GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Ngambek


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Waktu berjalan dengan sangat cepat, saat ini usia kandungan Aqila sudah menginjak usia tujuh bulan, Raffa begitu sangat protektif kepada Aqila sampai-sampai Aqila tidak di perbolehkan pergi kemana pun dan melakukan hal-hal yang membuatnya lelah.


Saat ini Raffa dan Aqila baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan, wajah mereka tampak senang dan tidak bisa di tutup-tutupi, setelah melakukan pemeriksaan tadi Dokter mengatakan kalau kandungan Aqila dalam keadaan sehat. Dokter menyarankan supaya Aqila mengikuti senam kehamilan, menjaga pola makan dan harus istirahat yang cukup.


Sangat tidak dianjurkan bagi Aqila melakukan pekerjaan berat yang membuatnya kelelahan, itu poin yang paling penting yang di catat oleh seorang Raffa di kepalanya. Tidak boleh lelag, artinya Raffa harus sadar diri dan mengurangi minta jatah.


"Mas, setelah ini kamu ada pekerjaan lain tidak?" tanya Aqila dengan bergelayut manja di lengan Raffa.


"Kalau pekerjaan ya pasti ada lah, tapi aku bisa izin toh itu kan perusahaan aku sendiri, kenapa?"


"Aku pengen jalan-jalan."


"Baru saja Dokter bilang kalau kamu itu tidak boleh kecapean dan kelelahan."


"Aku sedang tidak capek Mas, nanti kalau capek ya istirahatlah, lagipula aku bosan di rumah terus, memangnya kamu tidak kasihan sama aku, Mas," rengek Aqila dengan wajah memelas dan mengusap perut buncitnya.


Raffa mendesah, Aqila selalu berhasil membujuknya tanpa harus bersusah payah. Selamat pada Hormon kehamilan yang sudah berhasil membuat para suami jinak dan penurut.


"Memangnya kamu mau jalan-jalan kemana?" tanya Raffa.


"Ke Mall, aku mau lihat-lihat perlengkapan bayi."


"Tapi kamu harus janji ya, kalau kamu capek jangan dipaksakan kita pulang."


"Siap Komandan."


Raffa pun membukakan pintu mobil dan melajukan mobilnya menuju sebuah Mall terbesar di Jakarta.


Sesampainya di pusat perbelanjaan, Aqila tidak henti-hentinya mengembangkan senyumannya dan itu tidak luput dari perhatian Raffa sehingga membuat Raffa merasa sangat bahagia melihat istri kesayangannya bahagia.


"Mas, kita ke toko perlengkapan bayi yuk," ajak Aqila dengan menarik tangan Raffa.


"Pelan-pelan Sayang jalannya, astaga."


Dengan mata yang berbinar, Aqila memasuki toko perlengkapan bayi. Aqila langsung menghambur ke bagian pakaian bayi yang berjejer.


"Sayang, aku kesana dulu ya mau lihat-lihat kereta bayi."


"Hmm."


Raffa pun memisahkan diri dari Aqila, disaat Raffa sedang asyik melihat-lihat berbagai macam stroler dari yang murah sampai yang mahal, tiba-tiba suara seseorang menghentikan kegiatan Raffa.


"Raffa."


Raffa tampak celingukkan mencari sumber suara, hingga seorang perempuan sexi menghampiri Raffa.


"Ah, benar kan kamu Raffa, apakabar Raff?" seru wanita itu dan langsung cipika-cipiki membuat Raffa mundur satu langkah.


"Maaf, kamu siapa?"


"Ya ampun Raffa, masa kamu lupa sih sama aku, aku Jessi teman kuliah kamu dulu waktu di Australia. Astaga kamu semakin tampan saja Raffa," ucap wanita yang bernama Jessi itu dengan bergelayut manja di lengan Raffa.


"Oh iya-ya, apakabar?"


"Baik, kamu ngapain di tempat seperti ini?" tanya Jessi.


"Aku sedang lihat-lihat kereta bayi buat calon anakku."


"Kamu sudah nikah?"


"Iya dan sekarang istriku sedang mengandung."


"Sayang sekali ya, ternyata cowok dingin dan galak bisa menikah juga, justru aku yang play girl belum ketemu jodoh juga sampai sekarang," seru Jessi.


"Wah, sangat sulit di percaya."


Raffa menarik diri untuk sedikit menjauh dari Jessi.


"Kamu tidak ada niatan untuk nambah istri Raff? aku available loh," seru Jessi nekat, siapa juga yang tidak jatuh hati kepada sosok Raffa yang semakin berumur malah semakin mempesona.

