GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Keseruan Semuanya


__ADS_3

πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Satu minggu sudah Aqila di rawat di rumah sakit dan sekarang waktunya untuk pulang. Cyra duduk di atas tempat tidur bekas Aqila sembari menggendong Baby Edrik. Ya, Aqila dan Raffa memutuskan untuk memanggil Edrik karena lebih enak di panggil saja.


"Mommy, baby Edrik tampan sekali ya," celetuk Cyra.


"Masa sih?" tanya Aqila.


"Iya, mirip Daddy."


"Jelas dong mirip Daddy, Daddy kan tampan," sahut Raffa.


"Percaya diri sekali anda," cibir Aqila.


"Loh, kamu tidak mengakuinya Sayang kalau suamimu ini sangat tampan banyak wanita yang tergila-gila padaku."


"Berarti hanya aku doang yang tidak tergila-gila sama kamu Mas," sahut Aqila.


Clarissa yang saat ini sedang membantu Aqila membereskan barang-barang milik Aqila, tertawa mendengar jawaban Aqila.


"Ngapain kamu ikut tertawa?" ketus Raffa.


"Tidak, sensi amat kamu Mas, bayinya sudah berojol jangan sensi-sensilah," ledek Clarissa.


"Hai, sesama mantan jangan bertengkar," celetuk Aqila dengan santainya sembari memakan buah-buahan diatas tempat tidur menemani Cyra.


Raffa langsung melotot ke arah Aqila, tatapannya sangat tajam pertanda Raffa benci kalau Aqila mengungkit masa lalunya. Tatapan Raffa masih horor.


"Sayang, sini deh," rayu Aqila dengan semanis mungkin.


Dengan wajah cemberut, Raffa menghampiri Aqila. Aqila mencubit pipi Raffa dengan gemasnya.


"Ya ampun suami aku menggemaskan sekali kalau sedang marah seperti ini, maaf ya Sayang aku tidak bermaksud buat kamu marah kok, aku cuma bercanda," bujuk Aqila.


"Aku tidak suka kamu mengungkit masa lalu aku."


"Iya maaf-maaf."


Raffa langsung memeluk Aqila...


"Mommy, Daddy, Baby Edrik nangis," teriak Cyra.


Aqila melepaskan pelukkannya dan dengan cepat Aqila mengambil Baby Edrik untuk disusui. Ternyata Baby Edrik haus, setelah Aqila memberikan ASI Baby Edrik tertidur dengan lelapnya.


Setelah selesai beres-beres, Aqila duduk di kursi roda dengan menggendong Baby Edrik dan di dorong oleh Raffa, sementara Rey kebagian bawa tas dan yang lainnya. Raffa juga membawa satu orang suster untuk membantu Aqila mengurus Baby Edrik.


Clarissa dan Cyra pulang duluan karena Jorge menghubungi katanya Louise rewel.


"Mas Rey, bagaimana persiapan pernikahan Mas Rey apa sudah siap?" tanya Aqila.


"Sudah Nyonya, sudah hampir seratus persen."


"Syukurlah."


"Mas, jangan lupa kadonya harus yang spesial, kinerja Mas Rey sangat bagus malah sudah menemani Mas dari nol."


"Iya dong Sayang, jangan khawatir aku sudah menyiapkan kado paling spesial buat Asistenku ini," seru Raffa.


"Wah, terima kasih Bos sebelumnya."


"Sama-sama."


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di rumah Raffa. Sudah ada beberapa mobil terparkir disana. Aqila turun dari mobil, Baby Edrik di serahkan kepada Suster Sarah.


Sementara di dalan rumah semuanya sudah siap-siap untuk memberikan kejutan kepada Aqila dan Baby Edrik.


Ceklek....


Raffa membukakan pintu...


"Welcome to home Baby Edrik dan Mommy Aqila," teriak Ranti, Zahra, Angel, dan Clarissa.


