
📚
📚
📚
📚
📚
Aqila dan Raffa menuruni anak tangga untuk sarapan bersama.
"Selamat pagi Eyang, Cyra," sapa Aqila.
"Pagi Mommy."
"Cyra bangun jam berapa Sayang, kok Mommy bangun Cyra sudah tidak ada?" tanya Aqila.
"Cyra bangun pagi-pagi sekali, tadinya Cyra ingin membangunkan Mommy dan Daddy tapi kalian masih tidur makannya Cyra keluar saja."
"Anak yang pintar," puji Raffa dengan senyumannya.
"Qila, kamu tidak mengajar hari ini?" tanya Eyang.
"Tidak Eyang, Mas Raffa melarang Qila untuk mengajar lagi dan hari ini rencananya Qila mau mengundurkan diri," sahut Aqila.
"Baguslah kalau begitu, Eyang sangat mendukung keputusan Raffa, kamu sebaiknya istirahat jangan terlalu capek biar segera hamil."
Aqila hanya tersenyum...
Setelah selesai sarapan, Aqila pergi mengantar Cyra ke sekolah sembari mau meminta izin untuk mengundurkan diri. Aqila dan Cyra diantarkan oleh Raffa.
"Sayang, nanti kamu pulangnya suruh Pak Burhan jemput saja ya," seru Raffa.
"Tidak usah, nanti aku naik taxi saja."
"Jangan membantah, pokoknya kamu harus di jemput sama Pak Burhan."
"Baiklah, suamiku."
"Kamu menggemaskan sekali, Sayang."
Raffa hendak mencium Aqila tapi Aqila langsung menahannya.
"Main nyosor saja, tidak lihat apa ada Cyra dan Mas Rey di depan, dasar tidak tahu malu," bisik Aqila.
"Rey, kamu pura-pura tidak lihat saja ya," seru Raffa.
"Siap Bos."
Sementara Cyra sudah menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Tidak, stop."
Aqila masih menahan wajah Raffa.
"Kamu ini ya tidak tahu tempat, dasar mesum."
Tiba-tiba ponsel Raffa berbunyi dan Aqila tampak menghela nafasnya lega karena suara ponsel itu sudah menyelamatkannya.
📞"Hallo."
📞"Raffa, apa kita bisa bertemu? ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
📞"Kapan?"
📞"Terserah."
📞"Bagaimana kalau nanti jam makan siang, kita ketemu di restoran pelangi."
📞"Baiklah, aku kesana dengan Clarissa."
📞"Ok."
Raffa pun mengakhiri panggilannya...
"Siapa Mas?" tanya Aqila.
"Jorge, dia ngajak ketemuan sepertinya dia ingin membicarakan masalah Cyra, nanti kamu ikut denganku."
"Baiklah."
Sedangkan Cyra yang duduk di depan, hanya bisa diam dia tahu kalau Daddy dan Mommynya itu ingin membicarakan tentang dirinya.
Sesampainya di tempat Cyra sekolah, Cyra langsung turun dan berlari masuk ke dalam sekolah.
"Mas, aku masuk dulu ya."
"Sayang, nanti kalau sudah selesai kamu ke kantor aku saja nanti Cyra biar di jemput sama Pak Burhan."
"Baiklah."
Aqila mencium tangan Raffa setelah itu Aqila pun melangkahkan kakinya menuju ruangan kepala sekolah untuk mengajukan pengunduran dirinya. Setelah selesai, Aqila memutuskan untuk pergi ke Kantor Raffa dengan menggunakan taxi.
Aqila tampak celingukan ke kiri dan ke kanan, taxi yang di tumpangi Aqila berhenti di depan sebuah restoran yang kursinya ada yang di pajang di luar restoran.
"Loh itu bukannya Zahra ya, sebentar-sebentar dia sama cowok kayanya aku kenal tuh cowok," gumam Aqila.
Aqila tampak berpikir dan memperhatikan pria itu, hingga akhirnya pria itu menoleh ke arah jalanan dan terlihatlah jelas wajah sang pria. Aqila menutup mulutnya karena terkejut.
"Mas Jino."
Aqila membuka kaca mobil dan kebetulan Zahra menoleh ke arah Aqila, kedua mata itu bertemu. Zahra melotot dan tampak canggung dengan tatapan horor Aqila, Zahra hanya bisa nyengir memperlihatkan barisan giginya.
Aqila tampak mengetikkan sesuatu, dan ponsel Zahra pun berbunyi.
"You hutang penjelasan sama aku."
Zahra kembali melihat ke arah Aqila yang saat ini sedang menatapnya, kali ini senyuman termanis yang Zahra perlihatkan, akhirnya mobil yang Aqila tumpangi pun mulai melaju dan Zahra tampak mengelus dadanya.
"Kamu kenapa?" tanya Jino.
__ADS_1
"Barusan ada Aqila lewat."
Jino celingukkan mencari keberadaan Aqila.
"Mana tidak ada."
"Sudah pergi."
"Terus kenapa kamu kaya gitu? memangnya Aqila belum tahu ya tentang hubungan kita?" tanya Jino.
"Tahu gimana? aku belum pernah ketemu lagi sama dia, Mas Raffa kekepin Aqila mulu jadi aku sama Ranti susah deh untuk bisa ketemuan sama dia."
"Ya sudah nanti kita jelasin sama Aqila, kamu jangan sedih gitu ya, Baby," ucap Jino dengan mengelus punggung tangan Zahra.
***
Sesampainya di Kantor Raffa, Aqila cepat-cepat menuju ruangan Raffa. Semua karyawan membungkukkan tubuhnya ketika berpapasan dengan Aqila.
Sampai di depan ruangan Raffa, Aqila langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu. Raffa terlihat mengernyitkan keningnya melihat raut wajah Aqila yang cemberut seperti itu. Aqila menyimpan tasnya di atas meja kerja Raffa dan dengan santainya duduk di pangkuan Raffa dengan melipat tangannya di dada.
"Hai, ada apa dengan istriku yang cantik ini kok cemberut seperti itu?" tanya Raffa dengan mencolek hidung Aqila dengan gemasnya.
"Mas tahu tidak, kalau Mas Jino sudah punya pacar?" tanya Aqila dengan ketusnya.
"Tahu," sahut Raffa dengan santainya.
"Terus Mas tahu siapa pacarnya Mas Jino?" tanya Aqila kembali.
"Tahu, Zahra kan?" sahut Raffa dengan santainya.
Aqila melotot ke arah Raffa dan dengan kesalnya Aqila mengambil tasnya dan menghujani Raffa dengan pukulan.
"Ih Mas nyebelin, kenapa tidak bilang-bilang sama aku? kenapa mas menyembunyikannya, Mas sama Mas Jino sama saja," ketus Aqila dengan beranjak dari duduknya.
"Sayang, kok kamu marah sih?" bujuk Raffa.
"Kalian jahat, menyembunyikan semuanya dari aku," ucap Aqila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Hai kok jadi nangis, jangan nangis dong maafin aku Sayang, aku lupa mau mengatakannya sama kamu," seru Raffa dengan memeluk Aqila dari belakang.
"Nyebelin," ucap Aqila pelan.
"Sudah ya jangan nangis, sekarang kamu mau nunggu dulu apa bagaimana? soalnya masih dua jam lagi kita bertemu dengan Jorge."
"Aku mau jalan-jalan," sahut Aqila dengan manjanya merangkul lengan Raffa.
"Hah, jalan-jalan kemana? aku masih banyak kerjaan Sayang."
"Tuh kan, kenapa sih Mas akhir-akhir ini makin nyebelin saja, ya sudah kalau tidak mau nemenin, aku bisa jalan-jalan sendiri," ketus Aqila dengan mengambil tasnya.
"Eitt..tunggu dulu, ok-ok sekarang kita jalan-jalan, jangan ngambek kaya gitu dong."
Raffa pun terpaksa mengikuti keinginan Aqila, daripada Aqila marah dan akhirnya Raffa tidak dapat jatah malah berabe ke depannya.
"Rey, aku keluar dulu mungkin tidak akan kembali lagi ke Kantor tolong kamu gantikan aku dulu," seru Raffa.
"Baik Tuan."
"Kita mau kemana?" tanya Raffa.
"Kita ke Mall, aku ingin beli ice cream."
"Siap Tuan Puteri."
Raffa pun segera melajukan mobil sport miliknya membelah jalanan kota Jakarta menuju ke sebuah Mall terbesar disana.
Mereka berdua berjalan beriringan, Raffa berjalan dengan gagahnya satu tangan dia masukkan ke dalam saku celananya dan satu lagi dirangkul oleh Aqila.
Semua mata wanita di dalam Mall itu tertuju kepada sosok Raffa yang tampannya luarbiasa, meskipun mereka tahu kalau disampingnya ada wanita cantik yang begitu posesifnya merangkul lengan Raffa tapi mereka tidak memperdulikannya.
"Kenapa sih, hari ini semua orang menyebalkan," gumam Aqila.
"Kenapa lagi, Sayang?"
"Mas, tidak lihat apa semua mata wanita itu tampak lapar melihat kearah Mas. Meskipun aku ada di sampingmu, tetap saja mereka tidak set tahu malu memperhatikan suami orang lain," gerutu Aqila.
Raffa hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Sudahlah jangan dilihatin terus, hak mereka dong mau lihat kemana pun juga karena mereka punya mata."
"Oh jadi Mas senang gitu diperhatikan seperti itu, ok fine."
Aqila berjalan meninggalkan Raffa dengan kesalnya, Raffa hanya mengusap wajahnya kasar dan mengikuti Aqila.
"Sayang, tunggu."
Aqila cepat-cepat memesan ice cream dengan ukuran jumbo, Aqila tidak menghiraukan Raffa yang dari tadi mengekorinya di belakang. Aqila duduk di meja dekat jendela dan langsung melahap ice creamnya dengan sangat rakus saking kesalnya.
"Sayang, pelan-pelan makan ice creamnya."
Tapi Aqila tidak menghiraukan ucapan Raffa hingga akhirnya Aqila tersedak karena terlalu cepat makan ice creamnya.
"Uhuk..uhuk..uhuk.."
"Tuh kan aku bilang juga apa? pelan-pelan makannya."
Raffa menepuk-nepuk punggung Aqila dengan lembut, tapi Aqila malah menangis.
"Astaga Sayang, kenapa malah menangis?" seru Raffa dengan khawatirnya.
"Kamu jahat, Mas."
"Aku jahat apa coba, Sayang?" ucap Raffa selembut mungkin.
Raffa merasa frustasi, pasalnya hari ini mood Aqila benar-benar jelek dan sangat sensitif.
"Ini semua gara-gara kamu Mas, kamu tidak pernah ngertiin perasaan aku," seru Aqila dengan masih meneteskan airmatanya.
"Iya-iya aku minta maaf Sayang, lain kali kalau ada wanita yang ngelihatin aku, aku akan memarahinya ya, enak saja sudah membuat istriku menangis seperti ini," bujuk Raffa dengan lembutnya.
Segala bujuk rayu Raffa keluarkan, dan dengan sekian lama membujuk akhirnya Aqila lukuh juga.
__ADS_1
"Sayang, ini sudah waktunya makan siang, Jorge sudah menunggu kita."
"Ya sudah kita temui dia sekarang."
Raffa pun menggandeng tangan Aqila dengan eratnya dan sekaligus menunjukkan kepada para wanita kalau wanita yang ada di sampingnya itu adalah istri kesayangannya.
Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di restoran pelangi tempat mereka melakukan pertemuan. Sesampainya di restoran, terlihat Jorge sudah menunggu dengan ditemani oleh Clarissa istrinya.
Aqila menghentikan langkahnya membuat Raffa kembali dilanda bingung.
"Ada apa lagi?"
"Mas, apa Mas masih ada perasaan sama Clarissa?" tanya Aqila dengan tatapannya yang sendu.
Raffa tersenyum kearah Aqila dan mbelai pipi Aqila. Raffa tahu kalau saat ini Aqila merasa takut dan trauma akan kejadian di masa lalu.
"Sayang dengarkan aku, semenjak kamu menghilang lima tahun lalu, rasa itu sudah menghilang bersamaan dengan kepergian kamu, ternyata aku sadar perasaan aku kepada Clarissa itu bukan cinta tapi hanya sebatas pelampiasan karena wajah dia mirip dengan Claudia. Percayalah cinta aku hanya untukmu, jadi aku harap kamu jangan berpikiran yang macam-macam."
Aqila tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Yuk."
Aqila dan Raffa pun menghampiri Jorge dan Clarissa.
"Maaf, pasti kalian sudah lama menunggu," seru Raffa.
"Ah tidak, kami baru saja sampai mari silakan duduk."
Clarissa tampak canggung..
"Hallo, kamu pasti istrinya Raffa kan? kenalkan aku Jorge teman Raffa dan suaminya Clarissa," seru Jorge dengan mengulurkan tangannya.
"Hallo, aku Aqila."
"Lebih baik kita makan siang dulu, baru setelah itu kita lanjutkan pembicaraan kita," seru Jorge.
Mereka pun pesan makanan dan makan siang terlebih dahulu, tapi Aqila terlihat mengernyitkan keningnya melihat menu makanan yang sudah tersedia di hadapannya.
"Kenapa tidak di makan?" tanya Raffa.
"Aku lagi malas makan Mas, aku tidak lapar."
"Tapi kamu harus makan nanti kamu sakit."
"Tidak, aku minum lemon tea ice saja."
Clarissa tampak melirik kearah Aqila dan Raffa, Clarissa sedikit mengembangkan senyumannya, dia tidak menyangka kalau seorang Raffa yang dingin, cuek, bahkan kejam bisa terlihat lembut juga.
Tidak lama kemudian, makan siang pun selesai....
"Raff, maaf tujuan kami mengajak bertemu karena kami ingin membicarakan masalah Lisa," seru Jorge.
"Lisa? maksud kamu Cyra?" tanya Raffa dingin.
"Ah iya, maaf maksud aku Cyra."
"Ada apa dengan Cyra?" tanya Raffa kembali.
"Mas, aku mohon izinkan aku bertemu dengan Cyra bagaimana pun Cyra adalah anakku," seru Clarissa dengan tatapan sendu.
"Setelah lima tahun kamu baru ingat dengan anakmu? terus kemarin-kemarin kamu kemana saja?" tanya Raffa dengan datarnya.
"Maafkan aku Mas, dulu aku takut Jorge tidak mau mengakui Cyra sebagai anaknya, makannya aku terpaksa menyimpan Cyra di depan rumahmu berharap kamu dan Eyang mau mengurus Cyra. Aku ingin Cyra hidup layak dan tidak merasakan kesusahan," sahut Clarissa dengan meneteskan airmatanya.
"Hati kamu terlalu picik Clarissa, kamu tidak melihat bahkan seorang pemulung sekalipun mereka masih mampu mengurus anaknya, walaupun mereka harus menghidupi anakknya dengan cara minta-minta. Kamu seharusnya sadar dan jujur kepada suamimu karena Cyra adalah anak kalian berdua," seru Aqila dengan kesalnya.
"Iya aku mengaku salah Aqila, dulu rasa takutku mengalahkan akal sehatku, aku terlalu takut dengan kenyataan tapi aku melakukan semua ini karena aku ingin Cyra hidup senang dan bahagia."
"Dengan cara membuangnya begitu saja?" tanya Aqila dengan ketusnya.
Clarissa tidak bisa menjawab pertanyaan Aqila, dia hanya bisa menundukkan kepalanya dengan deraian airmata.
"Maafkan perbuatan istriku, dia memang salah tapi walau bagaimana pun Cyra adalah anak kami, kami berhak untuk mengasuhnya. Aku pribadi sangat berterima kasih karena selama ini kalian mau mengurus dan membesarkan Cyra, tapi kami mohon tolong beri kami kesempatan untuk mengurus anak kami juga, aku akan membayar berapapun untuk biaya Cyra selama lima tahun kalian mengurusnya," seru Jorge.
"Apa? ganti rugi? Jorge, kamu tidak mengenal siapa aku? aku tidak butuh uang kamu, memangnya kalian pikir Cyra itu kucing apa, yang bisa kalian ganti dengan uang? setelah lima tahun aku mendidik dan membesarkannya, sekarang kalian dengan entengnya meminta untuk mengembalikan Cyra kepada kalian? dimana otak kalian?" bentak Raffa.
Raffa langsung berdiri dari duduknya, matanya terlihat merah menahan amarah.
"Sayang, ayo kita pulang," ajak Raffa.
Aqila pun berdiri dan Raffa langsung menggandeng tangan Aqila melangkah meninggalkan Jorge dan Clarissa. Clarissa hanya bisa menangis dipelukkan Jorge.
"Tenang Sayang, nanti kita akan mencoba bicara lagi kepada Raffa," seru Jorge.
📚
📚
📚
📚
📚
Order guys🤗🤗
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1