
π
π
π
π
π
Aqila terus saja memukul dada Raffa sehingga Raffa pun melepaskan pungutannya.
"Kenapa sih Sayang? malah di pukul-pukul?" tanya Raffa.
"Ya habisnya, Mas selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, kalau dibiarkan aku tahu ujung-ujungnya bakalan kemana?" sahut Aqila.
"Hehehe..soalnya aku tidak bisa nahan kalau dekat-dekat sama kamu, bawaanya ingin naik ranjang saja," seru Raffa sembari cengengesan.
"Dasar," Aqila mendelikkan matanya jengah.
"Oh iya Sayang, sekarang kita ke kamar Cyra pasti dia saat ini sedang ketakutan."
"Benar juga, yuk."
Aqila dan Raffa pun cepat-cepat menuju kamar Cyra dan benar saja, Cyra masih menangis di pelukkan Eyang.
"Cyra Sayang," panggil Raffa.
Cyra dan Eyang menoleh bersamaan...
"Daddy..."
Cyra berlari dan memeluk Raffa dengan sangat erat, Aqila ikut memeluk Raffa dan Cyra. Sedangkan Eyang dan Bi Ria lebih memilih keluar kamar dan membiarkan mereka bertiga untuk menyelesaikan masalahnya dengan Cyra.
Raffa mendudukkan Cyra di atas tempat tidurnya dan Aqila duduk di samping Cyra sedangkan Raffa berjongkok di hadapan Cyra dan menatap wajah Cyra.
"Sayang, Daddy mau bilang sama kamu kalau wanita yang tadi datang ke rumah kita itu adalah Mama kandung kamu, Sayang," seru Raffa selembut mungkin.
"Iya, dan dia ingin Cyra pulang bareng dia, apa Cyra mau?" tanya Aqila.
Cyra langsung memeluk Aqila dengan erat dan menangis sangat kencang, membuat Aqila terkejut dan memandang Raffa.
"No Mommy, Cyra tidak mau ikut dengan Tante itu, Cyra tidak mengenalnya, Cyra hanya ingin tinggal dengan Mommy dan Daddy," sahut Cyra dengan sesegukkan.
Cyra melepaskan pelukkannya dan menatap Raffa, dengan deraian airmata Cyra menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Daddy, Cyra mohon jangan paksa Cyra untuk ikut bersama Tante itu, Cyra tidak mau, Cyra hanya ingin tinggal bersama Daddy."
Raffa dan Aqila sangat terharu dengan ucapan Cyra, bahkan tanpa di duga mata Raffa sudah berkaca-kaca. Raffa langsung memeluk tubuh mungil Cyra.
"Daddy sangat menyayangimu, Nak."
"Daddy harus berjanji sama Cyra, jangan biarkan Tante itu mengambil Cyra."
"Tidak Sayang, tidak akan ada yang mau mengambil kamu, Daddy tidak akan membiarkan wanita itu merebut kamu dari Daddy."
Cyra melepaskan pelukkannya, terlihat mata Cyra berbinar mendengar jawaban dari Raffa.
"Kalau begitu, malam ini Cyra tidur sama Daddy dan Mommy ya?" seru Cyra dengan mengedip-ngedipkan matanya sehingga membuat gemas yang melihatnya.
Raffa bengong dan menoleh ke arah Aqila yang saat ini sudah tertawa puas.
"Astaga, kirain sudah lupa," sahut Raffa.
"Ayolah Daddy, please," rengek Cyra.
"Baiklah, tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya, Daddy?"
"Hanya malam ini saja ya, soalnya kalau Cyra tidur terus sama Mommy, bisa-bisa kepala Daddy pusing," sahut Raffa yang langsung dapat pelototan dari Aqila.
"Kok pusing, Daddy?"
"Begini ya Cyra, Daddy mau nanya sama Cyra, apa Cyra ingin mempunyai adik?"
"Mau banget dong, Daddy."
"Nah, kalau Cyra mau adik, Cyra tidak boleh tidur sama Mommy dan Daddy karena Mommy dan Daddy harus membuat dedek bayinya setiap malam biar langsung jadi."
"Cyra Sayang, ayo kita ke kamar Mommy jangan dengarkan ocehan Daddy mu ini," ajak Aqila dengan menggandeng tangan Cyra.
"Loh Sayang, memang benar kan omongan aku," teriak Raffa.
"Diam, dasar mesum."
Aqila pun meninggalkan Raffa dengan menggandeng tangan Cyra.
***
__ADS_1
Malampun tiba...
Jorge cepat-cepat pulang karena Suster Hana menghubunginya dan memberitahukan kalau sejak sore Clarissa mengurung diri di kamarnya bahkan Clarissa mengabaikan Louise yang merengek ingin di gendong.
"Louise kenapa, Suster?" tanya Jorge yang langsung menggendong anak kesayangannya itu.
"Tadi Louise nangis ingin di gendong sama Nyonya, tapi Nyonya malah pergi dan sampai sekarang tidak keluar dari kamarnya," sahut Suster Hana.
