GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Surprise Untuk Aqila


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Waktu berjalan dengan cepat, sekarang waktu sudah menunjukkan pukul dua belas kurang lima belas menit, semua orang sudah berkumpul di depan pintu kamar Aqila dan Raffa.


"Bagaimana Rey?" tanya Jorge.


"Belum di angkat juga."


"Astaga, si Raffa kemana sih? tidurnya pulas amat," gerutu Jino.


Tidak lama kemudian pintu kamar Raffa terbuka, dengan menyimpan telunjuknya di bibir Raffa membuka pintunya dengan pelan-pelan takut membangunkan istrinya itu.


"Lo kemana saja sih? lama banget, kita sampai karatan nungguin lo disini," gerutu Jino.


"Jangan berisik nanti istri gue bangun, gue lagi siap-siap dululah mana Aqila tidurnya pakai baju sexi lagi, susah payah gue bujuk dia untuk ganti baju dulu tadi."


"Yaelah, biarin saja ngapain pakai di ganti segala," goda Jino.


Pletaaakkk....


Raffa memukul kepala Jino..


"Enak saja, tidak boleh ada yang melihat tubuh istri gue selain gue."


"Ya ampun bisa cepetan tidak, aku pegal tahu bawa kue ini," keluh Ranti.


"Ok, tapi kalian jangan sampai teriak-teriak ya gue tidak mau calon anak gue sawan gara-gara teriakkan kalian," ancam Raffa.


"Sudahlah ribet banget kamu Raffa," seru Fathir dengan menerobos langsung masuk ke dalam kamar Raffa.


"Woi, main masuk kamar orang sembarangan," teriak Raffa yang akhirnya membangunkan Aqila.


"Katanya jangan berisik, lah kamu sendiri yang teriak-teriak," cibir Fathir.


"Ini ada apa?" tanya Aqila dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Ya ampun Sayang, suaramu sexi sekali bikin aku ingin memakanmu saja," sahut Raffa yang langsung mengahmpiri Aqila dan memeluknya.


"Happy birtday Aqila," teriak Ranti, Zahra, Clarissa dan Angel.


Seketika mata Aqila yang awalnya masih terpejam langsung melotot membulat.


"Happy birth day, Qila....Happy birth day, Qila..


happy birth day, happy birth day, happy birth day Qila...." semuanya serempak bernyanyi bersama-sama.


"Ya ampun, kalian membuat aku terharu terima kasih ya," seru Aqila dengan merentangkan tangannya kepada sahabat-sahabatnya itu.


Para pria tampan Rey, Jino, Jorge, dan Fathir maju juga mereka tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berpelukan dengan Aqila. Tapi disaat mereka mendekat, tiba-tiba Raffa sudah berada di depan Aqila untuk menghalangi.


"Eittttsss...kalian mau ngapain?" seru Raffa dengan tatapan tajamnya.


"Kita mau ngucapin selamatlah sama Aqila, lo pelit amat sih," keluh Jino.


"Peluk gue saja, gue jadi perwakilan Aqila," sahut Raffa.


"Idih ogah," seru Jino.


"Qila, selamat ulang tahun ya," seru Fathir yang langsung memeluk Aqila.


"Terima kasih Fathir."


Raffa melongo...


"Ah, dasar kurang ajar main peluk-peluk segala kan tadi aku sudah bilang jangan peluk-peluk, kayanya kamu sengaja ya," seru Raffa yang langsung menarik Fathir dan memiting leher Fathir.


"Aduh, kamu apa-apaan sih Raff," teriak Fathir.


"Kamu yang apa-apaan main peluk istri orang sembarangan."


"Noh lihat, mereka juga peluk-peluk Aqila," tunjik Fathir.


Ternyata benar saja, perkelahian antara Fathir dan Raffa membuat ketiga pria lainnya mengambil kesempatan untuk mengucapkan selamat dan memeluk Aqila. Raffa semakin geram dengan tingkah sahabat-sahabatnya itu. Raffa melepaskan fitingannya dan beralih menghampiri ketiga sahabatnya.


"Awas ya kalian sudah memanfaatkan keadaan," geram Raffa.


Tapi disaat Raffa sudah dekat, Aqila langsung berdiri di depan mereka dengan berkacak pinggang.


"Mau ngapain?" tanya Aqila dengan nada galaknya.


"Nah loh, singa betina bangun," seru Jino.


