
📚
📚
📚
📚
📚
Raffa menarik tangan Aqila menuju penginapan.
"Nah kan, muncul lagi posesifnya," seru Jorge.
"Sudah ah, yuk kita juga harus ke penginapan anak-anak sepertinya sudah kelelahan," sahut Clarissa dan menarik Jorge untuk pergi.
"Hai, kenapa kamu bisa barengan sama Fathir?" tanya Ranti.
"Jangan-jangan kalian sudah jadian ya di belakang kita," sambung Zahra.
"Belum, sedikit lagi kayanya," jawab Angel dengan senyumannya.
"Jangan mimpi deh," sahut Fathir yang berjalan di depan meninggalkan semuanya.
"Cerita dong, kenapa kamu bisa sampai sini dengan Fathir," seru Ranti.
"Ceritannya di penginapan saja yuk, biar enak."
"Ok."
Mereka pun tampak bahagia dan pergi ke penginapan. Karena Angel dan Fathir tidak termasuk ke daftar yang liburan bareng Raffa, Angel akhirnya mendapat kamar sendiri sedangkan Ranti dan Zahra dapat satu kamar berdua.
"Ayo dong cerita, Ngel. Kita penasaran," desak Zahra.
***
Flash back on....
Sepulang sekolah, Fathir tidak henti-hentinya berpikir entah apa yang sedang Fathir pikirkan. Sesampainya di rumah, Fathir langsung menemui Papanya yang sedang santai bersama Mamanya.
"Pa, minta nomor ponselnya Om Willy dong," seru Fathir.
"Fathir, kalau pulang itu ucapkan salam dulu bukannya main nyelonong saja," seru Mama Elena.
"Oh iya lupa, Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Buat apa kamu minta nomornya Om Willy, tumben?" tanya Papa Suryo.
"Fathir mau minta izin, mau ngajak Angel liburan."
"Hah..liburan kemana? jangan macam-macam kamu, kalian belum menikah sudah mau liburan berdua saja," seru Papa Suryo.
"Apaan sih Pa, kita liburan tidak berdua tapi dengan teman-teman yang lainnya."
"Memangnya kalian mau liburan kemana?" tanya Mama Elena.
"Ke Lombok."
"Awas ya kalau kamu berani macam-macam sama anak gadis orang, Papa gantung kamu."
"Tenang saja Pa, Fathir tidak akan ngapa-ngapain kok."
Akhirnya Papa Suryo pun memberikan nomor ponselnya Papa Willy. Tidak ada penolakan sama sekali dari Papa Willy, Fathir langsung mendapatkan izin.
Fathir langsung memesan tiket untuk dua orang dan mencari tahu dimana Aqila dan yang lainnya menginap dengan bantuan orang kepercayaannya. Semua orang hanya mengenal Fathir sebagai seorang guru tapi di balik itu, Fathir adalah seorang Pengusaha juga yang cukup berpengaruh.
Setelah membereskan barang-barang yang akan dibawa, Fathir pun pergi ke rumah Angel tanpa sepengetahuan Angel. Fathir menekan tombol bel.
"Malam."
" Malam Mas, mau cari siapa ya?" tanya Bi Arum.
"Angelnya ada, Bi?"
"Oh ada Mas, mari silakan masuk."
Fathir pun mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Angel.
"Maaf Nyonya, Mas ini mencari Nona Angel," seru Bi Arum.
Mama Ratna dan Linda yang sedang nonyon tv menoleh ke sumber suara. Seketika Linda melotot melihat pria tampan di hadapannya iti.
"Nak Fathir."
"Malam Tante, maaf mengganggu malam-malam," seru Fathir.
"Ah tidak apa-apa, mari silakan duduk Nak Fathir. Bi, tolong panggilkan Angel."
"Baik Nyonya."
"Hai kenalkan nama aku Linda," seru Linda yang duduk di samping Fathir dan mengulurkan tangannya.
"Fathir."
"Linda, Fathir ini pria yang di jodohkan demgan Angel."
"What, kenapa bukan Linda saja yang dijodohkan dengan Fathir? kenapa mesti Angel?" sahut Linda.
Fathir mengangkat satu alisnya melihat kelakuan Linda. Tiba-tiba seseorang turun dari atas dengan terburu-buru.
"Fathir, ngapain kamu kesini?" tanya Angel terkejut.
"Aku cuma mau bilang, kamu siap-siap dan bereskan barang-barang yang mau kamu bawa karena besok kita akan liburan," seru Fathir.
