
π
π
π
π
π
Semenjak Clarissa meninggalkan anaknya di depan rumah Raffa, setiap malam Clarissa selalu saja menangis, dia takut Raffa dan Eyang tidak mau mengurusnya.
Mama dan Papa Clarissa rujuk kembali karena saat ini Papanya Clarissa sudah mempunyai usaha toko sembako dan cukup ramai pembeli. Awalnya Clarissa bingung apa yang harus dia lakukan, hingga suatu hari disaat dirinya sedang mencari pekerjaan, Clarissa bertemu dengan Jorge.
Jorge sangat bahagia sekali bertemu dengan Clarissa, hingga akhirnya Jorge memutuskan menjadi mua'laf dan menikahi Clarissa. Seketika hidup Clarissa berubah menjadi Nyonya Jorge, saat ini kehidupan Clarissa sangat sempurna apalagi Clarissa sudah di karuniai anak laki-laki yang baru berusia tiga tahun dan diberi nama Louise.
"Lisa, apa kamu baik-baik saja Nak? maafkan Mama Sayang, Mama sangat merindukanmu," batin Clarissa yang saat ini sedang berdiri di balkon kamarnya.
Sebuah tangan melingkar di perut Clarissa.
"Kamu kenapa Sayang? sepertinya sedang memikirkan sesuatu?" tanya Jorge.
"Ah tidak apa-apa Jorge, aku tidak sedang memikirkan apa-apa kok, kamu sudah makan malam belum?" tanya Clarissa.
"Belum."
"Ya sudah, sekarang kamu mandi dulu setelah itu kita makan malam bersama."
"Apa Louise sudah tidur?"
"Sudah."
"Kalau begitu aku mandi dulu."
Jorge mencium kening Clarissa dan dengan cepat melangkah menuju kamar mandi. Clarissa menatap kepergian Jorge dengan mata yang sendu.
"Kalau aku mengatakan yang sebenarnya, apa kamu akan percaya Jorge? aku takut kamu tidak percaya dan meninggalkan aku," batin Clarissa dengan meneteskan airmatanya.
***
Keesokkan harinya...
Sementara itu di rumah Eyang, Cyra sedang melakukan panggilan video call bersama Raffa.
"Daddy, kapan Daddy pulang? lama banget liburannya," seru Cyra dengan wajah yang cemberut.
"Sabar Sayang, nanti Daddy bakalan pulang kok."
Saat ini di Amerika masih malam, dan lagi-lagi Raffa baru saja selesai berolahraga malam bersama Aqila. Untung sudah selesai dan Cyra menghubunginya, andai saja kalau Cyra menghubunginya disaat Raffa sedang tanggung-tanggungnya, bisa dibayangkan kepala Raffa pasti akan sakit.
Sementara Aqila karena kelelahan, dia sudah tertidur. Raffa tidak sadar kalau saat ini dia sedang bertelanjang dada.
"Daddy, kok Daddy tidur sama Bu guru cantik sih?" tanya Cyra polos.
"Bu guru cantik sekarang sudah menjadi Mommy kamu Sayang."
"Benarkah? asyiiiikkkk....Cyra sekarang punya Mommy," teriak Cyra.
"Apa Cyra senang?" tanya Raffa.
"Senang banget dong, Daddy."
"Apa Cyra sayang kepada Mommy?"
"Tentu saja, Daddy."
Raffa dan Eyang yang melihat antusias Cyra menjadi bahagia.
"Daddy, kenapa Daddy malam-malam tidak memakai baju? apa Daddy tidak dingin?" tanya Cyra dengan polosnya dan sukses membuat wajah Raffa merah karena menahan malu.
"Apa? tidak Sayang, disini gerah banget makannya Daddy membuka baju Daddy," sahut Raffa dengan gugupnya.
Tidak disangka, Aqila merubah posisi tidurnya dan sedikit tetsingkap selimutnya.
"Loh, Mommy juga tidak pakai baju ya tidurnya?" celetuk Cyra.
Raffa melotot dan langsung membenarkan selimut Aqila dan menutupinya, dengan cengengesan dan wajah yang merah Raffa tampak salah tingkah. Sementara Eyang terlihat geleng-geleng kepala melihat tingkah cucunya itu.
"Sayang, kalau begitu sudah dulu ya, Daddy ngantuk. Daddy janji akan segera pulang, Ok."
"Janji ya, Cyra sudah rindu dengan Daddy dan Mommy."
"Iya, bye Sayang."
Dengan cepat Raffa mengakhiri panggilan video call itu.
Malam pun tiba...
