GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Honey Moon


__ADS_3

πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Warning..


Area 21+...


***


"Mas, turunin aku takut," seru Aqila dengan memukul-mukul pundak Raffa.


"Aku bahagia banget, akhirnya kamu mau menerima dan memaafkan aku."


"Iya tapi turunin dulu."


Raffa pun menurunkan tubuh Aqila dan memeluknya dengan sangat erat.


"Sumpah, aku bahagia sekali hari ini."


"Maafkan aku ya Mas sudah membuatmu menunggu," sesal Aqila.


"Tidak apa-apa, tunggu sebentar."


Raffa melepaskan pelukkannya dan terlihat menghubungi seseorang, sementara Aqila tampak celingukkan melihat-lihat suasana ruangan Raffa yang sangat mewah menurut Aqila.


Raffa memeluk Aqila dari belakang...


"Sayang."


"Iya Mas."


"Kita berangkat bulan madu sekarang."


"Apa?"


Aqila membalikkan tubuhnya menghadap Raffa dan menatap Raffa dengan tatapan tidak percaya.


"Jangan bercanda deh Mas, tidak lucu."


"Siapa yang bercanda, kita berangkat naik jet pribadiku sekarang."


"Apa? Mas, aku belum ada persiapan apapun mana belum beres-beres barang-barang yang mau dibawa," keluh Aqila.


"Buat apa kamu punya suami pengusaha sukses dan terkaya se-ASIA Tenggara kalau kamu masih ribet mikirin semuanya, sudahlah masalah pakaian atau apapun itu kita beli saja jadi kamu jangan khawatir," sahut Raffa.


"Tapi----"


Ucapan Aqila terhenti karena ponsel Raffa berbunyi dan Raffa langsung mengangkat telponnya. Setelah selesai berbicara lewat sambungan telpon, Raffa pun memutuskan panggilannya.


"Ayo, kita berangkat jet pribadiku sudah menunggu di rooftop," ajak Raffa dengan menarik tangan Aqila.


"Kamu serius, Mas? apa tidak bisa besok lagi?" rengek Aqila.


"Tidak bisa, kalau ditunda-tunda lagi bisa-bisa kamu berubah pikiran."


Raffa menggenggam tangan Aqila dan menariknya keluar dari ruangannya. Raffa dan Aqila masuk ke dalam lift menuju rooftop, dan benar saja jet pribadi milik Raffa sudah berada disana.


"Selamat siang, Tuan, Nyonya!!" sapa Rey.


"Siang Rey, tolong untuk beberapa hari kedepan kamu urus perusahaan jangan pernah hubungi aku kalau tidak ada urusan penting," seru Raffa.


"Baik Tuan."


"Kalau begitu aku berangkat dulu."


"Iya Tuan, hati-hati semoga perjalanan kalian menyenangkan," ucap Rey dengan membungkukkan badannya.


Raffa pun menarik lengan Aqila untuk memasuki jet pribadi itu. Perlahan Jet pribadi Raffa mulai terbang dan meninggalkan kota Jakarta.


"Mas, kita mau kemana?"


"Kita ke Amerika, kamu belum lihat kan mansion aku yang ada disana?"


"Apa? Amerika?"


"Kenapa? memangnya kamu mau kemana? bahkan kalau kamu mau, kita akan keliling dunia," seru Raffa dengan santainya.


"Apa ini tidak terlalu berlebihan? bagaimana kalau kita ke Bali saja atau pulau Lombok, disana juga tidak kalah indah dengan pemandangan di luar negeri, sayang uangnya kalau dipakai jalan-jalan ke luar negeri," seru Aqila dengan polosnya.


"Astaga Aqila, aku selama ini bekerja keras dan mencari uang yang banyak hanya untuk membahagiakan orang-orang yang aku sayangi, uang aku itu tidak akan habis sampai tujuh turunan Sayang, aku tidak akan menjadi bangkrut hanya untuk jalan-jalan keliling dunia, jadi kamu tenang saja."


"Tapi Mas---"


"Stop Aqila, kok kamu cerewet sekali sih hari ini lama-lama aku terkam kamu disini, mau?" ancam Raffa.


"Ok, aku diam."


Aqila langsung diam seketika dan itu membuat Raffa semakin gemas dan ingin cepat-cepat sampai di Mansionnya. Butuh waktu yang panjang untuk sampai di Amerika, sesampainya disana sudah ada mobil yang menunggu kedatangan Aqila dan Raffa.


