingin.
"Oh terima kasih ya, aku pikir dompet aku hilang. Oh iya, jadi kamu menarik aku sampai sini cuma mau mengembalikan dompet ini? padahal kan di ruangan guru juga bisa."
"Menurutmu bagaimana dengan perjodohan kita?"
"Tidak apa-apa, aku senang kok dan aku menerimanya," sahut Angel dengan polosnya.
"Apa? kenapa kamu tidak menolaknya?"
"Apa alasannya aku harus menolak perjodohan itu? dari awal aku memang sudah menyukaimu, jadi tidak ada salahnya kalau aku menerima perjodohan itu."
"Tapi aku tidak menyukaimu, aku masih ingin sendiri tidak mau terikat hubungan apapun dengan wanita manapun, jadi sebelum perasaaan kamu lebih jauh lagi, aku sarankan kamu untuk mundur karena itu akan sia-sia, kamu hanya akan sakit dan terluka karena aku tidak akan pernah bisa membalas cintamu," jelas Fathir.
Fathir hendak melangkahkan kakinya...
"Itu bukan urusanmu," sahut Fathir tanpa menoleh kepada Angel.
Fathir melanjutkan langkahnya...
"Satu bulan, beri aku waktu satu bulan," teriak Angel dan lagi-lagi menghentikan langkah Fathir.
"Untuk apa?" tanya Fathir tanpa menoleh lagi ke belakang.
"Biarkan aku mencoba dekat denganmu, selama satu bulan aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta kepadaku, kalau selama satu bulan aku tidak berhasil membuatmu jatuh cinta, aku akan mundur dengan sendirinya," seru Angel dengan mantap.
Fathir tampak diam mematung mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Angel, hingga akhirnya Fathir memutuskan untuk pergi meninggalkan Angel. Sedangkan Angel tampak lemas setelah berkata seperti itu, dia tidak tahu dapat keberanian darimana sampai bisa berkata setegas itu.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Aqila baru saja selesai masak untuk Raffa dengan cepat Aqila mandi dan sedikit dandan.
"Pak Burhan, tolong antarkan saya ke kantornya Mas Raffa."
"Siap Nyonya."
Sementara itu di ruangan Raffa..
"Bos, ini pesanan yang tadi Bos minta."
"Ok, terima kasih Rey. Oh iya, nanti kalau ada Linda ke sini langsung suruh masuk saja."
"Baik Bos."
Tidak lama kemudian, Aqila pun sampai di kantor Raffa.
"Mas."
"Hallo Sayang."
Raffa berdiri dan merentangkan kedua tangannya, tentu saja langsung di sambut dengan senang hati oleh Aqila. Pelukkan paling nyaman yang pernah Aqila rasakan adalah berada dalam dekapan Raffa suaminya.
"Kamu lama sekali sih Sayang."
"Lama apanya? memangnya kamu sudah lapar Mas?"
"Lapar ingin memakan kamu."
"Dasar mesum."
"Oh iya Sayang, aku punya sesuatu untuk kamu dan kamu harus memakainya sekarang juga."
"Apa?"
"Nih, ganti pakaian kamu dengan ini."
"Kok di ganti sih Mas, memangnya mau kemana?" tanya Aqila bingung.
"Sudah sana ganti dulu, nanti juga kamu bakalan tahu."
Aqila pun menuruti keinginan suaminya itu, Aqila terlalu malas apabila harus berdebat masalah sepele. Tidak lama kemudian Aqila pun keluar dari kamar mandi dengan membetulkan pakaian yang dia pakai.
__ADS_1
"Mas, kamu tidak salah menyuruhku memakai baju seperti ini?" tanya Aqila yang tampak risih.
Raffa seketika menoleh, matanya melotot hampir saja keluar bahkan Raffa beberapa kali sudah menelan salivanya.
"Witwiw..."
Raffa bersiul menggoda dan perlahan mendekati Aqila yang masih sibuk membenarkan pakaiannya. Dirangkulnya pinggang Aqila tanpa aba-aba Raffa langsung mencium bibir Aqila dengan rakusnya membuat Aqila kewalahan dan mendorong tubuh Raffa.
"Dasar gila, bagaimana kalau aku mati gara-gara kehabisan nafas," gerutu Aqila.
Raffa hanya terkekeh dan menarik Aqila dan membiarkan Aqila duduk di pangkuannya.
"Kamu sexi sekali Sayang, membuat aku tidak tahan ingin cepat-cepat memakanmu," ucap Raffa yang terus mengendus-ngendus leher Aqila.
"Mas, katanya aku tidak boleh memakai pakaian sexi seperti ini, tapi kok sekarang kamu malah menyuruh aku memakainya."
"Lah ya memang tidak boleh, sekarang kan hanya di depan aku kalau di depan laki-laki lain jelas tidak boleh."
Tiba-tiba Rey masuk tanpa mengetuk pintu dulu.
"Maaf Bos, di---"
Ucapan Rey terhenti, lagi-lagi Rey memergoki Bosnya sedang bermesraan. Rey langsung membalikkan tubuhnya.
"Astaga si Bos, kenapa selalu membuat jiwa lajangku meronta-ronta, aku juga kan pengen Bos," gerutu Rey sembari membalikan tubuhnya.
Aqila ingin beranjak dari pangkuan Raffa tapi Raffa menahannya.
"Ya kamu tinggal lakukan saja bersama Ranti, gampang kan," ucap Raffa dengan santainya sehingga membuat Aqila melotot.
"Mas Rey, awas saja kalau kamu sampai melakukan hal macam-macam kepada Ranti, aku potong junior kamu," ancam Aqila.
Seketika Rey langsung memegang juniornya, baru dengar saja rasanya sudah ngilu. Sedangkan Raffa tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Rey.
"Tenang saja Nyonya, saya tidak akan macam-macam sebelum menghalalkan Ranti."
"Oh iya, ada apa kamu kesini Rey?"
"Itu Bos, di depan ada Linda."
"Suruh dia masuk."
"Baik Bos."
"Permainan akan segera di mulai, Sayang cium aku."
"Hah..apaan sih Mas, bukannya diluar ada orang yang mau bertemu dengan Mas, masa kita harus berciuman, malu Mas."
"Oh jadi kamu mau suami kamu direbut sama pelakor."
"Hah..pelakor."
Otak Aqila masih blang dengan ucapan Raffa hingga akhirnya seorang wanita dengan baju yang kekurangan bahan itu berjalan dengan centilnya dan otak Aqila mulai berfungsi, Aqila langsung mengalungkan tangannya di leher Raffa dan mencium bibir Raffa.
"Good Baby, anak pintar," batin Raffa.
"Selamat siang Pak Raff-----"
Mata Linda melotot saat melihat adegan panas di depan matanya secara live. Bahkan saat Raffa menyadari Linda sedang memperhatikannya, tangan Raffa mulai nakal dengan mengusap-ngusap paha mulus nan putih milik Aqila.
"Ehhmmm...." Linda berdehem membuat Aqila melepaskan ciuman panasnya.
"Ah kamu Linda, maaf saya tidak menyadari kedatanganmu saking asyiknya," seru Raffa dengan mengusap bibir Aqila dengan ibu jarinya.
Aqila pun berdiri, begitu pun dengan Raffa...
"Oh iya Linda, kenalkan ini istri saya, wanita yang paling saya cintai dan sayangi di dunia ini tidak ada duanya. Tidak kalah cantik dan sexinya kan di banding kamu, hanya laki-laki bodoh yang berpaling dari wanita sesempurna ini," ucap Raffa dengan mengeratkan tangannya ke pinggang Aqila.
"I--iya Pak, maaf Nyonya saya Linda dari Perusahaan ANGEL GROUP."
Linda mengulurkan tangannya ke arah Aqila, Aqila menatap tangan Linda dengan melipat tangannya di dada.
"Maaf, saya tidak sembarangan berjabat tangan dengan orang asing takutnya orang itu punya penyakit dan menularkannya kepadaku, ih sungguh mengerikan sekali kan Sayang kalau sampai seperti itu," rengek Aqila dengan manjanya.
Raffa menahan tawanya melihat tingkah Aqila membuat Raffa semakin gemas dibuatnya. Sementara Linda melongo, perlahan menarik kembali tangannya dengan hati yang dongkol.
"Mari Nona Linda, duduk dulu," seru Raffa.
"Tidak usah Pak, saya hanya ingin memberikan ini saja dari Papa saya, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Linda dan langsung meninggalkan ruangan Raffa dengan hati yang dongkol.
"Dasar wanita tidak tahu malu, enak saja mau menggoda suami orang," gerutu Aqila.
Tanpa aba-aba lagi, Raffa langsung mengangkat tubuh Aqila.
"Hei mau ngapain?"
"Aku sudah lapar, Sayang."
"Ya sudah kita makan aku sudah bawa makanan pesenan kamu, Mas."
"Maksudnya lapar ingin makan kamu, Sayang."
Raffa membawa Aqila ke kamar khusus yang memang disediakan di dalam ruangan kerjanya.
π
π
π
π
π
Raffa mainannya ranjang mulu yaπ€π€
Ayo RAQILA LOVERS mana suaranyaπ€π€
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU