GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Semua Karena Aqila


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Raffa berjalan menyusuri bibir pantai, suasana pantai pada malam hari sungguh hening hanya deburan ombak yang terdengar. Sementara Aqila sudah susah payah mengejar Raffa tapi tetap saja tidak terkejar.


Raffa berdiri di pinggir pantai sembari menatap lautan yang gelap dan tak berujung itu. Dalam hatinya Raffa merutuki dirinya sendiri karena tidak mengetahui segala sesuatu tentang istrinya, malah orang lain yang lebih tahu mengenai istrinya.


Aqila berjalan mendekati Raffa, sendalnya sudah dia lepas dan tasnya pun sudah dia jatuh di atas pasir. Aqila memeluk Raffa dari belakang dan Raffa tampak memejamkan matanya merasakan pelukkan orang yang dia cintai itu.


"Maafkan aku Sayang, aku tidak tahu mengenai dirimu, bahkan makanan kesukaan dan yang tidak kamu sukai saja aku tidak tahu, aku sungguh suami yang payah," seru Raffa.


Aqila menggelengkan kepalanya di punggung Raffa dan melepaskan pelukkannya. Raffa membalikkan tubuhny menghadap ke arah Aqila.


"Mas tidak perlu minta maaf, Mas tidak salah kok," sahut Aqila dengan mengusap pipi Raffa.


Raffa sangat senang dengan sentuhan lembut istrinya, itu merupakan hal yang selalu dia rindukan jikalau jauh dengan istrinya.


"Kenapa dia lebih tahu kamu dibanding aku?"


"Mas, jauh sebelum aku bertemu denganmu, aku dan Fathir sudah bersahabat, bahkan kita sering jalan bareng, makan bareng, jadi jelaslah dia tahu segalanya tentang aku."


"Hah..jalan bareng, makan bareng? tapi kalian tidak ngapa-ngapain kan?"


"Ya tidaklah, memangnya mau ngapain? lagipula kita jarang jalan berdua, pasti ada Ranti dan Zahra yang menemani."


"Tetap saja, aku adalah suami yang payah tidak tahu apa-apa tentang istrinya sendiri, malah orang lain lebih tahu tentang kamu, aku benar-benar suami yang tidak ber----"


Ucapan Raffa terhenti karena Aqila berjinjit dan membungkam bibir Raffa dengan bibirnya. Sesaat Raffa menikmati ciuman yang diberikan oleh istrinya itu. Aqila tahu Raffa saat ini sedang sangat emosi, Aqila bisa merasakannya dari detak jantung Raffa yang berdetak sangat cepat.


Kriuuukkk...kriuuukkk...kriuuukkkk...


Aqila melepaskan pungutannya, dan saling pandang dengan Raffa sebelum keduanya saling tertawa terbahak-bahak.


"Mas, lapar?"


"Iyalah, dari tadi siang aku belum makan," sahut Raffa nyengir.


"Ya sudah, kita pesan makanan saja dan suruh antarkan makanannya ke penginapan, bagaimana?"


"Iya, ide bagus aku malas bertemu dengan orang itu."


Aqila pun merangkulkan tangannya ke lengan Raffa, Raffa mengambil sendal dan tas Aqila yang tergeletak di atas pasir. Aqila semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh Raffa.


"Kenapa?"


"Dingin Mas."


Raffa menghentikan langkahnya dan meleaskan jas yang di pakainya kemudian ia kenakan kepada Aqila.


"Bagaimana, masih dingin?"


"Lumayan, sudah tidak sedingin tadi."


"Tenang saja, nanti malam aku hangatkan kamu," goda Raffa dengan mengedipkan sebelah matanya.


Aqila hanya mendelikkan matanya ke arah Raffa.


Sementara itu, suasana makan malam bersama di restoran tepi pantai itu menjadi sedikit terganggu gara-gara ulah Fathir.


"Teman kalian itu kenapa sih? suka banget kayanya cari gara-gara sama si Raffa?" seru Jino.


"Bukan cari gara-gara, tapi menurut aku tepatnya Fathir itu memberi tahu kepada Raffa cuman Raffanya saja yang terlalu cemburuan," sahut Ranti.


"Nah, sudah tahu Raffa cemburuan masih saja cari penyakit," seru Jino.


"Jangan bilang kalau pria tadi suka kepada Aqila?" seru Jorge.


"Bukannya pria itu yang dulu datang ke rumah Mas Raffa dan membawa Aqila pergi," sambung Clarissa.