Kebetulan saat ini sedang musim panas, jadi Aqila tidak salah kostum.


"Kita mau kemana, Mas?" tanya Aqila.


"Kita pulang ke Mansion dulu."


"Cyra kok tidak diajak, Mas?"


"Ya ampun Qila, kalau Cyra di ajak namanya bukan honeymoon tapi liburan. Lagipula kalau dia ikut pasti akan menghancurkan honeymoon kita."

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mobil Raffa masuk ke pekarangan rumah bak istana itu sangat mewah dan megah melebihi rumah yang ada di Indonesia.


"Astaga Mas, rumahnya besar sekali," ucap Aqila terkagum-kagum.


Raffa hanya tersenyum dan menggenggam tangan Aqila. Sesampainy di dalam rumah, para pelayan yang tak kalah banyak dengan pelayan yang ada di Indonesia semuanya membungkukkan badannya saat mengetahui Tuan rumah datang.


Raffa tidak menanggapinya dan langsung membawa Aqila ke lantai atas, Aqila hanya bisa menurut dengan pandangan Aqila menyisir setiap sudut rumah itu.


"Kamu kenapa, Sayang?"


"Kok aku baru tahu ya kalau suami aku itu sangat kaya," goda Aqila.


"Kamu baru menyadarinya? ini belum seberapa, seharusnya kamu beruntung karena suamimu ini sudah tampan, sangat kaya pula, semua wanita diluaran sana sangat menginginkan aku tapi sayangnya wanita yang aku cintai itu cuma kamu seorang," ucap Raffa dengan mengedipkan matanya.


"Terima kasih Sayang, i love you," sahut Aqila dengan mencium pipi Raffa.


Raffa yang mendapat serangan seperti itu semakin gemas dan tanpa aba-aba lagi Raffa mengangkat tubuh Aqila.


"Mas, malu tahu dilihat semua pelayan Mas."


"Bodo amat."


Sesampainya di kamar, Raffa merebahkan tubuh Aqila dan dengan cepat Raffa mengunci kamarnya. Perasaan Aqila sangat tidak menentu, jantungnya berdetak tak karuan. Disaat Raffa mulai mendekati Aqila, Aqila beranjak dari duduknya.


"Sebentar Mas, sepertinya aku harus mandi dulu tidak enak," seru Aqila dengan gugupnua.


Tapi sayang Raffa menarik tangan Aqila..


"Nanti saja mandinya bareng."


"Tapi Mas---"


Ucapan Aqila terpotong karena Raffa dengan tidak sabarnya langsung mendaratkan ciumannya di bibir Aqila, Aqila hanya bisa pasrah karena melawan pun percuma Raffa sudah dikuasai oleh hawa nafsunya.


Tanpa melepaskan pungutannya, Raffa kembali mengangkat tubuh Aqila dan perlahan membaringkannya di atas tempat tidur. Raffa melepaskan pungutannya dan menatap ke arah Aqila.


"Apa aku boleh melakukannya?" tanya Raffa dengan tatapan yang sudah berkabut.


Dengan malu-malu, Aqila pun menganggukkan kepalanya. Seperti mendapat doorprise, hati Raffa sangat bahagia karena Aqila sudah mengizinkannya, dengan tidak sabaran Raffa merobek pakaian Aqila sehingga hanya tersisa pakaian *****nya saja.


Reflek Aqila menyilangkan tangannya di dada tapi Raffa menahannya. Raffa melotot melihat pemandangan indah di hadapannya, bahkan Raffa sudah beberapa kali menelan salivanya, sementara Aqila tampak memalingkan wajahnya karena merasa malu.


Raffa mulai membuka *** Aqila sehingga saat ini tubuh bagian atas Aqila tampak polos, nafsu Raffa semakin memuncak saat melihat sesuatu yang tampak indah, Raffa mulai membenamkan wajahnya disana.


"Emmmpphhh....Mas," lirih Aqila dengan menjambak rambut Raffa.


Raffa yang mendengar ucapan Aqila yang tampak sexi itu, semakin bringas dan tak terkendali, dia melepaskan semua pakaiannya dan melemparnya ke sembarang arah dan terakhir Raffa melepaskan ****** ***** milik Aqila.


Raffa kembali ******** tubuh Aqila dengan bringasnya membuat Aqila menggeliat kesana kemari. Raffa sudah tidak sabar lagi, akhirnya dia mencoba menyatuhan tubuh mereka berdua tapi sangat sulit bahkan Aqila sudah meneteskan airmatanya.


