
📚
📚
📚
📚
📚
Fathir melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak mau sampai terlambat. Sedangkan Angel saat ini sudah berada di Bandara dan sedang menunggu jam keberangkatan yang sebentar lagi.
"Kenapa hatimu susah sekali untuk di gapai, Fathir," gumam Angel dan lagi-lagi airmatanya menetes tapi Angel dengan cepat langsung menghapusnya.
Tidak lama kemudian, Fathir sampai di Bandara dan berbarengan dengan pengumuman keberangkatan. Fathir berlari mencari sosok Angel, sementara Angel segera beranjak dari duduknya dengan langkah gontai, Angel menggeret kopernya.
Selama melangkah, Angel terus saja menoleh ke belakang berharap Fathir datang. Hingga sekian lama mencari, Fathir menemukan Angel.
"Angel tunggu," teriak Fathir.
Angel yang merasa ada yang memanggilnya langsung menoleh ke belakang. Dilihatnya Fathir berdiri dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Fathir."
Fathir berlari menghampiri Angel dan langsung memeluk Angel. Angel terkejut dengan apa yang dilakukan Fathir.
"Jangan pergi, maaf kalau aku sudah menyakiti hatimu tapi sekarang aku sadar kalau aku juga sudah mulai menyukaimu," ucap Fathir.
Tes...
Airmata Angel kembali menetes, Fathir menghapus airmata Angel.
"Jangan menangis, maafkan aku."
"Apa ini nyata?"
Fathir mencubit pipi Angel dengan gemasnya sehingga membuat Angel sedikit meringis.
"Apa itu sakit?" tanya Fathir.
Angel menganggukkan kepalanya...
"Kalau sakit, itu artinya ini nyata bukan mimpi."
Angel sangat bahagia dan kembali memeluk Fathir.
"Aku sangat bahagia Fathir, akhirnya kamu mau menerima cintaku," seru Angel.
"Kok aku merasa geli ya."
"Geli kenapa?"
"Biasanya si pria yang bahagia karena cintanya di terima, ini malah sebaliknya si wanita yang bahagia karena cintanya di terima oleh si pria."
"Ya habis kamu itu orangnya dingin banget, bikin aku gregetan."
"Ya sudah, yuk kita kembali lagi ke penginapan liburan kita masih lama disini," ajak Fathir.
"Tapi aku sudah membeli tiket untuk pulang," sahut Angel dengan polosnya.
"Astaga, berapa sih kamu beli tiket itu nanti aku ganti."
Angel tersenyum dan dengan cepat mencium pipi Fathir.
"Terima kasih ya Fathir."
Fathir pun tersenyum dan mengacak-ngacak rambut Angel dengan gemasnya, Fathir menggenggam tangan Angel untuk kembali ke penginapan.
Sementara itu di penginapan, Raffa kembali ke tempat teman-temannya dengan cemberut dan memanyunkan bibirnya, Aqila hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah suaminya itu.
"Lah, lo kenapa lagi sih Raffa? perasaan wajah lo cemberut mulu, malas gue lihatnya juga," cibir Jino.
"Tolong bibir bebeknya di kondisikan, nanti gue sumpal pakai cabe rawit baru tahu rasa lo," timpal Jorge.
"Dasar, sahabat sialan kalian," ketus Raffa.
Aqila yang gemas dengan tingkah suaminya itu, menyumpal suaminya dengan roti panggang sehingga membuat Raffa melototkan matanya ke arah Aqila.
"Apa? jangan melotot seperti itu, lebih baik sekarang sarapan dulu karena ngambek dan cemburu itu butuh tenaga," ketus Aqila yang membuat semua orang tertawa.
Raffa tetap saja manyun, semuanya sarapan dengan lahapnya tidak memperdulikan Raffa yang saat ini terlihat cemberut.
"Kamu tidak mau sarapan, Mas?" tanya Aqila.
Raffa menggelengkan kepalanya dengan raut wajah yang masih manyun.
"Lo itu kenapa sih Raff? kaya anak perawan saja ngabekkan kaya gitu, gue geli tahu lihat lo kaya gitu," ledek Jino.
"Daddy kenapa? pasti Daddy tidak dibelikan mainan ya oleh Mommy, soalnya Cyra juga suka ngambek kalau Mama sama Papa tidak membelikan Cyra barbie," celetuk Cyra dengan polosnya.
"Daddy ngambek karena sekarang Mommy Aqila sudah tidak sayang lagi sama Daddy," rengek Raffa dengan menampilkan wajah sedihnya.
"Astaga Raffa, sumpah gue pengen nimpuk lo pakai banana boat tahu, sungguh sangat menjijikan tingkah lo," sambung Jorge.
Aqila beranjak dari duduknya...
"Sayang, mau kemana?" tanya Raffa.
"Mau ke toilet dulu, kenapa mau ikut?" ketus Aqila.
"Ikut..." rengek Raffa.
Rey, Jino, dan Jorge saling pandang satu sama lain sepertinya pemikiran ketiga pria tampan itu sama. Ketiganya berdiri dan menghampiri Raffa dengan senyumana jahilnya.
"Kalian stres ya, senyum-senyum kaya gitu?" tanya Raffa.
"Iya, kami stres melihat kelakuan lo yang sangat menggelikan itu," sahut Jorge.
Akhirnya ketiga pria tampan itu mengangkat tubuh Raffa membuat para wanita terkekut.
__ADS_1
"Woi, mau ngapain kalian turunin gue," teriak Raffa.
Ketiganya membawa Raffa ke tepi kolam berenang yang ada di depan peginapan mereka.
"Sayang, tolongin aku," teriak Raffa.
Aqila menghetikan langkahnya, dan kembali meneruskan langkahnya setelah apa yang dia lihat mengenai suaminya. Aqila merasa tidak peduli karena saat ini dirinya harus ke toilet, dia tidak tahan ingin buang air kecil.
"1, 2, 3......"
Byuuuuuuurrrrrrr .....
Mereka melempar Raffa ke dalam kolam berenang. Ketiga pria tampan itu bertos ria dan tertawa terbahak-bahak.
"Awas kalian ya, dasar sahabat tidak punya akhlak," geram Raffa.
Ketiganya melambaikan tangannya meninggalkan Raffa yang terlihat sangat emosi.
"Sini Pak Raffa biar Linda bantu naik," seru Linda dengan centilnya sembari mengulurkan tangannya ke arah Raffa.
Raffa perlahan mendekat dan menyambut uluran tangan Linda, jelaslah Linda sangat bahagia tapi sayang kebahagiaan Linda hanya sebentar karena Raffa malah menarik Linda sehingga Linda tercebur ke dalam kolam berenang itu.
Byuuuuurrrrr....
Raffa tertawa terbahak-bahak dan langsung naik ke atas tanpa memperdulikan Linda yang saat ini sedang menggerutu.
"Ya ampun Mas Raffa kejam bener," seru Clarissa.
"Biarinlah Cla, biar dia tidak kecentilan lagi," sahut Ranti.
Mereka semua tidak memperdulikan Linda yang saat ini sedang mengomel entah apa yang dia bicarakan. Dengan perasaan marah dan dongkol, akhirnya Linda naik ke atas dan pergi menuju kamarnya dengan menghentak-hentakkan kakinya.
"Oh iya, nomong-ngomong kalian tahu tidak, kalau besok itu hari ulang tahunnya Aqila?" tanya Zahra.
"Seriusan?" sahut Clarissa.
"Ya serius."
"Wah, berarti kita harus membuat kejutan untuk Nyonya Aqila, kejutan yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya," seru Rey.
"Setuju," sahut Jino.
Mereka tidak menyadari kalau Raffa sudah naik dari kolam berenang dan menghampiri mereka.
"Kejutan buat siapa?" tanya Raffa.
"Astaga Raffa, lo tidak tahu kalau besok itu ulang tahunnya Aqila?" seru Jino.
Raffa yang saat ini sedang menyesap kopinya langsung menyemburkannya kembali.
"Apa? Aqila ulang tahun?"
"Ckckck...lo benar-benar suami yang payah, ulang tahun istri lo sendiri lo tidak tahu," cibir Jino.
"Pantas saja lo kalah cepat sama Fathir, kalau seandainya kalian saat ini sedang kompetisi mendapatkan hati Aqila, sudah jelas lo bakalan kalah telak Raf," sambung Jorge.
"Sial..." gerutu Raffa.
"Rey."
"Iya Bos."
