GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Possesif


__ADS_3

πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Semuanya larut dalam kebahagiaan, bahkan canda tawa dan ledekan-ledekan satu sama lain meramaikan pertemuan mereka. Tapi tidak dengan Raffa, wajahnya masih saja di tekuk dia merasa cemburu karena bagaimana pun Fathir pernah menjadi mantannya Aqila.


"Qila, maaf ya sudah membuat suasana menjadi kacau," bisik Zahra.


"Tidak apa-apa, Mas Raffanya saja yang terlalu posesif jangan dipikirkan sekarang aku sudah menjadi pawangnya," bisik Aqila dengan mengedipkan matanya.


Waktu pun berjalan dengan cepat, jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam dan mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


Selama dalam perjalanan Raffa tidak bicara bahkan semenjak Zahra keceplosan, Raffa tidak ngomong sedikit pun hanya kening yang dia kerutkan itu tandanya dia benar-benar sedang marah.


"Mas, masih marah?"


"Menurutmu?"


Aqila tidak bertanya lagi karena bertanya pun percuma, pasti jawabannya akan seperti itu terus. Sesampainya di rumah, Raffa segera keluar dari mobilnya dan meninggalkan Aqila yang masih ada di dalam mobil tanpa membukakan pintu mobil Aqila terlebih dahulu seperti yang biasanya dia lakukan.


Aqila hanya geleng-geleng kepala, Raffa memang seperti anak kecil kalau sudah cemburu susah dibujuknya kecuali dengan tubuh Aqila sendiri tidak akan bisa menolak dia walaupun sekuat tenaga juga.


Aqila dengan sabar menyusul Raffa ke kamar, ternyata saat ini Raffa sedang mengganti pakaiannya. Tidak seperti biasanya yang selalu tidak mau mengganti pakaian kalau Aqila belum menyiapkannya. Direbahkannya tubuhnya dengan tubuh terlentang satu tangan di perut dan satu tangan lagi menutupi matanya.


"Mas mau mogok ngomong sekarang?" seru Aqila.


Tidak ada jawaban sama sekali dan Raffa pun tidak bergeming dengan posisinya. Aqila tersenyum dan mulai melakukan aksi centilnya, kadang Aqila suka tertawa sendiri melihat kelakuannya yang seperti j***** menggoda seorang pria hidung belang.


Dilepaskannya semua dress yang dia pakai, kali ini tidak ada yang dia sisakan, tubuhnya benar-benar polos. Perlahan Aqila merangkak naik ke tempat tidur dan langsung duduk di perut Raffa.


"Yakin, tidak mau ngomong? yakin, mau marah terus sama aku?" tanya Aqila dengan gaya yang sangat genit dan sensual.


Aqila menggesek-gesekkan tubuh bagian bawah dengan nakalnya hingga dia merasa ada sesuatu yang bangun disana. Aqila menahan tawa saat merasakan itu, perlahan Raffa membuka matanya dan langsung terbelalak melihat kelakuan istri cantiknya itu.


"Astaga."


Raffa segera membalikkan posisi istrinya sehingga sekarang sudah berada dalam kungkungannya.


"Kamu apa-apaan Sayang? bagaimana kalau ada yang melihatnya, aku tidak rela ya tubuh kamu ada yang lihat," seru Raffa yang sudah merasa gelisah juga melihat penampilan Aqila.


"Ishh..ishh..ishh..siapa juga yang mau melihatnya? tidak akan ada yang berani masuk kamar ini, lagipula aku sudah menguncinya," sahut Aqila dengan mengedipkan matanya.


"Astaga, kamu nakal sekali Sayang."


Aqila menarik tengkuk leher Raffa dan langsung ******* bibir Raffa dengan lembutnya.


"Jangan marah lagi, aku sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan Fathir, apa kamu tidak percaya dengan cintaku, Mas? aku sangat mencintaimu tidak ada pria lain yang aku cintai selain dirimu, bahkan disaat aku pacaran dengan Fathir pun hati aku hanya untukmu Mas," lirih Aqila.


Aqila mengarahkan tangan Raffa ke perutnya..


"Apalagi sekarang sudah ada buah cinta kita disini, aku sudah tidak memikirkan pria lain selain Ayah dari anak dalam kandunganku ini."


Raffa merasa sangat bahagia dan langsung menyambar bibir Aqila yang sekarang sudah menjadi candu baginya dan selalu menggodanya itu.


"Ok, penjelasan kamu cukup menarik dan aku akan memaafkan kamu tapi dengan satu syarat," ucap Raffa dengan senyuman nakalnya.


Aqila tampak memicingkan matanya, dia sudah tahu apa syarat yang ada di otak suaminya itu.


"Apa?"


"Kita bermain sampai pagi, Baby," bisik Raffa di telinga Aqila.


"Hah...."


Aqila kaget dengan ucapan Raffa, ada rasa menyesal juga sudah menggoda suaminya itu, dengan semangat 45 Raffa mulai menjamah setiap inci tubuh istrinya itu, Aqila hanya bisa pasrah dia harus menanggung resiko akibat ulahnya sendiri.


***


Keesokkan harinya...


Raffa masuk kedalam kamarnya dengan membawa susu untuk istrinya itu. Dilihatnya Aqila masih terlelap tidur, Raffa tersenyum kala melihat kelakuan istrinya tadi malam dan berujung dengan Raffa yang terus minta tambah sehingga membuat Aqila kelelahan.


"Bangun, Baby."


Raffa mengelus-ngelus pipi Aqila dan Aqila mulai menggerakkan tubuhnya karena merasa terganggu. Selimut Aqila sedikit terbuka dan lagi-lagi Raffa tersenyum puas melihat tubuh putih mulus Aqila penuh dengan tanda kepemilikannya.


"Bangun Baby sudah siang," ucap Raffa lembut.


"Astaga, aku bangun kesiangan," lirih Aqila dengan suara serak khas bangun tidur.


"Ya ampun Sayang suaramu sexi sekali, jangan sampai aku buka lagi ini jas dan batal pergi ke kantor ya hari ini," goda Raffa.


Aqila mengusap wajah suaminya itu dengan tangannya.


"Istighfar Mas, dasar otak mesum."


Aqila dengan santainya membuka selimut dan berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh yang polos walaupun sekarang sudah terlihat menjadi polkadot akibat ulah Raffa, sehingga membuat Raffa melotot dan geleng-geleng kepala.


Aqila pun keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk kimono dan rambut di gulung handuk, dengan santainya Aqila mengambil susu buatan Raffa dan meminumnya sembari duduk di pangkuan Raffa.


"Nanti Mas pulang jam berapa?" tanya Aqila.


"Tidak tahu, sepertinya agak malam soalnya aku mau bertemu dengan klient baru, kenapa?" seru Raffa dengan menatap lekat-lekat wajah istrinya yang semakin hari semakin cantik saja.

__ADS_1


"Tidak apa-apa sih, aku mau minta izin sore mau jalan-jalan ya dengan Clarissa dan Cyra."


Raffa mengerutkan keningnya dan memicingkan matanya ke arah Aqila.


"Ih kok eksfresinya kaya gitu sih?"


"Yakin kalau Clarissa tidak akan ngapa-ngapain kamu? aku khawatir sama kamu, Sayang."


"Jangan su'udzon sama orang, itu kan dulu sekarang Clarissa sudah berubah dan aku yakin dia tidak akan melakukan hal macam-macam."


"Ya sudah aku izinin, tapi kamu harus selalu ngabarin aku ya? kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu langsung hubungi aku."


"Siap Komandan," sahut Aqila dengan mengedipkan matanya.


"Jangan mulai menggoda lagi Sayang, memangnya belum cukup tadi malam," goda Raffa.


"Ampun bang jago."


Aqila beranjak dari pangkuan Raffa dan cepat-cepat memakai pakaian takut terjadi hal yang diinginkan oleh Raffa bisa bahaya. Sedangkan Raffa tertawa terbahak-bahak, setelah selesai berpakaian mereka berdua pun turun ke bawah untuk sarapan.


***


Angel saat ini sedang siap-siap merias dirinya dan sebentar lagi akan berangkat ke sekolah.


Tok..tok..tok..


"Sayang, apa Papa boleh masuk."


"Masuk saja, Pa."


Papa Willy pun masuk ke dalam kamar Angel dan duduk di tepi ranjang tempat tidur Angel.


"Ada apa Pa? tumben datang ke kamar Angel."


"Papa ingin bicara denganmu, Nak."


Angel memutar tubuhnya menghadap sang Papa.


"Ada apa? Papa mau bicara apa?" tanya Angel dengan lembut.


