GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Senang, Sedih, Terharu


__ADS_3

📚


📚


📚


📚


📚


Dua bulan kemudian...


"Mas, aku mau jalan-jalan dulu ya ke rumah Clarissa," ucap Aqila sembari menyisir rambutnya yang basah.


"Ngapain ke rumah Clarissa? hamil kamu itu sudah besar loh Sayang, lebih baik kamu diam di rumah temenin aku, aku ini baru pulang dari luar kota dua minggu tidak bertemu, aku masih rindu sama kamu," sahut Raffa dengan menekuk wajahnya.


Raffa merebahkan kembali badan telanjangnya yang masih tertutup selimut dengan perasaan kecewa, dia benci melewati pagi hari tanpa Aqila.


"Sayang, hamil aku sudah masuk bulannya sekarang dan kata Dokter aku harus sering jalan-jalan, nah aku cuma mau jalan-jalan ke rumah Clarissa doang kan rumah dia hanya beberapa blok saja dari sini."


"Kamu kok tega banget sih Sayang, kemarin dua minggu aku bela-belain tidak pulang ingin menyelesaikan pekerjaan aku supaya aku bisa nemenin kamu tanpa di ganggu sama pekerjaan, lagipula aku juga pengen di temenin sama kamu," kesal Raffa.


"Ya Alloh, setiap hari aku sama kamu, tidur pun sama kamu terus, kenapa sih akhir-akhir ini kamu ngambekan banget, Mas. Aku cuma jalan-jalan sebentar habis itu balik lagi."


"Lihat tuh perut kamu sudah turun banget, bagaimana kalau nanti pas lagi jalan-jalan kamu mules."


"Maka dari itu aku cuma jalan-jalan dulu sebentar Mas, aku janji tidak akan lama."


Raffa menutup semua tubuhnya dengan selimut, pertanda dia tidak mau mendengar ocehan sang istri.


"Ini sebenarnya siapa yang hamil sih? kenapa justru Mas yang ngambek, kalau gitu lebih baik Mas ikut aku jalan-jalan saja," tawar Aqila.


"OGAH..."


"Ya sudah, aku jalan dulu ya Mas."


Raffa masih tidak mau menampakkan dirinya sampai akhirnya Aqila menghilang di balik pintu dan setelah mendengar bunyi pintu di tutup, barulah Raffa menyingkap selimut yang menutupi wajahnya. Sudut mata Raffa berair, Aqila benar-benar meninggalkannya padahal Raffa sangat berharap kalau Aqila akan merayunya.


Raffa menghentak-hentakkan kakinya diatas tempat tidur, mengacak-ngacak tempat tidur yang memang sudah acak-acakkan akibat kegiatan panasnya tadi malam, dilanjut dengan menutup wajahnya dengan bantal, Raffa seperti ABG labil yang sedang patah hati benar-benar kekanak-kanakan.


"Sayang, kembali aku mau lagi," teriak Raffa.


***


Sementara itu, Aqila jalan-jalan ingin berkunjung ke rumah Clarissa. Sebenarnya Aqila sudah merasakan mules di perutnya, cuma dia takut itu hanya kontraksi palsu jadi dia lebih baik mengisi waktu untuk jalan-jalan walau pun Raffa tidak mengizinkannya.


Setelah sekian lama berjalan, akhirnya Aqila sampai juga di rumah Clarissa.


"Ya ampun Qilla, kamu sendiri?" tanya Clarissa yang cepat-cepat menghampiri Aqila dan memapahnya.


"Sini duduk dulu, kamu tidak apa-apa kan wajah kamu kelihatan pucat banget."


"Sebenarnya perut aku agak sedikit mules, Cla."


"Apa? jangan-jangan kamu mau melahirkan lagi, sebentar ya aku ambilkan minum dulu."


Clarissa segera membuatkan teh manis untuk Aqila.


"Qila, ini minum dulu teh manisnya."


"Terima kasih, Cla."


"Wajah kamu sudah pucat loh, lebih baik kita ke rumah sakit yuk," ajak Clarissa.


"Cla, bisa bantu aku berdiri sebentar soalnya kaki aku lemas banget."


"Ya sudah, yuk aku bantu berdiri."


"Cla, kok aku merasa ada yang jatuh."


Clarissa menunduk ke bawah dan betapa terkejutnya Clarissa saat melihat ketuban Aqila sudah pecah.


"Astaga Qila, ketubannya sudah pecah, ayo sekarang kita langsung ke rumah sakit saja, suster tolong titip Louise dulu sebentar," teriak Clarissa.


Clarissa memapah Aqila menuju mobilnya dan Clarissa dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


***


Sedangkan Raffa butuh waktu satu jam dirinya berendam di dalam air dingin untuk meredam hasratnya akibat Aqila meninggalkannya dalam keadaan horny berat. Setelah selesai mandi, Raffa kemudian keluar dari walk in closhet dengan menggunakan pakaian casual.


Getaran ponsel Raffa dengan nada dering beautiful in white miliknya westlife menggema di seluruh penjuru kamar. Raffa kembali mencari ponselnya, tapi entah mengapa hanya suaranya saja yang terdengar. Setelah beberapa saat mencari, ternyata ponselnya berada di bawah tempat tidur dan lagi-lagi itu gara-gara kegiatan semalam yang membuat barang-barangnya berhamburan entah kemana.


"Clarissa, ngapain dia nelpon?" gumam Raffa.


"Hallo."


"Mas Raffa cepetan ke rumah sakit Husada ya."


"Memangnya mau ngapain?"


"Qila mau melahirkan, Mas."


"Oh..." Raffa masih santai belum mencerna ucapan Clarissa.


Satu detik..dua detik..


"Apa? maksud kamu apa?" tanya Raffa mulai panik.


"Jangan panik Sayang," Aqila mengambil alih pembicaraan untung Clarissa meload speakerkan suaranya.


"Bagaimana tidak panik, kamu dimana sekarang?" tanya Raffa.


"Kita sedang di jalan menuju rumah sakit," sahut Clarissa.


"Jangan nyetir sendiri Mas, minta tolong Pak Burhan anterin kamu," ucap Aqila bergetar dan sudah mulai menangis.

__ADS_1


Raffa semakin panik mendengar Aqila menangis, dia paling lemah kalau mendengar Aqila menangis.


"Baiklah, aku akan minta antar sama Pak Burhan."


"Tolong Mas bawakan tas yang berada di dalam lemari, semua perlengkapan sudah aku siapkan disana, Mas tinggal membawanya saja."


"Ok, tapi tolong jangan di tutup ya telponnya."


Clarissa menyimpan ponselnya di dashboard mobilnya.


"Kamu tahan sebentar ya Qila."


"Sakit, Cla."


Raffa yang saat ini sedang berlari keluar rumah dengan menenteng tas yang sebutkan Aqila, tiba-tiba berhenti, tangannya bergetar hebat saat mendengar pembicaraan Aqila dan Clarissa.


"Kamu tenang Sayang, jangan nangis lagi," seru Raffa.


"Kamu hati-hati di jalan Mas, jangan terburu-buru aku tidak mau kamu samapai kenapa-napa, lagipula aku tidak apa-apa kok," sahut Aqila dengan nada sesantai mungkin.


Raffa merasa sangat terenyuh sekaligus terharu mendengar Aqila masih mengkhawatirkannya sementara Raffa tahu sendiri kalau Aqila saat ini sedang berusaha menahan rasa sakitnya.


Raffa segera masuk ke dalam mobilnya dan menyuruh Pak Burhan untuk cepat-cepat menuju rumah sakit. Ditengah-tengah kekhawatirannya, sekelebat bayangan masa lalu dimana Raffa sangat kejam memperlakukan Aqila dan tidak menganggap Aqila ada.


Tiba-tiba airmata Raffa luruh juga, dia sangat cemas dengan keadaan Aqila, dia tidak mau sampai terjadi kenapa-napa terhadap istrinya.


"Tarik nafas yang dalam, terus kamu keluarkan pelan-pelan," seru Clarissa.


Raffa yang masih berada dalam sambungan telpon itu merasa kesal karena tidak bisa berada di samping istrinya di saat Aqila sedang membutuhkannya.


"Sekarang kalian sudah sampai mana?"


"Kita sebentar lagi sampai di rumah sakit."


"Ya sudah aku tutup dulu."


Raffa dengan cepat menghubungi semua sahabat-sahabatnya dan juga sahabat Aqila untuk menemaninya di rumah sakit nanti.


"Pak Burhan bisa lebih cepat lagi."


"Baik Tuan."


Raffa saat ini merasa sangat menyesal, andai saja tadi pagi dia tidak egois dengan keinginannya, andai saja dia mau menemani Aqila jalan-jalan, mungkin saat ini dirinyalah yang sedang berada di samping Aqila. Tubuh Aqila memang sudah menjadi candu untuknya, makannya dia bersikap egois ingin terus nempel kepada Aqila apalagi Raffa harus menerima kenyataan kalau dirinya harus puasa selama empat puluh hari.


Mobil Clarissa sampai di depan IGD, Clarissa turun duluan dan berteriak minta bantuan. Tidak lama kemudian dua orang perawat datang menghampiri dengan membawa blangkar.


"Mbak, maaf ya Nyonya Aqila harus mampir dulu di IGD karena kamarnya sedang di persiapkan dulu," seru Dr.Lina.


"Loh, kita baru datang loh Dok belum pesan kamar sama sekali," sahut Clarissa.


"Barusan Tuan Raffa menelpon saya dan harus menyiapkan kamar VVIP untuk Nyonya Aqila."


"Oh ok."


Sementara itu, sepertinya Raffa terjebak macet yang sangat panjang karena di depan ada kecelakaan beruntun yang mengakibatkan jalan macet total.


"Maaf Tuan tidak ada, kita sepertinya terjebak macet," sahut Pak Burhan.


Raffa duduk dengan perasaan gusar, wajahnya terlihat tidak ramah dan tidak bersahabat, seperti akan memangsa siapa saja yang saat ini mengganggunya.


"Bukannya dari sini rumah sakit tinggal satu kilometer lagi ya? saya turun disini saja, biar saya jalan kaki nanti kalau sudah tidak macet lagi, Pak Burhan susul saja ke rumah sakit."


"Baik Tuan."


Raffa segera berlari, dia tidak mau sampai melewati persalinan Aqila yang sudah dia tunggu-tunggu selama sembilan bulan itu. Raffa berlari secepat mungkin dia tidak peduli harus menabrak apapun dan siapapun yang menghalanginya.


Raffa benar-benar sangat mengerikan jika saat sedang panik, apalagi kepanikannya menyangkut nama Aqila.


***


Dirumah sakit semua orang sudah datang, saat ini Aqila sudah terbaring di atas tempat tidur dengan posisi miring ke sebelah kiri, tangannya sudah tertancap jarum infus sedangkan Clarissa dengan telaten mengusap-ngusap punggung Aqila untuk mengurangi rasa sakit yang sedang dialami Aqila.


Tangan Aqila menggenggam pinggiran tempat tidur, keringat sudah membasahi wajah dan tubuhnya. Aqila memejamkan matanya dengan menggigit bibir bawahnya merasakan mulas yang sangat luar biasa sakit.


"Raffa..." seru Jino.


Tapi Raffa tidak menghiraukan sahabat-sahabatnya yang sudah berkumpul di luar ruangan. Raffa membuaka pintu ruangan dengan kasar sehingga Clarissa dan Dr.Lina menoleh bersamaan.


"Bagaimana dengan keadaan Aqila?" tanya Raffa dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Baru bukaan empat," sahut Dr.Lina.


Raffa mengatur nafasnya supaya kembali normal, kemudian dengan cepat menuju kamar mandi untuk cuci muka dan tangannya, setelah Raffa mengeringkan wajahnya dengan handuk kecil yang tersedia disana, Raffa pun segera menghampiri Aqila yang masih menggenggam erat pinggiran kasur dengan mata terpejam menahan sakit.


Raffa mengambil alih tangan Aqila dan mengecup kening Aqila. Aqila membuka matanya dan tersenyum.


"Kapan Mas datang?"


"Barusan, kenapa sakit ya?"


"Sedikit."


Raffa tahu kalau Aqila sedang berbohong supaya Raffa tidak khawatir dan panik. Dalam hati, Raffa merasa sangat beruntung mempunyai istri sekuat Aqila.


"Aku keluar dulu ya," seru Clarissa.


"Terima kasih Clarissa."


"Sama-sama Mas."


Clarissa pun keluar meninggalkan ruangan VVIP itu.


"Kamu yakin Sayang, mau melahirkan secara normal? kalau kamu tidak kuat, aku bisa bilang ke Dokternya supaya kamu operasi caesar saja."


"Tidak, aku mau secara normal Mas," lirih Aqila.

__ADS_1


"Ya sudah, terserah kamu saja apapun asal kamu senang, aku akan dukung."


Raffa dengan setiap berada di samping Aqila, malahan Raffa menawarkan diri untuk memukul, mencakar, ataupun menjambak rambutnya kalau-kalau Aqila butuh pelampiasan untuk menahan rasa sakitnya, Raffa sangat ikhlas tapi Aqila malah tersenyum.


"Aku bukan wanita bar-bar Mas, aku tidak mau menyakiti kamu apalagi merusak wajah tampan suamiku," canda Aqila yang membuat Raffa sedikit terkekeh.


Aqila hanya meremas tangan Raffa sembari memejamkan matanya untuk menahan sakit bahkan sesekali bulir airmata lolos dari sudut mata Aqila.


"Nyonya Aqila, mari kita pindah ke ruangan bersalin pembukaannya sudah sempurna," seru seorang perawat.


Raffa mengangkat tubuh Aqila dan memindahkannya ke atas blankar untuk di pindahkan ke ruangan bersalin. Jantung Raffa berdebar tak karuan tapi dia berusaha untuk tidak panik.


Butuh waktu lima belas menit, hingga akhirnya suara tangisan bayi menggema di seluruh ruangan itu. Aqila tampak menangis begitu pun dengan Raffa yang sudah menangis duluan dan menciumi seluruh wajah Aqila.


"Terima kasih Sayang, terima kasih."


Suster pun keluar dari dalam ruangan dan langsung di serbu oleh tim huru-hara.


"Bagaimana suster?" tanya mereka bersamaan.


"Bayinya sudah lahir dalam keadaan sehat."


"ALHAMDULILLAH."


"Jenis kelaminnya apa Sus?" tanya Zahra.


"Laki-laki."


"ALHAMDULILLAH."


Semuanya tampak bahagia, bagaimana tidak bahagia anak sultan sudah lahir pasti mereka bahagialah.


Tak berselang lama, Raffa keluar Jino adalah orang pertama yang memeluknya.


"Selamat Bro, akhirnya pecah telor juga," ledek Jino.


"Iya terima kasih kalian sudah datang nungguin Aqila."


"Itulah gunanya sahabat," seru Jorge.


***


"Ya ampun baby you tampan sekali, Qila," seru Zahra.


"Hooh ih gemesin," sambung Angel.


"Siapa dulu dong, Daddynya saja tampan seperti ini jadi ya jelaslah anaknya juga tampan," sahut Raffa dengan bangganya.


"Apaan, wajahnya saja mirip aku," ledek Fathir.


"Woi, jangan mulai deh kamu belum merasakan ya botol infusan ini masuk ke dalam matamu," geram Raffa.


"Hahaha..lucu, mana mungkin botol infusan muat masuk ke dalam mataku," sahut Fathir.


"Fathir sudahlah, kenapa sih kalian itu setiap bertemu tidak pernah akur," seru Angel.


"Sayang, si Raffa yang duluan mulai," sahut Fathir.


"Wah benar-benar, cari gara-gara kamu," seru Raffa yang sudah bersiap-siap melipat tangan bajunya.


"Mas, sudah dong."


"Tapi Sayang, aku tidak ikhlas anak kita disebut mirip dia, idih amit-amit masa aku yang usaha tiap malam, tapi hasilnya dibilang mirip dirinya," keluh Raffa.


"Sudah jangan di tanggepin omongan Fathir, dia memang suka usil, sudah diemin saja," sahut Aqila.


"Awas ya, kali ini kamu selamat," ancam Raffa.


Fathir terlihat komat-kamit seolah-olah meledek ucapan Raffa sehingga membuat Angel memcubit perut Fathir karena merasa gemas dengan tingkahnya.


"Aw sakit Sayang," keluh Fathir.


"Syukurin."


Semua orang yang ada disana hanya geleng-geleng kepala melihat tingakah Raffa dan Fathir yang tidak pernah aku kalau bertemu.


"Ngomong-ngomong namanya siapa, Raff?" tanya Jorge.


"RAMA FREDERIK ABRAHAM."


"Wuidih keren anak sultan tuh," sahut Jino.


"Ok, kali ini aku akui nama anak kamu keren," sambung Fathir dengan manggut-manggut seperti sedang berpikir.


Semua orang saling pandang satu sama lain hingga pada akhirnya mereka semua tertawa bersama.


📚


📚


📚


📚


📚


Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2