"Apa tadi Clarissa keluar rumah?" tanya Louise.
"Nyonya setiap hari keluar rumah Tuan, tapi saya tidak tahu Nyonya pergi kemana, dan setiap pulang ke rumah pasti Nyonya selalu murung."
"Ya sudah titip Louise sebentar, saya mau menemui Clarissa dulu."
Jorge pun menyerahkan Louise kepada Suster Hana, dan Jorge pun dengan setengah berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, terlihat Clarissa duduk di lantai dengan memeluk kedua lututnya.
"Astaga Sayang, kamu kenapa?" tanya Jorge panik karena melihat Clarissa tampak kacau dan menangis.
"Jorge, maafkan aku."
"Maaf? kenapa kamu harus meminta maaf?"
"Aku sudah menyembunyikan sesuatu dari kamu Jorge, maafkan aku."
"Maksud kamu apa? aku sama sekali tidak mengerti dengan ucapan kamu."
"Lima tahun lalu, saat aku menghilang aku pergi ke Jakarta, awalnya aku baik-baik saja tapi setelah beberapa minggu tinggal di Jakarta, aku merasakan ada yang aneh di dalam tubuhku. Aku sering mual, pusing, dan badanku cepat sekali lelah, aku memberanikan diri memeriksakan keadaanku ke Dokter dan ternyata aku positif hamil, Jorge."
Jorge merasa terkejut dengan pengakuan Clarissa.
"Aku hamil anakmu, Jorge. Aku sangat bingung pada saat itu, mau bilang sama kamu aku takut karena kamu kan sudah bilang kalau kamu tidak mau terikat pernikahan dengan siapapun, sementara anak di dalam kandunganku butuh sosok seorang Ayah lagipula aku sudah terlanjur menyayangi anak itu makannya aku mempertahankannya."
Lagi-lagi Jorge tercengang mendengar pengakuan Clarissa.
"Disaat yang sama, aku bertemu dengan Mas Raffa sahabat kamu Jorge. Mas Raffa adalah calon suami dari Claudia yang merupakan saudara kembarku, Claudia mengalami kecelakaan dan meninggal, dan sampai saat itu Mas Raffa belum bisa move on dari Claudia. Dari sana aku mulai punya ide untuk memanfaatkan Mas Raffa dan menjebaknya seakan-akan tidur denganku padahal kenyataannya tidak itu hanya akting saja. Hingga akhirnya Mas Raffa mempercayaiku dan menikahiku."
"Apa? kamu sempat menikah dengan Raffa?" tanya Jorge merasa tidak percaya.
"Tunggu dulu Jorge, aku sama Mas Raffa memang menikah tapi kami tidur di kamar yang berbeda dan Mas Raffa belum pernah menyentuh aku selain kamu. Selama menikah dengannya, Mas Raffa berubah menjadi pria yang kejam dan kasar hingga akhirnya Mas Raffa menceraikanku dan mengusirku dari rumahnya."
Clarissa menjeda ucapannya dan menarik nafasnya dalam-dalam, sedangkan Jorge masih mendengarkan penjelasan Clarissa dia tidak mau memotong ucapan Clarissa.
"Semenjak Mas Raffa mengusirku, aku dan Mama hidup serba kekurangan hingga pikiran gila pun muncul di otaku, aku memutuskan menyimpan Lisa di depan rumah Mas Raffa karena aku tidak mau Lisa hidup susah, makannya aku memutuskan untuk melakukan semua itu berharap Mas Raffa dan Eyang mau mengurus Lisa."
"Lisa?"
"Iya, anak pertama kita perempuan dan aku memberi nama dia Lisa Jeorginia."
"Kenapa kamu tidak datang kepadaku? kenapa kamu malah menyembunyikannya dariku dan membiarkan anak kita diasuh oleh orang lain," sahut Jorge.
"Aku takut kamu tidak mau menerimanya," seru Clarissa dengan deraian airmata.
Jorge menarik tubuh Clarissa dan membawanya kedekapannya.
"Lisa, membenciku Jorge dia tidak mau ikut denganku."
"Tenang..tenang, besok kita ke rumah Raffa dan membicarakan semuanya baik-baik."
***
Malam di rumah Raffa, setelah makan malam bersama, Cyra dan Aqila naik ke kamar Aqila karena malam ini seperti janji Raffa kalau Cyra boleh tidur bersama mereka.
"Sini Mas, jangan cemberut mulu," seru Aqila.
"Cyra Sayang, kamu tidur dipinggir ya biar Mommy tidur di tengah," bujuk Raffa.
"Mas, kalau Cyra tidur pinggir takut jatuh biar Cyra tidur di tengah saja," keluh Aqila.
"Sayang, kalau Cyra di tengah aku tidak bisa meluk kamu dong, aku kan tidak bisa tidur kalau tidak memeluk kamu," rengek Raffa seperti anak kecil.
"Oh tidak bisa tidur ya?" tanya Aqila.
Raffa tersenyum manis dan mengangguk dengan manjanya.
"Terus kemarin waktu aku menghilang bertahun-tahun kamu masih bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus memeluk aku."
"Iya itu kan beda, dulu aku belum merasakan enaknya surga dunia tapi sekarang sudah tahu, aku jadi tidak mau jauh-jauh sama kamu."
Aqila memukul mulut Raffa dengan tangannya...
"Astaga itu mulut kenapa ngomongnya fulgar sekali, untung Cyra belum ngerti. Cyra Sayang, ayo kita bobo jangan pedulikan Daddymu," ucap Aqila dengan mendelikkan mataya kearah Raffa.
"Sayang..." rengek Raffa.
"Apa? Mas tidur di samping Cyra atau mau tidur di sofa saja?" tawar Aqila.
Raffa tidak menjawab, dengan wajah yang cemberut Raffa merebahkan tubuhnya di samping Cyra dan dengan posisi membelakangi Cyra dan Aqila. Sedangkan Aqila hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Raffa.
Malam pun semakin larut, Raffa masih belum bisa tidur. Raffa perlahan membalikkan tubuhnya, dilihatnya Cyra dan Aqila sudah sama-sama tertidur lelap. Tiba-tiba ide konyol muncul di otak Raffa.
__ADS_1
Perlahan Raffa mengangkat tubuh Cyra ke tempat dia tidur barusan, setelah itu Raffa menggeser tubuh Aqila dengan sangat hati-hati karena takut Aqila bangun, setelah itu Raffa baru merebahkan tubuhnya di samping Aqila dan memeluk Aqila dari belakang.
"Nah, ini baru benar," batin Raffa dengan tersenyum lebar.
Ternyata benar saja, setelah Raffa memeluk Aqila, Raffa pun mulai terlelap dan masuk ke alam mimpinya.
***
Keesokkan harinya...
Cyra mulai merentangkan tangannya, Cyra mengucek-ngucek matanya untuk menyadarkan dirinya. Cyra duduk di atas ranjang, dilihatnya Mommy dan Daddynya tidur dengan posisi yang saling memeluk.
Cyra tampak tersenyum dan merasa bahagia, perlahan Cyra turun dari tempat tidur itu dan berjalan mengendap-ngendap karena tidak mau sampai membangunkan Raffa dan Aqila.
Setengah jam berlalu, Aqila mulai merentangkan kedua tangannya dengan mata yang masih terpejam. Aqila meraba tubuh yang berada di sampingnya.
"Loh, kok tubuh Cyra gede banget," gumam Aqila.
Aqila mulai membuka matanya dan perlahan melihat kearah sampingnya.
"Astaga, bayi gede kok ada disini."
Aqila melihat ke samping satunya lagi, ternyata Cyra sudah tidak ada.
"Kemana Cyra? pasti dia sudah bangun."
Aqila kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Aqila keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk kimono dan dan rambut di gulung ke atas karena masih basah.
"Mas, bangun."
Raffa sama sekali tidak bergeming, hingga tetesan air dari rambut Aqila jatuh mengenai Raffa dan seketika Raffa mengerjapkan matanya.
"Ayo bangun, apa hari ini tidak ke kantor?" tanya Aqila.
Raffa menarik tubuh Aqila sehingga Aqila terjatuh menimpa tubuh Raffa.
"Wangi sekali istriku."
"Mas, lepaskan ayo bangun nanti telat ke kantor," rengek Aqila.
"Kamu lupa suamimu ini pemilik perusahaan, jadi mau datang pukul berapa pun tidak akan ada yang melarangku."
"Jangan seperti itu, justru sebagai pemilik perusahaan harus memberikan contoh yang baik untuk Karyawannya."
Raffa langsung mengubah posisinya menjadi di atas Aqila.
"Kenapa pagi-pagi kamu sudah bawel sih?"
"Bukan bawel hanya mengingatkan sa---"
Ucapan Aqila terhenti karena Raffa mencium bibirnya.
"Ih Mas ini, cepetan mandi sana."
"Kita olahraga dulu baru nanti mandi," seru Raffa yang sudah menciumi leher Aqila.
"Tidak, aku sudah mandi Mas."
Tapi Raffa yang memang sudah terbakar oleh nafsunya sendiri tidak mendengarkan ocehan Aqila, malah saat ini Raffa sudah membuka tali handuk kimono Aqila.
Lagi-lagi Raffa menelan salivanya melihat tubuh sang istri yang sangat sexi dan menggairahkan untuknya.
"Mas...emmmpppphhh."
Ucapan Aqila terpotong karena Raffa sudah mulai beraksi dengan tangan dan bibirnya, akhirnya Aqila hanya bisa pasrah. Setelah sekian lama, mereka pun mandi bersama. Aqila sungguh bingung dengan kelakuan suaminya itu, tidak bisa berdekatan sedikit pasti ujung-ujungnya naik ranjang.
π
π
π
π
π
Yuk guys siapa lagi yang mau orderπ€π€
Jangan lupa
like
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU