GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Rinduku


__ADS_3

πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Satu tahun kemudian....


Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, hari demi hari Raffa semakin sibuk dengan pekerjaannya. Raffa sering bolak-balik ke luar kota bahkan sampai ke luar negeri.


Seperti saat ini Raffa sedang berada di Singapura, di sudah satu minggu berada di Negara Singa itu. Rasa rindu kepada anak istrinya sudah mulai menyerang Raffa.


"Ah, akhirnya selesai juga," gumam Raffa dengan merentangkan kedua tangannya.


Raffa menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi dan sedikit memijat pelepisnya. Raffa sungguh kewalahan, tidak ada Rey di sampingnya karena saat ini Ranti sedang hamil muda dan Ranti mengalami ngidam yang cukup parah.


Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun terakhir, Raffa pergi tanpa di dampingi Rey. Biasanya mulai dari pakaian, hotel, tiket pulang-pergi, dan keperluan lainnya Rey yang ngurus, Raffa hanya tinggal duduk manis menunggu hasil.


Tapi kali ini Raffa harus mengurusnya sendiri, capek dan lelah menyerangnya, apalagi rasa rindu terhadap anak dan istrinya semakin membuncah. Raffa segera bangkit dan bersiap-siap menuju Bandara untuk pulang.


"Tunggu Daddy, kesayangan-kesayangan Daddy," gumam Raffa sembari melihat foto anak dan istrinya yang dia jadikan wallpaper depan ponselnya.


***


Setelah mendarat, waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, Pak Burhan sudah menunggu di depan Bandara untuk menjemput Tuannya itu. Raffa sengaja tidak memberi tahukan kepulangannya kepada sang istri.


"Pak, apa Aqila dan Edrik sudah tidur?" tanya Raffa di sela-sela perjalanannya.


"Nyonya dan Den.Edrik tidak pernah bergadang Tuan, pukul delapan juga Nyonya selalu mengajak Den.Edrik untuk tidur."


Raffa tersenyum, Aqila memang pinter dalam mengurus Edrik. Dia sangat cekatan, buktinya saja di umur Edrik yang sekarang menginjak satu tahun, Edrik sudah bisa berjalan.


Beberapa menit kemudian, roda mobil Raffa sampai di pekarangan rumahnya yang luas. Begitu keluar dari mobil, Raffa langsung masuk ke dalam rumah. Setelah menutup pintu dan menguncinya, Raffa langsung naik ke kamarnya.


Perlahan Raffa membuka pintu kamarnya karena takut mengganggu tidur Aqila dan anaknya. Sebuah pemandangan menyejukkan menyambut kedatangan Raffa, Aqila terlelap dengan sang anak yang juga terlelap di dalam dekapan ibunya. Pemandangan seperti ini selalu Raffa rindukan saat Raffa ada perjalanan bisnis ke luar kota ataupun ke luar negeri.


Raffa bergerak pelan, duduk di pinggiran ranjang mendekati Aqila, diciumnya kening sang istri sehingga membuat Aqila menggeliat dan meregangkan otot-ototnya yang terasa sangat kaku. Aqila sudah hapal kelakuan lelakinya itu, perlahan Aqila membuka mata dan tersenyum saat merasakan sentuhan lembut Raffa di kepalanya.


"Mas sudah pulang?"


"Kenapa bangun? kamu istirahat saja, maaf sudah membangunkanmu."


Bukan Aqila namanya kalau bisa tidur lagi setelah terganggu. Aqila memang punya kebiasaan kalau tidurnya sudah terganggu, dia tidak akan bisa tidur lagi dalam waktu yang lama. Aqila mendudukkan tubuhnya dan bersandar di bahu ranjang.


"Mas sudah makan?"


"Sudah."


"Ya sudah, aku ambilkan baju ganti dulu buat kamu Mas."


Aqila beranjak dan mengambilkan baju ganti untuk Raffa. Tapi di saat Aqila membawa baju ganti, Aqila melihat Raffa mengangkat tubuh mungil Edrik.


"Loh Mas, kamu mau bawa Edrik kemana?"


"Sssttt..jangan berisik, nanti Edrik bangun. Tolong kamu bukakan pintu kamar Edrik," bisik Raffa.


Aqila menurut dan membukakan pintu penghubung antara kamarnya dan kamar Edrik. Dengan sangat pelan Raffa merebahkan tubuh Edrik supaya Edrik tidak bangun.


"Maafkan Daddy Sayang, Daddy pinjam Mommy dulu ya malam ini sampai besok kamu bangun," bisik Raffa.


Tatapan tajam Aqila mengarah tepat kepada Raffa setelah Raffa mengucapkan kata-kata seperti itu. Satu minggu mereka berpisah, Aqila tahu apa yang akan Raffa lakukan setelah mereka bertemu.


"Ya ampun Mas, nanti Edrik bangun loh."


"Tidak akan, percaya deh sama aku."


Raffa mengangkat tubuh Aqila dan merebahkannya di atas tempat tidur.


"Kamu kan kalau tidurnya keganggu bakalan susah untuk tidur lagi, jadi lebih baik sekarang giliran kamu urusin aku."


"Tapi Mas----"


Raffa sudah tidak mendengar ocehan Aqila, saat ini dia malah sudah sibuk menjelajahi tubuh Aqila dan melepaskan semua pakaian Aqila.


"Jatah aku malam ini sampai besok Edrik bangun, ok Baby."


"Hah..."


Aqila tidak bisa berkata apa-apa lagi, melawan pun percuma.


***


Keesokan harinya....


Saat ini Aqila sudah rapi, sedangkan Raffa masih berada di dalam kamar mandi. Tadi malam Raffa benar-benar tidak membiarkan Aqila tidur, Aqila baru bisa tidur saat jam menunjukan pukul tiga menjelang subuh.


Aqila dengan cepat masuk ke dalam kamar Edrik, dilihatnya Edrik sudah bangun dan sedang bermain sendirian.


"Pagi jagoan Mommy, kamu sudah bangun ya."


Aqila mengangkat tubuh Edrik dan menghujani seluruh wajah Edrik dengan ciuman, sehingga membuat Edrik tertawa karena merasa geli. Sedangkan Raffa yang saat ini sedang melihat pemandangan di hadapannya itu tersenyum senang, itu merupakan pemandangan yang sangat membuat Raffa bahagia.


"Sayang, Daddy pulang loh katanya kamu kangen sama Daddy," seru Aqila.

__ADS_1


"Mana yang kangen sama Daddy?"


Aqila membalikkan tubuhnya, Edrik yang melihat Raffa mendekat semakin berontak karena ingin di gendong sama Raffa.


"Sini, Daddy gendong ya ampun jagoan Daddy makin berat saja, Mommy kamu kasih kamu makan apa Boy," seru Raffa yang langsung menghujani Edrik dengan ciuman.


"Kamu jagain Edrik dulu ya, aku mau menyiapkan makanannya dulu."


"Ok Mommy."


Setelah selesai memberi makan Edrik dan memandikannya, sekarang giliran Raffa dan Aqila yang sarapan bersama.


"Sayang, sepertinya kita sudah lama tidak liburan, bagaimana kalau kita liburan bersama Edrik?"


"Boleh tuh, tapi aku mau liburannya ke tempat yang nyaman untuk Edrik dan jangan jauh-jauh soalnya Edrik masih kecil, kita liburan di dalam negeri saja yang dekat-dekat," sahut Aqila.


"Ok, kamu ingin liburan kemana?"


"Bagaimana kalau kita liburan ke pedesaan saja, pasti sangat menyenangkan apalagi udara di pedesaan sangat bagus untuk Edrik."


"Baiklah, besok kita pergi ke Bogor aku disana punya villa dan kita liburan ke sana untuk beberapa hari."


"Edrik, kamu dengar Sayang? besok Daddy mau ngajak kita liburan."


Seperti yang ngerti dengan ucapan Mommynya, Edrik tertawa mendengar ucapan Aqila membuat Aqila dan Raffa ikut tertawa karena gemas melihat tingkah jagoan mereka yang sangat lucu itu.


Hari ini merupakan quality time untuk Raffa dan Aqila. Baby Edrik sedang tidur siang di kamarnya di temani oleh suster Sarah. Sedangkan Aqila, dia lagi bermanja-manja kepada sang suami dengan menyandarkan kepalanya di pundak Raffa.


"Mas, dua minggu lagi Zahra akan menikah dengan Mas Jino tapi kenapa ya perasaan aku tidak enak."


"Tidak enak bagaimana?"


"Seperti akan terjadi sesuatu gitu, soalnya perasaan aku benar-benar tidak enak."


"Jangan berpikiran yang macam-macam, kita harus positif thingking, kalau pernikahan mereka akan berjalan dengan lancar."


"Amin."


Tiba-tiba ponsel milik Aqila berbunyi tanda ada notif pesan. Di saat Aqila membukannya ternyata pesan itu dari Zahra.


"Pesan dari siapa Sayang?"


"Zahra Mas, dia ngajak ketemuan sama Ranti juga."


"Kapan?"


"Nanti sore, boleh kan Mas? aku pergi menemui mereka?"


"Hmm..boleh tapi jangan terlalu lama, kasihan Edrik takutnya dia tidak nyaman dan satu lagi nanti aku yang anterin kamu ke sana."


"Siap, terima kasih ya Mas."


"Maksudnya?" tanya Aqila bingung.


"Mumpung Edrik sedang tidur siang, kita juga harus tidur siang."


"Apaan, tidak Mas saja sana kalau mau tidur siang."


"Tapi kalau sendiri, aku tidak akan tidur kalau di temani kamu pasti tidur."


"Tidak, Mas pasti bukan pengen tidur kan tapi pengen hal lain," tebak Aqila.


"Nah itu kamu tahu, kita olahraga siang dulu habis itu baru tidur," sahut Raffa dengan menaik turunkan alisnya.


"Astaga Mas, memangnya tadi malam masih kurang? aku sampai tidur pukul tiga dan sekarang masih mau lagi," ucap Aqila tidak percaya.


"Mumpung ada di rumah Sayang, kamu kan tahu sendiri kalau akhir-akhir ini aku sibuk banget dan jarang pulang ke rumah, kali saja Edrik bisa punya adik."


"Apa? Edrik masih kecil Mas, masa mau punya adik lagi?"


"Ya tidak apa-apalah, kita harus punya banyak anak biar rumah sebesar ini rame dan banyak penghuninya."


Aqila melotot dengan ucapan Raffa tapi Raffa tidak memperdulikannya, dia pura-pura tidak peduli dan menarik tangan Aqila dan membawanya naik ke kamarnya.


***


Sore pun tiba, Aqila saat ini sedang siap-siap ingin menemui kedua sahabatnya Zahra dan Ranti. Edrik sudah menunggu di dalam mobil bersama Daddynya.


"Yuk kita berangkat sekarang," ajak Aqila.


Aqila mengambil alih Edrik dari pangkuan Raffa karena Raffa akan mengemudikan mobilnya. Selama dalam perjalanan, Edrik tidak hentinya mengoceh bahasa bayi sangat menggemaskan.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya Aqila pun sampai di sebuah restoran yang di janjikan oleh Zahra. Zahra dan Ranti sudah sampai duluan, Ranti datang bersama Rey suaminya karena Ranti masih dalam proses ngidam yang parah.


"Hallo semuanya, maaf aku telat."


"Tidak apa-apa Qila, hallo Edrik tampan sini Aunty gendong," seru Zahra.


"Rey, kayanya kita ngopi beda meja saja biarkan para wanita ini mengobrol dulu," seru Raffa.


"Iya Bos, Sayang aku sama Bos Raffa pindah kesana ya kalau ada apa-apa panggil saja aku disana."


"Iya Sayang."


"Ya ampun Ranti, wajah you pucat banget."


"Iya Qila, aku ngidam parah banget tidak mau makan nasi, hanya masuk susu hamil saja yang lainnya setiap masuk pasti keluar lagi."

__ADS_1


"Astaga, parah banget ngidam you," sahut Zahra.


"Oh iya, you mau ngomongin apa sama kita?" tanya Aqila.


"Begini, saat ini aku lagi sebel sama Mas Jino, apa aku batalin saja pernikahan kita."


"Apa?" seru Aqila dan Ranti bersamaan.


"You jangan macam-macam, pernikahan kalian tinggal dua minggu lagi," seru Ranti.


"Jangan gila you, memangnya ada masalah apa sih antara you dan Mas Jino?" tanya Aqila.


"Kemarin ada seorang wanita yang menghubungi Mas Jino, dan dari nada bicaranya wanita itu seperti yang sudah akrab dengan Mas Jino."


"Terus you sudah tanya sama Mas Jino, siapa wanita itu?" tanya Aqila.


"Sudah, katanya dia anak dari salah satu rekan bisnisnya dan Mas Jino bilang dia tidak tahu kalau wanita itu dapat nomor Mas Jino dari mana karena Mas Jino tidak mengenalnya."


"Nah, itu Mas Jino sudah menjelaskannya, sudahlah jangan di ambil pusing, lagipula Mas Jino bukan tipe pria yang gampang tergoda oleh wanita lain karena Mas Jino itu satu tipe sama Mas Raffa dan Mas Rey," sahut Ranti.


"Tapi aku takut, Mas Jino bohong dan malah selingkuh di belakang aku."


"Pikiran kamu terlalu jauh,mendingan sekarang kamu hubungi Mas Jino suruh jemput kamu kesini dan selesaikan masalah kalian jangan sampai berlarut-larut karena dua minggu lagi loh kalian akan menikah," seru Aqila.


Zahra tampak berpikir, hingga akhirnya Zahra pun menuruti ucapan Aqila dan menghubungi Jino. Tidak butuh waktu lama, akhirnya Jino pun muncul. Setelah makan dan ngobrol-ngobrol sebentara, mereka pun pulang ke rumah masing-masing.


Selama dalam perjalanan, Zahra dan Jino masih saling diam. Hingga akhirnya suara ponsel Jino terdengar, ada notif pesan yang masuk, Jino membukanya dan lagi-lagi wanita itu menghubungi Jino dengan mengirim pesan yang isinya sangat mesra.


"Sial," gumam Jino.


"Kenapa Mas? siapa yang mengirim pesan? mana coba aku lihat."


Zahra langsung merebut ponsel Jino sehingga membuat Jino tersentak. Mata Zahra melotot saat melihat pesan mesra yang dikirim wanita lain kepada calon suaminya itu. Tanpa terasa airmata Zahra menetes dan Jino langsung menepikan mobilnya.


"Siapa sebenarnya wanita ini?" tanya Zahra dengan deraian airmata.


"Dia bukan siapa-siapa Sayang, percayalah padaku."


"Kalau bukan siapa-siapa, kenapa wanita ini selalu bilang kalau dia masih sayang sama Mas?" bentak Zahra.


Jino menjambak rambutnya sendiri merasa frustasi, Jino benci kalau harus melihat Zahra menangis.


"Sayang please jangan menangis, ok aku akan jujur sama kamu tapi tolong kamu harus percaya sama aku, sekarang aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi sama dia. Wanita itu namanya Rosa, dia mantan aku tapi sumpah demi apapun aku sudah tidak punya perasaan apa-apa lagi sama dia, dan aku tidak tahu kenapa dia terus saja menghubungi aku tapi demi Alloh aku tidak pernah membalas pesan dari dia, untuk saat ini hanya kamu wanita yang aku cintai," seru Jino.


"Buka kuncinya, aku mau turun disini," seru Zahra.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan kamu turun dari mobilku."


"Aku bilang, aku mau turun," teriak Zahra.


Jino bukannya membuka pintu mobilnya dia malah menancabkan gas dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Mas hentikan mobilnya, kamu mau kita celaka," teriak Zahra yang sudah mulai panik.


"Kita akan menemui Rosa, supaya kamu percaya kalau aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya."


"Iya, tapi kamu jangan ngebut kaya gini aku takut Mas."


"Aku marah karena kamu tidak percaya sama aku."


"Ok, baiklah sekarang aku percaya tapi tolong pelankan mobilnya."


Baru saja Zahra selesai bicara, di depan mereka ada sebuah mobil truk yang mau berbelok, Jino yang mengemudi dengan kecepatan yinghi tidak sempat menginjak remnya.


"Awaaaaasss Maaaaasssss...."


"Aaaaaaaaaaa......"


Brrrruuuuugggghhhhh.....


Suara hantaman mobil Jino begitu keras, bahkan saat ini mobil Jino sudah berguling-guling. Zahra sudah tidak sadarkan diri dengan wajah penuh darah, tangan Jino yang sudah penuh darah mencoba menggapai wajah Zahra.


"Ma--maafkan ak--aku Zah--ra."


Jino pun menyusul Zahra tidak sadarkan diri.


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Detik-detik menuju END....


Bagaimana ya nasib Zahra dan Jino selanjutnyaπŸ€”πŸ€”


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2