
📚
📚
📚
📚
📚
Keesokan harinya....
Cyra mulai menggerakkan tubuhnya, saat ini kedua orang dewasa itu belum bangun. Cyra duduk diantara Raffa dan Aqila, Cyra memandang satu persatu wajah keduanya, tiba-tiba ada ide yang muncul di otak Cyra.
Perlahan Cyra bangun dari tidurnya, setelah Cyra berhasil turun dari tempat tidur, Cyra mendekat kearah Aqila.
"Bu guru cantik, Cyra dingin pengen dipeluk oleh Bu guru cantik," seru Cyra.
"Sini, Bu guru peluk," sahut Aqila dengan mata yang masih tertutup.
Aqila tidak sadar kalau dirinya memeluk Raffa bukan Cyra, karena saking pulasnya tertidur Aqila pun kembali menuju alam mimpinya dengan memeluk Raffa.
Cyra tertawa dengan menutup mulutnya karena takut kedua orang dewasa itu bangun. Dengan perlahan, Cyra keluar dari kamar Aqila menuju ruang keluarga dan menyalakan tv, Cyra menonton acara kartun favoritnya.
Tidak lama kemudian, Raffa mulai menggerakkan tubuhnya.
"Astaga Cyra tangan kamu berat sekali, Daddy sampai tidak bisa bergerak seperti ini," gumam Raffa dengan mata yang masih tertutup.
Raffa mengucek-ngucek matanya dan melihat kesamping, betapa terkejutnya Raffa ternyata yang memeluknya itu bukan Cyra melainkan Aqila. Raffa menjadi senyum-senyum sendiri melihat wajah Aqila begitu sangat dekat dengan dirinya.
Perlahan Raffa mengubah posisinya memjadi miring kearah Aqila, Raffa malah semakin mengeratkan pelukkannya.
"Kalau kamu sedang tidur seperti ini, membuat aku semakin gemas kepadamu Aqila," batin Raffa.
Aqila yang sedang tidur, merasakan hembusan nafas Raffa di wajahnya membuat Aqila mengerjap membuka matanya. Manik mata Aqila dan Raffa bertemu, Aqila belum sadar dan mengedip-ngedipkan matanya.
"Pagi, Sayang!!" sapa Raffa.
"Astaga."
Aqila langsung bangun saking terkejutnya..
"Cyra mana? kenapa bisa seperti ini?" tanya Aqila panik.
"Dia palingan sedang nonton tv, jam segini waktunya film kartun kesukaannya."
"Kenapa aku bisa meluk kamu sih Mas? pasti kamu ya yang sudah macam-macam?" tuduh Aqila.
"Idih, orang tadi pagi pas aku bangun, kamu sudah meluk aku."
"Bohong pasti kamu ngada-ngada, mana mungkin aku meluk kamu," sahut Aqila dengan kesalnya.
"Siapa yang bohong, orang memang kenyataannya kamu duluan yang meluk aku," seru Raffa yang sekarang sudah berada di hadapan Aqila yang sedang bertolak pinggang.
"Bohong, pasti kamu modus kan Mas? aku ga percaya," ketus Aqila.
Raffa merasa kesal, hingga akhirnya Raffa menyeret Aqila ke dalam kamar mandi dan dengan cepat menguncinya.
"Kamu mau ngapain, Mas?" seru Aqila yang sudah mulai merasa ketakutan.
Dengan seringainya, Raffa mendekati Aqila yang sudah terpojok di dinding kamar mandi. Raffa dengan cepat mengunci pergerakan Aqila sehingga membuat Aqila panik.
"Mmm---Mas jangan macam-macam deh, nanti kalau Cyra tahu kita berdua ada di kamar mandi, dia akan berpikir yang aneh-aneh," seru Aqila dengan gugupnya.
"Kenapa kamu gugup? kamu takut?" cibir Raffa.
"Ti--tidak, siapa yang takut memangnya kamu mau apa, Mas? mana berani kamu melakukan hal yang melebihi batas, iya kan?" seru Aqila memberanikan diri padahal jantungnya saat ini sudak berdetak tak karuan.
Merasa tertantang, dengan cepat Raffa membungkam bibir Aqila dengan bibirnya, awalnya Aqila berontak tapi percuma berontak juga Raffa sudah mengunci pergerakan Aqila.
Raffa menggigit bibir Aqila, membuat Aqila terkejut dan membuka mulutnya. Raffa mulai menyusuri setiap isi mulut Aqila, Aqila sudah mulai membalas ciuman Raffa walaupun masih terasa kaku dan itu membuat Raffa senang.
Raffa mengalungkan tangan Aqila ke lehernya dan tidak ada penolakan dari Aqila, membuat Raffa semakin bersemangat. Ciuman Raffa semakin panas, sekarang ciumannya turun ke leher Aqila membuat Aqila meremas rambut Raffa.
Tok..tok..tok..
"Bu guru cantik, apa Bu guru cantik ada di dalam?" teriak Cyra.
Raffa dan Aqila akhirnya menghentikan kegiatannya, Raffa dan Aqila saling pandang satu sama lain, dengan susah payah Aqila menelan salivanya.
"Mas diam disini jangan berisik, biar aku yang keluar," seru Aqila.
Perlahan Aqila membuka sedikit pintu kamar mandi dan tersenyum manis ke arah Cyra.
"Cyra, ada apa Sayang?" tanya Aqila gugup.
"Cyra ingin mandi Bu guru."
"Oh ok, kita mandi di kamar mandi dekat dapur saja ya."
"Kenapa tidak disini saja Bu guru."
"Kran airnya sedang rusak Sayang, yuk kita mandi disana saja."
Aqila membawa Cyra mandi di kamar mandi dekat dapur, sementara Raffa tampak duduk di atas closet dan mengacak rambutnya frustasi.
__ADS_1
"Cyra, kamu sudah menyiksa Daddy."
Cyra dan Aqila sudah selesai mandi, Aqila memakaikan pakaian untuk Cyra.
"Sayang, kamu tunggu dulu disini ya, Bu guru mau pakai pakaian dulu."
Aqila dengan santainya melangkahkan kakinya menuju kamarnya dengan masih menggunakan kimono mandinya.
"Loh, kemana Mas Raffa? apa dia masih mandi ya? syukurlah, aku mau cepat-cepat pakai baju mumpung dia masih ada di dalam kamar mandi," gumam Aqila.
Kemudian Aqila membuka lemari pakaiannya, tapi tiba-tiba sebuah tangan kekar melingkar di perut Aqila membuat Aqila tersentak karena kaget.
"Mas Raffa."
"Sayang, Cyra mengganggu kita tadi bisa tidak kita lanjutkan lagi," seru Raffa dengan menciumi leher Aqila.
Aqila membalikkan badannya dan melihat Raffa masih telanjang dada belum memakai pakaian.
"Ya ampun Mas Raffa, kenapa belum memakai baju?"
"Aku sedang menunggu kamu."
"Menunggu apaan?"
"Untuk melanjutkan yang tadi."
"Tidak mau, dasar otak mesum."
Dengan cepat Aqila mengambil baju ganti dan pergi ke dalam kamar mandi.
"Ah, gagal lagi...gagal lagi, susah banget sih dapetin kamu Aqila," gumam Raffa.
Setelah selesai memakai pakaian, Aqila pun pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Aqila melirik kearah Raffa yang sekarang tampak cemberut dan mengotak-ngatik ponselnya.
Aqila membuatkan nasi goreng seafood untuk Cyra dan Raffa, tidak membutuhkan waktu lama nasi goreng buatan Aqila sudah selesai.
"Cyra, Mas Raffa, ayo sarapan dulu," teriak Aqila.
"Ayo Daddy kita sarapan dulu," ajak Cyra dengan menarik tangan Raffa.
Raffa hanya diam dan cemberut...
"Daddy, nasi goreng buatan Bu guru cantik enak ya?" seru Cyra.
"Biasa saja," ketus Raffa.
"Daddy kenapa? marah sama Bu guru cantik?" tanya Cyra.
"Tidak."
"Tapi kok, wajah Daddy cemberut seperti itu?"
"Daddy, Bu guru cantik, hari ini ayo kita jalan-jalan!!" ajak Cyra.
"Boleh."
"Bagaimana Daddy?" tanya Cyra.
"Hmmm."
"Ih Daddy kok nyebelin sih, jawabannya seperti itu," keluh Cyra.
Setelah selesai sarapan, mereka memutuskan untuk jalan-jalan ke sebuah Mall.
"Bu guru cantik duduknya di depan, Cyra biar di belakang saja."
"Bu guru juga duduk di belakang saja bersama Cyra ya," sahut Aqila.
"Hai, memangnya kalian pikir aku ini sopir kalian apa? semuanya pada duduk di belakang," ketus Raffa.
"Tuh Daddy marah, cepetan Bu guru cantik duduk di depan," bisik Cyra.
"Baiklah."
Dengan ragu-ragu Aqila pun duduk di samping Raffa, selama dalam perjalanan Raffa tidak bicara sedikitpun, Raffa masih kesal dan dongkol. Bagaimana tidak kesal, disaat sudah siap on tiba-tiba tidak jadi, terpaksa Raffa harus berendam lama untuk menormalkan juniornya yang terlanjur sudah on dan siap tempur.
Sesampainya di Mall, Cyra langsung menggandeng tangan Aqila sembari berjingkrak-jingkrak karena saking bahagianya. Sedangkan Raffa tampak berjalan di belakang mengikuti kemana dua bidadari cantiknya akan pergi.
Sebenarnya Raffa sangat bahagia, melihat pemandangan di hadapannya tapi Raffa masih ingin menguji Aqila, apa melihat Raffa marah seperti ini Aqila akan membujuknya atau malah mendiamkannya.
"Daddy, Cyra ingin makan ice cream," teriak Cyra.
"Cyra Sayang, kamu pesan ice cream dulu ya sama Daddy, Bu guru ingin ke toilet dulu nanti Bu guru nyusul."
"Ok Bu guru cantik."
Raffa dan Cyra pun mengantri untuk memesan ice cream, kebetulan di hari minggu seperti ini stand ice creamnya penuh dengan orang-orang. Raffa berdiri dengan gagahnya, satu tangan menggandeng Cyra dan satu lagi dia masukkan kedalam saku celananya.
Mata para wanita sangat lapar saat melihat kearah Raffa, semuanya tampak terpesona dan kagum akan ketampanan Raffa yang diatas rata-rata.
"Wah ada hot Daddy."
"Mau dong, jadi Ibu sambungnya."
"Astaga, jiwa pelakorku meronta-ronta."
__ADS_1
Begitulah kasak-kusuk yang terdengar di telinga Raffa, tapi Raffa tidak memperdulikannya malah Raffa pura-pura tidak mendengarnya.
"Anak cantik mau rasa apa?" tanya pelayan wanita dengan mata terus menatap ke arah Raffa.
"Cyra mau rasa Vanilla dan strawberi."
"Kalau Mas yang tampan ini mau rasa apa?" tanya pelayan itu dengan genitnya.
"Mas, masih terlihat muda dan tampan tapi mau mengajak anaknya jalan-jalan, istrinya kemana Mas? beruntung sekali wanita yang menjadi istrinya, Mas sungguh suami idaman," seru pelayan wanita yang satu lagi.
Aqila yang mendengar ocehan para wanita itu merasa telinganya panas, sebenarnya dari tadi Aqila sudah kembali sampai-sampai semua wanita yang dengan terang-terangan menggoda Raffa, Aqila mengetahuinya.
"Mas, ini ice cremnya gratis buat anaknya, kalau Mas butuh teman ngobrol, saya siap menjadi teman Mas," bisik pelayan itu dengan nada bicara yang menggoda.
Kali ini Aqila tidak bisa menahannya lagi, emosinya sudah sampai ubun-ubun, dengan langkah cepat Aqila menghampiri Raffa dan merangkul lengan Raffa dengan mesranya sehingga membuat Raffa terkejut.
"Sayang, sudah selesai belum pesan ice creamnya? aku sudah lama loh dari tadi nungguin," ucap Aqila dengan manjanya.
Raffa masih melongo tidak percaya dengan apa yang Aqila lakukan, sedangkan Cyra sudah asyik dengan ice creamnya.
"Mbak, maaf saya pesan ice cream coklat yang porsi jumbo, kalau kamu Sayang mau pesan rasa apa?" tanya Aqila dengan senyuman manisnya.
"Ah, ti--tidak aku tidak mau ice cream," sahut Raffa gugup karena baru pertama kali ini Aqila memanggilnya Sayang.
"Oh, S-U-A-M-I saya tidak mau ice cream karena dia lebih suka bibir saya dibanding dengan ice cream, iya kan Sayang."
Raffa tersenyum lebar, Raffa tahu kalau saat ini Aqila pasti sedang cemburu.
"Ba--baik Mbak, sebentar saya buatkan dulu."
Pelayan itu langsung ngacir karena merasa takut dengan tatapan Aqila yang seakan-akan mau memakannya. Raffa memanfaatkan situasi dengan merangkul pinggang Aqila.
"Ini Mbak pesanannya."
Aqila langsung mengambilnya dan berjalan cepat kearah meja, Raffa menyusul Aqila sementara pelayan wanita itu tampak lesu karena mengira kalau Raffa seorang duda beranak satu.
Aqila langsung melahap ice cream itu dengan kesalnya, dadanya begitu panas dan sesak. Raffa tersenyum penuh kemenangan, akhirnya Aqila merasa cemburu juga.
"Pelan-pelan makan ice creamnya, Sayang," seru Raffa.
"Aku emosi Mas, enak saja mereka terang-terangan sudah menggoda suami orang, dasar ya pelakor zaman sekarang semakin berani saja," ketus Aqila dengan terus melahap ice creamnya.
"Jadi sekarang kamu menganggap aku sebagai suami kamu kan?"
"Iyalah, Mas itu suami aku tidak boleh ada yang memiliki Mas selain aku," cerocos Aqila tanpa sadar.
Raffa tersenyum lebar...
"Masa sih?"
"Ya iyalah, awas saja kalau mereka masih berani menggodamu, aku pites mereka satu-satu," sahut Aqila.
"Daddy, Bu guru cantik kenapa? kok marah-marah?" tanya Cyra.
"Tidak apa-apa Sayang, Bu guru cantik sedang cemburu karena banyak wanita yang menggoda Daddy."
Waktu berjalan dengan cepat, Aqila, Raffa, dan Cyra menghabiskan waktu bersama. Aqila masih saja terus ngomel-ngomel saat melihat masih ada yang memperhatika Raffa.
Hingga tidak terasa waktu sudah malam, Raffa mengantarkan Aqila pulang. Raffa terus saja membujuk Aqila supaya tidak marah. Sedangkan Cyra sudah tidur di kursi belakang.
"Kamu pulang ke rumahku saja ya," seru Raffa.
"Aku belum siap, Mas."
"Kenapa? apa kamu masih belum bisa menerimaku sebagai suamimu?"
"Maaf Mas," ucap Aqila menundukkan kepalanya.
Sesampainya di rumah Aqila...
"Kalau kamu masih belum bisa menerima aku sebagai suami kamu sepenuhnya dan belum bisa memaafkan aku, aku terima. Mulai besok aku tidak akan menemuimu dulu, aku akan memberimu waktu untuk berpikir, kalau kamu sudah siap menerimaku, kamu temui aku," seru Raffa.
Aqila tampak diam seribu bahasa..
"Baik Mas."
Aqila pun turun dari mobil Raffa, dan Raffa segera melajukan mobilnya tanpa berkata apa-apa lagi kepada Aqila. Ada perasaan sesak di dadanya saat mendengar kata-kata Raffa barusan, tapi Aqila melakukan semua itu karena Aqila ingin membuktikan keseriusan Raffa.
📚
📚
📚
📚
📚
Jangan lupa
like
vote n
komen
__ADS_1
TERIMA KASIH
LOVE YOU