"Fathir memang sudah sejak lama menyukai Aqila, tapi dia tidak berani mengatakannya dan Fathir baru mengatakannya saat Aqila sudah menjadi istrinya Raffa," sahut Zahra.


"Apa dia datang kesini untuk menghancurkan liburan kita?" tanya Rey.


"Tidaklah Yang, Fathir bukan orang yang seperti itu dan aku yakin kalau Fathir tidak ada maksud apa-apa tadi," sahut Ranti.


Angel dan Linda hanya menyimak dan mendengarkan tidak ada niat untuk ikut mengobrol.


"Maaf, aku duluan ya," seru Angel.


"Ok."


Sedangkan Linda, dia terus saja duduknya merapat ke dekat Rey dan mencoba mendekati Rey.


"Hai, ngapain kamu dempet-dempet Bebeb aku?" bentak Ranti.


"Yaelah biasa saja kali ngomongnya jangan pakai sewot segala," sahut Linda.


"Yuk Beb, kita pergi saja," ajak Ranti dengan menarik tangan Rey.


"Sayang, sepertinya kita juga harus pergi deh, takut kamu di embat juga," seru Zahra yang langsung menarik tangan Jino.


"Ih, kok semuanya pada pergi sih?" gumam Linda.


"Pa, ke penginapan yuk takutnya anak-anak bangun," ajak Clarissa."


"Yuk."


"Benar-benar kalian menyebalkan," gerutu Linda.

__ADS_1


Angel buru-buru pergi dan berniat ingin menui Fathir, tapi di saat Angel baru saja mau mengetuk pintu kamar Fathir, pintunya terbuka.


"Kamu mau ngapain?" tanya Fathir.


"Bisa kita bicara sebentar."


"Mau bicara apa? aku lagi tidak ingin berdebat, aku lagi ingin sendiri," sahut Fathir yang melangkahkan kakinya meninggalkan Angel.


Sedangkan Aqila yang berniat ingin mencari angin di depan penginapannya, harus cepat-cepat bersembunyi di saat mendengar perbincangan antara Angel dan Fathir.


"Tidak bisakah kamu melupakan Mbak Aqila?" teriak Angel dan membuat Fathir menghentikan langkahnya.


"Walaupun kita belum lama bertemu tapi aku benar-benar menyukaimu dan aku benar-benar mencintaimu, apa kamu tidak bisa melihat rasa cintaku yang begitu besar untukmu?" tanya Angel.


Fathir terdiam sama sekali tidak bergeming, perlahan Angel melangkah mendekati Fathir dan dalam hitungan detik, Angel langsung memeluk Fathir dari belakang. Fathir merasakan bajunya basah dan itu adalah berasal dari airmata Angel.


"Tolong lupakan Mbak Aqila, dia sudah bahagia dengan Pak Raffa jangan kamu mengganggu mereka, berikan kesempatan untukku mengisi ruang di hatimu," seru Angel.


Fathir melepaskan tangan Angel yang melingkar di perutnya, tanpa menoleh sedikit pun kepada Angel, Fathir langsung meninggalkan Angel.


Hati Angel begitu sakit mendapatkan perlakuan seperti ini dari Fathir, Angel menangis sejadi-jadinya. Aqila melihat dengan perasaan sedih kala Angel tidak di hiraukan oleh Fathir. Perlahan Angel membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam kamarnya.


Fathir duduk di atas pasir, hati dan pikirannya kacau entah apa yang saat ini dia rasakan. Disaat Fathir menyaksiakan Aqila dan Raffa dekat, tidak ada lagi rasa cemburu yang menguasainya malah saat ini Fathir hanya ingin melihat Aqila bahagia.


"Boleh aku duduk?"


Fathir mendongakkan kepalanya..


"Qilla, ngapain kamu kesini? kamu itu sedang hamil tidak baik malam-malam begini keluyuran, angin malam sangat tidak baik untuk kesehatan."


"Kalau sudah tahu tidak baik, kenapa kamu malam-malam duduk disini?" tanya Aqila.


"Lebih baik kamu kembali ke penginapan, lagipula kalau Raffa sampai tahu dan melihat kita seperti ini, bisa-bisa aku disembelih sama suamimu yang posesif dan cemburuan tingkat dewa itu."


Bukannya pergi, Aqila malah duduk di sebelah Fathir.


"Mas Raffa sudah tidur dan biasanya dia tidur tidak akan bangun kecuali mengigau dia," sahut Aqila.


"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadamu Fathir."


"Apa? kamu mau tanya apa?"


"Tadi aku tidak sengaja sempat melihat kamu dengan Angel, kenapa kamu tidak mau menerima Angel? dia anak yang cantik, baik pula."


"Aku sedang memantapkan diri aku sendiri yang terluka dan banyak dosa."


"Fathir, maaf karena aku sudah membuatmu terluka dan karena aku pula kamu menjadi seperti ini."


"Sudahlah, ini semua bukan salah kamu aku yang terlalu egois ingin mendapatkanmu. Kamu adalah wanita pertama yang mengisi hatiku dan kamu adalah wanita pertama yang bisa membuatku jatuh cinta tapi kamu juga wanita yang pertama membuat aku patah hati."


"Maafkan aku Fathir," lirih Aqila dengan menundukkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, aku sekarang sudah bisa menerimanya. Maaf atas kelakuanku tadi, aku hanya ingin mengetes Raffa saja, seberapa cintanya dia terhadap kamu dan ternyata dia sangat mencintai kamu, aku bisa melihatnya dari sorot matanya dan aku sekarang sudah tenang."


"Iya aku tahu."


"Sekarang giliran kamu yang harus move on, kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik daripada aku, dan aku lihat Angel adalah wanita yang baik. Jangan kamu sia-siakan wanita yang mencintaimu karena kamu akan merasa kehilangan wanita itu saat wanita itu sudah pergi dari hidupmu. Berbahagialah Fsthir, kamu pantas bahagia dan aku yakin Angel akan bisa membahagiakanmu."


"Entahlah Qilla, aku masih saja ragu dengan perasaanku ini."


"Ragu kenapa?"


"Jujur sekarang sudah tidak ada rasa cemburu saat kamu bermesraan dengan Raffa, aku juga bingung padahal dulu lihat kamu dekat saja dengan Raffa aku sudah kesal."


"Berarti sekarang sudah tidak ada lagi cinta untukku dihatimu, bagus kamu bisa move on dan isilah hatimu dengan cinta baru."


"Terima kasih ya Qilla karena kamu sudah menyadarkan aku."


"Kejarlah Angel sebelum dia pergi meninggalkanmu."


Aqila menepuk pundak Fathir dan beranjak dari duduknya. Kemudian tanpa banyak bicara Aqila pun pergi meninggalkan Fathir yang saat ini sedang termenung memikirkan kata-kata yang barusan Aqila bicarakan.


Sesampainya di kamar penginapan, ternyata Raffa masih terlelap tidur. Aqila pun membersihkan dirinya dan mulai merebahkan tubuhnya di samping Raffa, perlahan tapi pasti mata Aqila mulai terpenjam dan menuju alam mimpinya.


"Mas, maafkan aku Mas, aku sudah tidak bisa lagi bersama Mas, aku ingin kita bercerai," seru Aqila dengan deraian airmatanya.


"Sayang, jangan tinggalkan aku, aku tidak mau kita bercerai aku sangat mencintaimu Aqila."


"Tapi Mas, aku tidak mencintaimu yang aku cintai hanyalah Fathir," sahut Aqila dengan menggandeng tangan Fathir.


"Aqila, jangan tinggalkan aku bagaimana dengan anak dalam kandungan kamu itu adalah anak kita," rengek Raffa.


"Anak dalam kandungan Aqilla biar aku yang mengurusnya kamu tidak usah khawatir," seru Fathir dengan senyumannya.


"Brengsek kamu Fathir, kamu sudah merebut wanita yang aku cintai, Ibu dari anakku," bentak Raffa hendak memukul Fathir tapi dengan sigap Fathir menahannya.


"Terima saja kekalahanmu Raffa, Aqilla lebih memilihku di bandingkan kamu," seru Fathir balik memukul Raffa sehingga Raffa tersungkur seketika.


Fathir dan Aqila pergi meninggalkan Raffa yang saat ini sedang meratapi kekalahannya.


"Tidaaaaaakkkkk....Aqila jangan tinggalkan aku," teriak Raffa dan terduduk dengan wajah penuh keringat.


"Astagfirullah Mas, Mas kenapa? Mas mimpi buruk?" tanya Aqila panik.


Raffa menoleh ke arah Aqila dan langsung memeluknya dengan deraian airmata.


"Sayang, jangan tinggalkan aku, aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu."


Aqila melepaskan pelukkannya...


"Ya ampun, kenapa Mas nangis?" tanya Aqila dengan mengusap airmata di pipi suaminya itu.


"Aku bermimpi kamu pergi bersama Fathir dan meninggalkan aku."


"Astaga Mas, kamu sampai segitunya."

__ADS_1


"Aku sangat takut kehilangan kamu, Sayang. Tolong jangan tinggalkan aku Aqila, aku tidak bisa hidup tanpamu."


Mata Aqila sampai berkaca-kaca melihat Raffa yang sekarang sangat berbeda dengan Raffa yang dulu. Kalau dulu Raffa terkesan tidak peduli dengan Aqila tapi sekarang kebalikannya, Raffa sangat takut akan kehilangan istrinya itu.


Aqila menciumi seluruh wajah Raffa...


"Aku tidak akan pernah meninggalkan kamu Mas, jadi kamu jangan khawatir."


Raffa tersenyum dan memeluk Aqila dengan eratnya.


"Aku takut Aqila, sangat takut mimpi aku barusan serasa asli."


"Masih malam, yuk tidur lagi."


Kali ini bukan Aqila yang tidur dalam pelukkan Raffa tapi malah sebaliknya, Raffalah yang tidur di pelukkan Aqila. Raffa memeluk perut Aqila sembari sesekali mengusap perut Aqila yang sudah mulai sedikit menonjol.


Sedangkan Aqila mengusap kepala Raffa dengan sekali-sekali menciuminya. Tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus dari Raffa pertanda Raffa sudah tertidur. Aqila tersenyum, Aqila sangat beruntung mempunyai suami seperti Raffa yang sangat mencintainya.


***


Keesokkan harinya...


Angel membereskan kembali barang-barangnya, dia memutuskan untuk pulang percuma berada disini juga kalau hati Angel merasa sakit tidak bisa mendapatkan hati Fathir.


"Loh, Ngel kamu mau kemana?" tanya Zahra yang berada di depan pintu kamar Angel yang berniat ingin mengajak Angel sarapan bersama.


"Maaf Zahra, sepertinya aku mau pulang saja, maaf ya tolong bilangin kepada semuanya aku duluan," ucap Angel dengan menggeret kopernya.


Zahra tidak bisa berbuat apa-apa dia hanya mampu melihat kepergian Angel. Zahra pun memutuskan untuk bergabung dengan yang lainnya.


"Loh, Angelnya mana?" tanya Ranti.


"Angel pulang."


"Apa?" sahut Ranti dan Aqila bersamaan.


Aqila ingat dengan kejadian semalam, Aqila beranjak dari duduknya.


"Kamu mau kemana, Sayang?" tanya Raffa menahan tangan Aqila.


"Mau menemui Fathir."


Raffa menatap tajam ke arah Aqila karena ingat dengan mimpinya.


"Please Mas, aku harus menemui Fathir sebelum semuanya terlambat."


"Baiklah, tapi aku ikut."


Aqila pun mengangguk dan dengan cepat menuju ke kamar Fathir. Sekali-sekali Aqila berlari-lari kecil sehingga membuat Raffa harus terus berteriak mengingatkan Aqila.


Tok..tok..tok..


"Fathir, buka pintunya," teriak Aqila.


Pintu pun terbuka, menampilkan Fathir yang baru saja selesai mandi. Fathir menoleh ke arah Raffa.


"Qila, ada apa?"


"Thir, Angel pulang barusan."


"Apa?"


"Cepat susul dia sebelum semuanya terlambat," seru Aqila.


"Tapi Qila----"


"Kenapa? aku tahu kamu juga sudah mulai ada perasaan kan kepada Angel, cepat susul dia atau kamu akan menyesal," sentak Aqila.


Fathir pun segera keluar dan menutup pintunya, Fathir hendak berlari.


"Tunggu," seru Raffa.


Fathir pun membalikkan badannya dan dengan sigap menangkap kunci yang di lempar oleh Raffa.


"Pakai mobil ku."


"Terima kasih Raff, terima kasih Aqila," ucap Fathir dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Hai, berani sekali kamu---" teriak Raffa.


Fathir tertawa puas dan langsung berlari menuju parkiran penginapan dan segera menyusul Angel. Lagi-lagi Fathir puas karena sudah berhasil membuat Raffa cemburu.


"Tunggu aku Angel, semoga saja aku tidak terlambat," gumam Fathir dengan melajukan mobil milik Raffa.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2