GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Bertemu


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Disaat keluarga kecil Raffa sedang melepas rindu, tiba-tiba Clarissa datang bersama Jorge dan juga anak kedua mereka yaitu Louse.


"Selamat pagi semuanya," sapa Jorge.


Semua orang pun menoleh ke sumber suara..


"Mama, Papa, Louise," teriak Cyra dengan berlari menghampiri mereka.


Raffa dan Aqila pun menghampiri mereka, kecuali Eyang yang cuek dan dingin sepertinya Eyang masih menyimpan rasa marahnya terhadap Clarissa.


Tanpa di duga-duga Clarissa menghampiri Aqila dan langsung memeluknya sembari meneteskan airmatanya.


"Terima kasih Qila, berkat dirimu sekarang Cyra sudah mau tinggal bersama kami dan mengakui kami sebagai orang tuanya," seru Clarissa.


"Sama-sama Cla, sudah kewajiban aku mengingatkan karena bagaimana pun juga Cyra adalah darah daging kamu dan kamu sangat berhak atas Cyra walaupun jalan yang kamu tempuh dulu salah," sahut Aqila dengan mengusap punggung Clarissa.


Clarissa melepaskan pelukkannya dan menghapus airmatanya sembari tersenyum kearah Aqila.


"Wow, apa ini anak kedua kalian?" tanya Aqila sembari mengambil Louise dari gendongan Jorge.


"Iya, namanya Lousie."


"Ya ampun tampan sekali kamu Nak, gemesin banget," celoteh Aqila dengan menciumi pipi Louise.


Raffa merasa tidak senang dengan kelakuan istrinya, apalagi saat ini Aqila sedang hamil pakai gendong-gendong anak orang segala.


"Sayang, jangan gendong-gendong dulu dong nanti perut kamu ketekan atau ketendang kan bahaya," seru Raffa.


"Apa itu artinya Aqila sedang hamil, Raf?" tanya Jorge.


"Iya."


"Ya ampun, sini sayang jangan di gendong sama Aunty ya kasihan sedang hamil, sini sama Mama saja," bujuk Clarissa dan Louise pun mau.


"Pantas saja waktu kemarin di luar kota kamu aneh banget ingin makan makanan yang sama sekali belum pernah kamu makan, ternyata ini alasannya, selamat ya Bro," seru Jorge.


"Terima kasih."


"Oh iya, kami datang kesini ingin menjemput Cyra dan membawa barang-barang Cyra," seru Clarissa.


"Boleh, kita tunggunya di depan saja yuk barang-barang Cyra biar Bi Ria dan yang lainnya yang beresin," ajak Aqila.


"Bi, tolong ambilkan minuman."


"Baik Nyonya."


"Raf, nanti malam kita kumpul yuk jarang-jarang loh kita kumpul dengan sahabat sekaligus pasangan masing-masing, biasanya kan kita kumpul cuma berempat dan lo tahu, banyak yang menyebut kita pria penyuka sesama jenis? karena kita tidak pernah bawa pasangan."


"Iya dan itu sangat menyebalkan sekali," ketus Raffa.


"Mumpun si Jino sama Rey sudah punya pasangan, kita nongkrong-nongkrong kaya zaman muda dulu."


"Boleh, nanti malam kita ketemuan di tempat biasa."


"Sip, nanti gue hubungi Jino sama Rey."


Tidak lama kemudian Bi Ria pun datang dengan membawa minuman. Setelah sekian lama menunggu akhirnya barang-barang Cyra sudah beres.


"Daddy, Cyra pergi dulu ya. Daddy tolong jagain adik Cyra jangan sampai Mommy menangis."


"Iya Sayang, kamu juga jadi anak yang baik dan penurut ya dan sering-seringlah main kesini," sahut Raffa dengan memeluk Cyra.


"Mommy, tolong bahagiakan Daddy ya dan jangan lupa ingatkan Daddy untuk makan karena Daddy suka lupa waktu kalau sudah bekerja."


"Tentu Sayang, kamu tidak usah khawatir."


Aqila pun memeluk dan mencium Cyra, tanpa di duga Cyra mencium perut Aqila yang masih rata itu.


"Dedek bayi, Kakak Cyra yang cantik ini mau pergi dulu ya, jangan nakal di perut Mommy kalau nakal nanti Kak Cyra tidak akan ngajak kamu main," celoteh Cyra yang membuat semua orang tertawa.


"Kalau begitu kita pamit dulu, jangan lupa nanti malam ya," seru Jorge.


"Ok."


"Mommy, Daddy, Cyra pergi dulu ya. Eyang, Cyra pergi dulu."


Cyra melambaikan tangannya kala mobil Jorge meninggalkan pekarangan rumah Raffa.


"Mas, hari ini tidak ke kantor?" tanya Aqila.


"Malas ah."


"Kok malas sih, pasti kan banyak pekerjaan kasihan loh Mas Rey."


"Biarin saja, dia dibayar untuk itu kan. Sudah daripada mikirin kerjaan, mending ngerjain kamu lebih asyik," goda Raffa dengan menaik turunkan alisnya.


"Jangan macam-macam Mas, enak saja."


Raffa hanya tertawa melihat raut wajah istrinya yang tiba-tiba di tekuk.


***

__ADS_1


"OMG, Ranti you dapat pesan dari Mas Rey tidak?" tanya Zahra antusias dengan melihat ponselnya.


"Apaan sih Zahra, you pagi-pagi sudah heboh saja."


"Coba you buka ponsel."


Ranti pun membuka ponselnya dan matanya terbelalak melihat pesan dari kekasihnya itu.


"OMG, jadi mereka akan ketemuan. Berarti kita akan bertemu dengan Aqila dong, mati aku pasti dia bakalan marah sama kita," seru Ranti.


"You tidak lihat ya, pas dia mergokin aku lagi sama Mas Jino, tatapannya astaga horor bnget bikin bulu kudukku merinding," sahut Zahra.


"Memangnya you pikir Qila setan apa, pakai merinding segala."


"Selamat pagi," sapa Angel dengan senyuman ramahnya.


"Selamat pagi Bu Angel," sahut Zahra dan Ranti bersamaan.


"Oh iya, kita belum kenalan ya. Nama aku Zahra."


"Aku Ranti."


"Salam kenal semuanya, semoga kita menjadi partner yang baik."


"Meja kamu ada di sebelah mejanya Pak Fathir."


"Ok."


Ketiga guru muda nan cantik itu duduk di meja masing-masing sembari mengotak-ngatik ponselnya, sedangkan Angel melihat-lihat absensi yang nanti akan menjadi murid-muridnya itu.


"Pagi," sapa Pak Beno.


"Pagi semua," sambung Bu Wati.


"Eh ada Bu Angel, selamat pagi Bu semoga betah ya disini."


"Terima kasih Pak."


Tidak lama kemudian Fathir pun datang dengan santainya tanpa melihat sekelilingnya dengn memainkan ponselnya. Angel yang dari tadi memperhatikan Fathir merasa terpana akan guru itu.


"Ya ampun Ngel, liatinnya biasa saja kali, semuanya sudah tahu kalau Pak Fathir itu tampan," goda Zahra.


Angel yang ketahuan sedang memperhatikan Fathir menjadi gelagapan dan wajahnya berubah menjadi merah. Fathir melirik sebentar ke arah Angel dan kembali memainkan ponselnya.


"Huft...dingin banget kayanya Pak Fathir, astaga malu aku ketahuan memperhatikan Pak Fathir," batin Angel dengan memukul-mukul kepalanya.


"Kamu kenapa?" tanya Fathir datar.


"Ah, tidak apa-apa Pak Fathir cuma sedikit pusing kepala saja," sahut Angel sekenanya.


"Dasar aneh," lirih Fathir.


Tidak lama kemudian bel tanda masuk pun berbunyi, semua guru bersiap-siap untuk masuk ke kelas masing-masing. Begitu pun dengan Angel dan Fathir karena fokus ke buku masing-masing, mereka sampai tidak sadar sama-sama berdiri dan akhirnya bertabrakan.


Sesaat mata mereka saling pandang, hingga Fathir yang lebih dulu memutusnya dan berlalu meninggalkan Angel tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


"Astaga, itu orang benar-benar sangat menyebalkan," gumam Angel.


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang waktunya jam istirahat.


"Bu Angel, ayo kita makan siang ke kantin," ajak Ranti.


"Ayo Bu."


Mereka semua pun pergi ke kantin untuk makan siang. Mereka pesan mie baso seperti biasa.


"Ra, kamu sudah bertemu dengan Qila? bagaimana kabarnya, apa dia baik-baik saja?" tanya Fathir.


"Sepertinya sih dia baik-baik saja, soalnya aku juga belum ketemu dengannya dan rencananya nanti malam kita mau ketemuan," sahut Zahra.


"Oh gitu, sampaikan saja salamku untuk Qila."


"Siap."


"Qila? siapa dia? apa dia pacarnya Pak Fathir?" batin Angel.


"Angel, nanti pulang sekolah aku sama Zahra mau jalan-jalan ke Mall, apa kamu mau ikut?" tanya Ranti.


"Maaf Ranti sepertinya aku tidak bisa, aku harus cepat-cepat pulang, lain kali saja ya," sahut Angel.


"Ok, tidak apa-apa."


***


Malam pun tiba...


Aqila saat ini sedang merias dirinya di depan meja rias.


"Sayang, jangan terlalu cantik dandannya aku tidak mau kamu menjadi pusat perhatian," keluh Raffa.


"Apaan sih Mas, masih saja posesif."


Aqila terlihat sangat cantik dan anggun dengan dres warna pink pastel selutut, rambutnya dia biarkan tergerai dengan dibuat bergelombang di bagian bawahnya. Aqila membantu Raffa mengancingkan kemejanya.


"Kamu cantik banget Sayang."


"Sudah deh jangan suka banyak ngegombal."


"Siapa yang ngegombal, memang pada kenyataannya seperti itu. Suamiku juga tampak sangat tampan malam ini," ucap Aqila dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Ih, kok istriku sekarang sudah pandai menggoda, pakai kedip-kedip segala jangan sampai malam ini kita tidak jadi berangkat gara-gara kamu sangat menggoda."

__ADS_1


"Mulai deh otaknya mesum, sudah ah yuk kita berangkat, kita sudah sangat telat Mas gara-gara kamu ngajak mandi bareng."


Raffa hanya cekikikan menyadari kelakuannya, tidak tahu kenapa Raffa tidak bisa menahan hasratnya kalau sedang berdekatan dengan Aqila.


"Kenapa kamu cemberut, Sayang?" tanya Raffa setelah mereka berada di dalam mobil.


"Habisnya, sudah cantik-cantik pakai dres kaya gini seharusnya pakai heels biar tambah cantik, ini malah pakai sendal teplek kan ga lucu," ketus Aqila.


"Kamu itu sedang hamil Sayang, jangan pakai heels aku tidak mau ya ambil resiko. Lagipula kamu mau pakai apapun tetap saja cantik."


Tidak lama kemudian, mereka sampai di restoran yang sudah di janjikan. Sedangkan di dalam restoran, Zahra dan Ranti tampak gelisah pasti Aqila langsung nyerocos.


Aqila terlihat berjalan dengan merangkul lengan Raffa dengan posesifnya, Aqila tidak mau memberikan celah barang sedikit pun untuk seorang pelakor. Sedangkan dari kejauhan, Ranti dan Zahra sudah menutup wajahnya masing-masing dengan tas slempang yang mereka bawa.


"Sorry telat," seru Raffa.


"Tidak apa-apa, nyantai saja Bro," sahut Jino.


Aqila berdiri di belakang Ranti dan Zahra, saat ini Aqila melipat tangannya di dada.


"Bagus ya," hardik Aqila.


Kedua wanita cantik itu mendongakkan kepalanya sembari memberikan senyuman termanisnya.


"Eh Aqila, astaga you makin cantik saja," puji Zahra.


"Iya, kulit you semakin glowing beda ya kalau sudah menjadi Nyonya Abraham bawaannya bening banget, pasti perawatan terus ya," sambung Ranti.


Keduanya berusaha mengalihkan perhatian Aqila tapi Aqila tidak terpengaruh malah sekarang tatapannya semakin horor saja membuat semua orang yang berada disana tertawa melihat kelakuan ketiga sahabat itu.


"Jangan pura-pura, sejak kapan kalian seperti ini? main rahasia-rahasian segala, kalian sudah tidak menganggapku sebagai sahabat, hah," nada bicara Aqila sedikit meninggi.


"Maaf Qila, kita bukannya menyembunyikan semua ini dari you tapi memang intensitas bertemu kita berkurang semenjak you menikah dengan Mas Raffa, jadi kita tidak sempat cerita sama you," seru Zahra.


"Iya, you jangan marah dong nanti cantiknya hilang loh," goda Ranti.


"Kalian ini ya."


"Sudah Sayang, duduk yuk jangan marah-marah kan kamu lagi hamil tidak boleh stres," bujuk Raffa dengan membawa Aqila duduk.


"Apa? hamil?" seru semuanya bersamaan kecuali Clarissa dan Jorge yang memang sudah tahu.


"Kamu hamil Qila?" tanya Jino.


"Iya, baru empat minggu."


"Wah selamat ya, sebentar lagi kita bakalan jadi Aunty Ran," seru Zahra dengan antusiasnya.


Zahra dan Ranti bersamaan menghampiri Aqila dan memelukknya dengan perasaan yang sangat bahagia.


"Selamat ya, dan maafkan kita," seru Ranti.


Aqila yang merasa tidak bisa marah lama-lama, akhirnya tersenyum juga dan mendekap tangan kedua sahabatnya itu.


"Jangan ulangi lagi, kita itu sahabat tidak boleh ada yang di tutup-tutupi," sahut Aqila.


"Siiippp."


"Sudah, sana duduk aku sesak tahu di peluk seperti ini sama kalian."


Keduanya cekikikan dan duduk di samping pasangan masing-masing.


"Oh iya Qila, ada salam dari Fathir," celetuk Zahra yang langsung menutup mulutnya.


Ranti, Aqila, dan Raffa melotot ke arah Zahra secara bersamaan.


"Astaga, tuh anak kenapa mulutnya lemes banget sudah tahu Mas Raffa cemburuan," batin Aqila menggigit bibir bawahnya.


Sementara itu suasana malam itu menjadi hening seketika, apalagi perubahan sikap Raffa yang berubah diam dan menakutkan membuat Zahra merasa bersalah.


"You kenapa bisa sampai keceplosan," bisik Ranti.


"Sorry."


"Hmmm...ok sekarang kita pesan makanan dulu ya," seru Jorge berusaha mencairkan suasana.


Sampai makanan datang pun Raffa masih diam tidak bicara sedikit pun membuat Aqila bingung sendiri. Kalau seandainya saat ini mereka hanya sedang berdua, Aqila akan menggoda dia dengan tubuhnya sendiri, sayangnya mereka sedang rame-rame sehingga Aqila hanya bisa menahannya sampai mereka pulang nanti.


📚


📚


📚


📚


📚


Yuhu Raqila lovers, ayo dukungannya sebanyak-banyaknya ya🙏🙏


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2