
π
π
π
π
π
Sampai di rumah sakit, Aqila menuju ke ruangan rawat Jino karena mendapat kabar kalau Jino sudah sadar sedangkan Zahra masih belum sadarkan diri.
"Selamat pagi, Alhamdulillah Mas Jino sudah sadar," seru Aqila.
"Iya Qila terima kasih atas do'anya, Raffa mana?" tanya Jino.
"Tadi sih dia bilang mau ke kantor dulu sebentar ada urusan."
"Kemana si bos? saat ini kantor sudah aman dan tidak ada jadwal apapun," batin Rey.
"Qila, aku mau tahu bagaimana keadaan Zahra, mereka semua tidak ada yang mau memberitahuku, please Qila katakan apa yang sudah terjadi?" tanya Jino dengan tatapan memelas.
Aqila sebenarnya tidak mau memberitahukannya dulu kepada Jino karena Jino baru saja sadar tapi tatapan memelas Jino membuat Aqila tidak tega karena lama-kelamaan Jino juga harus tahu bagaimana keadaan Zahra.
Aqila menghela nafas panjangnya dan Aqila pun mulai menceritakan keadaan Zahra. Jino terkejut dan tanpa sadar meneteskan airmatanya. Jino hendak melepaskan jarum infus yang menancap di punggung tangannya tapi dengan cepat Rey menghentikannya.
"Kamu mau kemana, Bang?"
"Lepasin gue Rey, gue mau ketemu sama Zahra, gue yang sudah menyebabkan kecelakaan itu dan gue yang sudah membuat Zahra menanggung akibatnya," teriak Jino dengan terus memberontak.
"Mas Jino jangan seperti ini, jangan menyalahkan diri sendiri ini adalah suatu kecelakaan yang tidak di sengaja tidak ada yang mau semua ini terjadi," seru Aqila.
"Aku lalai Qila, sehingga membuat Zahra seperti itu, aku memang laki-laki yang tidak berguna," teriak Jino dengan terus memberontak.
"Ada apa ini?" seru Raffa yang baru saja sampai.
"Mas tolongin, Mas Jino ingin menemui Zahra dan Mas Jino juga menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan itu," sahut Aqila.
"Gue salah Raff, gue terlalu lalai tidak memperhatikan keselamatan Zahra dan akhirnya Zahra harus menanggung akibatnya, pasti Zahra akan merasa tepukul sekali."
"Jangan menyalahkan diri sendiri, ini semua gara-gara perempuan gila itu yang memicu pertengkaran di antara kalian, tapi lo jangan khawatir kalau sampai perempuan itu mengganggu lo dan Zahra, gue bakalan singkirin dia dengan tangan gue sendiri," ucap Raffa menenangkan Jino.
"Dasar perempuan sialan, kalau sampai Zahra kenapa-napa gue pastikan gue bakalan bunuh dia," teriak Jino.
Tiba-tiba pintu ruangan rawat Jino terbuka dengan kasarnya.
"Qila, Ranti, Zahra sudah sadar," seru Clarissa.
"Apa?"
Ranti dan Aqila segera menemui Zahra, sedangkan Jino berusaha melepaskan jarym infusnya.
"Raff, please gue ingin bertemu dengan Zahra," ucap Jino dengan memelas.
"Baiklah, Rey tolong kamu bawa kursi roda kesini."
"Baik bos."
Tidak lama kemudian, Rey datang dengan membawa kursi roda. Raffa membantu Jino turun dari tempat tidurnya dan kemudian mendorong kursi roda itu menuju ruangan rawat Zahra.
"Alhamdulillah, akhirnya you sadar juga," seru Aqila.
"Kita sudah takut tahu, takut you kenapa-napa," sambung Ranti.
Zahra tersenyum, dia belum tahu kalau kakinya mengalami kelumpuhan. Sedangkan Jino menyuruh Raffa untuk berhenti di depan pintu ruangan rawat Zahra, Jino tidak sanggup melihat Zahra kalau Zahra tahu kakinya lumpuh.
Zahra menggerakkan tubuhnya...
"You mau ngapain?" tanya Aqila.
"Aku ingin duduk, Qila."
Aqila dan Ranti pun membantu Zahra dan menyandarkan tubuh Zahra pada bantal.
"Kamu mau makan sayang?" tanya Mama Zahra.
"Tidak Ma, Zahra haus."
Mama Zahra pun memberikan minum kepada Zahra, setelah selesai minum, Zahra baru merasakan ada yang aneh.
"Tunggu, kok kaki aku kebas tidak merasakan apa-apa," seru Zahra.
Semua orang saling pandang satu sama lain..
"Loh, kok kaki aku tidak bisa di gerakin sih?" seru Zahra mulai panik.
Zahra memandang satu persatu orang yang ada di ruangan itu, tapi mereka semua menundukkan kepalanya seolah pura-pura tidak tahu apa yang sudah terjadi.
"Apa ada orang yang mau menjelaskannya sama aku," seru Zahra yang mulai meneteskan airmatanya.
Jino yang melihat dari balik pintu tak kuasa menahan kesedihan di hatinya melihat wanita yang sangat dia cintai menangis dan terluka karena ulahnya sendiri.
"Kenapa kalian diam saja? cepat katakan apa yang sudah terjadi?" teriak Zahra dengan deraian airmata.
Sedangkan Aqila sudah menangis di pelukkan Clarissa, begitu pun dengan Ranti yang memilih menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Rey.
__ADS_1
"Sayang, kamu tenang dulu kamu tidak kenapa-napa kok jadi kamu jangan khawatir, lebih baik sekarang kamu istirahat ya biar cepat pulih dan sembuh," seru Mama Zahra.
"Tidak Ma, kalian pasti sedang menyembunyikan sesuatu dari Zahra. Qila, please katakan kaki aku kenapa? pasti sudah terjadi sesuatu kan? please aku mohon Qila, Ranti please kasih tahu aku," ucap Zahra memelas.
Aqila semakin sakit melihat Zahra, dia tidak sanggup kalau harus memberi tahu yang sebenarnya kepada Zahra.
"Selamat pagi semuanya!!" sapa sang Dokter.
"Dokter, tolong jelaskan kenapa kaki aku kebas? aku tidak merasakan apa-apa di kaki aku," tanya Zahra.
Mama Zahra tidak kuat melihat anak satu-satunya seperti itu, Mama Zahra pergi keluar karena tidak sanggup melihat Zahra kalau mendengar keadaannya sekarang. Aqila mendekat dan memeluk Zahra.
"Kamu harus kuat Zahra, kamu pasti bisa," ucap Aqila.
"Dokter, saya mohon jelaskan semuanya."
"Disaat kamu kecelakaan, kaki kamu terjepit badan mobil dan tulang kaki kamu retak, untuk saat ini kamu mengalami kelumpuhan, kami akan berusaha menyebuhkan kamu tapi kamu juga harus mempunyai semangat untuk bisa sembuh," jelas Dokter.
"Tidak, tidak Dokter saya sebentar lagi mau menikah Dokter, saya tidak mau pernikahan saya gagal," teriak Zahra dengan deraian airmatanya.
"Tenang Zahra, kamu pasti sembuh," ucap Ranti.
Saat ini Aqila dan Ranti memeluk Zahra dengan deraian airmata. Begitu pun dengan Jino yang tak kuat menahan airmatanya di balik pintu, Jino merasa bersalah kepada Zahra.
"Pasti Mas Jino akan membatalkan pernikahannya, dia tidak mungkin mau menikahi wanita lumpuh seperti aku."
"Jangan bicara seperti itu, Mas Jino akan menerima kamu apa adanya percaya sama aku," sahut Aqila.
"Yang di katakan Qila benar, aku akan tetap menikahimu bagaimana pun keadaan kamu," seru Jino yang masuk menggunakan kursi roda.
Zahra terkejut dan melihat kearah Jino.
"Mas Jino."
Perlahan Jino berdiri dari kursi roda dan menghampiri Zahra, Aqila dan Ranti mundur menjauh membiarkan sepasang kekasih itu untuk berbicara. Jino menghapus airmata Zahra yang terus saja mengalir dipipinya.
"Lebih baik kita keluar semua, biarkan mereka berbicara," seru Raffa.
Semuanya menyetujui saran Raffa untuk sejenak memberikan ruang antara Zahra dan Jino untuk saling meluapkan isi hati masing-masing.
"Aku siap kalau Mas mau membatalkan pernikahan kita, sekarang aku sudah menjadi wanita yang lumpuh," ucap Zahra.
"Tidak, semua ini gara-gara aku yang tidak bisa mengemudikan mobil dengan benar sehingga membuat kamu menjadi seperti ini. Aku akan tetap menikahi kamu bagaimana pun keadaan kamu, aku akan menerima kamu apa adanya kita lalui semuanya sama-sama aku tidak akan membiarkan kamu melalui hari-hari kamu seorang diri."
"Tapi Mas, aku sudah tidak sempurna lagi dan aku tidak tahu apa aku akan sembuh atau selamanya akan lumpuh, aku ikhlas kamu menikahi wanita la-----"
Ucapan Zahra terputus karena Jino dengan cepat membungkam bibir Zahra dengan bibirnya. Airmata keduanya menetes membasahi pipi, mereka berdua sama-sama merasakan sakit akibat dari kecelakaan itu. Dirasa nafas mereka sudah habis, Jino melepaskan pungutannya dan Jino menatap lekat-lekat mata Zahra.
"Jangan pernah ucapkan itu, karena aku tidak akan pernah menikah dengan wanita manapun kecuali dengan kamu, hanya kamu yang aku inginkan dan kita akan lalui semuanya sama-sama."
***
Waktu berjalan dengan cepat, satu bulan sudah semenjak Zahra dan Jino keluar dari rumah sakit semuanya berjalan dengan lancar. Pernikahan Jino dan Zahra tetap terlaksana di waktu yang sudah di tetapkan di awal, hanya bedanya tidak ada resefsi mewah, pernikahan mereka hanya di hadiri kerabat dan sahabat-sahabat mereka.
Saat ini semua orang sedang berkumpul di Bandara, Jino akan membawa Zahra ke Amerika untuk menjalani pengobatan dan terapi, mereka juga akan menetap disana sampai Zahra sembuh.
"Zahra, you jangan lupa selalu hubungi kita ya awas kalau sampai melupakan kita," seru Aqila.
"Pasti, aku tidak akan pernah melupakan kalian."
"Jaga diri baik-baik, jangan banyak pikiran harus tetap semangat supaya you cepat sembuh dan bisa berjalan lagi," sambung Ranti.
"Siap."
Ketiga sahabat itu saling berpelukkan, Jino yang saat ini sedang menggendong Edrik merasa sangat terharu dengan persahabatan istrinya itu, mereka selalu saling menguatkan dan memberi suport satu sama lain.
"Mas, sini aku pengen gendong Edrik dulu," seru Zahra.
Jino pun memberikan Edrik ke pangkuan Zahra yang saat ini duduk di kursi roda.
"Boy, Aunty pergi dulu ya jangan nakal, katakan sama Mommy dan Daddymu jangan buat dede bayi terus nanti kelelahan mengurus kamu," seru Zahra.
"Hei jangan ngomong yang macam-macam di hadapan anak kecil," sahut Aqila.
"Wah ide bagus tuh, kayanya kita harus honeymoon yang kedua kalinya Sayang. kita kasih adik buat Edrik," seru Raffa.
"No...Edrik masih kecil," ketus Aqila.
Semuanya tertawa, Zahra menghujani ciuman di seluruh wajah Edrik sehingga membuat Edrik tertawa karena merasa geli. Mereka semua melepaskan kepergian Zahra dan Jino.
***
Saat ini Aqila dan Raffa sedang duduk-duduk santai di balkon kamarnya sembari ngopi, sedangkan Edrik sudah tertidur pulas di kamarnya.
"Sayang, bagaimana dengan rencana liburan kita, kapan kita akan berangkat?" tanya Raffa dengan menyesap kopinya.
"Kalau aku sama Edrik terserah Mas saja, kami ikut kapan pun Mas siap."
"Ya sudah minggu depan saja kita berangkat ke Bogor, kebetulan Rey sudah bisa kembali lagi ke kantor, Ranti sudah bisa di tinggal dan ngidamnya pun sudah membaik tidak seperti sebelumnya."
"Baiklah."
Raffa menarik tubuh istrinya supaya lebih dekat dan membawanya ke dalam dekapannya.
"Sayang, aku tidak menyangka hidup aku sebahagia dan sesempurna ini, aku sudah punya kamu dan Edrik, kalian adalah harta yang paling berharga buatku."
__ADS_1
"Terima kasih Mas, sudah menjadi suami yang paling sempurna buatku dan menjadi Daddy yang bertanggung jawab buat Edrik, kami juga sangat beruntung memiliki lelaki sepertimu, Mas. Tetaplah menjadi lelakiku yang selalu melindungi dan menjaga kami berdua, aku dan Edrik hanya punya kamu dan bergantung sama kamu," jelas Aqila dengan mata yang berkaca-kaca.
Raffa melepaskan dekapannya dan mencium bibir Aqila penuh dengan cinta.
"I LOVE YOU, AQILA CITRA KIRANA."
"I LOVE YOU TOO, TUAN RAFFAEL ABRAHAM."
Mereka berdua tertawa dengan bahagianya...
***
"Mas, cepetan lama banget sih," teriak Aqila dari dalam mobil dengan Edrik yang sudah duduk manis di pangkuannya.
"Iya sebentar, Sayang."
Raffa setengah berlari menuju mobilnya, mereka akan pergi sebuah foto studio karena Aqila keukeuh ingin membuat sebuah foto keluarga kecilnya.
"Ok boy, kita berangkat sekarang."
Raffa langsung melajukan mobilnya membelah kota Jakarta. Selama dalam perjalanan Aqila mengajak Edrik bernyanyi-nyanyi dan itu membuat Raffa tertawa karena merasa gemas melihat tingkah anak dan istrinya itu.
Tidak lama kemudian, mobil mewah milik Raffa pun sampai di sebuah foto studio. Raffa sudah membooking tempat itu, Raffa tidak mau ada orang selain dirinya karena Raffa ingin Edrik nyaman berada di sana tanpa gangguan dari banyak orang.
"Selamat sore Tuan dan Nyonya Abraham, mari silakan masuk karyawan kami sudah menunggu anda sekalian."
"Aku make up dulu ya, kamu jagain Edrik dulu."
"Ok, sini boy sama Daddy."
Raffa mengambil alih Edrik dari gendongan Aqila.
Edrik tampak anteng dalam gendongan Raffa, meskipun sedang menggendong Edrik tetap saja Raffa terlihat keren dan mempesona.
Butuh waktu lumayan lama menunggu Aqila di make over, hingga akhirnya Aqila pun selesai dan keluar dengan penampilan yang sangat cantik.
"Wow, lihat boy Mommy mu cantik sekali, Daddy jadi ingin membawa Mommymu ke ranjang," seru Raffa tidak tahu malu.
"Mas, malu di dengar sama orang. Suster, tolong titip Edrik dulu, Mas Raffa mau ganti baju dulu."
Aqila pun membantu Raffa memakaikan jasnya, tapi dengan jahilnya tangan Raffa malah sibuk merayap entah ke bagian mana membuat Aqila beberapa kali harus melotot, tapi Raffa hanya cengengesan untung di ruangan ganti itu hanya mereka berdua.
"Suamiku terlihat sangat tampan," ucap Aqila dengan mencium sekilas bibir Raffa.
"Sayang, jangan mulai deh atau foto-fotonya akan batal."
"Enak saja batal, ayo cepetan keluar nanti Edriknya keburu rewel."
Keluarga kecil itu mulai berfose layaknya model, ketiganya tampak sangat kompak dan menggemaskan sungguh keluarga yang membuat semua orang iri.
Setelah beberapa kali jepretan, akhirnya mereka memutuskan untuk mengakhirinya karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Edrik pun sepertinya sudah mulai ngantuk. Raffa memutuskan untuk pulang ke rumah, dan benar saja Edrik langsung tertidur setelah selama dalam perjalanan Edrik terus saja mimi ASI.
Aqila menidurkan Edrik di kamarnya, setelah itu Aqila menghampiri Raffa yang saat ini sedang mengotak-ngatik ponselnya melihat hasil jepretan tadi.
"Sedang apa?"
"Lihat deh Sayang, hasilnya sangat bagus aku suka."
"Iya, bagus banget."
Aqila dan Raffa duduk berdua di balkon kamarnya sembari melihat langit yang penuh dengan bintang. Aqila menyandarkan kepalanya ke pundak Raffa.
----END---
π
π
π
π
π
Hallo RAQILLA LOVERS, akhirnya Aqila dan Raffa selesai juga jangan unfavorit dulu ya karena masih ada extra part tentang keuwuan Aqila dan Raffa.
Terima kasih atas dukungan dan gift yang kalian berikan sehingga RAQILA bisa masuk dalam novel yang di rekomendasikanππππ
Oh ya, maaf visualnya beda-beda itu hanya ilustrasi saat Aqila, Edrik, dan Raffa menjalani foto bersama kira-kira hasilnya seperti itu, semoga kalian sukaπ€π€
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
LOVE YOU
__ADS_1