"Sayang, kamu sudah dewasa sudah pantas untuk berumah tangga, Papa tidak bisa menjaga kamu setiap saat, kalau kamu menikah Papa tidak akan khawatir lagi karena kamu sudah ada yang menjaga."


"Mau menikah bagaimana kalau pacar pun Angel tidak punya, Pa."


"Hmmm...begini, Papa ingin mengenalkan kamu kepada anak sahabat Papa, dia anak yang baik dan sopan, Papa yakin dia akan bisa menjaga kamu, Nak."


"Papa ini bagaimana sih? Angel kan tidak tahu orangnya seperti apa."


"Makannya Papa ingin mengenalkan kamu dengan dia, nanti malam kita ketemuan dengan mereka."


"Tapi Pa----"


"Papa tidak akan memaksa, setelah kalian bertemu kalau kalian merasa cocok silakan lanjutkan dan kalau kalian merasa tidak cocok tidak usah dilanjutkan, yang penting nanti malam kalian bertemu dulu, bagaimana?" tanya Papa Willy.


"Terima kasih Sayang, ya sudah yuk kita sarapan bersama."


"Iya Pa."


Papa Willy dan Angel turun ke bawah bersamaan, sedangkan Mama dan Kakak tirinya terlihat tidak suka dengan kebersamaan keduanya.


"Linda, untuk saat ini kamu ikuti dulu Papa dan hari ini Papa sudah ada janji dengan seorang Pengusaha terkenal di kota ini, Papa ingin bekerjasama dengan perusahaannya mudah-mudahan beliau mau bekerjasama dengan perusahaan Papa."


"Ok Pa."


Selama Papanya ada di rumah, Angel di perbolehkan memakai mobilnya tapi disaat Papanya tidak ada, Angel tidak boleh memakai mobilnya dan Angel terpaksa memakai jasa taxi online.


"Astaga, baju-baju aku semuanya diambil oleh Kak Linda terus nanti malam aku harus pakai baju apa?" gumam Angel disela-sela memgemudikan mobilnya.


Tiba-tiba mobil Angel mogok di tengah jalan..


"Nah loh, kenapa ini mobil? kok bisa sampai mogok sih, pasti Kak Linda jorok nih tidak pernah di rawat," gerutu Angel.


Angel turun dari mobilnya dan membuka kap mobilnya dan tanpa di duga pas di buka muncul asap dari sana.


"Uhuk..uhuk..uhuk..astaga, kenapa sampai seperti ini. Sial banget sih mana jalanan sepi lagi, tidak ada yang bisa aku mintai bantuan," gumam Angel.


Dari kejauhan Fathir yang sedang mengendarai mobilnya, terlihat mengerutkan keningnya.


"Kaya pernah lihat tuh mobil, dimana ya?" gumam Fathir.


Disaat Fathir melewati mobil itu, Fathir menoleh dan melihat Angel yang sedang kebingungan dengan kondisi mobilnya. Fathir pun menghentikan mobilnya dan menghampiri Angel.


"Kenapa mobilnya?" tanya Fathir.


"Tidak tahu, tiba-tiba saja mobil aku mogok dan mengeluarkan asap seperti ini," sahut Angel.


Fathir pun mengecek mobil Angel dan tiba-tiba Fathir menghubungi seseorang entah siapa.


"Kamu ikut denganku saja," seru Fathir dingin.


"Tapi mobil aku."


"Aku sudah menghubungi bengkel langganan aku, nanti orang dari bengkel itu akan mengambil mobilmu untuk di perbaiki," seru Fathir dengan melangkah meninggalkan Angel dan masuk kedalam mobilnya.


Sedangkan Angel masih terperangah dengan ucapan Fathir dan masih mencerna kata-kata Fathir yang mengajak dirinya untuk berangkat bareng ke sekolah.


"Woi, mau bareng tidak, kalau tidak mau aku tinggal nih," teriak Fathir.


"Ah sial, iya tunggu sebentar."

__ADS_1


Angel cepat-cepat mengambil tasnya dan berlari masuk ke dalam mobil Fathir. Tidak ada perbincangan selama dalam perjalanan, Angel dan Fathir saling terdiam satu sama lain.


***


Papa Willy dan Linda memasuki sebuah Perusahaan yang sangat besar.


"Maaf Mbak, dimana ruangan Pak Raffa?" tanya Papa Willy.


"Maaf, apa sebelumnya Bapak sudah membuat janji?"


"Sudah."


"Baik tunggu sebentar, maaf dengan Bapak siap?"


"Pak Willy."


Resepsionis itu pun menghubungi ruangan Raffa.


"Mari Pak saya antar anda ke ruangan Pak Raffa."


Linda tampak celingak-celinguk merasa kagum dengan perusahaan yang sekarang sedang dia masuki. Pantas saja Perusahaan ini terkenal dan terbesar di kota Jakarta ini karena perusahaannya juga sangat mewah dan nyaman.


Tidak lama kemudian, mereka pun sampai di depan ruangan Raffa. Kebetulan Rey baru saja keluar dari ruangannya.


"Kebetulan sekali Pak Rey, Bapak ini ingin bertemu dengan Pak Raffa," seru sang resepsionis.


"Oh baiklah, biar saya yang antarkan Bapak ini."


"Ya ampun, tampan sekali Mas-masnya," batin Linda dengan terus memperhatikan Rey.


Tok..tok..tok..


"Masuk."


"Maaf Bos, Pak Willy pemilik "ANGEL GROUP" sudah datang."


"Suruh dia masuk."


Raffa pun berdiri hendak menyambut kedatangan kliennya itu.


"Silakan masuk."


Pak Willy dan Linda pun masuk, Linda semakin dibuat terperangah saat melihat Raffa yang sepuluh kali lipat lebih tampan dari Rey.


"OMG, ternyata pemilik perusahaan ini jauh lebih tampan, sudah tampan, super duper kaya, masih muda pula, sangat sempurna sepertinya aku harus bisa mendapatkannya," batin Linda dengan senyumannya.


"Selamat datang Pak Willy," sapa Raffa dan menjabat tangan Pak Willy.


"Terima kasih Pak Raffa, akhirnya saya bisa juga masuk perusahaan ini dan bertemu langsung dengan Pak Raffa, ini adalah suatu keberuntungan bagi saya," seru Pak Willy.


"Pak Willy terlalu berlebihan."


"Oh iya Pak, perkenalkan ini puteri sulung saya dia akan menjadi penerus saya ke depannya dan mungkin nanti kalau saya tidak ada, Pak Raffa bisa bertemu dengannya."


"Hallo..." sapa Linda dengan mengulurkan tangannya.


"Hallo," Raffa membalas uluran tangan Linda.


"Nama saya Linda, Pak Raffa. Senang berkenalan dengan Bos tampan dan sukses seperti Pak Raffa," sahut Linda dengan centilnya.


Raffa tampak memicingkan matanya dan berusaha melepaskan tangannya karena Linda mencengkram tangan Raffa dengan erat seolah tidak mau lepas.


"Maaf Nona, bisakah anda melepaskan tangan saya," seru Raffa dingin.


Pak Willy dan Linda merasa tersentak, Pak Willy dengan sigap menyenggol lengan Linda dan Linda pun tersadar akhirnya melepaskan cengkramannya.


"Ah, maafkan puteri saya Pak Raffa."


"Maaf Pak Raffa."


"Mari silakan duduk."


Mereka pun duduk di sofa untuk membicarakan masalah kerjasama mereka. Raffa tampak serius melihat dokumen yang dibawa oleh Pak Willy, setelah itu Raffa pun menjelaskan aturan dan perjanjian yang harus di sepakati oleh pihak Pak Willy.


Sedangkan Linda tidak henti-hentinya memperhatikan Raffa, Linda merasa terhipnotis dengan ketampanan Raffa karena pasalnya Linda baru kali ini bertemu pria setampan Raffa.


"Aku harus mendapatkan Pak Raffa, aku akan membuat Pak Raffa jatuh cinta dan bertekuk lutut kepadaku," batin Linda dengan senyumannya.


Raffa bukannya tidak menyadari, justru Raffa sangat menyadari kalau dari tadi Linda memperhatikannya. Mungkin kalau Raffa merupakan playboy, Raffa sudah tergoda dengan Linda yang berpenampilan sangat sexi itu tapi sayang, Raffa sama sekali tidak tertarik dengan wanita mana pun kecuali istrinya.


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


RAQILA LOVERS mana gift dan votenya, biar Authornya lebih semangat lagiπŸ™πŸ™


Jangan lupa


like


vote n


komen

__ADS_1


TERIMA KASIH


LOVE YOU


__ADS_2