
π
π
π
π
π
Hari ini Jino akan berangkat ke Jogja, seperti janjinya Jino selain akan bekerja, dia juga akan mencari tahu tentang asal-usul Clarissa. Sesampainya di Jogja, Jino langsung menuju hotel karena dia memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum nanti malam dia akan bertemu dengan kawan lama yang merupakan pengusaha muda juga.
Selama dalam perjalanan menuju hotel, Jino tidak henti-hentinya menghubungi seseorang yang sudah menemukan titik terang tentang keberadaan rumah Clarissa dulu.
"Kerja yang bagus, kalian terus saja awasi rumah itu jangan sampai lengah," seru Jino.
Jino pun menutup sambungan telponnya, sesampainya di hotel, Jino langsung saja menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur hingga tanpa waktu lama pun Jino sudah berada di alam mimpi.
Sementara itu di rumah Raffa, Clarissa semakin menjadi-jadi dia terus saja berusaha membongkar brangkas yang ada berada didalam lemari pakaian Eyang Puteri.
Setelah sebelumnya dia gagal membuka brangkas karena menggunakan kode, sekarang Clarissa menyelinap lagi ke kamar Eyang dan berharap keajaiban datang dan brangkas itu bisa dibuka.
"Sial, kodenya berapa sih? aku yakin di dalam brangkas ini banyak sekali benda berharga dan pasti nilainya triliunan rupiah, aku sudah tidak sabar menjadi seorang milyarder," gumam Clarissa dengan senyum yang merekah.
Clarissa memukul brangkas itu dengan tangannya karena merasa kesal belum bisa membukanya.
"Sial, susah sekali membukanya," kesal Clarissa.
Akhirnya Clarissa menyerah dan memutuskan untuk mencobanya esok hari saja. Clarissa tampak celingukkan mencari orang-orang karena Clarissa takut ketahuan. Dirasa sudah aman, Clarissa pun keluar dari kamar Eyang.
Tanpa Clarissa sadar di bawah ada sepasang mata yang sedang memperhatikan gerak-geriknya.
"Nyonya Clarissa habis ngapain dari kamar Eyang? sungguh sangat mencurigakan," gumam Bi Ria.
***
Dibelahan dunia yang lain, Raffa tampak tergesa-gesa menuju rumah sakit tempat Eyang Puteri di rawat. Perasaan senang, sedih, takut, dan bersalah sudah muncul di benak Raffa.
Ceklek....
Dilihatnya Eyang sedang duduk bersandar dengan tatapan kosongnya.
"Eyang," seru Raffa.
"Raffa, cucuku yang nakal."
Raffa dengan langkah lebar langsung menghampiri Eyang dan Eyang pun tak kalah terharunya. Raffa langsung menghambur kedalam pelukkan Eyang.
"Eyang maafkan Raffa Eyang, semuanya memang salah Raffa, Raffa sudah membuat semuanya kacau," seru Raffa sembari meneteskan airmatanya.
Eyang melepaskan pelukkan Raffa, awalnya Eyang masih membenci cucu kesayangannya itu tapi setelah melihat Raffa menangis, rasa bersalahnya pun semakin menjadi.
"Sudahlah Raffa, semuanya sudah terlambat Aqila sudah pergi."
"Maafin Raffa, Eyang."
"Raffa, Eyang mau tinggal dulu disini untuk sementara waktu, Eyang masih belum siap menerima wanita itu menjadi cucu mantu Eyang."
"Raffa akan menceraikan Clarissa, Eyang."
"Apa kamu bilang? jangan menambah masalah Raffa, bukannya Clarissa sedang mengandung anak kamu," seru Eyang dengan kesalnya.
"Masalah anak, Raffa siap menafkahinya berapapun itu tapi Raffa tidak bisa hidup bersama Clarissa karena Raffa baru menyadari kalau hati Raffa untuk Aqila, Eyang."
"Kenapa kamu baru menyadarinya di saat Aqila sudah pergi? Aqila itu anak yang baik Raffa, Eyang sangat khawatir dengan keadaannya, kemana dia? apa dia baik-baik saja? dia sendirian Raffa tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain kita," ucap Eyang dengan meneteskan airmatanya.
"Iya Raffa tahu Eyang, maafkan Raffa."
"Kerahkan semua orang-orang terbaik kita Raffa untuk mencari keberadaan Aqila."
"Iya Eyang."
***
Saat ini Aqila sedang berada disebuah tempat, duduk di bawah pohon rindang sembari menatap jauh menerawang ke depan. Rambut panjangnya melambai-lambai karena tertiup angin.
__ADS_1
Didepan sana anak-anak sedang bermain, walaupun mereka bermain permainan tradisional tapi anak-anak itu merasa bahagia dan tertawa riang.
"Eyang, apa Eyang baik-baik saja? kenapa perasaanku tidak enak? Aqila do'akan semoga Eyang selalu sehat," gumam Aqila.
"Kamu sedang apa?" tanya Fathir yang tiba-tiba hadir di samping Aqila.
"Aku lagi ngadem saja Thir, jenuh di rumah lagi lihatin anak-anak main juga."
"Jangan banyak melamun, ingat apa yang Dokter bilang kamu harus bahagia lupakan semua masalah yang ada, dan jika kamu mempunyai masalah aku harap kamu bisa membagi kesedihan kamu denganku Qila."
"Iya Thir, aku ingat apa yang Dokter bilang jadi kamu tidak usah khawatir," sahut Aqila dengan senyumannya.
Tiba-tiba seorang anak kecil bernama Maruna mendekati Aqila dan Fathir.
"Bu guru cantik, ayo ikut main sama Maruna," ucap Maruna dengan menarik tangan Aqila.
Aqila menatap kearah Fathir dan Fathir tampak tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Ayo, Pak guru ganteng juga ikut main."
Maruna menarik tangan Aqila dan Fathir bersamaan, akhirnya Aqila dan Fathir pun ikut bermain bersama anak-anak itu. Tawa Aqila pecah, sesaat Aqila melupakan masalahnya dan tertawa bersama dengan anak-anak.
Fathir memperhatikan Aqila yang saat ini sedang tertawa bahagia.
"Aku akan membuat kamu selalu tertawa Qila, supaya senyuman indah itu tidak pernah pudar dari wajah cantikmu," batin Fathir.
Malam pun tiba....
Jino sudah siap-siap akan bertemu dengan teman lamanya di sebuah restoran mewah di kota itu. Sebenarnya merupakan teman Raffa juga karena mereka bertiga adalah para pengusaha muda yang sukses di bidang masing-masing.
Tidak lama kemudian Jino sampai di restoran, Jino langsung menuju vip room karena temannya itu sudah menyewa tempat privat supaya mereka lebih nyaman untuk berbincang-bincang.
"Sorry bro gue telat, jalanan sedikit macet," seru Jino.
"Tidak apa-apa santai saja, apakabar Jin?" tanya Jorge yang merupakan teman lama Jino dan Raffa.
"Kabar baik."
Kedua pria tampan itu saling rangkul satu sam lain.
"Dia lagi patah hati sekarang, keadaannya hancur banget gue kasihan lihat keadaan dia sekarang," sahut Jino.
"Tunggu, maksud lo patah hati kenapa? bukannya dia sudah nikah ya? berarti dia sudah move on dari pacarnya yang meninggal itu, siapa namanya gue lupa?"
"Claudia."
"Ya Claudia."
"Panjang ceritanya, butuh waktu satu minggu buat gue ceritain semuanya sama lo."
"Yaelah, lo ga usah ceritakan semuanya intinya saja."
"Sebenarnya Raffa menikah dengan Aqila tanpa cinta, Eyang yang menginginkan pernikahan itu. Raffa selalu bersikap kasar sama Aqila sampai-sampai Aqila menyerah dan memilih pergi meninggalkan Raffa, tapi setelah Aqila pergi si Raffa baru nyesel tuh dan baru menyadari kalau dia mencintai Aqila, makannya saat ini Raffa hancur banget, setiap hari mabuk-mabukkan," jelas Jino.
"Astaga, kalau begitu Raffa minta maaf dong dan ajak balikkan lagi sama istrinya, gampang kan."
"Sayangnya masalah Raffa tak segampang itu Jorge, tiba-tiba ada wanita yang merupakan saudara kembar Claudia awalnya Raffa tergila-gila tuh sama wanita itu karena wajahnya yang mirip banget dengan Claudia, sampai dia melakukan kesalahan yang membuat wanita itu hamil."
"Whaattt? terus bagaimana dengan istrinya?" tanya Jorge.
"Nah justru itu, saat ini Aqila menghilang bak di telan bumi bahkan orang-orang Raffa tidak bisa menemukan keberadaan Aqila, Raffa seperti orang gila yang linglung mana saat ini Eyang koma karena mendengar berita Raffa menghamili wanita lain," seru Jino dengan helaan nafasnya.
"Astaga, tapi tunggu dulu memang lo percaya kalau Raffa sampai menghamili wanita?" tanya Jorge.
"Nah itu yang saat ini sedang gue selidiki, diantara kita bertiga cuma lo penjahat *******, Raffa mana mungkin menghamili wanita dan gue yakin kalau wanita itu sengaja menjebak Raffa demi harta," sahut Jino.
"Sialan lo bilang gue penjahat *******."
"Emang iya, tiap malam lo gunta-ganti cewek buat memuaskan nafsu lo, gila memangnya lo tidak mau menikah dan membina rumah tangga supaya lo tidak celap-celup sana-sini."
"Brengsek lo, kaya teh kemasan saja celap-celup."
Jino dan Jorge pun tertawa terbahak-bahak, memang benar yang dikatakan Jino diantara Jino dan Raffa, hanya Jorge laki-laki brengsek yang menjadikan wanita sebagai pemuas nafsunya.
"Gue memang saat ini sedang mencari seorang wanita Jin, gue jatuh cinta sama dia semenjak pertama kali bertemu," seru Jorge di sela-sela menyantap makanannya.
__ADS_1
"Wah gila, siapa wanita yang sudah berhasil meluluhkan si raja playboy ini," ledek Jino.
"Pertemuan gue berawal di sebuah club, seseorang menawarkan wanita itu sama gue katanya wanita itu masih perawan. Gue sangat tertarik wanita itu sangat cantik dan polos, awalnya dia takut sama gue karena dia melakukan ini secara terpaksa karena desakan ekonomi, setelah gue renggut keperawanannya dia tidak henti-hentinya menangis, gue kasih semua fasilitas mewah buat dia dan semenjak itu dia menjadi wanita simpanan gue, dia selalu ada disaat gue membutuhkannya, awalnya gue memang ingin menjadikan dia sebagai simpanan saja karena kalau menikah urusannya ribet apalagi gue masih suka main-main sama wanita lain, tapi akhir-akhir ini dia menghilang sama seperti Raffa, gue baru menyadari kalau gue sudah jatuh cinta sama dia dan lo tahu semenjak itu gue ga pernah main-main sama wanita lain, gue hanya menginginkan dia," jelas Jorge panjang lebar.
"Gila, brengsek banget lo jadi orang, lo sudah menghancurkan masa depan anak orang."
"Maka dari itu gue sangat menyesal, gue sudah mencari ke rumahnya dan ternyata dia sudah pindah, gue frustasi banget dan gue juga merasa bersalah, kalau gue sampai menemukan dia, gue bakalan langsung nikahin dia dan gue bakalan insyaf. Capek juga gue terus-terusan main-main seperti ini, gue pengen punya keluarga juga dan punya keturunan," seru Jorge.
"Syukurlah, akhirnya seorang penjahat ******* insyaf juga," ledek Jino dengan mengusap wajahnya seolah mengamini Jorge.
"Sialan lo, bentar ya gue ke toilet dulu."
Jorge pun meninggalkan Jino, Jino melanjutkan makannya sambil sesekali mengecek ponselnya kali saja ada info terbaru tentang Clarissa.
Disaat Jino sedang serius dengan ponselnya, tiba-tiba ada bunyi panggilan masuk. Jino celingukan bunyi ponsel siapa, dan ternyata Jorge lupa membawa ponselnya.
Awalnya Jino tidak menghiraukannya karena mungkin memang itu dari kliennya, tapi lama-kelamaan ponsel Jorge terus saja berbunyi sehingga tanpa sadar Jino meras kepo siapa yang sudah menghubungi Jorge.
Diambilnya ponsel Jorge untuk melihat siapa yang menghubungi Jorge. Seketika mata Jino melotot, Jino sangat terkejut. Terkejut bukan karena siapa yang menghubungi Jorge karena Jino yakin kalau itu kliennya, tapi Jino terkejut melihat foto yang menjadi wallpaper ponsel Jorge.
"Bukannya ini foto Clarissa?" gumam Jino.
Tidak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka dan Jino dengan cepat menyimpan ponsel Jorge ke tempat semula.
"Apa lo sudah selesai makan?" tanya Jorge.
"Sudah."
"Mau pergi ke club?" tawar Jorge.
"Ah sorry, sepertinya gue tidak bisa malam ini gue harus istirahat soalnya besok pagi-pagi sekali gue ada meeting," dusta Jino.
"Oh ok, tidak apa-apa lain kali saja dan lo ajak Raffa juga kesini."
"Kenapa ga lo aja yang ke Jakarta?" seru Jino.
"Boleh juga, nanti kalau gue ga sibuk gue temuin kalian di Jakarta," sahut Jorge.
"Oh iya Jorge, apa boleh gue bertanya sesuatu sama lo?" tanya Jino.
"Sejak kapan lo mau bertanya minta izin dulu, ngomong saja lo mau tanya apa sama gue?"
"Siapa nama wanita simpanan lo itu?"
"Namanya Clarissa, kenapa memangnya?"
"Ah tidak apa-apa, ya sudah kalau begitu gue pulang duluan ya, besok kalau urusan gue sudah selesai, gue temuin lo lagi."
"Ok siap."
Jino pun pergi meninggalkan Jorge, selama dalam perjalanan Jino tampak berpikir.
"Kalau Clarissa merupakan simpanan Jorge, ada kemungkinan anak yang di kandung Clarissa itu anaknya Jorge, ah sialan lo Clarissa dasar wanita licik, lo sudah menjebak Raffa, gue tidak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Raffa kalau tahu yang sebenarnya," gumam Jino.
π
π
π
π
π
Hai..hai..semuanya, jangan lupa siapkan vote yang banyak untuk mendapatkan give away berupa pulsa dari Authorπ€π€π€
Jangan lupa
like
vote n
komen
TERIMA KASIH
__ADS_1
LOVE YOUπππ