"Pokoknya gue tidak mau tahu, lo harus siapkan semuanya untuk besok malam, gue ingin membuat kejutan besar buat Aqila," seru Raffa.
"Siap Bos."
"Tenang saja Mas Raffa, kita semua akan membantu kok," sahut Zahra.
Tiba-tiba Aqila pun datang dan semua pura-pura tidak tahu akan hari ulang tahun Aqila.
"Ya ampun Mas, kok Mas jadi basah kuyup seperti ini sih?" tanya Aqila.
"Tuh, kerjaan mereka dasar sahabat kurang ajar," seru Raffa.
"Ya sudah ganti baju dulu sana, pagi-pagi sudah basah-basahan."
"Bantuin ganti baju yuk," rengek Raffa.
Semuanya melempari Raffa dengan makanan ringan yang ada di atas meja.
"Dasar mesum," teriak semuanya bersamaan.
"Biarin, sirik saja jadi orang," sahut Raffa dengan menarik tangan Aqila untuk mengikutinya.
***
Sementara itu, Fathir dan Angel saat ini mampir dulu ke sebuah restoran untuk sarapan karena mereka berdua belum sempat sarapan.
"Thir, kamu serius nerima aku? kamu tidak lagi ngeprank aku kan?" tanya Angel.
"Ya ampun, memangnya tampang aku kelihatan lagi berbohong ya?"
"Tidak sih, cuman aku masih ragu saja takutnya kamu menerima aku tapi di hati kamu masih ada Mbak Aqila."
Fathir menggenggam tangan Angel..
"Aku sudah mulai bisa melupakan Aqila, aku sudah ikhlas melepas Aqila, sekarang Aqila sudah bahagia."
"Tapi kemarin malam, sepertinya kamu sengaja ngomong seperti itu dan sepertinya kamu tahu banget mengenai Mbak Aqila."
"Tadi malam memang aku sengaja hanya ingin membuat Raffa marah saja dan sekaligus tes dia dan ternyata kali ini Raffa memang berubah, aku jadi tenang. Masalah mengenai Aqila, aku memang tahu semuanya tentang Aqila karena aku dan dia sudah sahabatan sejak lama."
"Tapi kan tidak perlu seperti itu juga kali Thir, kamu perhatian banget sama Mbak Aqila padahal jelas-jelas Mbak Aqila sudah punya Pak Raffa dan Pak Raffa aku lihat sangat mencintai Mbak Aqila."
"Kamu tidak tahu apa yang sudah terjadi, aku seperti itu karena semata-mata ingin menjaga dan melindungi Aqila. Aqila sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, aku hanya ingin melindungi dia, Angel."
"Maaf...," lirih Angel.
"Tidak apa-apa, kamu tidak tahu betapa menderitanya Aqila dulu di awal pernikahannya dengan Raffa, makannya aku hanya ingin memastikan saja kalau sekarang Raffa sudah berubah atau belum, dan sepertinya sekarang Raffa sudah benar-benar berubah dan aku pun sudah tenang melepas Aqila," sahut Fathir lembut.
__ADS_1
"Maaf, aku benar-benar tidak tahu."
Tidak lama kemudian, makanan pun datang.
"Ayo sarapan dulu, habis itu kita kembali ke penginapan," seru Fathir.
Setelah selesai sarapan dan perut mereka pun sudah kenyang, Fathir dan Angel pun kembali ke penginapan. Sesampainya disana, Fathir kembali menggandeng tangan Angel sehingga membuat Angel merasa malu.
"Wow, pasangan baru kita sudah datang," seru Ranti.
"Wuidih, kayanya ada yang sudah jadian nih. kelihatan banget di dada kalian keluar bunga-bunga," goda Zahra.
"Ih, Zahra apa-apaan sih kamu," sahut Angel dengan wajah yang sudah memerah.
"Aqila dan Raffa mana?" tanya Fathir.
"Ah kaya tidak tahu bagaimana sifat Raffa, kalau sudah masuk kamar, dia bakalan lama banget keluarnya," sahut Jino.
"Gue benar-benar heran, Aqila hebat banget bisa menjinakkan Raffa dengan sangat mudah," sambung Jorge.
"Nyonya Aqila memang auranya sangat kuat, siapa coba yang akan menolak wanita secantik Nyonya Aqila," sahut Rey.
"Wanita saja yang melihat Aqila merasa suka apalagi pria, Aqila memang wanita hebat dan juga baik hati dan aku akui itu," seru Ranti.
"Yes, wanita tangguh dan penyayang," sambung Zahra.
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, Raffa dan Aqila benar-benar tidak keluar dari kamarnya, entah apa yang sudah Raffa lakukan.
Malam ini Aqila tidur dengan cepat, dan itu membuat Raffa sedikit lega. Perlahan Raffa keluar dari kamarnya karena semua orang dari tadi sudah menunggunya di pinggir pantai.
"Sorry gue telat."
"Astaga Raffa, lo apain Aqila sampai-sampai dia tidak keluar-keluar lagi dari tadi?" tanya Jorge.
"Pasti lo menggarap Aqila habis-habisan ya? makannya Aqila jadi kelelahan," seru Jino.
Raffa menjitak kepala Jino...
"Otak lo ya, mengarah ke hal kaya gitu mulu tadi Aqila merasa tidak enak badan, gue khawatirlah makannya gue tidak membiarkan Aqila untuk keluar kamar dulu," jelas Raffa.
"Oh kirain gue, lo enak-enakan di kamar," seru Jino.
"Tapi sekarang bagaimana keadaan Qila, dia baik-baik saja kan?" tanya Fathir.
"Kepo...." ketus Raffa.
"Astaga Raffa, aku cuma nanya doang gitu saja cemburuan."
"Sudah..sudah..kalian ya dari kemarin tidak pernah akur, pusing tahu lihat kalian seperti itu," seru Clarissa.
"Berantem mulu, jangan-jangan kalian jodoh lagi," goda Jino.
Raffa dan Fathir menatap tajam ke arah Jino..
"Wow..wow..wow..ampun bang jago, tidak kuat lihat tatapannya," seru Jino dengan bersembunyi di balik punggung Zahra.
"Sudah ah jangan bercanda terus, sekarang fokus dulu ke rencana kita untuk membuat kejutan untuk Aqila, lo maunya seperti apa Raff?" tanya Jorge.
"Pokoknya gue pengen yang romantis dan tidak akan terlupakan seumur hidup Aqila, gue pengen besok malam menjadi malam yang paling bersejarah untuk Aqila, karena Aqila sangat berharga buat gue," sahut Raffa.
"Baru sadar ya kalau Aqila sangat berharga," cibir Fathir.
"Nyamber aja kaya petir," ketus Raffa.
"Fathir, kamu diam dulu jangan buat Pak Raffa emosi terus," seru Angel.
"Ok Bos, pokoknya besok aku akan menyiapkannya dengan sangat sempurna," sahut Rey.
"Eh tunggu, si cacing kremi kemana? kok tidak kelihatan?" tanya Zahra.
"Cacing kremi siapa Sayang?" tanya Jino.
"Siapa lagi kalau bukan si Linda."
"Sepertinya Kak Linda pulang deh, soalnya pas aku cek ke kamarnya sudah tidak ada, kopernya pun sudah tidak ada, menurut penjaga penginapan Kak Linda sudah keluar dari sini," sahut Angel.
"Baguslah, kita jadi tenang tidak akan ada yang ngerecokin para lelaki kita," seru Ranti.
"Ya sudah, sekarang mending kita istirahat dulu nanti tepat pukul dua belas malam kita ke kamar Aqila," seru Clarissa.
"Awas lo Raffa jangan sampai kita kesana, lo lagi enak-enakan sama Aqila," sambung Jorge.
"Gue tidak bisa janji, karena jiwa mesum gue selalu datang tiba-tiba tanpa ada pemberitahuan dulu," sahut Raffa dengan melangkahkan kakinya meninggalkan semuanya.
"Dasar, lama-lama gue lempar lo ke laut sana Raffa," teriak Jino dengan gemasnya.
"Sudah ah, semuanya bubar dan jangan lupa pasang alarm buat nanti pukul dua belas tepat," seru Jorge.
"Siap..."
Semuanya pun memutuskan untuk istirahat ke kamar masing-masing, dan persiapan bangun pukul dua belas malam untuk memberi kejutan kepada Aqila.
📚
📚
📚
📚
📚
Jangan lupa
like
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU