GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Honeymoon Part II


__ADS_3

πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Warning....


21+


Sesampainya di meja makan, Aqila sangat terkejut karena menu disana begitu banyak dan tampak sangat lezat.


"Wow, banyak sekali makanannya."


"Ini spesial untukmu, Sayang. Makan yang banyak ya," seru Raffa.


"Tentu saja, perutku sudah sangat lapar dan ini semua gara-gara kamu Mas, aku jadi melewatkan sarapan," keluh Aqila dengan mengerucutkan bibirnya.


Semua pelayan tampak membungkukkan badannya kala melihat Tuan dan Nyonya rumahnya sudah hadir di meja makan.


"Kamu mau makan apa, Mas?" tanya Aqila.


"Apa saja, semua makanan yang kamu ambilkan untukku pasti aku makan karena rasanya akan sangat enak."


"Alah lebay banget sih kamu, Mas."


Aqila pun mengambilkan nasi dan berbagai macam lauk pauknya dan memberikannya kepada Raffa, begitu pun dengan dirinya.


"Hmmm...masakannya lezat sekali, Mas."


"Kamu suka?"


"Suka banget."


"Makan yang banyak, aku tidak sembarangan mempekerjakan pelayan di rumahku ini Sayang, tukang masak disini adalah seorang Chef profesional bersertifikat," ucap Raffa.


"Ckckck...sultan mah bebas," cibir Aqila.


"Cepat habiskan makanan kamu, aku akan mengajakmu jalan-jalan."


"Benarkah? asyiiik..."


Aqila dengan penuh semangat makan dengan lahapnya, Raffa tersenyum simpul melihat kelakuan Aqila. Ini yang Raffa suka dari Aqila, Aqila menjadi dirinya sendiri dan apa adanya, tidak pernah merasa jaim seperti wanita kebanyakan.


Aqila menyandarkan punggungnya ke kepala kursi sembari mengusap perutnya.


"Kenapa?"


"Perut aku kenyang banget, Mas."


"Bagaimana tidak kenyang, kamu makan sampai nambah dua kali mana porsi makan kamu kaya tukang kuli bangunan lagi," ledek Raffa.


"Ih kamu mas Mas nyebelin, ini semua juga gara-gara kamu, tubuh aku remuk dan tenaga aku habis akibat ulah Mas makannya sekarang aku butuh makan yang banyak supaya tenaga aku kembali lagi."


"Berarti nanti malam, aku bisa dapat jatah lagi dong," seru Raffa dengan menaik turunkan alisnya.


Aqila tampak menepuk jidatnya sendiri...


Raffa mengajak Aqila pergi ke suatu tempat, di saat di pertengahan jalan, Raffa mengeluarkan syal dari saku jasnya.


"Sayang, karena sebentar lagi akan sampai jadi kamu harus menutup mata kamu dulu."


"Loh kok ditutup sih Mas matanya, memangnya kita mau kemana?" tanya Aqila.


"Pokoknya kamu harus tutup mata dulu."


Raffa membalikkan tubuh Aqila dan menutup mata Aqila dengan syal yang dia bawa tadi.


"Kamu tidak berniat mau membuang aku kan, Mas?" tanya Aqila dengan polosnya.


"Astaga Sayang, konyol sekali isi otak kamu profesi boleh saja sebagai guru tapi pikiran kamu terlalu jauh kemana-mana, sini kamu genggam tanganku biar kamu percaya."


Aqila langsung merapatkan tubuhnya kearah Raffa dan menggenggam tangan Raffa dengan begitu eratnya.


"Sayang, kalau kamu terlalu rapat seperti ini, junior aku langsung on," bisik Raffa ke telinga Aqila.


Aqila langsung mencubit paha Raffa dengan gemasnya.


"Aw, sakit Sayang."


"Rasain tuh."


Tidak lama kemudian, mobil Raffa tiba disebuah dermaga. Sang sopir menghentikan mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Tuannya itu.


Raffa menuntun tangan Aqila dan berjalan dengan sangat pelan.

__ADS_1


"Mas, pelan-pelan aku takut jatuh."


"Iya Sayang, ini aku pegangin kalau kamu jatuh ada aku yang akan langsung menolong kamu."


Dengan susah payah Aqila berjalan menggunakan penutup mata, akhirnya sampai juga di depan sebuah kapal pesiar yang sangat mewah. Raffa membukakan penutup mata Aqila, perlahan Aqila membuka matanya dan terkejut dengan pemandangan di hadapannya itu.


"Selamat datang di kapal pesiar milikku," seru Raffa.


"Apa? jadi ini kapal pesiar milik kamu, Mas?" tanya Aqila tidak percaya.


"Iyalah, masa milik orang lain. Ayo kita masuk."


Anak buah Raffa membungkukkan badannya dan mereka pun masuk ke dalam kapal pesiar itu.


"Wow, bagus sekali," ucap Aqila yang sangat terkagum dengan isi kapal pesiar itu.


Raffa memeluk Aqila dari belakang...


"Apa kamu suka, Sayang?"


"Suka banget, Mas."


"Kamu adalah wanita pertama yang memasuki kapal pesiar ini, biasanya aku kesini bersama Rey kalau aku sedang suntuk dan lelah dengan pekerjaan yang menumpuk, aku selalu menenangkan diri disini."


Aqila membalikkan tubuhnya dan mengelus pipi Raffa.


"Apa Claudia belum pernah kesini?"


"Aku belum pernah mengajak dia kesini, bahkan dia juga tidak tahu dengan Mansion aku yang ada disini, hanya kamu wanita pertama yang aku ajak kesini dan aku akan menunjukkan semua yang aku miliki kepada kamu."


Aqila menarik wajah Raffa dan mencium bibir Raffa tentu saja Raffa sangat menyambutnya dengan suka cita. Bahkan saat ini ciuman mereka sudah sangat panas karena tangan Raffa sudah berkeliaran kemana-mana.


Raffa melepaskan ciumannya dan turun ke leher Aqila, sementara tangannya sudah ******* kedua gunung kembar Aqila yang lumayan berisi itu.


"Ah....Mas."


Raffa langsung mengangkat tubuh Aqila dan membawanya ke kamar. Tanpa menunggu lagi, Raffa melepaskan semua pakaiannya dan pakaian Aqila. Nafsunya semakin memuncak kala melihat pemandangan yang saat ini menjadi mainan barunya.


Bibir dan tangannya bekerja dengan sibuknya, tidak ada bagian tubuh Aqila yang terlewatkan oleh Raffa.


"Mas..."


"Iya Sayang."


Raffa kembali agresif dan menguasai tubuh Aqila, tubuh Aqila bergetar hebat ulah Raffa sedangkan tangan Aqila menjambak rambut Raffa dan mencengkram erat punggung Rafga.


"Sayang, kamu sungguh membuatku gila, tubuhmu menjadi candu buatku."


"Mas, aku tidak bawa baju ganti."


"Kamu tenang saja, aku sudah menyiapkannya."


"Benarkah? kapan kamu melakukan semuanya?" tanya Aqila.


"Aku tinggal menjentikkan jariku Sayang, maka semua yang aku inginkan dan aku butuhkan langsung ada di hadapanku dengan segera."


"Suami aku ternyata sangat hebat," ucap Aqila dengan mencium pipi Raffa.


"Jangan mulai deh Sayang, kamu mau menggodaku lagi," goda Raffa.


"Tidak Mas, ampun aku nyerah kalau begitu aku mandi dulu."


"Aku ikut."


Raffa langsung melompat dari tempat tidurnya menyusul Aqila ke dalam kamar mandi. Lagi-lagi di kamar mandi Raffa tidak bisa menahan hasratnya dan itu membuat Aqila kewalahan.


Setelah selesai mandi, keduanya keluar. Aqila tampak memperhatikan gaun hitam itu, gaun yang sangat indah dan mewah tanpa lengan dengan bagian punggungnya terbuka.


"Kenapa Sayang? kamu tidak suka dengan gaunnya?" tanya Raffa.


"Sexi banget Mas, apa ini Mas yang pilihkan?"


"Iya, sengaja aku ingin melihat istri cantikku tampil sexi sekali-kali, toh yang lihat kamu disini hanya aku saja tidak ada yang lain kecuali kalau di depan orang banyak kamu tidak boleh berpakaian sexi cukup aku saja yang boleh melihatnya," jelas Raffa.


Aqila hanya geleng-geleng kepala mendengar penjelasan Raffa. Akhirnya Aqila menuruti keinginan suaminya itu, Aqila keluar dari ruangan ganti dengan malu-malu pasalnya Aqila baru pertama kali ini memakai pakaian terbuka seperti ini.


Raffa melotot melihat penampilan Aqila, gaun hitam itu melekat membentuk lekuk tubuh indah Aqila. Pinggang ramping persis seperti bentuk gitar, dengan dada yang berisi dan kulit putih bersih dan mulus membuat Aqila terlihat sempurna.


"Wow..sexi sekali istriku."


"Mas, aku malu memakai gaun ini," seru Aqila.


Aqila tampak malu dan canggung bahkan Aqila sudah menyilangkan tangannya di dada.


"Sudah jangan ditutupi, bahkan aku sudah puas melihat tubuh polosmu."


Raffa menarik tangan Aqila dan membawanya ke sebuah meja yang sudah di penuhi dengan berbagai macam makanan.


"Kapan Mas menyiapkan semua ini?"

__ADS_1


"Kapan ya, aku lupa."


"Ih Mas ini, penuh sekali dengan kejutan."


"Harus dong."


Mereka berdua pun makan dengan tenangnya, setelah selesai makan, Aqila melangkahkan kakinya menuju luar kapal pesiar itu dan melihat pemandangan malam yang sangat indah.


Sebuah tangan melingkar di perut Aqila, Aqila tahu siapa itu, Raffa menciumi pundak Aqila yang terexpose.


"Mas, aku serasa mimpi bisa pergi ke luar negeri seperti ini, bahkan untuk bermimpi pun aku tidak berani. Hal seperti ini hanya biasa aku lihat di tv-tv, makan malam romantis di atas kapal pesiar, aku tidak menyangka kalau aku akan mengalaminya sendiri," seru Aqila yang menerawang jauh ke depan.


"Itulah cara Alloh menyatukan kita, tanpa di sangka-sangka dan di duga-duga, pertemuan kamu dan Eyang adalah salah satu takdir Alloh menjodohkan kita, walaupun pada awal hubungan kita banyak sekali rintangan dan cobaan yang mengharuskan kamu menyerah dan pergi meninggalkan aku."


"Aku tidak menyangka kalau jodoh aku adalah seorang pria tampan dan super kaya raya, padahal di dalam otakku sama sekali tidak terbayang akan mempunyai suami seorang miliarder."


Raffa tersenyum dan semakin mengeratkan pelukkannya.


"Sayang, mantan pacar kamu pasti banyak ya?" tanya Raffa.


"Aku sama sekali tidak punya mantan, Mas."


"Hah, masa sih?"


"Iya, kehidupan aku itu sangat pas-pasan Mas, Ayah dan Ibu aku adalah seorang guru, hidup kita serba kekurangan apalagi saat aku kuliah, mereka sampai minjam uang kesana kemari untuk biaya kuliahku. Aku sama sekali tidak bisa membalas pengorbanan mereka, aku hanya bisa membalasnya dengan rajin belajar dan lulus dengan nilai yang bagus, jadi tidak ada waktu untukku untuk menjalin hubungan dengan seorang pria," jelas Aqila.


Aqila melepaskan pelukkan Raffa dan melangkah menuju kursi yang tersedia disana. Raffa pun menyusul Aqila dan melepaskan jasnya kemudian memakaikannya kepada Aqila.


"Aku sama sekali tidak memiliki waktu untuk pacaran, yang ada di otak aku hanya ingin segera lulus dan mendapatkan pekerjaan supaya bisa membantu Ayah dan Ibu, tapi sayang Ayah pergi meninggalkan aku dan Ibu sebelum melihat aku sukses. Setelah Ayah meninggal, kehidupan ekonomi kita semakin terpuruk hingga akhirnya aku di terima sebagai guru honorer di sekolah milik Eyang."


Raffa begitu miris dan merasa tertohok mendengar cerita hidup Aqila. Raffa menggenggam tangan Aqila dengan sangat erat dan sesekali menciumnya.


"Motor yang kamu rusak itu adalah hasil jerih payah aku dan dibantu oleh uang pensiun dari Ayah."


"Maaf..maafkan aku Aqila."


"Sudahlah Mas, itu kan sudah berlalu lagipula sekarang aku juga sudah bisa beli motor baru hasil dari ngajar di pelosok selama empat tahun lebih," sahut Aqila dengan senyumannya.


"Kamu memang wanita berhati emas Aqila, selain wajahmu yang cantik ternyata hatimu juga sangat cantik, aku sangat menyesal sudah menyakiti kamu, aku janji mulai sekarang aku tidak akan menyakiti kamu lagi."


"Terima kasih, Mas."


Aqila langsung menghambur kepelukkan Raffa.


"Dan aku juga sangat beruntung ternyata aku mendapatkan plusnya juga, yaitu aku mendapatkan grace bukan second," celetuk Raffa.


"Iya Mas sangat beruntung, tapi aku yang rugi."


"Loh kok rugi?" tanya Raffa.


"Ya rugilah aku dapat suami second."


"Hai, aku tidak pernah melakukan hal kotor ya sebelum menikah."


"Tetap saja second, Mas pacaran sama Claudia lama dan hampir saja menikah, aku bisa membayangkan bagaimana gaya pacaran kalian, secara sama aku saja Mas nyosor mulu," cibir Aqila.


"Aku tidak pernah ngapa-ngapain sama Claudia, palingan cuma ciuman doang," ucap Raffa pelan.


"Nah, bibir ini sudah second beda dengan bibir aku yang belum terjamah sama sekali, kamu menang banyak Mas mendapatkan aku," seru Aqila dengan bangganya.


"Iya, dan aku sangat beruntung sudah mendapatkan istri secantik kamu."


Raffa mengeratkan pelukkannya dan menghujani kepala Aqila dengan ciuman, malam itu merupakan malam yang paling membahagiakan untuk mereka berdua.


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Author tidak akan henti-hentinya mengingatkan untuk reader setiaku yang mengaku menyukai karya-karya ku, yuk buruan di orderπŸ™πŸ™ tunjukkan kalau kalian memang reader setiaku dan mendukung karyakuπŸ™‚πŸ™‚




Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH

__ADS_1


LOVE YOU


__ADS_2