"Mas."


"Tahan Sayang, sedikit lagi."


Pelan tapi pasti, Raffa mulai memainkan ritme tubuhnya. Aqila yang awalnya merasakan sakit yang luar biasa, lama kelamaan sudah sedikit berkurang dan mulai menikmati permainan yang Raffa lakukan.


"Terima kasih Sayang, mulai sekarang kamu adalah milikku seutuhnya tidak boleh ada yang menyentuh dirimu selain aku, kamu dengar kan Sayang?"


Aqila menganggukkan kepalanya dan mengeratkan pelukkannya.


"Jangan tinggalkan dan sakiti aku lagi Mas, karena kalau sampai kamu melakukan semua itu lagi, kali ini aku bukan hanya akan pergi dari hidupmu tapi aku akan pergi dari dunia ini," lirih Aqila.


Raffa sangat terkejut mendengar ucapan Aqila, tiba-tiba Raffa merasakan kalau dadanya basah, disaat dilihat ternyata Aqila menangis.


"Sayang, kamu kenapa kok nangis? maafkan aku Sayang."


"Mas, aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini hanya Eyang dan kamu yang aku punya saat ini, jangan pernah tinggalkan aku Mas."


Raffa sangat sakit mendengar Aqila berbicara seperti itu, Raffa sangat bodoh karena dulu sudah menyakiti Aqila.


"Maafkan aku Sayang, aku janji tidak akan menyakitimu lagi, aku akan menjaga dan melindungi kamu, maaf-maafkan aku," ucap Raffa.


Raffa kembali memeluk Aqila dan menghujani ciuman di pucuk kepala Aqila. Setelah itu, Aqila berpikir kalau Raffa akan tidur karena perjalanan panjangnya tapi ternyata pikiran Aqila salah, Raffa terus saja minta tambah entah berapa ronde yang mereka lakukan.


"Mas, sudah ya aku capek," lirih Aqila disela-sela kegiatannya, Raffa masih dengan khusunya menggarap Aqila.


Erangan pelepasan Raffa yang entah ke berapa kalinya pun terdengar. Raffa beranjak dari tubuh Aqila sementara Aqila sudah tidak berdaya lagi, matanya sudah tidak bisa terbuka saking capek dan lelahnya.


"Apa kamu sudah ngantuk, Sayang?"


"Astaga Mas, aku bukan ngantuk lagi tapi sudah capek dan lelah. Ya ampun tenaga kamu itu sungguh luar biasa," keluh Aqila.


"Hebat kan suamimu ini, padahal tadinya aku mau ngajak kamu dua ronde lagi."


Aqila langsung melotot...


"Kamu mau membunuh aku, Mas?" tanya Aqila tidak percaya.


"Mana mungkin aku mau membunuhmu Sayang, aku itu sangat mencintai kamu, siapa suruh coba kamu punya tubuh sexi sekali membuat aku semakin tidak bisa menahan diriku saja."


"Alasan saja."


Aqila membalikkan tubuhnya membelakangi Raffa, Raffa kembali memeluk Aqila dan menciumi pundak polos Aqila bahkan tangannya yang tidak tahu diri itu sudah berkeliaran kemana-mana.


"Mas, bisa tidur tidak? kalau tidak, jangan harap kamu akan mendapatkan jatah lagi dari aku," ancam Aqila.


"Loh kok gitu?"


"Tidur, aku ngantuk."


"Tapi Sayang, tanggung sekali lagi ya," bujuk Raffa.


"Tidak."


"Ayolah Sayang."

__ADS_1


Aqila tidak mendengarkan ocehan dan rengekan Raffa, akhirnya saking tidak kuatnya Aqila sudah tertidur menuju alam mimpinya. Raffa yang sadar sudah tidak ada lagi pergerakkan dari Aqila, terbangun dan melihat kearah Aqila.


Aqila sudah terlelap tidur dengan pulasnya, Raffa pun tersenyum dan mencium kepala Aqila, akhirnya Raffa pun memeluk Aqila dari belakang dan ikut menyusul Aqila ke alam mimpinya.


***


Keesokkan harinya...


Aqila mulai meregangkan otot-otot tangannya, tubuhnya serasa remuk akibat ulah Raffa. Aqila mengambil ponselnya dan melihat pukul berapa, tiba-tiba mata Aqila melotot dengan sempurnanya.