"Ap--apa? liburan?"
"Bukannya kamu mau liburan, aku besok akan mengajak kamu menyusul Zahra dan Ranti."
"Hah serius?" tanya Angel tidak percaya.
__ADS_1
"Kalau aku tidak serius, ngapain juga aku malam-malam kesini."
"Aaaaa...terima kasih Fathir," teriak Angel dan berlari memeluk Fathir.
Mama Ratna dan Linda sangat terkejut, Fathir apalagi jangan di tanya mendapat pelukkan tiba-tiba seperti ini membuatnya diam mematung. Angel yang sadar sudah melakukan kesalahan, akhirnya melepaskan pelukkannya.
"Maaf kelepasan," ucap Angel malu.
"Tunggu, maksud Nak Fathir apa?" tanya Mama Ratna.
"Saya akan mengajak Angel liburan."
"Tidak bisa."
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena...karena...karena Angel banyak tugas jadi dia tidak boleh pergi kemana-mana, lagipula kalau Papanya tahu, dia bisa marah besar," sahut Mama Ratna.
"Siapa bilang? justru Om Willy mengizinkan saya untuk membawa Angel liburan, karena saya sudah menghubungi beliau dan beliai tidak keberatan," seru Fathir.
Skak mat, Mama Ratna tidak punya alasan lagi untuk melarang Angel pergi.
"Oh begitu ya, ok kamu boleh bawa Angel pergi tapi dengan satu syarat."
Fathir mengangkat satu alisnya...
"Apa syaratnya?" tanya Fathir.
"Linda harus ikut dengan kalian."
"Apa?" seru Angel dan Fathir bersamaan.
"Nah, betul itu aku harus ikut," sambung Linda.
Angel dan Fathir saling pandang satu sama lain hingga akhirnya mereka pun menyetujui syarat dari Mama Ratna daripada nantinya urusannya lebih runyam lagi.
Flash back off...
"Lah, terus sekarang Kakak kamu kemana kok tidak kelihatan?" tanya Zahra.
Seketika Angel melotot...
"Astaga, Kak Linda kayanya masih di mobil deh soalnya tadi dia tidur," panik Angel.
Angel segera berlari keluar dan hendak menyusul Linda tapi Linda sudah ada di depan pintu kamar dan otomatis Angel menabrak Linda hingga keduanya terjatuh.
"Aduh, apa-apaan sih kamu? sakit tahu," bentak Linda.
"Ya ampun, maaf Kak tadi aku mau nyusul Kakak jadi aku buru-buru."
"Dasar adik menyebalkan, kenapa tadi kamu tidak membangunkan aku sih? bagaimana kalau aku di culik dan di bawa kabur oleh sopir taxi itu," sentak Linda dengan menjambak rambut Angel.
"Aw sakit Kak, aku minta maaf."
"Wow..wow..wow..ada apa nih? santai dong Mbak jangan main kasar," seru Ranti dengan menepis tangan Linda.
"Siapa kamu? jangan ikut campur urusanku, dia adalah adikku jadi aku berhak ngelakuin apapun kepadanya," bentak Linda.
Linda tersenyum sinis kepada ketiganya sampai akhirnya Linda memilih meninggalkan mereka dan masuk ke dalam kamarnya.
"Ngel, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Ranti.
"Tidak Ran, aku tidak apa-apa kok."
"Ya sudah, lebih baik kamu istirahat dulu sana karena kita juga mau istirahat capek habis perjalanan yang lumayan jauh," seru Zahra.
"Ya sudah, aku masuk ke kamar aku dulu ya."
Mereka bertiga pun masuk ke dalam kamar masing-masing. Sementara itu di kamar milik Raffa dan Aqila, lagi-lagi Raffa cemburu tanpa alasan, entah kenapa setiap melihat Fathir darah Raffa langsung mendidih.
"Mas, kamu kenapa? selalu saja seperti ini kalau bertemu dengan Fathir."
"Kenapa kamu bilang? pasti kamu senang kan karena mantan kamu ikut liburan bersama kita," ketus Raffa.
"Astaga Mas, kok Mas ngomongnya seperti itu sih?"
"Pasti kamu kan yang mengajak dia untuk ikut kesini?"
"Astagfirullah Mas, sumpah demi Alloh aku tidak mengajak Fathir dan aku juga tidak tahu kalau Fathir ternyata ikut kesini."
"Bohong, pasti kamu yang ngajak kan karena kamu rindu sama dia dan ingin bertemu dengan dia, iya kan? ngaku sajalah jangan berpura-pura lagi."
Kali ini Aqila merasa geram dengan tuduhan Raffa dan cemburu yang tidak beralasan itu, dengan hati yang dongkol Aqila pergi meninggalkan kamarnya untuk menenangkan diri dulu.
Raffa sangat terkejut dengan kelakuan Aqila yang keluar dan membanting pintu kamarnya dengan keras. Raffa juga sebenarnya bingung, kenapa emosinya akhir-akhir ini tidak menentu bahkan Raffa yang awalnya memang posesif saat ini tingkat posesifnya naik seribu persen.
"Dasar menyebalkan, menuduh orang sembarangan," gerutu Aqila dengan terus berjalan menyusuri bibir pantai.
Aqila berjalan dengan bertelanjang kaki, dan sesekali memainkan air laut yang datang menghampirinya. Aqila berdiri dan menatap lautan jauh disana, sungguh Aqila tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu, setiap mendengar dan melihat Fathir pasti emosinya langsung meledak-ledak.
Tiba-tiba ada yang memakaikan topi pantai ke kepala Aqila membuat Aqila menoleh.
"Ngapain kamu panas-panas begini berdiri di pantai, nanti kamu malah pusing loh," seru Fathir dengan lembut.
"Fathir."
"Sudah lama kita tidak berjumpa, apakabar Qilla?"
"Baik, aku baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana kabar kamu?"
"Kabar aku kurang baik."
"Kurang baik? kamu sakit?" tanya Aqila.
"Heem, sakit hati di tinggal olehmu di saat lagi sayang-sayangnya."
"Jangan bercanda deh Thir, tidak lucu."
"Siapa yang bercanda, aku serius," sahut Fathir dengan menatap Aqila penuh dengan Cinta.
"Sudahlah, semuanya sudah berakhir, ya sudah aku kembali ke kamarku dulu tidak enak kalau sampai Mas Raffa melihatnya, bisa-bisa dia tambah salah paham."
__ADS_1
Aqila pun cepat-cepat meninggalkan Fathir karena Aqila takut Raffa melihatnya dan masalahnya tambah runyam. Sedangkan dari kejauhan, Angel tampak memperhatikan Fathir dan Aqila.
Angel awalnya ingin mencari udara segar karena dia tidak bisa tidur, Angel melihat Fathir sedang berjalan di tepi pantai dengan membawa topi pantai untuk wanita. Tadinya Angel ingin memanggil dan menghampirinya tapi langkah Angel terhenti saat Fathir menghampiri seorang wanita cantik dan memakaikan topi itu.
"Begitu besarkah rasa cintamu kepada Mbak Aqila, Fathir? sampai-sampai Mbak Aqila sudah menikah pun kamu masih berusaha mendekatinya, apa aku mampu mengisi hatimu dengan cintaku?" batin Angel.
Angel lebih memilih kembali ke kamarnya, dia sudah tidak mood lagi untuk jalan-jalan. Aqila segera masuk ke dalam kamarnya dan ternyata Raffa sudah tertidur dengan lelapnya dengan posisi tengkurap.
Aqila pun ke kamar mandi sebentar untuk mencuci tangan dan kakinya dan setelah itu, Aqila pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Raffa.
***
Malam pun tiba...
Malam imi semuanya sudah janjian akan makan malam bersama di sebuah restoran di pinggir pantai. Semua itu memang Raffa yang mengurusnya, setelah bangun tidur emosi Raffa agak sedikit berkurang.
Saat ini Aqila sedang merias dirinya di depan cermin dengan menggunakan dress warna putih dan perutnya yang sedikit sudah terlihat menonjol. Dari tadi Raffa memperhatika istrinya itu, ada rasa bersalah di dirinya karena tadi dia sudah menuduh Aqila yang bukan-bukan.
"Sudah selesai, ayo," ajak Raffa dengan mengulurkan tangannya.
"Apa sekarang sudah tidak marah lagi?" tanya Aqila.
"Mana bisa aku marah lama-lama kepadamu, maafkan aku ya Sayang karena tadi sudah memarahimu tanpa alasan, tapi percayalah aku seperti itu karena aku cemburu, aku takut kamu akan ninggalin aku lagi."
"Aku kan sudah bilang Mas, aku tidak ada meninggalkanmu, apalagi sudah ada ini," seru Aqila dan menyimpan tangan Raffa di perutnya.