__ADS_1


"Ah, tidak satu saja cukup."


"Oh iya, istri kamu mana? kalau istri kamu lebih cantik daripada aku, aku akan ikhlasin deh."


Tiba-tiba ponsel Raffa bergetar...


"AKU MAU PULANG."


"Sorry Jes, aku harus pergi."


"Tapi Raff, kita kan baru ketemu."


"Lain kali saja soalnya Aqila sudah menungguku."


Raffa cepat-cepat pergi mencari Aqila sementara Jessi terlihat cemberut ada perasaan kecewa di hatinya. Raffa mencari keberadaan Aqila tapi Raffa tidak menemukannya.


"Mbak, maaf apa Mbak lihat wanita hamil tadi lewat sini?" tanya Raffa dengan perasaan cemas.


"Sudah keluar barusan."


"Oh begitu, terima kasih."


Raffa cepat-cepat berlari keluar dan mencari keberadaan Aqila. Raffa sangat takut kalau-kalau Aqila merasa tidak enak badan, tidak lama kemudian mata Raffa menangkap sosok Aqila sedang duduk di kursi sendirian.


"Ya ampun Sayang, kamu kenapa? apa ada yang sakit?" tanya Raffa dengan perasaan khawatir.


Aqila tidak menjawab, dia malah langsung berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan Raffa yang tampak kebingungan.


"Loh Sayang, kamu kenapa? mana yang sakit, kita balik lagi ke rumah sakit yuk."


"TIDAK," ketus Aqila.


Aqila terus saja berjalan tanpa menghiraukan Raffa yang sudah terlihat cemas.


"Pelan-pelan jalannya Sayang, nanti kamu jatuh loh," seru Raffa selembut mungkin.


"Biarin."


Suara Aqila sedikit bergetar dan Raffa menyadari itu, ada yang tidak beres dengan istrinya.


"Katanya mau lihat perlengkapan bayi, ayo kita balik lagi ke toko yang tadi," bujuk Raffa.


"Tidak, tidak jadi, tidak perlu, tidak usah beli sekalian."


"Sayang, please jangan seperti ini, ngomong dong kamu kenapa? aku salah apa?" rengek Raffa.


"Aku tidak apa-apa, pokoknya aku mau pulang, aku capek."


"Ok kita pulang, kamu tunggu di lobi aku ambil mobil kamu duduk dulu di situ," seru Raffa.


Raffa mencoba meraih tangan Aqila tapi dengan cepat Aqila menepisnya dan itu membuat Raffa semakin frustasi dibuatnya.


"Jangan pegang-pegang."


"Kamu mau minum?" tanya Raffa.


Tanpa menyerah Raffa dengan sabar membujuk Aqila yang menurut Raffa sedang emosi tapi Raffa sama sekali tidak tahu Aqila marah karena apa.


"Tidak, ambil saja mobilnya sekarang," bentak Aqila.


Saat ini tedengar jelas kalau suara Aqila bergetar menahan tangis, dengan buru-buru dan berlari Raffa mengambil mobilnya. Perasaannya tak karuan memikirkan apa yang sebenarnya sudah terjadi kepada Aqila.


Setelah berhasil mengambil mobilnya, Raffa segera menuju lobi dan Raffa langsung membukakan pintu untuk Aqila, Aqila tampak berdiri menundukkan kepalanya, perasaan Raffa semakin kacau, Raffa benci melihat Aqila menangis.


Selama dalam perjalanan, tidak ada perbincangan diantara keduanya. Raffa mengemudikan mobilnya dengan perasaan tak karuan, apalagi saat ini Aqila terus saja menangis dan mengusap airmatanya dengan tangannya.


"Sayang, aku salah apa? kamu ngomong dong kalau kamu tidak ngomong, aku mana tahu salahku apa," seru Raffa.


Aqila masih saja diam tidak mau bersuara..


"Sayang!!"


Raffa mencoba meraih tangan Aqila tapi Aqila kembali menepis tangan Raffa kali ini sepertinya Aqila benar-benar marah kepada Raffa.


"Aku tidak suka, Mas pegang-pegang wanita itu," seru Aqila dengan tangisannya.


"Wanita mana? wanita yang tadi di toko perlengkapan bayi? dia Jessi teman kuliahku dulu."


"Terserah, yang jelas aku tidak suka. Kenapa kamu tidak sekalian iyain saja tawaran dia yang ingin menjadi istri kedua kamu? sana kawin lagi," ketus Aqila dengan tangisannya.

__ADS_1


"Amit-amit Ya Alloh, aku tidak pegang-pegang dianya saja yang sok akrab lagipula aku sudah bilang kok sama dia kalau aku sudah nikah."


"Aku tahu sebenarnya Mas juga suka kan sama dia, dia wanita sexi dan jauh lebih cantik daripada aku, mana badannya juga bagus, beda dengan aku yang sebentar lagi menjadi gemuk," ketus Aqila.


Aqila semakin dikuasai oleh emosi, hormon kehamilan Aqila membuat Aqila menjadi lebih sensitif dan cepat marah.


"Tidak Sayang, tidak akan pernah kamu jangan mikir yang tidak-tidak dong, kamu saat ini sedang hamil, aku tidak mungkin melakukan hal yang kamu ucapkan barusan. Kalau aku niat selingkuh, sudah saja waktu kamu menghilang lima tahun aku menikah dengan wanita lain bukannya malah nungguin kamu."


Tidak ada sahutan lagi dari Aqila, sampai di rumah pun Aqila langsung masuk dan itu membuat Raffa semakin gila melihat tingkah laku istri tercintanya itu. Aqila berjalan sendiri ke kamarnya tanpa menunggu Raffa.


Raffa segera turun dari mobilnya dan menyusul Aqila.


"Bi Ria, Bi.." teriak Raffa.


"Iya Tuan ada apa?"


"Tolong ambilkan kunci serep kamar saya."


"Baik Tuan."


Tidak lama kemudian Bi Ria pun datang dengan kunci di tangannya. Raffa segera mengambilnya dan dengan cepat-cepat menyusul Aqila ke kamar.


Raffa membuka pintu kamarnya dengan sangat hati-hati, dilihatnya Aqila menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Raffa segera bergabung dari sisi sebelahnya, menyusupkan tangannya ke dalam selimut dan memeluk Aqila dari belakang. Aqila ingin menghindar, namun Raffa menahannya.


"Sayang, apa kamu tidak capek dari tadi ngambek terus? kalau kamu masih marah sama aku, lebih baik kamu pukul aku kalau tidak omelin aku, aku janji aku akan diam tidak akan membela diri, ayo kamu bisa mulai sekarang, asalan kamu tidak kemana-mana dan tetap berada di samping aku," seru Raffa dengan menciumi pucuk kepala Aqila berulang-ulang.


"Kamu marah karena aku di pegang sama wanita lain membuat aku bangga, itu artinya kamu sayang sama aku. Aku tidak tahu seberapa besar rasa cinta kamu kepadaku tapi yang pasti rasa cintaku lebih besar daripada kamu. Demgerin aku, dia memang cantik, badannya bagus, tapi buatku itu biasa saja karena di mataku cuma satu wanita yang aku cintai, yang akan mendampingiku selamanya, yang aku inginkan menjadi Ibu dari anak-anakku, yang akan aku cintai seumur hidupku, yang saat ini aku peluk, yang wajahnya ingin kulihat setiap ku buka mataku, dia adalah Aqila Citra Kirana," jelas Raffa.


Kata demi kata yang Raffa ucapkan mebiat hati dan wajah Aqila menghangat di waktu bersamaan. Airmatanya kembali luruh, dia merasa malu akan kebodohannya yang dia lakukan karena rasa cemburu.


"Maaf."


Hanya itu yang terlintas di pikiran Aqila.


"Ssstttt...kok kamu minta maaf sih, kan aku tadi sudah bilang kalau aku suka kamu cemburui."


Aqila pun membalikkan tubuhnya sehingga saat ini mereka saling berhadapan, Raffa menghapus jejak-jejak airmata yang masih tersisa dengan ibu jarinya.


"Mas janji tidak akan pernah ninggalin aku walaupun nanti aku berubah menjadi gendut dan jelek?"


"Tidak akan, kamu saja tidak selesai-selesai aku garap."


Aqila mencubit perut Raffa sehingga Raffa tampak meringis.


"Aw..sakit Sayang."


"Syukurin, habisnya Mas selalu saja ujung-ujungnya mengarah kepada kemesuman."


"Tapi kamu suka kan?" goda Raffa.


"Idih apaan."


Aqila pun mulai beranjak dari tempat tidur..


"Sayang, kamu mau kemana?"


"Mau mandi, gerah."


"Ikuuuuutttt."


Raffa langsung meloncat dari tempat tidur menyusul Aqila ke kamar mandi.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2