"Ya ampun, Mas," teriak Aqila yang langsung bangun dari tidurnya.


Raffa sampai terkejut...


"Ada apa Sayang kok teriak-teriak sih?" tanya Raffa dengan suara serak khas bangun tidur.


"Mas, ini sudah jam sebelas siang kita bangun kesiangan," teriak Aqila.


"Astaga Sayang, sudah diam telinga aku sakit mendengar kamu teriak-teriak seperti itu."


"Ih dasar ya, kita sudah melewatkan sarapan dan sebentar lagi kita masuk waktu makan siang. Aku baru pertama kali ini bangun sampai sesiang ini," celoteh Aqila.


Aqila langsung beranjak dari tempat tidur, tapi baru saja satu langkah, Aqila terjatuh ke lantai."


"Aw..."


Raffa langsung melompat dari tempat tidur menghampiri Aqila.


"Kenapa Sayang?"


"Sakit, Mas."


Raffa mengangkat tubuh Aqila dan mendudukkan Aqila di tepi ranjang.


"Ya sudah, sebentar aku siapkan dulu air hangatnya biar kamu merasa nyaman."


Raffa segera berlari ke kamar mandi dan memenuhi bathup dengan air hangat, setelah dirasa cukup Raffa kembali menghampiri Aqila dan kembali mengangkat tubuh Aqila masuk ke dalam kamar mandi dan memasukkan Aqila ke dalam bathup secara perlahan.


"Bagaimana?"


"Lumayan nyaman, Mas."


"Apa aku juga boleh ikutan berendam?"


"Tidak, Mas keluar nanti aku dulu setelah aku selesai baru giliran kamu, Mas."


"Tidak bisa barengan gitu?"


"Big no."


Dengan sangat terpaksa, akhirnya Raffa pun menuruti keinginan Aqila dan keluar dari kamar mandi. Raffa menghibungi pelayang yang ada di dapur, supaya segera menyiapkan makan siang karena sebentar lagi mereka akan turun.


Tidak lama kemudian, Aqila pun selesai mandi.


"Mas, bajuku mana? aku kan tidak bawa baju sama sekali," rengek Aqila.


"Kamu buka saja lemari itu," tunjuk Raffa sembari melangkah ke kamar mandi.


Aqila membuka lemari yang di maksud oleh Raffa, lagi-lagi Aqila melotot dan menutup mulutnya saking tidak percayanya. Bagaimana Aqila tidak terkejut, saat melihat pakaian wanita berjejer di sana tentu saja pakaian-pakaian yang bermerk semua.


Saking terkejutnya dengan isiblemari itu, Aqila sampai tidak sadar ada tangan kekar melingkar di perutnya.


"Kok kamu belum memakai baju sih Sayang, malah bengong seperti itu? apa jangan-jangan kamu nungguin aku ya," goda Raffa.


"Mas, ini pakaian siapa? kenapa sebanyak ini? apa jangan-jangan kamu sering bawa wanita lain ke kamar ini ya," tuduh Aqila.


"Astaga Sayang, sumpah demi apapun aku tidak pernah membawa siapapun kesini selain kamu. Lihatlah, pakaian itu semuanya baru dan masih ada capnya."


Aqila kemudian membalikkan tubuhnya dan mengalungkan tangannyabke leher Raffa.


"Mas tahu kan, kalau aku ini anak tunggal dari dulu aku paling tidak suka kalau harus berbagi barang dengan orang lain, awas kalau sampai kamu ketahuan macam-macam, aku potong junior kamu," seru Aqila dengan mengedipkan matanya.


Refkek Raffa memegang juniornya dengan tangan.


"Ya ampun Sayang, kok aku jadi ngilu mendengarnya. Jangan dong nanti kalau dipotong lagi kita tidak akan buat dedek bayi dong."


"Bodo amat."


"Sadis banget kamu, Sayang."


Aqila hanya tersenyum, Aqila mengambil baju untuk dirinya dan juga Raffa. Setelah selesai, mereka saling bergandengan tangan menuruni anak tangga.


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Minal Aidzin Walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin untuk para reader setiakuπŸ™πŸ™ Maaf baru up soalnya libur lebaran dulu🀭🀭


Oh iya, bagi yang belum membaca KESEDERHANAAN CINTA, yuk order bukunya karena kalau di platform untuk sementara tidak akan bisa dibacaπŸ™πŸ™



Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2