Raffa langsung bertekuk lutut di hadapan perut Aqila dan menciumi perut Aqila.
"Maafkan Daddy, boy. Tadi sudah memarahi Mommy mu, jangan membenci Daddy ya nanti malam Daddy jengukkin kamu, kita bermain sepuasnya," ucap Raffa dengan mendongakkan kepalanya melihat kearah Aqila.
"Dasar, ujung-ujungnya pasti tidak jauh dari urusan mesum."
Raffa cengengesan, dia berdiri dan menggandeng tangan Aqila. Disaat Raffa dan Aqila keluar dari kamar, tiba-tiba ada seorang perempuan yang menabrak Raffa karena dia sedang fokus melihat ponselnya.
"Astaga kalau jalan itu lihat-lihat," ketus Raffa.
"Maaf Pak," ucap Linda dengan menoleh kearah Raffa.
"Kamu, ngapain kamu ada disini?" tanya Raffa dingin.
"Astaga Pak Raffa, suatu kebetulan kita bisa bertemu disini, jangan-jangan kita berjodoh," sahut Linda dengan nada centilnya.
"Ya ampun, ternyata pelakor zaman sekarang makin berani dan tidak tahu malu ya, sudah tahu di samping ada istrinya masih berani menggoda," cibir Aqila.
"Oopss..ada Nyonya Abraham ternyata, maaf Nyonya tapi sepertinya suami orang lebih menantang untuk di goda," sahut Linda sembari tersenyum dan langsung meninggalkan Raffa dan Aqila.
"Astaga itu orang benar-benar ya, bikin emosi saja," seru Aqila dengan mengipas-ngipaskan tangannya.
"Sudahlah Sayang jangan di dengerin, dia memang wanita gila."
"Pasti dia belum ngerasain heel sepatuku nancab di matanya kali ya," sewot Aqila.
"Aihhhh..istriku seram juga ya, sudah ah yuk cepetan pasti orang-orang sudah menunggu kita," seru Raffa.
Sesampainya di tempat makan, lagi-lagi Raffa harus menahan emosinya karena orang yang paling Raffa benci sekarang ada dihadapannya bahkan makan satu meja dengannya.
Aqila tahu dengan perasaan Raffa, Aqila mengusap lengan Raffa dan membawanya untuk duduk.
"Sayang kamu mau makan ini?" tanya Raffa yang sudah menyodokan masakan itu.
"Tunggu Raffa jangan, Qilla tidak suka seafood jenis kerang-kerangan," seru Fathir.
Raffa mencoba bersabar dan menyimpan kembali seafood itu.
"Ah, Mas aku mau makan salad buah saja kayanya seger," ucap Aqila mengalihkan rasa marah Raffa.
"Baiklah."
Raffa mulai mengambilkan salad itu tapi lagi-lagi Fathir menghalanginya.
"Kamu harus memilih dan memilah dulu Raf, karena Aqila tidak suka dengan melon dan pepaya," seru Fathir dengan santainya.
Semua orang yang ada disana tampak hening, mereka tahu pada akhirnya akan seperti apa. Raffa sudah berusaha bersabar dan menahan emosinya.
"Apa kamu mau makan pasta ini, Qilla? kamu kan paling suka pasta," tawar Fathir dengan santainya.
Kali ini rahang Raffa mengeras, dia sudah tidak nafsu lagi untuk makan, di lemparnya sendok dan Raffa pun pergi dari sana dengan perasaan emosi.
"Mas Raffa tunggu Mas," teriak Aqila dengan berlari menyusul Raffa.
"Fathir, kamu apa-apaan sih?" sentak Ranti.
"Iya, kamu menghancurkan semuanya," sambung Zahra.
Fathir pun tersenyum simpul dan beranjak dari duduknya.
"Maaf, aku sudah selesai makan, aku duluan," seru Fathir dengan berjalan meninggalkan semuanya.
Fathir berjalan menuju kamar penginapan, ada rasa senang di hatinya melihat Raffa merasakan cemburu seperti itu.
"Raffa..Raffa..baru segitu saja sudah cemburu, tadi aku cuma mengetes saja seberapa besar kamu akan marah kalau aku melakukan itu, dan ternyata rencanaku berhasil. Padahal tadi aku berharap kamu memukulku baru aku akan puas, sekarang aku yakin kalau kamu benar-benar mencintai Qilla dan itu membuat aku tenang," gumam Fathir dengan senyumannya.
📚
📚
📚
📚
📚
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOU