GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Sakit


__ADS_3

πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Malam itu Rey mengantarkan Raffa pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Clarissa sudah menunggunya di depan pintu.


"Kenapa dengan Mas Raffa?" tanya Clarissa panik.


"Tuan Raffa mabuk parah Clarissa."


"Ya sudah, bawa Mas Raffa ke kamarku saja."


"Maaf Clarissa, tapi saya takut Tuan Raffa marah kalau membawa dia ke kamar kamu," sahut Rey.


"Dasar tidak punya sopan santun, panggil saya Nyonya karena sekarang saya sudah menjadi istri atasan kamu bahkan saat ini saya sedang mengandung anaknya Mas Raffa," ketus Clarissa.


"Tapi kalau besok Tuan Raffa marah bagaimana?" tanya Rey.


"Tidak akan, kalau Mas Raffa marah nanti aku yang ngomong, cepetan bawa Mas Raffa ke kamarku," suruh Clarissa.


Dengan terpaksa Rey membopong Raffa ke kamarnya Clarissa. Setelah membaringkan Raffa, Rey pun berpamitan kepada Clarissa.


"Mas, kenapa kamu menjadi berubah sama aku?" gumam Clarissa dengan membelai pipi Raffa.


Clarissa mulai membukan kancing kemeja Raffa dan hendak untuk menggantikan pakaian Raffa tapi baru saja kancing kedua, tangan Raffa mencengkram tangan Clarissa sehingga menghentikan Clarissa.


"Apa yang mau kamu lakukan?" seru Raffa dengan dinginnya.


"Aku hanya ingin menggantikan pakaian kamu Mas."


Dengan memegang kepalanya yang terasa pusing, Raffa mulai bangkin dari ranjang Clarissa dan melangkah meninggalkan Clarissa.


"Mas, kamu kenapa sih menjadi berubah seperti ini? padahal sebelumnya kamu begitu menginginkan aku untuk menjadi istrimu, tapi kenapa setelah sekarang aku menjadi istrimu, kamu mengabaikanku begitu saja," seru Clarissa dengan deraian airmata.


"Karena dulu adalah sebuah kesalahanku, aku masih tidak bisa melupakan Claudia dan kedatangan kamu merupakan pengobat rasa rinduku, tapi sekarang aku sadar kalau Claudia sudah pergi dan tidak akan kembali lagi Claudia dan kamu berbeda begitupun dengan hati aku yang berbeda, sekarang hatiku hanya untuk Aqila," sahut Raffa.


"Bukannya Aqila sudah pergi dan memberikan surat gugatan cerai untukmu Mas."


"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menandatangi surat gugatan cerai itu karena aku akan menunggu Aqila sampai dia kembali lagi," sahut Raffa dan meninggalkan kamar Clarissa dengan langkah gontainya.


"Aaaaarrrrrgggghhhh....Aqila kenapa kamu harus ada di dunia ini," teriak Clarissa frustasi.


Sesampainya di kamarnya, Raffa langsung membanting tubuhnya ke atas ranjang kepalanya sudah sangat sakit.


"Maaf aku sudah membuatmu menderita dan sudah menyakiti hati kamu, seharusnya aku tidak melibatkan kamu dengan masa laluku. Claudia hanyalah sepenggal masa lalu dan kamu adalah masa depanku, tolong jangan hukum aku dengan cara lari seperti ini," gumam Raffa dengan meringkuk di atas ranjangnya.


Raffa sadar kalau Aqila tidak akan mendengarnya, setidaknya Raffa bisa melakukannya untuk dirinya sendiri bahwa Aqila yang sekarang berada di hatinya.


Suara lembut Aqila mulai merasuki pikiran Raffa, tingkah lakunya yang selalu menyiapkan pakaian kerjanya selalu terbayang di otak Raffa. Tak hanya patah hati, Raffa mulai merasakan ketakutan, Raffa takut Aqila benar-benar pergi dari hidupnya.


***


Sementara itu di tempat Aqila, ternyata Aqila juga sedang merasakan sakit kepala yang sangat luar biasa sampai-sampai dia meringkuk di tempat tindurnya dengan deraian aitmata dan tangannya memegang kepalanya sendiri.


"Astaga, Kak Qila kenapa Kak?" seru Indah dengan paniknya.


"Kepala aku sakit Ndah, sangat sakit."


"Sebentar ya Kak, aku cari bantuan dulu."


Indah segera berlari keluar, kebetulan Fathir dan yang lainnya sedang berada di teras ngopi-ngopi.


"Ndah, kamu kenapa seperti panik gitu?" tanya Fathir.


"Kak Fathir tolongin Indah, Kak Qila sedang sakit katanya kepalanya sakit."


"Apa?"


Fathir segera berlari menuju kamar Aqila disusul oleh yang lainnya.


"Qila, kamu kenapa?" tanya Fathir panik.


"Kepala aku sakit Fathir."


Aqila terus saja memegang kepalanya...


"Roni, kamu tolong minjam mobil ke Pak Lurah kita bawa Aqila ke Klinik," seru Fathir dengan paniknya.


"Baik."


Fathir memeluk Aqila dengan eratnya, sementara Aqila masih meronta-ronta dengan masih memegang kepalanya.


"Sakit Fathir sakit," teriak Aqila.


"Iya, sabar Qila kita klinik."


Tidak lama kemudian Roni datang dengan pengurus setempat dan dengan cepat Fathir membopong tubuh Aqila dan mbawanya ke Klinik.


Butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai ke Klinik, maklum desa tempat Aqila dan yang lainnya tinggal berada jauh di pelosok dan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk sampai di Klinik.


"Dokter tolong teman saya," teriak Fathir.

__ADS_1


"Ayo bawa ke dalam, tolong anda keluar dulu saya mau periksa."


Fathir dan yang lainnya menunggu diluar, Fathir begitu sangat khawatir dengan keadaan Aqila. Tidak lama kemudian, Dokter yang memeriksa Aqila pun keluar.


"Bagaimana Dok keadaan teman saya?" tanya Fathir.


"Bisa anda ikut dengan saya ke ruangan saya."


Fathir pun mengikuti langkah Dokter menuju ruangannya.


"Silakan duduk."


"Terima kasih Dok."


"Begini, sepertinya teman anda mengalami tekanan batin yang sangat mendalam, saya tidak tahu apa yang sedang dialami teman anda, tapi dia terlalu memikirkan masalahnya itu dan memendamnya sendirian sehingga membuat jiwanya terguncang dan berefek kepada kepalanya yang terasa sangat sakit, saya barusan sudah menyuntikan obat penenang dan obat penghilang rasa sakit tapi obat itu hanya bersifat sementara setelah obatnya habis akan terasa sakit kembali," jelas Dokter.


"Terus bagaimana sekarang Dok?" tanya Fathir.


"Kalau bisa anda sebagai temannya harus selalu menghibur dia, supaya dia tidak selalu ingat kepada masalahnya soalnya kalau terus-terusan seperti ini bisa berbahaya buat kesehatannya," seru Dokter.


"Baik Dok."


"Ini obatnya, diminum setiap terasa sakit saja kalau tidak sakit jangan diminum ya."


"Iya Dok terima kasih."


Fathir menghampiri Aqila yang masih belum siuman paska Dokter memberikan obat penenang, disibaknya rambut Aqila yang menghalangi wajah cantiknya.


"Seberat itukah masalah kamu Aqila, sampai-sampai kamu mengalami depresi seperti ini? aku harus bagaimana Qila, supaya kamu kembali seperti dulu, izinkan aku mengisi kehampaan dan kekosongan hati kamu, aku janji selama disini aku akan membuat kamu lupa denga pria brengsek itu," gumam Fathir.


"Bagaimana Kak, keadaan Kak Qila?" tanya Indah.


"Tidak apa-apa, Qila hanya sakit kepala biasa dan sepertinya aku harus tidur disini untuk malam ini jagain Aqila, jadi lebih baik kamu dan yang lainnya pulang saja besok kalian jemput lagi kita kesini," seru Fathir.


Fathir sengaja tidak memberitahukan keadaan Aqila yang sebenarnya karena Fathir tidak mau sampai mereka tanya-tanya mengenai masalah Aqila.


"Kita temenin kalian saja deh disini," seru Roni.


"Jangan Ron, kasihan anak-anak mereka sekarang lagi semangat-semangatnya belajar kalian jangan patahkan semangat mereka, biar aku saja yang disini kalian pulang saja," sahut Fathir.


"Beneran Kak Fathir tidak apa-apa disini sendirian?" tanya Indah.


"Iya, kalian jangan khawatir lebih baik sekarang kalian cepat-cepat kembali sebelum larut malam."


"Baiklah kalau begitu, kami pulang dulu besok kami jemput kalian lagi kesini," seru Roni.


"Iya, terima kasih ya."


Akhirnya Indah dan yang lainnya pun kembali ke tempat tinggal sementara mereka, sedangkan Fathir tampak duduk disamping Aqila menunggu Aqila.


Keesokan harinya....


"Bi Ria, aku mau pergi dulu tolong nanti bangunkan Mas Raffa," seru Clarissa dengan angkuhnya.


"Baik."


Clarissa melangkahkan kakinya dengan gayanya yang sombong membuat semua pelayan yang ada di rumah itu tampak mendengus kesal.


"Pak Burhan antarkan saya ke rumah Mama," seru Clarissa.


"Baik Nyonya."


Sepeninggalnya Clarissa semua pelayan tampak bergosip ria membicarakan Clarissa yang sangat menyebalkan, sementara Bi Ria hanya bisa geleng-geleng kepala.


"Oh iya, Tuan Raffa kemana? tumben sudah siang belum turun," gumam Bi Ria.


Bi Ria pun berjalan melangkah menuju kamar Raffa.


Tok..tok..tok..


"Tuan, ini sudah siang apa Tuan tidak bekerja hari ini?" teriak Bi Ria.


Tidak ada jawaban dari dalam, Bi Ria kembali mengetuk pintu dan tetap sama tidak ada jawaban. Bi Ria merasa khawatir, di putarnya handle pintu kamar Raffa dan ternyata tidak di kunci.


"Tuan, apa Tuan ada di dalam?" seru Bi Ria.


Bi Ria melangkahkan kakinya dan membuka gorden kamar Raffa, dilihatnya Raffa masih bergelung dengan selimutnya, tapi ada yang aneh dengan Raffa tubuhnya sedikit bergetar.


"Astaga Tuan kenapa?"


Bi Ria memegang kening Raffa yang dirasanya sangat panas.


"Ya ampun Tuan Raffa demam."


Bi Ria segera berlari ke bawah membawa air es untuk mengompres Raffa, tidak lupa sebelum kembali ke atas Bi Ria menghubungi Dokter keuarga agar segera datang ke rumah. Dengan penuh kasih sayang, Bi Ria mengkompres kening Raffa.


"Aqila, kamu ada dimana? pulanglah, aku sangat merindukanmu."


Raffa mengigau dengan tidak henti-hentinya memanggil nama Aqila, sehingga membuat Bi Ria merasa kasihan kepada Raffa.


"Tuan yang sabar ya, Nyonya Aqila pasti akan kembali," sahut Bi Ria.


Perlahan Raffa membuka matanya, tanpa sadar Raffa lagi-lagi meneteskan airmatanya.


"Bibi."


"Iya Tuan ini Bibi."

__ADS_1


"Sakit Bi, kenapa hati aku sakit sekali," seru Raffa.


"Tuan yang sabar, kebahagiaan pasti akan datang dan Bibi yakin kalau Nyonya Aqila akan kembali lagi," sahut Bi Ria dengan meneteskan airmatanya.


"Mengapa wanita yang aku sayangi, semuanya pergi meninggalkan aku Bi, Claudia dan sekarang Aqila, bahkan Eyang masih koma gara-gara aku," ucap Raffa dengan deraian airmatanya.


"Sudahlah Tuan jangan banyak pikiran dulu, Tuan saat ini sedang sakit."


Dokterpun segera datang dan memeriksa keadaan Raffa, Dokter memberikan obat untuk Raffa setelah selesai Dokter itu pun pamit pulang.


Bi Ria membantu Raffa meminum obat, tidak lama kemudian Raffa mulai menguap karena efek obat itu dan akhirnya terlelap. Bi Ria mengusap kepala Raffa.


"Kasihan sekali kamu Tuan, semoga kebahagiaan segera menghampirimu," gumam Bi Ria.


Seperti sudah janjian, Raffa dan Aqila sama-sama sedang sakit di waktu yang sama. Fathir terjaga, dia sama sekali tidak tidur semalaman menjaga Aqila.


"Mas Raffaaaa...." teriak Aqila dengan posisi bangun dari ranjang pasien membuat Fathir terkejut.


"Qila kamu kenapa?" tanya Fathir.


"Fathir, aku ada dimana Thir?"


"Kamu ada di Klinik Qila, tadi malam kamu mengalami sakit kepala dan aku sama anak-anak bawa kamu ke Klinik karena khawatir."


Aqila mulai ingat tadi malam dia merasakan sakit kepala yang sangat luar biasa, sedangkan Fathir tampak merasa sakit karena barusan Aqila memanggil nama Raffa.


"Thir, aku pengen pulang."


"Iya, kata Dokter kamu sudah bisa pulang kok tunggu cairan infusnya habis lagipula kita nunggu anak-anak untuk menjemput kita," sahut Fathir.


Aqila kembali merebahkan tubuhnya, pikirannya menerawang jauh ke langit-langit ruangan itu, hatinya merasa tidak enak seperti ada yang terjadi sesuatu.


"Ada apa denganmu Mas? kenapa perasaanku tidak enak dan aku ingat terus sama kamu?" batin Aqila.


***


Disisi lain, Clarissa baru saja sampai di rumah Mamanya. Ternyata Mamanya sedang bersantai menonton televisi.


"Mama."


"Astaga Clarissa bikin Mama kaget saja."


"Mama enak banget ya, disini santai-santai nonyon tv sementara aku di rumah Mas Raffa merasa tersiksa," keluh Clarissa.


"Tersiksa bagaimana maksud kamu?" tanya Mama Mirna.


"Mas Raffa sudah tidak mencintaiku lagi Ma, bagaimana ini mana aku bela-belain pakai hamil segala lagi, kalau tahu akhirnya seperti ini aku ga sudi mengandung anak ini mana setiap pagi aku mulai dan makan juga kurang berselera."


"Kok bisa Raffa sampai tidak mencintaimu lagi?" tanya Mama Mirna bingung


"Tidak tahu Mama, pokoknya tiba-tiba Mas Raffa jadi berubah sama aku."


"Wah, bahaya kalau sampai Raffa menceraikan kamu, kita tidak akan dapat apa-apa," sahut Mama mirna.


"Ya justru itu, apalagi aku bagaimana aku mengurus anak ini kalau aku di ceraikan sama Mas Raffa."


"Tidak Raffa tidak boleh sampai menceraikanmu, Mama tidak mau hidup kita melarat seperti dulu," Mama Mirna.


"Terus kita harus bagaimana Ma?" tanya Clarissa bingung.


"Kamu harus bisa manfaatin situasi Clarissa, sebelum hal-hal yang tidak diinginkan terjadi kamu harus menguras semua hartanya Raffa setelah itu kita pergi ke luar kota kalau perlu ke luar negeri supaya Raffa tidak menemukan kita," sahut Mama Mirna.


"Terus bagaimana dengan anak ini? aku tidak mau ribet dengan mengurus anak ya, dari awal aku terpaksa hamil karena akibat ide Mama konyol itu, apalagi kalau Mas Raffa sampai tahu ini bukan anaknya kita bisa dibunuh Ma," sahut Clarissa.


"Makannya sebelum itu terjadi, kamu harus cepat-cepat menguras harta Raffa dan kita kabur sejauh mungkin."


Clarissa tampak berpikir dan memijat keningnya yang tiba-tiba terasa berdenyut dengan ide gila yang diucapkan oleh Mamanya itu.


Satu minggu kemudian, keadaan Raffa sudah mulai membaik dan Raffa memutuskan untuk berangkat ke Amerika karena Dokter disana menyatakan kalau saat ini Eyang sudah mulai siuman. Tanpa berpikir lagi, Raffa langsung pergi kesana.


Kepergian Raffa menjadi kesempatan buat Clarissa melakukan aksinya, disaat waktu senggang Clarissa menyelinap ke dalam kamar Eyang yang sebelumnya Clarissa mencuri kunci kamar Eyang dari kamar Bi Ria disaat Bi Ria sedang pergi ke pasar.


Ceklek....


Pintu kamar Eyang pun terbuka, Clarissa mulai membuka setiap laci dan lemari, hingga akhirnya Clarissa menemukan sebuah brangkas di dalam lemari Eyang, karena brangkasnya menggunakan kode membuat Clarissa menyerah. Mata Clarissa tertuju pada sebuah laci, perlahan dia buka dan ternyata isinya beberapa kotak perhiasan.


"Wow, Nenek tua bangka itu ternyata menyimpan hartanya disini, mana semuanya berlian lagi ini mah bisa buat aku dan Mama tinggal di rumah mewah," gumam Clarissa dengan senyumannya.


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Ayo dukungannya supaya kalian bisa mendapatkan give away berupa pulsa dari AuthorπŸ™πŸ™


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU😘😘😘


__ADS_2