Saat ini Clarissa dan Jorge sedang ngobrol diatas tempat tinggal.
"Sayang, sepertinya kita harus pindah ke Jakarta," seru Jorge.
__ADS_1
"Hah, kenapa?"
"Aku, Jino, dan Raffa sedang bekerja sama mengembangkan usaha kita dan perusahaan itu di bangun di Jakarta karena memang Jino dan Raffa menginginkannya di bangun di Jakarta, bagaimana?"
"Kalau aku sih, terserah kamu saja Sayang."
"Ya sudah, besok kita langsung berangkat ya jangan terlalu banyak bawa barang-barang nanti biar kita beli saja di Jakarta."
"Baiklah."
Jorge pun mulai merebahkan tubuhnya karena merasa sudah lelah, sedangkan Clarissa masih sibuk dengan pikirannya.
"Berarti aku akan bertemu Lisa, Sayang Mama akan segera menemuimu, tunggu Mama," batin Clarissa.
***
Jorge, Clarissa, dan anaknya Louise berangkat ke Jakarta, sesampainya di Jakarta Jorge langsung membawa anak dan istrinya ke rumah baru yang sudah dia beli.
"Ini rumah siapa, Jorge?" tanya Clarissa.
"Ini rumah kita, Sayang. Aku baru membelinya satu bulan yang lalu."
"Bukannya rumah Mas Raffa di daerah sini juga ya, berarti aku akan segera bertemu dengan Lisa, aku sudah tidak sabar ingin melihat seperti apa wajah puteri malangku," batin Clarissa dengan senyumanya.
"Sayang, kamu kenapa kok senyum-senyum?"
"Tidak apa-apa, rumah ini bagus dan nyaman aku sangat menyukainya, terima kasih ya Jorge," ucap Clarissa dengan memeluk Jorge.
"Sayang, hari ini aku mau bertemu dengan Jino apa kamu tidak apa-apa kalau aku tinggal sebentar dirumah?" tanya Jorge.
"Iya, aku tidak apa-apa kok, lagipula aku bersama suster Hana juga jadi aku tidak sendirian."
"Ya sudah kalau begitu, sekarang aku berangkat dulu kalau ada apa-apa kamu langsung hubungi aku."
"Iya Sayang."
Jorge pun pergi dari rumah, Clarissa merasa kalau ini adalah kesempatan dia untuk melihat anaknya.
"Suster apa Louise masih tidur?" tanya Clarissa.
"Iya Nyonya."
"Kalau begitu saya titip dulu ya, saya mau keluar ada keperluan sebentar."
"Baik Nyonya, Nyonya tidak usah khawatir."
"Ok, terima kasih Suster."
"Sepertinya rumah Mas Raffa sepi," gumam Clarissa.
Satu jam sudah Clarissa menunggu di seberang rumah Raffa, hingga akhirnya mobil yang sangat dia kenal berhenti di depan rumah itu.
"Itu kan mobilnya Eyang," gumam Clarissa.
Clarissa dengan cepat keluar dari mobilnya dan menghadang mobil Eyang untuk tidak masuk ke dalam rumah.
"Tunggu.." teriak Clarissa dengan berdiri didepan mobil Eyang.
"Bukannya itu Nyonya Clarissa, Eyang," seru Pak Burhan terkejut.
Eyang membulatkan matanya, seketika Eyang mengeratkan pelukkannya ke tubuh mungil Cyra.
"Eyang kenapa? siapa Tante itu?" tanya Cyra dengan polosnya.
Clarissa segera mengetuk kaca jendela mobil Eyang.
"Eyang, aku mohon buka pintunya."
"Bagaimana ini, Eyang?" tanya Pak Burhan.
"Saya yang keluar, tapi kamu langsung masuk dan bawa Cyra ke dalam rumah jangan sampai biarkan wanita itu mengambil Cyra kembali," seru Eyang.
"Baik Eyang."
Clarissa mundur satu langkah karena Eyang membuka pintu mobilnya tapi dengan cepat Eyang menutup kembali pintu mobilnya dan menyuruh Pak Burhan untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Eyang."
"Mau apa kamu kesini?" tanya Eyang ketus.
"Eyang, aku ingin bertemu dengan anakku."
"Apa? hahaha...." Eyang tertawa mengejek.
"Eyang, aku mohon aku ingin bertemu dengan anakku," mohon Clarissa.
"Kamu masih menganggap itu anakmu? setelah apa yang kamu lakukan lima tahun yang lalu? apa perlu saya ingatkan lagi kalau kamu dengan teganya membuang bayi tidak berdosa itu di depan rumah saya," bentak Eyang.