"Astaga..pantesan saja kalian tidak ada ke rumah sakit, ternyata kalian ada di sini," seru Aqila dengan wajah yang terkejut.


"Iya kita sengaja tidak datang ke rumah sakit karena ingin membuat kejutan buat anak dan istri sultan," goda Zahra.


"Hah..apaan sih kalian, Suster tolong tidurkan Edrik ke kamarnya ya," seru Aqila.


"Baik Nyonya."


Semuanya berkumpul di ruangan keluarga hanya sekedar berbincang-bincang.


"Ran, bagaimana rasanya mau jadi manten?" tanya Aqila.


"Deg-degan banget Qila, aku tidak menyangka kalau akhirnya aku akan menjadi seorang istri dari Rey Afrizal," sahut Ranti.


"Bukannya ini suatu kebetulan, kita sudah lama bersahabat dan ternyata kita dapat pasangan yang sahabatan juga, sungguh dunia ini sangat sempit ya," seru Aqila.


"Iya, kita juga tidak menyangka yang awalnya aku bertemu dengan Mas Jino karena ketidak sengajaan, eh malah berlanjut sampai sekarang," sahut Zahra.

__ADS_1


"Oh iya, ngomong-ngomong kalian ketemu sama Mas Jino dan Mas Rey dimana?" tanya Aqila.


"Ini semua berkat kamu, Qila," seru Jino.


"Kok berkat aku sih?"


"Soalnya gara-gara kamu menghilang waktu itu, si Raffa sudah kaya orang gila nyuruh aku sama Rey buat nemuin kamu secepatnya, waktu itu aku sudah buntu dan akhirnya mendatangi sekolahan tempat kamu mengajar dan bertemu dengan Zahra, awalnya Zahra orangnya galak banget dan keukeuh tidak mau memberitahukan dimana kamu berada, hingga akhirnya aku setiap hari ke sekolah hanya demi mendapatkan info tentang keberadaan kamu, dan kamu tahu Qila? aku pikir Zahra itu mengulur-ngulur waktu memberi tahu dimana kamu berada hanya karena ingin melihat seberapa usahaku tapi nyatanya Zahra memang tidak tahu kamu ada dimana dan dia mengulur-ngulur waktu karena dia ingin bertemu dengan aku setiap hari," jelas Jino.


"Ih, Sayang kenapa mesti di ceritain yang itu kan malu," sahut Zahra dengan mencubit perut Jino.


"Aw sakit Sayang, biarin biar mereka semua tahu," keluh Jino.


Mereka semua tertawa mendengar cerita Jino dan Zahra.


"Wah so sweet banget sih cerita kalian, kalau kamu bagaimana Ran?" sekarang giliran Angel yang bertanya.


"Kalau aku, awalnya sih aku tidak tertarik dengan Mas Rey karena Mas Rey orangnya dingin banget mana pelit bicara lagi, kamu tahu tidak Qila awal dia nanyain kamu itu, dia kaya nanya karyawan yang mau masuk perusahaan, lempeng dan datar banget jadi bukannya aku mau jawab pertanyaan dia, justru aku malah males bertemu dengan dia. Mas Rey nyebelin banget orangnya, dia tidak banyak bicara tapi terus saja ngikutin kemana pun aku pergi bahkan setiap pagi mau berangkat ke sekolah, Mas Rey sudah nongkrong di depan rumah aku, gila kan nih orang," cerocos Ranti.


"Tapi lama-kelamaan kamu juga jatuh cinta sama Mas Rey," sahut Clarissa.


"Iya bagaimana tidak jatuh cinta Mbak Cla, kalau setiap waktu di kutit mulu, ya otomatislah karena sudah terbiasa makannya aku jadi pengen di kuntit setiap hari," seru Ranti dengan wajah yang memerah dan menenggelamkannya ke dada bidang milik Rey.


"Tapi kamu hebat loh Rey, bisa melangkah maju tidak seperti si Jino tuh, tidak tahu kapan mau halalin Zahra," cibir Raffa.


"Kita mah nyantai sajalah ya Sayang, perjalanan masih panjang lagipula gue masih muda ngapain buru-buru menikah," sahut Jino.


"Masih muda mata lo soek, sebentar lagi kita sudah masuk tiga puluh lima tahun, mau umur berapa lo nikah? memangnya lo mau nanti anak lo baru lahir tapi Papanya sudah aki-aki?" ledek Raffa.


"Berarti pas Zahra lahiran, anaknya tidak akan panggil Papa tapi langsung panggil Kakek," sambung Jorge.


"Ah, sialan kalian dasar sahabat rese," keluh Jino.


"Pak Jino, aku kasih tahu ya syukur-syukur tahun depan Pak Jino masih sehat walafiat, bagaimana kalau Pak Jino pergi duluan, kasihan kan Zahra sudah jadi jandes sebelum di halalin," celetuk Rey.


"Idih Mas Rey kalau ngomong suka sembarangan deh, amit-amit aku tidak mau jadi jandes," rengek Zahra.


"Wah..wah..wah..lo sudah berani sama gue Rey, lo nyumpahin gue cepat mati ya," seru Jino.


"Bukan begitu Pak Jino, aku cuma memperingatkan saja umur siapa yang tahu," sahut Rey.


"Ra, lebih baik you mulai dari sekarang cari penggantinya Mas Jino deh, kayanya Mas Jino tidak serius sama you," seru Aqila.


"Wah Qila, jangan mancing-mancing deh, jangan ikut-ikutan jadi kompor," keluh Jino.


"Iya juga Qila, ngapain aku nungguin pria yang tidak serius lebih baik aku cari saja yang lain," sahut Zahra.


"Aduh jangan dong Sayang, ok-ok tahun depan kita menikah soalnya kalau tahun ini aku masih sibuk dengan proyekan-proyekan aku, memangnya kamu mau setelah menikah kita tidak pergi honeymoon? di tambah aku masih harus bolak-balik keluar kota, kan tidak lucu baru menikah kamu sudah aku tinggalkan kerja keluar kota," bujuk Jino dengan sangat lembut.


"Janji ya tahun depan Mas nikahin aku?" tanya Zahra memastikan.


"Iya Sayang aku janji."


"Iya, tumben kamu diam, kalem, tidak banyak ngomong biasanya juga kamu rese ngerecokin aku sama Aqila mulu," cibir Raffa.


"Kamu tidak lihat apa, wajah aku melankolis seperti ini, berarti itu tandanya aku lagi GEGANA, gelisah, galau, merana," sahut Fathir.


"Idih bahasamu alay banget."


"Memangnya kamu kenapa Thir?" tanya Aqila.


"Kamu tanya saja sama Angel," sahut Fathir.


Semua orang refleks menoleh ke arah Angel membuat Angel menjadi salah tingkah.


"Aku mau melanjutkan kuliah aku ke Inggris," sahut Angel.


"Hah...kenapa tiba-tiba mau lanjutin kuliah lagi?" tanya Ranti.


"Aku sama sekali tidak mengerti masalah bisnis dan perusahaan, sementara Papa ingin aku yang meneruskan bisnisnya, kan kalian tahu basic aku itu hanya sebagai guru karena cita-cita aku dari dulu memang ingin jadi guru, ya otomatis mau tidak mau aku harus belajar bisnis dan aku memutuskan untuk melanjutkan kuliah aku dulu dan menunda untuk menikah," jelas Angel.


"Kamu kan bisa kuliah setelah kamu menikah, Angel," seru Zahra.


"Fathir tidak mau menunda untuk punya anak, sementara aku tidak mungkin aku kuliah dengan posisi hamil, konsentrasi aku bakalan buyar, belum lagi menginjak fase ngidam, pasti semuanya akan hancur karena itu aku ingin menyelesaikan kuliah aku dulu, baru setelah itu aku memikirkan untuk menikah," jelas Angel.


"Oh gitu," ucap semuanya serempak.


***


Satu bulan kemudian...


Hari ini adalah hari pernikahan Rey dan Ranti, mereka mengadakan pesta di sebuah hotel bintang lima yang sangat mewah. Aqila, Zahra, Angel, dan Clarissa di daulat menjadi bridesmaidnya Ranti.


Paska melahirkan satu bulan lebih, tubuh Aqila sudah kembali lagi seperti semula. Cepat banget memang, karena Aqila rutin berolahraga dan makan makanan yang sehat juga.


Malam ini Aqila akan menjadi pendamping pengantin Ranti sahabatnya sendiri. Baby Edrik, Aqila titipkan kepada Suster Sarah dan Bi Ria. Baby Edrik termasuk anak yang anteng dan tidak rewel jadi Aqila dan Raffa tenang meninggalkan Baby Edrik.


"Sayang, kamu yakin mau berpakaian seperti itu?" tanya Raffa dengan terus memperhatikan Aqila dari atas hingga bawah.


"Memangnya kenapa Mas? ini baju yang sudah di persiapkan oleh Ranti dan aku harus memakainya karena aku jadi pendampingnya malam ini," sahut Aqila yang masih memoles wajahnya di depan kaca rias miliknya.


"Bisa di batalkan tidak? aku tidak rela lihat kamu tampil cantik malam ini."


"Astaga Mas, mulai deh jangan macam-macam kasihan Ranti ini momen sekali seumur hidupnya aku harus membahagiakannya."


"Tapi Sayang, bisa-bisa semua orang melotot melihat kamu seperti ini, apalagi sekarang tubuh kamu juga sudah kembali seperti semula malah kelihatan kaya masih gadis kalau dandanannya seperti itu," keluh Raffa.


Aqila menghampiri Raffa dan mengalungkan tangannya ke leher Raffa. Aqila mengecup sekilas bibir Raffa supaya Raffa tidak marah lagi.

__ADS_1


"Suamiku tersayang, semua orang itu sudah tahu kalau aku adalah istri dari seorang Raffael Abraham dan baru saja melahirkan anaknya Raffael Abraham, ngapain kamu takut yang ada orang-orang itu yang akan takut duluan untuk menghampiri aku, secara pawang aku galak banget kaya gini," sahut Aqila.


"Tapi tetap saja Sayang, pasti ada saja nanti yang bakalan godain kamu."


"Sudah ah, sebentar lagi acaranya mau di mulai, ayo kita pergi sekarang, aku tidak mau sampai terlambat," ajak Aqila dengan mengalungkan tangannya ke lengan Raffa.


Raffa menghela nafasnya berat, kali ini dia mengalah tapi jangan harap di pesta nanti, Aqila akan lepas dari perhatiannya. Raffa akan terus mengaeasi gerak-gerik istrinya itu, dan kalau-kalau ada pria yang menggodanya siap-siap Raffa akan memberinya pelajaran.


Semenjak kelahiran Baby Edrik, tingkat posesif dan cemburuan Raffa naik beberapa tingkat sehingga membuat Aqila kadang-kadang merasa jengah. Tidak lama kemudian, mobil sport yang di kendarai Raffa masuki kawasan hotel mewah itu.


Raffa menempel kepada Aqila dan merangkul pinggang Aqila secara posesif, semua mata tampak melihat kearah pasangan itu. Ada yang berdecak kagum, iri, dan juga terpesona. Aqila dan Raffa langsung mengucapkan selamat kepada sepasang pengantin baru itu.


"Selamat ya Ran, akhirnya sekarang kamu sudah double bukan single lagi."


"Terima kasih Qila, oh iya tolong bilangin sama suami sultan you terima kasih atas kado paket honeymoonnya, aku sangat bahagia sekali," bisik Ranti.


"Memangnya Mas Raffa ngasih kado apa? aku tidak tahu sama sekali loh?" tanya Aqila.


"Kita di kasih tiket honeymoon untuk keliling Benua Erofa, plus hotel dan akomodasi semuanya di tanggung sama Mas Raffa, suami you hebat banget, di tambah lagi Mas Rey di belikan rumah mewah di kawasan elit di Jakarta itu, wah aku senang banget."


"Benarkah? syukurlah, Mas Rey memang pantas mendapatkan kado seperti itu, ya sudah aku ke bawah dulu ya."


Aqila dan Raffa menghampiri Jino dan yang lainnya. Mereka semua tampak larut dalam kebahagiaan.


"Mas, aku mau ke toilet dulu ya," seru Aqila.


"Mau aku antar?"


"Ah, tidak usah cuma sebentar kok."


"Ya sudah, kamu hati-hati dan jangan lama-lama."


"Siap Bosku."


Aqila pun dengan cepat pergi ke toilet, dia sudah tidak kuat menahan ingin buang air kecil. Tidak lama kemudian, Aqila pun selesai dia memeriksa dandanannya sebentar hingga dia pun keluar dari toilet.


Aqila sibuk membenarkan posisi bajunya sehingga dia tidak melihat kalau di depannya ada seorang pria yang baru keluar dari dalam toilet pria. Aqila bertabrakan dengannya, karena tidak seimbang tubuh Aqila terhunyung tapi dengan sigap pria itu menarik tangan Aqila sehingga Aqila tidak jadi jatuh.


"Ah maaf Mas, saya tidak sengaja," ucap Aqila yang langsung melepaskan diri dari sentuhan pria itu.


"Nona tidak apa-apa? apa ada yang lecet?" tanya pria itu dengan mencoba menyentuh tangan Aqila.


"Tidak, saya tidak apa-apa, kalau begitu saya permisi dulu."


Tapi di saat Aqila hendak melangkahkan kakinya, pria itu menahan tangan Aqila sehingga membuat Aqila tersentak.


"Maaf Nona, apa boleh kita kenalan?"


"Lepasin Mas, saya tidak bisa kenalan dengan anda, saya sudah menikah dan suami saya saat ini sedang menunggu saya."


"Anda tidak bisa membohongi saya Nona, tidak mungkin anda sudah menikah penampilan anda saja kelihatan seperti belum menikah."


"Mas, saya mohon lepaskan tidak enak dilihat orang lain nanti di sangkanya kita sedang berbuat macam-macam."


"Saya akan lepaskan, tapi dengan satu syarat, saya minta nomor ponsel Nona."


"Maaf tidak bisa."


Aqila terus saja berusaha melepaskan tangannya tapi pria itu masih saja menggenggam tangan Aqila, hingga suara seseorang mengejutkan keduanya.


"Jangan sentuh istriku," teriak Raffa.


Pria itu langsung melepaskan genggamannya dan Aqila langsung berlari kearah Raffa.


"Berani-beraninya kamu menyentuh istriku, kamu sudah bosan punya tangan, hah? mau aku patahkan tanganmu itu?" bentak Raffa.


"Jadi Nona ini istrinya Tuan Abraham," tanya pria itu tidak percaya.


Raffa menatap tajam pria itu...


"Maaf Tuan, saya tidak tahu dan Nona maafkan saya atas kelancangan saya barusan, kalau begitu saya permisi."


Pria itu pergi dengan terburu-buru, dia tidak mau sampai punya urusan dengan Raffa, bisa-bisa perusahaannya hancur lebur di tangan Raffa.


Tanpa bicara sepatah kata pun, Raffa menarik tangan Aqila dan pergi meninggalkan tempat pesta. Raffa sudah tidak selera lagi berada disana dan Aqila pun tidak bisa menolak dan menurut saja dengan apa yang dilakukan Raffa.


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Hallo RAQILA LOVERS, maaf nih baru bisa up lagiπŸ™πŸ™


Oh iya, Author mau tanya nih ceritanya mau di lanjut atau di selesaikan saja? komen ya di kolom komentarπŸ™πŸ™πŸ€—πŸ€—


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2