GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Bayi Siapa Itu??


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Clarissa sampai di rumahnya dengan airmata yang masih mengalir dipipinya.


"Kamu kenapa Rissa? mana Lissa?" tanya Mama Mirna.


"Aku sudah memberikan anakku kepada orang yang tepat Ma."


"Maksud kamu apa Rissa? kamu memberikan Lissa kepada siapa?" Mama Mirna kembali bertanya dan mengguncangkan pundak Clarissa.


"Sudahlah Ma, Mama jangan banyak bertanya yang penting sekarang Lissa sudah berada di tangan yang tepat, aku tidak mau Lissa hidup sengsara aku ingin Lissa bahagia dan hidup layak, nanti setelah Clarissa sukses, Clarissa akan mengambil Lissa kembali," sahut Clarissa.


Mama Mirna hanya bisa terdiam, dia tidak tahu harus bicara apa lagi.


"Ayo Ma, kita harus segera pergi dari sini," ajqk Clarissa yang sudah menggeret kopernya.


"Tapi Rissa---"


"Sudah Ma, Mama percaya sama Clarissa, Lissa akan baik-baik saja, hati aku mengatakan kalau Lissa akan bahagia."


Mama Mirna dan Clarissa pun akhirnya pergi dari kontrakan itu menuju Jogja tanah kelahiran Clarissa. Tidak di pungkiri, selama dalam perjalanan Clarissa terus saja menangis menahan sesak di dadanya, tapi ini adalah jalan terbaik supaya anaknya bisa hidup layak.


"Maafkan Mama Nak, suatu saat nanti Mama akan mengambil kamu kembali bersabarlah," batin Clarissa.


Sementara itu di kediaman Abraham, siang itu Satpam penjaga rumah Raffa terkejut saat mendengar suara tangisan yang sangat nyaring. Setelah di cari-cari, ternyata tangisan bayi itu berada tepat di depan pintu gerbang rumah Abraham.


"Astagfirullah, bayi siapa ini?" gumam Satpam itu dengan paniknya.


Satpam yang bernama Rusdi itu kemudian menggendong bayi perempuan cantik itu dan membawanya ke dalam rumah.


"Maaf, permisi Eyang."


"Rusdi kamu gendong bayi siapa itu?" tanya Bi Ria yang saat ini sedang menemani Eyang.


"Maaf Eyang, tadi saya menemukan bayi ini di depan pintu gerbang rumah ini," sahut Pak Rusdi.


"Apa? jangan-jangan ada yang membuang bayi itu di depan rumah ini Eyang, bagaimana ini?" tanya Bi Ria.


"Mana coba saya lihat sini," ucap Eyang.


Pak Rusdi pun menyerahkan bayi perempuan cantik itu ke pangkuan Eyang.


"Kalau begitu, saya permisi dulu."


"Astaga Ria, lihatlah bayi ini cantik sekali siapa Ibu yang tega membuang anak secantik ini? sungguh kejam hatinya itu," seru Eyang.


"Masyaalloh Eyang, iya cantik sekali mana menggemaskan, sepertinya ini bayi baru di lahirkan Eyang soalnya kulitnya saja masih merah seperti itu," sahut Bi Ria.


Setelah Eyang memperhatikan bayi itu, matanya menangkap sesuatu di balik selimut bayi dan itu adalah secarik kertas, Eyang mengambil kertas itu.

__ADS_1


"Ria, tolong kamu pegang bayi ini dulu."


"Baik Eyang."


Perlahan Eyang pun membuka surat itu...


"Untuk Eyang dan Mas Raffa, disaat kalian menemukan bayi itu kalian pasti akan terkejut karena aku sudah dengan lancangnya menyimpan anakku di depan rumah kalian, maafkan aku yang dengan tidak tahu malunya memberikan anakku kepada kalian. Aku terpaksa melakukannya karena saat ini aku sangat bingung, aku sudah tidak punya apa-apa lagi dan aku tidak sanggup mengurus anakku sendiri. Anggaplah aku seorang Ibu yang jahat sudah membuang anaknya sendiri, tapi itu semua karena terpaksa aku tidak mau anakku hidup menderita, aku memang wanita yang egois dan tidak tahu malu tapi untuk kali ini aku mohon dengan sangat tolong jaga dan rawat anakku, aku janji tidak akan menampakkan wajahku lagi dihadapan kalian, tolong sayangi dia aku mohon aku sudah tidak punya pilihan lain......Clarissa....."


Itilah isi surat yang terselip diantara selimut bayi cantik nan mungil itu.


"Apa Eyang isi surat itu?" tanya Bi Ria.


"Ini adalah anaknya Clarissa, dia ingin kita yang merawat anaknya karena saat ini dia sudah tidak punya apa-apa lagi."


"Astaga, jadi ini anaknya wanita itu? terus apa yang akan Eyang lakukan selanjutnya?" tanya Bi Ria.


"Biarkan anak itu tinggal disini, memangnya aku akan tega apa membiarkan bayi sekecil itu berada diluaran sana."


"Tapi Eyang bagaimana kalau Tuan Raffa tahu dan marah?" tanya Bi Ria.


"Makannya Raffa jangan sampai tahu, kamu harus merahasiakannya, aku memang membenci wanita itu tapi bayi ini tidak berdosa justru aku akan sangat berdosa kalau sampai membiarkan bayi ini diluaran sana," ucap Eyang.


"Baiklah Eyang."


Waktu pun berjalan dengan cepat, jam sudah menunjukan pukul lima sore, Raffa pun sudah sampai di rumahnya. Raffa melangkahkan kakinya menuju ke kamar, tapi ekor matanya melihat ada sesuatu yang aneh.


Ya, Raffa melihat Eyang sedang memberikan susu kepada bayi dan dibantu oleh Bi Ria. Raffa pun akhirnya menghampiri Eyang dan tidak jadi masuk ke kamarnya.


"Bayi siapa itu?" tanya Raffa dengan dinginnya.


"Eyang, Raffa kan nanya bayi siapa itu? kenapa ada bayi disini?" tanya Raffa dengan dinginnya.


"Eyang baru saja mengadopsinya dari panti asuhan," dusta Eyang.


"Apa? buat apa Eyang mengadopsi anak orang lain?" tanya Raffa.


"Habisnya kalau nunggu cicit dari kamu lama, mending mengadopsi anak orang selain dapat pahala, rumah ini juga akan ramai dengan tangisan bayi jadi Eyang tidak kesepian lagi," seru Eyang.


"Memangnya Eyang kuat mengurus anak itu?" tanya Raffa sinis.


"Kan ada Bi Ria, terus Eyang juga sudah menyewa babysitter besok sudah mulai bekerja disini, bagaimana boleh kan Eyang mengadopsi anak ini?" tanya Eyang dengan penuh harap.


Raffa tampak berpikir sejenak, dia melihat wajah Eyang yang sangat bahagia kala menggendong anak itu.


"Ya sudahlah, terserah Eyang saja," ucap Raffa dan beranjak meninggalkan Eyang.


Eyang tampak bertos ria dengan Bibi Ria, wanita paruh baya itu tampak bahagia setelah Raffa mengizinkan bayi Clarissa tinggal di rumah itu.


Sementara itu di kamar, Raffa langsung merebahkan tubuhnya di ranjang king sizenya itu tanpa melepas jasnya dahulu. Tatapannya lurus ke atas langit-langit kamarnya.


"Bagaimana Eyang mau punya cicit, cucu mantunya juga kabur entah kemana? Raffa janji akan menemukan Aqila dan membawa Aqila ke hadapan Eyang, karena Raffa hanya ingin mempunyai anak dari Aqila seorang bukan dari wanita lain," batin Raffa.


Hati Raffa tampak menghangat dan wajah Raffa pun berubah menjadi merah tatkala membayangkan dirinya mempunyai anak dari Aqila, baru membayangkan saja rasanya sudah sangat bahagia apalagi kalau nyata mungkin Raffa akan sangat bahagia melebihi apapun.


"Pulanglah Aqila, kamu sudah terlalu lama bersembunyi, mau sampai kapan kamu menghindar dariku," batin Raffa.


***

__ADS_1


Keesokan harinya...


Raffa terbangun karena terganggu oleh suara gaduh di bawah dan ternyata Raffa tidur masih menggunakan jas bahkan sepatunya pun belum dia lepas. Perlahan Raffa melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, setelah siap Raffa pun turun kebawah.


Sesampainya di bawah, betapa terkejutnya Raffa saat melihat semua pelayannya sibuk silih berganti menggendong bayi yang diberi nama Cyra Raqila Abraham itu karena anak itu tampak menangis tidak mau berhenti.


"Ya ampun ada apa ini? pagi-pagi sudah berisik?" seru Raffa dengan ketusnya.


"Ini Raffa, Cyra nangis terus tidak tahu kenapa padahal dia baik-baik saja tidak sakit," sahut Eyang.


"Berisik banget sih Eyang, kasih susu biar diam," ketus Raffa.


"Sudah tapi dia tidak mau, coba kamu gendong sebentar siapa tahu Cyra bisa berhenti menangis," pinta Eyang.


"Tidak mau Eyang, Raffa tidak bisa menggendong bayi," tolak Raffa.


Tapi dengan cepat Eyang memberikan Cyra ke pangkuan Raffa walaupun Raffa tidak mau dan hasilnya sungguh ajaib, Cyra diam tidak menangis lagi.


"Tuh kan, Cyra diam mungkin dia ingin di gendong sama Daddynya," celetuk Eyang.


"Apa Daddy? jangan bercanda deh Eyang, mana mungkin Raffa di panggil Daddy sama anak orang, Raffa pengen yang manggil Daddy itu anak Raffa sama Aqila," ucap Raffa dengan nada pelan tapi masih terdengar oleh Eyang.


Eyang pun menyunggingkan senyumannya...


"Iya, ini belajar dulu ngurus bayi sebelum nanti kamu beneran punya anak bersama Aqila," goda Eyang.


Raffa menatap lekat bayi yang sekarang terlihat tidur pulas di pangkuannya, ada perasaan hangat di hatinya saat melihat wajah bayi mungil nan menggemaskan itu. Tiba-tiba dari bibir Raffa terbit sebuah senyuman.


"Apa aku akan bertemu lagi dengan Aqila? Ya Tuhan, berilah kesempatan untukku bertemu dengan Aqila, supaya aku bisa menebus kesalahanku dan membahagiakannya," batin Raffa.


Setelah dirasa tidurnya pulas, kemudian Babysitter yang bernama Santy itu mengambil alih Cyra dari tangan Raffa dan membawanya ke kamarnya.


"Eyang, apa Raffa masih bisa bertemu dengan Aqila?" tanya Raffa lirih.


"Eyang yakin, kalian akan bertemu lagi dan Aqila akan kembali," sahut Eyang.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU😘😘😘

__ADS_1


__ADS_2