GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Kejutan


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Setelah acara pertemuan itu, Clarissa meminta izin kepada Aqila untuk membawa Cyra jalan-jalan dalam rangka mendekatkan diri kepada Cyra dan Clarissa berjanji akan mengantarkannya pulang.


Aqila sampai rumah habis maghrib, dia segera membersihkan dirinya dan menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.


"Kenapa Mas Raffa belum menghubungi aku ya?" gumam Aqila.


Rasa ngantuk mulai menyerang Aqila, hingga tanpa sadar Aqila pun tertidur lelap. Disaat Aqila tertidur, Raffa pun mulai menghubungi Aqila tapi tidak ada jawaban sama sekali.


"Loh kok tidak diangkat sih? apa dia sudah tidur ya, masa baru juga pukul tujuh sudah tidur, tumben," gumam Raffa.


"Kenapa lo cemberut?" tanya Jino.


"Telpon gue tidak diangkat-angkat."


"Yaelah, palingan Aqila sudah tidur."


"Gue rindu tahu, belum melihat wajah istri gue."


"Bukannya tadi pagi lo sudah video callan sama Aqila?"


"Iya, tapi tetap saja masih rindu."


"Dasar bucin lo," ledek Jino.


"Rey..."


"Siap Bos, ada apa?"


"Buatin Mie instan sekarang, aku lapar."


Jino sampai tersedak kopi yang dia minum...


"Serius Bos mau makan mie instan?" tanya Rey tidak percaya.


Sedangkan Jino menyentuh kening Raffa membuat Raffa menepis tangan Jino.


"Apaan sih lo, Jin."


"Lo sakit ya? kenapa dari kemarin permintaan lo aneh-aneh terus, lo itu paling menghindari makan yang namanya mie instan, kan lo bilang makan mie instan itu tidak sehat," seru Jino.


"Bodo amat, pokoknya sekarang gue ingin makan mie instan, buruan Rey buatin mie instannya jangan pakai lama."


"Baik Bos."


Rey pun segera menuju dapur dan membuatkan mie instan untuk Raffa.


"Oh iya, si Jorge kemana?" tanya Raffa.


"Dia lagi keluar sebentar."


Raffa mengotak-ngatik ponselnya dan menghubungi Jorge.


"Jorge, kalau lo pulang belikan gue gorengan ya yang di pinggir jalan, awas kalau sampai lo lupa."


Raffa langsung menutup telponnya, Jino tampak geleng-geleng kepala melihat tingkah aneh sahabatnya itu. Raffa itu sangat menjunjung tinggi hidup sehat, dia tidak pernah makan mie instan atau pun gorengan yang di pinggir jalan dia paling anti tapi kali ini kelakuan Raffa sangat aneh.


"Ini Bos mie instannya."


"Terima kasih, Rey."


Tanpa menunggu lagi, Raffa langsung melahap mie instannya. Jino dan Rey lagi-lagi dibuat melongo dengan kelakuan Raffa.


"Raff, kayanya baunya enak minta dong," seru Jino.


"Enak saja, kalau mau buat saja sana sendiri jangan mengganggu kesenangan orang," sahut Raffa dengan mulut penuh dengan mie.


"Ayolah Raff, satu suap saja."


"Tidak mau."


Raffa langsung berlari meninggalkan semuanya membawa mienya.


"Dasar pelit lo," teriak Jino.


***


Waktu pun berjalan dengan cepat, keempat pria tampan itu begitu sangat bahagia karena hari ini mereka akan pulang dan segera bertemu dengan orang-orang yang mereka cintai.


Raffa sampai di rumahnya pukul sepuluh malam. Rumah sudah terlihat sepi karena penghuni rumah mungkin sudah berada di alam mimpinya masing-masing.


Raffa segera masuk ke dalam kamarnya, Raffa begitu hati-hati membuka pintu karena takut Aqila bangun dan mengganggunya. Disaat Raffa masuk betapa terkejutnya Aqila karena dia pun baru keluar dari kamar mandi.


"Astagfirullah, Mas sudah pulang?"


"Sayang belum tidur?"


Raffa segera menghampiri Aqila dan memeluknya dengan sangat erat.


"Aku sangat merindukanmu."

__ADS_1


"Iya, aku juga rindu sekali sama Mas."


Raffa melepaskan pelukkannya dan menghujani Aqila dengan ciuman di seluruh wajahnya itu.


"Mas mandi dulu sana, aku punya kejutan buat Mas."


"Kejutan apa?"


"Pokoknya Mas mandi dulu."


"Baiklah Tuan puteri."


Raffa pun segera meraih handuk dan masuk kedalam kamar mandi. Sementara Aqila menyiapkan pakaian untuk suaminya itu, setelah selesai mandi dan berpakaian, Raffa menghampiri Aqila yang sedang duduk selonjoran di tempat tidurnya.


"Ada kejutan apa?" tanya Raffa.


Aqila memberikan kotak kecil berwarna hitam itu.


"Apa ini?"


"Bukalah."


Perlahan Raffa membuka kotak itu dan didalamnya terdapat testpack dan foto USG. Raffa tampak mengerutkan keningnya, Raffa tidak tahu dengan benda itu dan tidak mengerti dengan foto USG yang diberikan oleh Aqila.


"Ini apa, Sayang?" tanya Raffa dan membuat Aqila menepuk jidatnya sendiri.


"Ini namanya testpack alat tes kehamilan, Mas bisa lihat kan kalau ada garis dua disini itu tandanya aku positif hamil dan ini adalah foto USG yang kecil ini adalah calon anak kita, Mas."


Raffa mencerna ucapan Aqila, dia masih tidak percaya dengan penjelasan Aqila hingga semenit kemudian Raffa memandang Aqila yang saat ini sedang tersenyum cantik.


"Ma--maksudnya ka--kamu hamil, Sayang?" tanya Raffa dengan terbata-bata.


Aqila meraih tangan Raffa dan menyimpannya di perut Aqila.


"Iya, aku hamil dan sebentar lagi Mas akan menjadi seorang Daddy yang sebenarnya," sahut Aqila.


Mata Raffa berkaca-kaca, dia tidak menyangka akhirnya dia akan menjadi seorang Daddy dari anaknya sendiri. Raffa langsung memeluk Aqila dengan eratnya.


"Terima kasih Sayang, akhirnya aku akan menjadi Daddy dari darah dagingku sendiri."


Raffa melepaskan pelukkannya dan beralih menciumi perut Aqila yang masih rata. Tiba-tiba Raffa terdiam, Aqila merasakan kalau bajunya basah dan ternyata Raffa menangis.


"Terima kasih Nak, sudah hadir di perut Mommy, sehat-sehat ya di dalam jangan buat Mommy kecapean biar Daddy saja yang capek, Daddy ikhlas kok," seru Raffa.


Aqila tidak bisa menahan airmatanya juga tapi Aqila cepat-cepat menghapusnya. Diusapnya kepala Raffa yang masih sibuk menciumi perut Aqila.


"Maaf, aku tidak ada saat kamu lagi kesusahan," ucap Raffa dengan mendongakkan kepalanya.


"Kesusahan apa?"


"Iya kan yang aku dengar, kalau wanita yang lagi ngidam itu suka minta yang aneh-aneh dan aku tidak bisa menemani kamu kemarin-kemarin."


"Oh iya Sayang, kemarin-kemarin aku merasakan aneh loh."


"Aneh kenapa?"


Raffa membenarkan posisinya menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dan Aqila menyandarkan kepalanya ke pundak Raffa.


"Aku disana tiba-tiba ingin makan seblak pedas, padahal aku sama sekali tidak suka pedas tapi disaat aku memakannya, aku tidak merasakan pedas sama sekali, aku juga ingin makan jus wortel, makan mie instan, dan gorengan yang di jual di pinggir jalan, sampai-sampai Jino, Jorge, dan Rey menyangka kalau aku kesurupan karena mau makan makanan yang selama ini paling aku hindari," jelas Raffa.


"Hah, serius Mas?"


"Iya, dan sekarang terjawab sudah kenapa aku bisa aneh seperti itu, mungkin karena aku lagi ngidam kali ya."


"Masa sih Mas? memangnya ada gitu yang ngidamnya malah suami kita?"


"Ya aku juga tidak tahu sih, makannya besok kita periksa lagi sekalian aku mau lihat perkembangan anak kita."


Aqila tersenyum dan menganggukkan kepalanya...


"Ya sudah, sekarang kita tidur sudah malam, Ibu hamil jangan banyak bergadang."


Aqila pun mulai merebahkan tubuhnya dan disusul oleh Raffa.


"Selamat malam, calon Mommy."


"Selamat malam juga, calon Daddy."


***


Sedangkan itu di rumah Jorge, Jorge sangat terkejut melihat pemandangan yang sedang dia lihat sekarang. Di tempat tidurnya itu saat ini sedang tidur Clarissa, Louise, dan Cyra, seketika senyuman Jorge terbit di bibirnya itu.


Ini adalah pemandangan yang sangat membahagiakan untuk Jorge. Semenjak pertemuannya dengan Cyra waktu itu, Clarissa bisa meyakinkan kalau dia sangat menyayangi dan merindukan Cyra, sehingga Cyra dengan mudah menerima Clarissa sebagai Mamanya.


Jorge menghampiri semuanya dan mencium kening ketiganya secara bergantian.


"Jorge, kamu sudah pulang?" tanya Clarissa.


"Maaf Sayang, sudah membangunkanmu."


"Tidak apa-apa."