"Sayang minggir, aku mau kasih pelajaran untuk mereka semua karena sudah berani meluk-meluk kamu," sahut Raffa yang tiba-tiba menjadi lembut.


"Mereka hanya mengucapkan selamat untukku Mas, ngapain sih ribet banget lagipula mereka peluk hanya sebatas pelukkan sahabat kepada sahabatnya bukan pelukkan penuh nafsu kaya kamu," ketus Aqila.


"Sayang, tapi tetap saja aku tidak rela kamu di peluk-peluk sama curut-curut ini," rengek Raffa.


"Mas, jangan kamu rusak moment ulang tahun aku karena aku yakin, Mas pasti tidak tahu kan hari ulang tahun aku?" ketus Aqila penuh intimidasi


Skak mat, Raffa diam seribu bahasa di kick oleh istrinya sendiri. Sedangkan yang lainnya langsung merangkul pasangan masing-masing dan bersiul menuju keluar kamar.


"Hai tunggu, kalian mau kemana?" teriak Raffa.


"Kita mau tidur lagi, selamat tidur di sofa," ledek Fathir dengan menjulurkan lidahnya.


"Awas kalian ya."


Semuanya pun akhirnya keluar dan tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Raffa yang berubah ciut saat berhadapan dengan istrinya.


"Sayang, maafkan aku," rayu Raffa dengan gelendotan di bahu Aqila.


"Maaf, maaf dari kemarin bisanya cuma maaf. Mas memang tidak ada niatan mau cari tahu tentang aku," ucap Aqila yang sudah berkaca-kaca.


"Aduh kok jadi nangis sih? Sayang, ini hati ulang tahun kamu, aku ingin kamu bahagia bukannya malah nangis seperti ini."

__ADS_1


"Habisnya, Mas selalu saja tahu tentangku dari orang lain bukannya cari tahu sendiri, berarti Mas tidak benar-benar mencintaiku," ucap Aqila yang saat ini malah sudah berlinang airmata.


"Allohuakbar Sayangku, cintaku, bidadari hatiku, ok aku memang salah tidak mencari tahu semua tentang kamu, tapi dengan aku bisa bertemu lagi denganmu dan memilikimu seutuhnya sudah membuat aku sangat bahagia dan saking bahagianya aku lupa segala sesuatu tentang kamu, apalagi akhir-akhir ini aku sibuk menggarap kamu jadi lupa diri aku kalau sudah dekat denganmu," jelas Raffa.


Ada perasaan was-was yang hinggap di diri Raffa, takut penjelasannya tidak di terima dan Aqila malah marah.


"Maafkan aku Sayang, jangan ngambek lagi ya besok aku suruh Rey buat cari tahu semua tentang kamu," bujuk Raffa.


"Suruh Mas Rey? kenapa Mas tidak bertanya langsung saja kepadaku? kenapa mesti harus nyuruh orang?" ketus Aqila.


"Astagfirullah salah ngomong lagi deh," gumam Raffa.


"Nih."


Aqila menyerahkan bantal kepada Raffa.


"Loh, ini maksudnya apa Sayang?"


"Mas tidur di sofa sana, aku tidak mau tidur dengan Mas."


"Ya sallam, Sayang jangan dong aku tidak bisa tidur kalau tidak memeluk kamu, aku suka takut kalau kamu tidak tidur di samping aku," rengek Raffa.


"Bodo amat, sudah sana aku mau tidur lagi ngantuk."


"Yakin Sayang, kamu nyuruh aku tidur di sofa? memangnya kamu tidak takut tidur sendirian? nanti kalau tiba-tiba ada orang jahat bagaimana?"


"Jangan lebay deh, orangnya itu ya kamu Mas."


Aqila merebahkan tubuhnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Sayang..." rengek Raffa.


"Tidur di sofa atau tidur diluar?" tegas Aqila.


"Astaga Sayang kamu benar-benar kejam pada suamimu ini, ya sudah aku tidur di sofa saja."


***


Keesokan harinya...


Pagi-pagi sekali Raffa sudah bangun, sementara yang lain masih belum bangun. Raffa duduk di balkon penginapan yang langsung menghadap lautan itu sangat indah sekali.


"Mas...." lirih Aqila.


"Iya Sayang ada apa?"


Raffa menghampiri Aqila yang saat ini sudah terduduk di atas tempat tidur. Aqila merentangkan kedua tangannya meminta supaya Raffa memelukknya.


"Ada apa, kok istri ku pagi-pagi sudah manja sih," ucap Raffa dengan memeluk istrinya itu.


"Aku rindu saja sama Mas."


"Setiap hari juga bertemu, masih saja rindu."


Raffa terkekeh mendengar kata-kata istrinya, memang karena faktor hamil, Aqila menjadi semakin manja kepada suaminya.


"Sayang aku punya kejutan buat kamu."


"Ya kalau di kasih tahu bukan kejutan namanya, ayo sekarang mandi dulu habis itu sarapan, nah baru deh kita pergi ke suatu tempat."


"Mas sudah mandi?"


"Belum, nungguin kamu," goda Raffa.


"Ya sudah, yuk kita mandi."


"Asyiiiikkkk."


Raffa dengan semangat mengangkat tubuh istrinya menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi dan siap-siap, Aqila dan Raffa berjalan keluar kamar untuk sarapan.


"Mas, kok sepi sih? semua orang kemana?" tanya Aqila celingukkan.


"Lagi jalan-jalan mungkin."


"Masa pagi-pagi sudah jalan-jalan sih."


"Sudahlah jangan dipikirin, toh mereka sudah pada dewasa juga," sahut Raffa dengan acuhnya.


Setelah selesai sarapan, Raffa mengajak Aqila pergi menggunakan mobilnya. Entah mau di bawa kemana Aqila, yang jelas Aqila tidak banyak bertanya lebih memilih diam saja.


Butuh waktu beberapa lama untuk sampai ke tempat tujuan.


"Sayang, mata kamu harus di tutup dulu."


"Loh kok di tutup sih Mas, kalau aku jatuh bagaimana?"


"Tidak mungkinlah, nanti aku pegangin kamu."


Raffa pun menutup mata Aqila dengan syal yang dia bawa, dengan hati-hati Raffa memapah istrinya itu ke tempat yang sudah Raffa siapkan bersama yang lainnya.


Di tempat itu ternyata semua orang sudah menunggu dengan senyuman sumringah. Raffa memberi isyarat dengan menyimpan telunjuk di bibirnya. Raffa sudah menyiapkan semua ini sejak lama bersama Rey, asisten setianya.


"Sudah sampai belum sih Mas? lama banget."


"Sabar dong Sayang, sebentar lagi."


Akhirnya Raffa dan Aqila pun berhenti di depan sebuah bangunan.


"Kamu siap Sayang?"


"Astaga Mas, aku deg-degan tahu."


"Jangan deg-degan, santai saja Baby. Ok, sekarang aku buka ya penutup matanya."


Perlahan Raffa membukanya, Aqila masih memejamkan matanya.


"Satu, dua, tiga, sekarang kamu boleh buka mata kamu."


"Surprise......." teriak semuanya.


Aqila terkejut, ternyata teman-temannya sudah ada disini semuanya.


"Lihat Sayang, nama penginapan itu," tunjuk Raffa ke sebuah penginapan besar dan lumayan mewah mirip hotel itu.

__ADS_1


"RAQILA BUNGALOWS," gumam Aqila.


Aqila menoleh ke arah Raffa, Raffa tersenyum dan memegang kedua pundak Aqila.


"Bungalow ini sudah sejak lama aku bangun, sebenarnya aku tahu semua tentang kamu, bahkan hal terkecil pun aku tahu cuma kemarin aku pura-pura saja, secara apa sih yang Raffael Abraham tidak tahu apalagi kalau menyangkut kamu wanita yang sangat aku cintai di dunia ini. Aku dedikasikan Bungalow ini untukmu dan aku sengaja memberi nama RAQILA singkatan dari Raffa dan Aqila," jelas Raffa.


Aqila sangat terharu dan meneteskan airmata kebahagiaan, dengan cepat Aqila memeluk Raffa.


"Terima kasih Mas, terima kasih, ini adalah kado paling spesial di hari ulang tahunku, aku sangat mencintaimu Mas."


"Aku juga sangat mencintaimu, Aqila Citra Kirana."


Ranti, Zahra, Clarissa, dan Angel tampak sudah berkaca-kaca merasa terharu dengan adegan di hadapan mereka itu. Bahkan saat ini mereka sudah memeluk pasangan mereka masing-masing.


"Mommy, Daddy...Cyra juga ingin dipeluk," teriak Cyra yang membuat Raffa dan Aqila melepaskan pelukkan mereka.


"Sini Sayang," seru Aqila.


Cyra langsung memeluk Aqila dengan sangat erat.


"Mommy, kapan dedek bayinya lahir? kok lama."


"Iya, masih lama Sayang."


"Kita masuk yuk, kita lihat-lihat dalamnya," ajak Raffa dan langsung menggendong Cyra.


Semuanya masuk ke dalam Bungalow itu, mereka semua tampak berdecak kagum melihat kemegahan yang di suguhkan tempat penginapan yang sekarang menjadi milik Aqila.


"Aqila, you beruntung banget dapat suami Sultan hadiah ultah saja di bangunin Bungalow, apakabarnya nanti kalau anak kalian lahir, bisa-bisa Mas Raffa beliin satu pulau buat you," seru Ranti.


"Ide bagus, Rey cariin pulau yang indah nanti aku beli," seru Raffa.


"Siap bos."


"Gila, Mas Raffa hebat banget dah ah," sahut Zahra.


"Sayang, kamu meremehkan pacarmu ini, aku juga bisa kali beliin kamu pulau," seru Jino dengan sombongnya.


"Huawaaaa...beneran Sayang kamu bisa beliin aku pulau?" tanya Zahra dengan antusiasnya.


"Iya, pulau-pulauan," sahut Jino dengan kekehannya.


"Ih dasar nyebelin, kirain beneran kamu mau beliin aku pulau kaya Aqila."


"Sayang, aku tidak sekaya Raffa kalau kamu mau liburan kemana pun aku siap nganter sampai ke ujung dunia pun, tapi kalau suruh aku beli pulau, aku nyerah. Lagipula kita harus dukung Raffa beliin Aqila pulau, nanti juga kita ikutan enaknya," seru Jino.


"Iya betul, Raffa yang keluar uangnya kita yang ikutan senangnya," sambung Jorge.


"Kalian jangan begitulah, karena aku yang capeknya kalau si bos banyak maunya aku juga yang harus kesana kemari, kasihan kan bebeb aku jadi tidak diperhatikan," sahut Rey dengan merangkul pundak Ranti.


Mereka semua tampak bahagia, saat ini Aqila sedang berdiri di balkon sebuah salah satu kamar. Raffa berjalan mendekatinya dan memeluk Aqila dari belakang.


"Apa kamu bahagia, Sayang?"


"Sangat, sangat bahagia, terima kasih ya Mas sudah membuat aku menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini."


"Kamu tahu, aku juga membangun RAQILA'S HOTEL di Bali."


Aqila membalikkan tubuhnya sehingga menghadap ke arah Raffa.


"Serius kamu Mas?"


"Seriuslah masa bohong."


"Ya ampun, kamu jangan terlalu berlebihan seperti ini Mas, jangan buang-buang uang hanya untuk membahagiakan aku, itu sangat ber-----"


Ucapan Aqila terhenti saat bibir Raffa dengan gemasnya membungkam bibir Aqila. Sesaat mereka saling menumpahkan segala kebahagian dan rasa cinta yang kian hari kian berkembang semakin besar.


Raffa melepaskan pungutannya dan terakhir mencium kening Aqila.


"Kamu lebih berharga di bandingkan dengan uang, jadi aku akan melakukan apapun untuk bisa membahagiakan kamu Sayang, walaupun itu nyawaku taruhannya."


Aqila tersenyum dan kembali memeluk Raffa.


"Di dalam lemari sana, ada sebuah gaun untukmu nanti malam aku mau mengajakmu dinner berdua."


"Baiklah suamiku."


"Ya sudah, sudah siang sebentar lagi jam makan siang kita turun ke bawah semuanya sudah menunggu kita," ajak Raffa.


Ternyata benar saja, semuanya sudah menunggu kedatangan Raffa dan Aqila.


"Yaelah Raff, kamu tidak bisa lihat kamar sebentar saja bawaannya pengen ngamar mulu kamu," ledek Fathir.


"Iya nih, kita sudah menunggu lama banget lihat tuh Cyra sama Louise sampai ketiduran nungguin kalian," sambung Clarissa.


"Entahlah, setiap gue lihat wajah Raffa dan Aqila otak mesum gue traveling kemana-mana," goda Jino.


"Dasar omes."


Raffa melempar Jino dengan sayuran yang ada di atas salad yang baru saja di hidangkan.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2