GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Bertemu Kembali Part II


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Fathir memapah Aqila sampai rumah dan mendudukan Aqila di sofa.


"Kaki kamu kenapa? terus motor kamu kemana?" tanya Fathir.


"Fathir, aku bicara sesuatu sama kamu."


"Jangan sekarang nanti saja kalau kaki kamu sudah sembuh," sahut Fathir datar.


"Yang sakit itu kaki aku bukan mulut aku."


"Aku tahu apa yang mau kamu bicarakan, aku akan menerimanya tapi kamu jangan pernah melarang aku untuk menjauhi kamu karena aku tidak bisa, aku akan tetap berada disamping kamu dan menjaga kamu, satu hal lagi apabila sampai Raffa menyakiti kamu lagi dan aku melihat kamu menangis lagi karena Raffa, aku tidak akan segan-segan merebut kamu kembali dan membawa kamu pergi jauh," seru Fathir.


Tanpa terasa Aqila meneteskan airmatanya, Fathir adalah pria yang baik yang dengan suka rela menjaga dan melindunginya.


"Semoga kamu bisa mendapatkan wanita yang benar-benar tulus mencintaimu, terima kasih Fathir," seru Aqila.


"Kamu istirahat ya, aku masih ada urusan nanti kalau ada apa-apa hubungi saja aku."


Fathir mengusap kepala Aqila dengan senyumannya dan pergi meninggalkan rumah Aqila. Disaat Fathir masuk kedalam mobilnya tak terasa cairan bening jatuh dipipinya, dengan sekuat tenaga tadi Fathir menahan airmatanya supaya tidak jatuh.


Fathir menghapus airmatanya dan mulai melajukan mobilnya. Cinta Fathir sangat besar kepada Aqila, bahkan jauh sebelum Aqila mengenal Raffa, Fathir sudah mencintai Aqila namun Fathir tidak berani mengungkapnya.


Sementara itu Raffa tampak uring-uringan, dia sangat cemburu melihat Aqila dengan Fathir. Tidak tahu kenapa hatinya begitu sakit melihat Aqila dengan Fathir.


"Kenapa rasanya sakit sekali, apa ini yang dirasakan Aqila dulu? bahkan dulu aku sampai melontarkan kata-kata kasar kepadanya, maafkan aku Aqila maaf," batin Raffa.


Tiga hari pun berlalu...


Raffa selalu menunggu kedatangan Aqila ke rumahnya untuk mengambil motor tapi sayang semenjak pertemuan itu Raffa dan Aqila tidak pernah bertemu pagi membuat Raffa selalu uring-uringan dilanda rindu yang teramat dangat kepada Aqila.


Setelah rapi dengan pakaian kantornya, Raffa turun ke bawah untuk sarapan bersama.


"Pagi Eyang, pagi Sayang," ucap Raffa dan mencium kening Cyra.


"Raffa, Eyang dengar dari Rey kalau Aqila sudah kembali?" tanya Eyang antusias.


"Iya Eyang."


"Kenapa kamu tidak membawa Aqila pulang kesini?"


"Aqila berubah Eyang, mungkin dia masih marah sama aku."


"Kalian sedang ngomongin siapa?" celetuk Cyra dengan gemasnya.


"Calon Mommy kamu Sayang."


"Daddy, Cyra ingin yang menjadi calon Mommy Cyra itu Tante cantik yang waktu di restoran, orangnya baik dan lembut."


"Sayang, Daddy kan tidak tahu siapa Tante cantik yang kamu maksud, bahkan Daddy tidak kenal dengannya."


"Daddy pasti akan suka dengan Tante cantik, selain cantik, Tante itu juga baik dan lembut Cyra suka Daddy."


Raffa dan Eyang saling pandang satu sama lain.


"Sudah-sudah, Cyra makan dulu yang banyak ya jangan lupa jangan jajan sembarangan di sekolah."


"Ok Eyang."


"Raffa, nanti siang Eyang tidak bisa menjemput Cyra soalnya Eyang ada check up jantung, Eyang sudah janjian dengan Dokter siang ini," seru Eyang.


"Gampang, nanti biar Rey yang jemput Cyra."


Setelah selesai sarapan, Raffa pun berangkat ke kantor dengan terlebih dahulu mengantarkan Cyra ke sekolahnya. Cyra meskipun usianya masih empat tahun, tapi Cyra adalah anak yang pintar dan cepat tanggap maka dari itu Eyang dan Raffa memutuskan untuk memasukkan Cyra kesebuah Taman Kanak-kanak elit di Jakarta ini.


Sementara itu, Aqila saat ini sudah bersiap-siap untuk mengajar. Aqila memutuskan untuk menerima tawaran mengajar di sebuah TK elit di Jakarta ini. Aqila sudah memikirkannya secara matang-matang, dia memutuskan untuk tidak mengajar di tempat yang dulu karena Aqila tidak mau terus-terusan bertemu dengan Fathir yang nantinya akan menimbulkan pandangan miring dari orang lain.


"Ah, menyebalkan motor aku masih ada di rumah Mas Raffa lagi," gumam Aqila.


Aqila langsung memesan taxi online untuk berangkat ke sekolah barunya.


"Daddy, nanti jemputnya jangan sampai terlambat ya," seru Cyra.


"Siap Tuan puteri."


Cyra pun langsung berlari menuju kelasnya, Raffa masuk kedalam mobilnya dan Rey segera melajukan mobilnya menuju kantor. Tidak lama kemudian Taxi yang mengantarkan Aqila sampai, Aqila membayar taxi itu.


Aqila tampak memperhatikan setiap sudut bangunan sekolah itu.


"Aku harus semangat dengan sekolah baru ini, semoga aku betah, semangat Aqila," gumam Aqila dengan mengepalkan satu tangannya memberikan semangat untuk dirinya sendiri.


Setelah menemui kepala sekolah, Aqila dibawa sang kepala sekolah ke sebuah kelas yang akan Aqila ajar.


Tok..tok..tok..


"Eh, Bu Elina silakan masuk," seru salah satu guru yang ada didalam ruangan itu.


Kepala sekolah yang bernama Elina itu memasuki kelas dan Aqila tampak mengekor di belakang.


"Selamat pagi anak-anak!!"


"Selamat pagi Bu," seru semuanya serempak.

__ADS_1


"Hari ini Ibu akan memperkenalkan guru baru yang akan menggantikan Bu Laras, seperti yang kalian lihat Bu Laras sebentar lagi akan melahirkan jadi untuk sementara waktu tidak bisa mengajar dulu. Nah, ini namanya Bu Aqila guru baru kalian," jelas Bu Elina.


"Selamat pagi semuanya!!" sapa Aqila.


"Tante cantik," celetuk Cyra dengan lantangnya sehingga semua anak dan guru menatap kearahnya.


Cyra meringis, memperlihatkan deretan giginya yang putih dan rapi. Sedangkan Aqila tampak tersenyum kearah Cyra.


Setelah perkenalan, akhirnya Bu Elina dan Bu Laras meninggalkan kelas, dan Aqila mulai mengajari anak-anak itu dengan penuh kesabaran. Semua anak-anak sangat menyukai Aqila karena Aqila mengajar dengan penuh kesabaran dan lemah lembut.


"Bu guru," seru Cyra.


"Iya Cyra, ada apa Sayang?"


"Ibu guru mau tidak jadi Mommy Cyra?" celetuk Cyra.


Aqila sangat terkejut dengan pertanyaan Cyra.


"Memangnya Mommy Cyra kemana?" tanya Aqila.


"Cyra sudah sejak lahir tidak pernah bertemu dengan Mommy Cyra dan Cyra tidak tahu bagaimana wajah Mommy Cyra," sahut Cyra dengan menundukkan kepala.


Aqila merasa terenyuh dengan ucapan Cyra, Aqila pun menarik tubuh mungil Cyra ke dalam pelukkannya.


"Bu guru, mau kan jadi Mommy Cyra? Daddy pasti akan suka dengan Bu guru," ucap Cyra di dalam pelukkan Aqila.


"Maaf Sayang, Ibu tidak bisa Ibu tidak mengenal Daddy kamu mana mungkin Daddy kamu mau dengan Ibu, lagipula pasti Daddy kamu sudah punya calon Mommy untuk kamu," sahut Aqila dengan lembutnya.


"Iya sih, Daddy bilang Daddy sedang menunggu seseorang untuk menjadi Mommy Cyra tapi Cyra tidak mau, Cyra maunya Ibu guru yang menjadi Mommy Cyra."


"Sudah-sudah, lebih baik Cyra belajar dulu ya jangan mikir yang lain-lain."


Cyra pun mengangguk dan kembali berbaur dengan anak-anak yang lainnya. Aqila hanya geleng-geleng kepala, tidak menyangka dengan permintaan muridnya itu.


Waktu pun berjalan dengan cepat, Rey dan Raffa sibuk dengan pekerjaannya sampai Rey lupa waktu untuk menjemput Cyra. Disaat Aqila hendak pulang dengan menggunakan taxi online, Aqila melihat Cyra masid duduk di ayunan sendirian.


"Sayang, kenapa belum pulang?"


"Daddy belum jemput Cyra, Bu guru."


"Memangnya Daddynya kemana?" tanya Aqika.


"Daddy sibuk kerja Bu guru, biasanya Cyra di jemput oleh Eyang tapi sekarang Eyang sedang ada urusan jadi tidak bisa jemput."


"Apa Cyra punya nomor ponselnya Daddy, biar Bu guru hubungi Daddy kamu."


Cyra menggelengkan kepalanya, sejenak Aqila berpikir.


"Ya sudah, bagaimana kalau Ibu anter kamu pulang? Cyra tahu kan jalan pulang?"


"Benarkah, Bu guru cantik mau mengantar Cyra pulang? Cyra mau banget, tapi Cyra tidak tahu jalan pulangnya," sahut Cyra mulai murung.


"Kalau begitu Cyra tunggu dulu disini ya, biar Bu guru minta alamat rumah kamu ke pihak sekolah."


"Yuk Sayang, Ibu guru antarkan kamu pulamg."


Aqila menggandenga tangan Cyra, tentu saja Cyra sangat bahagia. Aqila membawa Cyra masuk ke dalam taxi online yang baru saja dia pesan. Setelah mereka pergi, barulah mobil Rey sampai.


"Astaga sudah sepi."


"Maaf Mas mencari siapa?" tanya satpam sekolah.


"Saya disuruh jemput Cyra oleh Tuan Raffa, apa Cyra masih di dalam ya?"


"Aduh, Cyra baru saja pulang di antar oleh guru baru."


"Apa? kok bisa sih Pak, Cyra di biarkan pulang duluan bukannya di suruh menunggu apalagi pulangnya dengan guru baru," sentak Rey.


"Maaf Mas, tapi guru baru itu kelihatan baik kok tidak mungkin dia sampai melakukan kejahatan."


Rey mengusap wajahnya dengan kasar dan kemudian menghubungi Raffa. Bagaimana dia mau menghubungi Raffa, pasti Raffa sangat marah dan benar saja Raffa ngamuk.


Raffa langsung pulang ke rumahnya, semua penghuni rumah sangat panik dengan hilangnya Cyra. Rey pun sekarang sudah berada di rumah Raffa.


"Maafkan saya Eyang, tadi saya sibuk jadi lupa kalau mau jemput Cyra, kalau Eyang dan Tuan Raffa mau memecat saya, saya sudah ikhlas," seru Rey dengan menundukkan kepalanya.


"Sudahlah Rey, kamu tidak salah jangan mrnyalahkan diri kamu sendiri," sahut Eyang.


"Siapa guru baru itu, berani sekali membawa Cyra pulang, mengapa dia tidak menghubungi aku dulu kan di data siswa, lengkap disana ada nomor ponsel dan alamat rumah," seru Raffa.


***


Sementara itu diperjalanan menuju rumah Cyra, Aqila tampak mengerutkan keningnya.


"Lho, bukannya ini arah jalan menuju rumahnya Mas Raffa ya," gumam Aqila.


Tiba-tiba jantung Aqila berdebar dengan sangat kencangnya.


"Bu guru cantik, itu rumah Cyra," teriak Cyra dengan menunjuk kearah rumahnya.


Deg....


Aqila tiba-tiba bungkam, lidahnya kelu tidak bisa berkata apa-apa lagi.


"Silakan Nyonya, sudah sampai," seru sopir taxi.


Raffa, Eyang, dan Rey yang sedang cemas berada di teras rumahnya, melihat ada sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Terlihat Cyra turun dari mobil itu.


"Ayo, Bu guru cantik mampir dulu ke rumah nanti Cyra kenalkan sama Daddy Cyra," ajak Cyra dengan menarik tangan Aqila.


"Maaf Sayang, Bu guru tidak bisa Bu guru ada keperluan mendadak, lain kali saja ya."

__ADS_1


"Tuan, bukannya itu Cyra," tunjuk Rey.


"Awas saja, siapa guru baru itu berani sekali dia membawa Cyra pulang," ucap Raffa dengan menghampiri kearah mobil itu.


Aqila semakin panik saat Raffa mendekati mobilnya.


"Cyra ayo masuk kenapa masih disini?" sentak Raffa.


"Maaf Daddy, Cyra hanya ingin mengajak Bu guru cantik ini untuk masuk dulu ke rumah," sahut Cyra.


"Cyra, kamu masuk ke rumah biar Daddy yang urus guru baru kamu yang sudah berani membawa kamu pulang tanpa seizin Daddy," seru Raffa dengan dinginnya.


"Daddy jangan marahin Bu guru cantik," rengek Cyra.


"Masuk Cyra," sentak Raffa.


Cyra pun langsung berlari dengan deraian airmata memeluk Eyangnya yang sudah menunggu di teras rumah.


"Hai kamu, cepetan turun jangan diam saja didalam mobil, jelaskan kenapa kamu membawa anak saya pulang," sentak Raffa.


Aqila masih diam mematung tidak berani untuk keluar. Raffa yang merasa kesal menarik tangan Aqila sehingga Aqila keluar dan menundukkan kepalanya.


"Aqila."


"Maaf, aku tidak tahu kalau Cyra anak kamu Mas," seru Aqila dengan menundukkan kepalanya.


Aqila hendak masuk kedalam mobil, tapi dengan cepat Raffa menutup pintu mobil itu.


"Ini bayarannya Pak, terima kasih," ucap Raffa dengan memberikan sejumlah uang kepada sopir taxi itu.


"Tapi ini kebanyakan Tuan."


"Tidak apa-apa, ambil saja untuk Bapak anggap saja itu ucapan terima kasih karena sudah membawa istri saya pulang ke rumah," sahut Raffa.


Aqila melotot mendengar ucapan Aqila, sopir taxi pun pamit dan pergi meninggalkan kediaman Raffa.


"Lepaskan aku Mas, aku mau pulang," seru Aqila dan hendak meninggalkan Raffa.


"Aqila," teriak Eyang.


Seketika Aqila menghentikan langkahnya, Aqila masih diam mematung membelakangi semuanya.


"Aqila, apa kamu tidak merindukkan Eyang, Nak?" tanya Eyang.


Seketika airmata Aqila menetes, Aqila masih dalam posisi yang sama membelakangi semuanya. Perlahan Eyang menghampiri Aqila, Eyang juga tidak kuasa menahan airmatanya.


"Eyang sangat merindukanmu, Aqila."


Perlahan, Aqila membalikkan tubuhnya dan langsung menghambur ke pelukkan Eyang.


"Aqila juga sangat merindukkan Eyang, maafkan Aqila, Eyang," seru Aqila dengan deraian airmata.


"Tidak apa-apa Nak, Eyang mengerti."


Eyang mengelus punggung Aqila dengan penuh kasih sayang, sementara itu Raffa tampak tersenyum melihat pemandangan dua wanita yang sangat dia sayangi sekarang berada di hadapannya.


"Daddy, kalian kenal sama bu guru cantik?" tanya Cyra dengan polosnya.


Raffa berjongkok menyamakan tingginya dengan Cyra.


"Bu guru cantik itu, wanita yang Daddy cintai."


"Berarti Bu guru cantik bakalan jadi Mommy Cyra dong?"


Raffa tersenyum dan menganggukkan kepalanya, Cyra langsung memeluk Raffa dengan erat.


"Cyra ingin Bu guru cantik menjadi Mommy Cyra."


"Aqila, masuk yuk ini kan masih rumah kamu Nak," ajak Eyang.


"Maaf Eyang, Aqila masih belum siap nanti saja ya sekarang mumpung Aqila ada disini, sekalian mau mengambil motor Aqila," seru Aqila.


Aqila melepaskan pelukkannya dan menghampiri Raffa yang sudah senyum-senyum tidak jelas melihat Aqila. Aqila langsung mengulurkan tangannya ke hadapan Raffa.


"Mana kunci motor aku?" ketus Aqila.


"Ya ampun Bu guru cantiknya galak sekali," goda Raffa.


"Jangan banyak ngomong, cepat kembalikan kunci motor aku," Aqila sedikit meninggikan suaranya.


"Kalau marah-marah seperti ini, Bu gurunya malah semakin cantik," Raffa kembali menggoda Aqila.


Wajah Aqila sudah memerah karena malu, tapi dia juga masih kesal kepada Raffa. Sedangkan Eyang dan Cyra sudah cekikikan melihat kelakuan sepasang suami istri yang bersikap seperti anak-anak itu.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU😘😘😘


__ADS_2