"Apa sekarang Cyra sudah bisa menerima kita, Sayang?"


"Iya, dan ini semua berkat Aqila yang sudah meyakinkan puteri kita."


"Syukurlah, aku sangat bahagia melihatnya."


"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu sana."

__ADS_1


"Baiklah."


Jorge pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan setelah selesai mandi, Jorge pun bergabung tidur demgan istri dan anak-anaknya. Jorge tidur di sebelah Cyra dan mulai menatap lekat wajah Cyra yang ternyata sangat mirip dengannya, karena sudah kelelahan akhirnya Jorge pun terlelap menuju alam mimpinya.


***


Keesokkan harinya...


Seperti kebanyakan wanita hamil, Aqila pun mengalami morning sick, tapi bagi Raffa yang masih awam mengenai kehamilan, ia bangun dengan panik mendengar suara muntahan dari kamar mandi. Tangannya meraih ponsel, ia terbelalak ketika menyadari saat itu baru pukul empat pagi. Raffa segera turun dari tempat tidur menyusul Aqila.


"Sayang, kamu kenapa?"


"Hoek..hoek.."


Aqila menyemburkan lagi isi perutnya, Raffa berjongkok memijit tengkuk Aqila yang saat ini sedang terduduk di lantai kamar mandi dengan setengah kepalanya berada di bundaran closhet.


"Kita ke rumah sakit ya!!" seru Raffa khawatir.


Aqila menggelengkan kepalanya, Aqila hendak bangun dan Raffa dengan sigap menolongnya menuju wastafel, buru-buru Aqila berkumur dan mencuci mulutnya.


"Ini sudah biasa Mas dialami oleh Ibu hamil," lirih Aqila.


Aqila berbalik dan menyandarkan tubuhnya kepada Raffa dan dengan sigap Raffa menumpu tubuh Aqila yang terlihat sudah lemas itu.


"Peluk aku, Mas," rengek Aqila.


Jika hari biasa rengekkan Aqila yang seperti itu akan membuat Raffa gemas dan akan segera membawa istrinya ke ranjang, tapi kali ini rengekkan Aqila begitu sangat mengharukan bagi Raffa. Sungguh Raffa tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan istrinya itu saat ini, dan Raffa segera memberikan pelukkan terbaiknya sembari mengelus punggung Aqila.


"Mau aku gendong?"


Aqila menganggukkan kepalanya, kakinya benar-benar lemas setelah muntah tadi. Aqila melingkarkan tangannya pada leher Raffa dan wajahnya ia tenggelamkan pada dada bidang milik Raffa.


"Kamu mau makan atau minum apa sekarang? biar aku buatkan untukmu."


"Buatkan aku teh manis hangat, Mas."


"Baiklah kamu tunggu sebentar ya, biar aku buatkan dulu."


Raffa pun segera berlari menuruni tangga dan langsung menuju dapur. Raffa tampak celingukkan mencari letak teh dan gula, seumur-umur Raffa tidak pernah masuk ke dapur, sejak kecil Raffa terbiasa hidup manja dan semua yang dia butuhnkan langsung terpenuhi.


"Aduh teh sama gulanya dimana? terus cara bikinnya seperti apa?" gumam Raffa dengan mengacak-ngacak rambutnya sendiri.


Tiba-tiba pundak Raffa di tepuk oleh seseorang..


"Astaga Bibi, untung aku tidak punya riwayat jantung."


"Tuan sedang apa? jam segini sudah ada di dapur?"


"Itu Bi, Aqila muntah-muntah terus dan sekarang minta dibuatkan teh manis hangat tapi aku tidak tahu dimana letak teh dan gula terus cara bikinnya juga seperti apa?" seru Raffa.


Bi Ria tersenyum geli melihat raut wajah Raffa yang kebingungan seperti itu.


"Tuan duduk dulu, biar Bibi yang buatkan."


Bi Ria pun segera membuatkan teh manis untuk Aqila.


"Ini Tuan sudah jadi."


"Terima kasih ya Bi."


Raffa segera membawa teh manis itu ke kamarnya.


"Ini Sayang teh manisnya."


Aqila meminum teh manis yang dibawakan oleh Raffa dan di bantu oleh Raffa, perutnya merasa enak setelah teh manis hangat masuk kedalam perutnya.


"Maaf Mas, aku sudah merepotkanmu."


"Tidak, justru aku malah senang melakukannya yang terpenting kamu dan anak kita sehat, pokoknya aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaan kalian."


Mata Aqila terlihat berkaca-kaca dan langsung memeluk suaminya itu.


"Terima kasih Mas."


"Sama-sama Sayang, ya sudah sekarang kamu tidur lagi ya kayanya kamu lemas kaya gitu."


Aqila mulai merebahkan kembali tubuhnya, Aqila langsung memeluk Raffa seakan dia takut Raffa akan pergi meninggalkannya.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2