"Maaf Eyang, tapi dulu aku terpaksa melakukan semua itu, aku tidak mau anakku menderita dan hidup susah makannya aku terpaksa menyimpan anakku di depan rumah Eyang dengan harapan, anakku bisa mendapatkan hidup yang layak," sahut Clarissa dengan deraian airmata.
Eyang memperhatikan penampilan Clarissa dari ujung kaki sampai ujung rambut.
__ADS_1
"Sepertinya saat ini kamu sudah hidup senang, terus buat apa lagi kamu muncul di kehidupan kami? anak itu sudah menjadi bagian dari keluarga Abraham, jadi kamu tidak berhak lagi untuk menganggap dia sebagai anak kamu, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini, urus hidupmu sendiri jangan pernah muncul lagi dihadapan kami," tegas Eyang.
Eyang kemudian melangkah meninggalkan Clarissa yang saat ini sudah berlinang airmata. Dengan cepat Eyang menutup gerbang supaya Clarissa tidak bisa masuk.
"Eyang, aku mohon kembalikan anakku," teriak Clarissa.
"Pak Rusdi, tolong usir wanita gila itu dan jangan sampai dia kembali lagi kesini," seru Eyang dengan berlalu masuk ke dalam rumah.
"Baik Eyang."
"Maaf Mbak, lebih baik anda pergi dari sini jangan sampai warga disini keluar semua karena terusik dengan teriakan anda," seru Pak Rusdi.
Clarissa sadar dengan langkah gontai dan tanpa perlawanan akhirnya Clarissa pergi meninggalkan rumah Eyang tanpa melihat anakknya terlebih dahulu.
***
Sementara itu, saat ini Raffa sedang mengotak-ngatik laptopnya memeriksa pekerjaan dan membaca email yang dikirimkan oleh Rey. Tiba-tiba Aqila menghampiri Raffa dan langsung duduk di pangkuan Raffa.
"Mas, kok perasaan aku tidak enak ya."
"Tidak enak bagaimana?" tanya Raffa dengan memperhatikan wajah Aqila.
"Ya pokoknya tidak enak saja, bagaimana kalau kita pulang takutnya terjadi sesuatu disana."
"Ya sudah, besok kita pulang soalnya aku juga ada proyek baru dengan Jino dan Jorge."
"Proyek apa?"
"Kita bertiga akan membuat perusahaan baru, dulu kita bertiga memang mempunyai impian ingin membuat sebuah perusahaan bersama-sama dan baru kali ini bisa terwujud."
"Oh."
"Oh iya, aku punya permintaan, apa kamu sanggup mengabulkannya?" tanya Raffa.
"Permintaan apa? jangan yang aneh-aneh."
"Tidak aneh-aneh kok, aku cuma minta sama kamu untuk berhenti menjadi guru, apa kamu bersedia?"
"Kok berhenti sih, Mas?"
"Aku tidak mau kamu kecapean Sayang, lagipula aku ingin kamu diam di rumah saja dan menyambut aku saat pulang kerja. Aku ingin kamu selalu ada di rumah, biar kita cepat punya baby," ucap Raffa dengan mengusap-ngusap perut Aqila.
Aqila yang mendengar ucapan Raffa merasa terharu dan matanya pun sudah mulai berkaca-kaca.
"Loh kok kamu malah mau nangis sih? aku kan sudah janji tidak akan membuatmu menangis lagi, ya sudah kalau kamu tidak mau berhenti tidak usah berhenti saja, terserah kamu," seru Raffa dengan lembut.
Aqila malah langsung memeluk Raffa...
"Tidak Mas, aku akan menuruti semua keinginan Mas, aku hanya merasa terharu saja dengan ucapan Mas yang ingin mempunyai baby."
"Aku sudah lama memimpikan ingin mempunyai baby, semoga kali ini harapanku di kabulkan dan kamu cepat-cepat hamil, Sayang."
"Amin."
Aqila melepaskan pelukkannya dan Raffa pun menutup laptopnya.
"Sayang, kita buat baby lagi yuk!!" ajak Raffa dengan mengedipkan matanya.
"Astaga, kenapa Mas selalu gercep kalau masalah buat baby."
"Harus dong, kita kan harus memberikan adik buat Cyra supaya Cyra ada teman untuk bermain."
"Alasan."
Tanpa menunggu persetujuan Aqila, Raffa pun mengangkat tubuh Aqila dan mereka kembali melakukan pergulatan panas.
π
π
π
π
π
Jangan lupa di order ya guysππ di jamin baperπ€π€
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU