
π
π
π
π
π
Suasana di ruangan guru kali ini tampak hening, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Selamat pagi semuanya!" sapa Angel.
"Pagi, loh Ngel kening kamu kenapa?" tanya Zahra yang membuat semuanya menoleh.
"Ah, ini tidak apa-apa kemarin aku terpeleset dan kening aku kena dinding," dusta Angel gelagapan.
Ranti menatap Angel dengan penuh prihatin karena Ranti yakin kalau luka di kening Angel bukan karena terpeleset.
"Pagi Pak Fathir!" sapa Angel dengan senyumannya.
"Pagi."
"Ih Pak Fathir judes banget sih, senyum dikit dong," seru Angel dengan senyumannya.
"Jangan senyum-senyum kaya gitu, tidak akan ngaruh bagiku," seru Fathir dengan dinginnya.
"Ishh..ishh..ishh..Pak Fathir jangan judes-judes nanti malah balik jatuh cinta loh sama Bu Angel," seru Bu Wati.
"Tong sok api-api Pak Fathir," sahut Pak Beno. (Jangan pura-pura Pak Fathir).
"Oh iya Ngel, ikut kita liburan yuk!!" ajak Zahra.
"Liburan kemana?"
"Kita di ajak sama Aqila, liburan ke Lombok kamu ikut yuk, katanya mau kenal sama Aqila," seru Zahra.
Fathir yang mendengar nama Aqila di sebut langsung mengalihkan pandangannya kepada Zahra.
"Serius kalian mau libura bareng Aqila?" tanya Fathir.
"Iya."
"Aku mau sih ikut, tapi sepertinya aku tidak akan di beri izin oleh Mamaku," sahut Angel sembari menundukkan kepalanya.
"Apa perlu kita yang bantu izinin ke Mama kamu?" tanya Ranti.
"Hah, jangan-jangan tidak usah lain kali saja," tolak Angel dengan melambaikan tangannya.
Ranti semakin curiga dengan tingkah Angel yang terlihat panik seperti itu. Sedangkan Fathir yang terlihat cuek dengan memeriksa hasil kerja siswanya, diam-diam mendengarkan perbincangan ketiga wanita itu.
"Kenapa? libur sekolah dua minggu loh Angel, kamu mau diam-diam bae di rumah? memangnya tidak bosan apa?" sahut Zahra.
Angel tidak menjawab pertanyaan Ranti, Angel hanya tersenyum miris ketika ada orang yang mengajaknya jalan-jalan. Bukan Angel tidak mau, justru Angel sangat ingin jalan-jalan tapi dia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Mama dan Kakak tirinya itu.
Disaat Angel dan yang lainnya mulai memeriksa hasil kerja dari muridnya masing-masing, Fathir tampak mencuri pandang kearah Angel. Fathir melihat ada kesedihan di raut wajah Angel.
***
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, hari ini semuanya sudah berada di pesawat pribadi milik Raffa, mereka akan liburan bersama ke Lombok. Awalnya mereka merencanakan akan liburan ke luar negeri tapi karena Aqila sedang hamil muda jadi kata Dokter kandungannya boleh pergi asal yang dekat.
Mereka memilih Pulau Lombok, itu pun hasil rekomendasi dari Aqila karena Aqila sudah bosan kalau harus ke Bali lagi.
"Wow, pesawat ini punya Daddy?" tanya Cyra dengan antusiasnya.
"Iya Sayang."
"Wah, Daddy hebat ya berarti Daddy sangat kaya dong, lebih kaya dari Papa," celetuk Cyra.
"Jelaslah, Papa kamu itu tidak ada apa-apanya," ledek Raffa dengan sombongnya.
"Astaga Raffa, mulut lo pedes banget," sahut Jorge.
"Memang kenyataannya seperti itu."
"You beruntung sekali Qilla, punya suami sudah kaya, tampan pula," celetuk Zahra.
"Hai Sayang, tega sekali kamu memuji pria lain di depanku, itu rasanya sakit sekali," seru Jino dengan memegang dadanya.
"Lebay lo," sahut Raffa dengan menoyor kepala Jino.
__ADS_1
"Beb, kok kamu diam saja sih?" tanya Rey yang membuat semua orang menoleh kearah Ranti.
"Lah, kenapa kalian ngelihatin aku kaya gitu?" tanya Ranti dengan menatap satu-satu orang yang ada disana.
"You ada masalah ya? jangan bohong, aku tahu kalau you diam saja seperti ini, itu tandanya you lagi mikirin sesuatu," sela Aqila.
"Aku lagi mikirin Angel."
"Angel siapa?" tanya Aqila.
"Dia guru baru di sekolahan, Qilla."
"Memangnya kenapa dengan Angel, Ran?" tanya Zahra.
"Waktu itu aku dan Mas Rey sempat nganterin dia pulang ke rumahnya karena kasihan dia nungguin taxi, pas sampai di rumahnya ternyata seorang perempuan dewasa kayanya Mamanya deh nungguin di teras dengan wajah horornya, si Angel langsung turun tuh buru-buru dari mobil, karena aku curiga aku suruh Mas Rey untuk diam dulu sejenak dan ternyata memang benar, wanita itu langsung menjambak rambut Angel dan menyeretnya ke rumah," jelas Ranti.
"Whaaaaaattttttt...." seru Aqila, Zahra, dan Clarissa bersamaan.
Para pria tampan yang sedang serius mendengarkan cerita Ranti sampai terlonjak kaget karena mendengar teriakan para wanita mereka.
"Astaga Sayang, biasa saja kali ngomongnya kaget aku," keluh Raffa.
"Eh maaf-maaf Mas," sahut Aqila membelai pipi Raffa sehingga membuat Raffa tersenyum dan hendak mencium bibir Aqila.
"Woi...kebiasaan mesum tidak tahu tempat," teriak Jino membuat Raffa mengurungkan niatnya.
"Ah lo rese banget jadi orang," ketus Raffa yang kembali membenarkan posisi duduknya.
"Terus-terus kelanjutannya bagaimana?" tanya Aqila kembali.
"Dan besoknya dia datang ke sekolah dengan kening yang di perban, dia bilang sih terpeleset tapi aku yakin kalau itu bukan terpeleset tapi ulah wanita itu," jelas Ranti.
"Aku juga sih mulai curiga sama Angel, secara dari penampilannya saja dia bukan anak biasa-biasa, pakaiannya pun branded semua tapi yang aku aneh, dia sama sekali tidak punya ATM," sambung Zahra.
"Aneh juga sih," sahut Clarissa.
"Tapi kamu jangan buru-buru menyimpulkan dan menuduh orang lain, Ran. Kalau secara logika, ini zaman sudah modern segala bentuk kekerasan kita bisa laporkan, nah kalau seandainya si Angel itu sering di siksa oleh Mamanya, dia kan bisa lapor secara dia sudah dewasa dan seorang guru pula ngapain coba di tutup-tutupi," seru Jino.
"Benar banget tuh," sahut Jorge.
"Bagaimana kalau dia di ancam Mas, makannya dia tidak bisa lapor karena ancaman Mamanya," seru Ranti.
"Bisa jadi," sahut Aqila.
"Iya setuju gue," sahut Jino.
Akhirnya mereka pun diam dan menikmati perjalanan mereka. Aqila tampak manja akhir-akhir ini, dia tidak mau jauh-jauh dari Raffa barang sedikit pun. Bagi Raffa itu sangat menyenangkan, apalagi Aqila tidak pernah menolak dan protes kalau Raffa minta jatah mungkin karena hormon kehamilan juga.
Setelah beberapa lama berada di udara, akhirnya mereka sampai di Pulau Lombok semua biaya penginapan Raffa yang bayar, mereka semua tinggal nikmati keindahan Pulau Lombok yang tak kalah indahnya dari Bali.
"Wuuuaaaahhhhh indah sekali," seru Aqila dengan berlari-lari kecil kearah pantai.
"Ya ampun Sayang jangan lari-lari, ingat kamu itu sedang hamil," teriak Raffa.
"Eh iya, maaf Mas lupa saking senangnya."
Para pria berjalan dengan gagahnya sembari menggeret koper mereka dan pasangannya, sementara para wanita tampak tertawa-tawa bahagia melihat pemandangan yang sangat indah.
"Kalian tahu, melihat wanita yang kita cintai bahagia rasanya itu tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata," seru Raffa.
"Iya Raff, dengan melihat tawa mereka saja gue rasanya sangat bahagia," sahut Jorge.
"Kita beruntung bisa mendapatkan wanita yang menerima kita apa adanya, tanpa melihat siapa latar belakang kita," sela Jino.
Raffa, Jorge, dan Jino menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Rey yang dari tadi diam saja.
"Loh kenapa kalian lihatin aku?" tanya Rey bingung.
"Rey, lo sariawan ya kok dari tadi lo diam saja," seru Jino.
"Habisnya aku harus ngomong apa, semuanya sudah kalian omongin jadi ya aku diam saja," sahut Rey.
"Untung Ranti mau sama pria kaya lo Rey, kalau seumpama masakan, lo itu masakan hambar yang tidak ada bumbunya, gue tidak yakin kalau Ranti bakalan bertahan lama sama lo," celetuk Jino.
Rey menghentikan langkahnya, tatapannya begitu horor ke arah Jino.
"Nah lo, si Rey kayanya mau ngamuk," seru Jorge.
"Astaga Rey, tatapan lo horor banget sih bikin gue merinding, kayanya perasaan gue tidak enak," sahut Jino.
Jino berniat kabur tapi Rey mengejarnya dan memiting leher Jino sementara tangannya yang satu lagi sibuk menjitak kepala Jino.
__ADS_1
"Aduh ampun Rey, lo sudah berani sekarang sama gue," teriak Jino.
"Kenapa tidak."
"Lo mau gue pecat?" teriak Jino.
"Dasar aneh, Bos ku Pak Raffa bukan kamu."
Raffa dan Jorge sampai tertawa terpingkal-pingkal melihat kelakuan Rey dan Jino, sementara itu para wanita yang sedang asyik bermain air langsung menoleh saat melihat kegaduhan.
Zahra melotot melihat kekasihnya dianiaya oleh Rey, Zahra berlari dan memukul tangan Rey.
"Mas Rey, ih lepasin kasihan Mas Jino aku," rengek Zahra.
Rey pun terpaksa melepaskan Jino...
"Sakit Yang, Rey jahat," rengek Jino.
"Ya ampun cup cup cup, kasihan Yayang aku sakit ya," seru Zahra mengelus-ngelus kepala Jino.
Aqila dan Clarissa langsung menjewer telinga suami mereka masing-masing.
"Bagus, bukannya melerai malah menertawakannya," seru Clarissa dengan gemasnya.
"Aduh ampun, Ma," rengek Jorge.
"Sayang, ampun sakit," keluh Raffa.
"Dasar, kalian ya malah senang lihat orang berantem," seru Aqilla.
Semua orang mendelikkan matanya dan pergi begitu saja meninggalkan sepasang kekasih yang lebay itu. Mereka pun berjalan beriringan dengan pasangan mereka masing-masing.
"Ranti...Zahra..."
Tiba-tiba teriakkan seorang wanita menghentikan langkah mereka, dan semuanya menoleh ke belakang.
"Angel..." teriak Ranti dan Zahra.
Angel berlari menghampiri dengan menggeret kopernya.
"Hallo semuanya, apakabar? salam kenal?" seru Angel dengan melambaikan tangannya kepada semuanya.
"Hallo."
"Angel kok kamu bisa nyusul kita kesini?" tanya Zahra.
"Bisa dong, ceritanya panjang nanti aku cerita sama kalian," sahut Angel.
"Kamu, bukannya wanita yang di toko baju itu ya?" tanya Aqila.
"Iya Mbak, terima kasih ya atas pertolongan Mbak kalau waktu itu tidak ada Mbak, mungkin aku sudah di seret ke kantor polisi," sahut Angel.
"Loh kalian sudah saling kenal?" tanya Ranti.
"Tidak, dulu aku tidak sengaja bertemu dia di Mall," sahut Aqila.
"Ya ampun aku senang loh, akhirnya kamu bisa ikut kita liburan juga," seru Ranti dengan antusiasnya.
Sementara itu Raffa menatap tajam kearah orang yang berada di belakang Angel, orang yang selalu membuatnya panas dan terbakar cemburu.
π
π
π
π
π
Hai..hai.. RAQILA LOVERS mana suaranyaππ
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU