GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA

GURU CANTIK UNTUK TUAN MUDA
Kebenaran Terungkap


__ADS_3

πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Hari ini adalah kepulangan Raffa dan Aqila, di Bandara Cyra dan Eyang sudah menunggu kedatangan mereka. Terlihat Raffa dan Aqila berjalan dengan bergandengan tangan dengan senyuman yang mengembang di kedua bibir sepasang manusia yang sedang dilanda jatuh cinta itu.


"Daddy...Mommy.." teriak Cyra yang langdung berlari menghampiri Raffa dan Aqila.


Raffa berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.


"Daddy, Cyra kangen banget sama Daddy."


"Daddy juga kangen sama Cyra, apa selama Daddy tidak ada Cyra nakal?" tanya Raffa.


"Tidak Daddy, Cyra tidak nakal Cyra menjadi anak yang baik dan penurut, iya kan Eyang?" seru Cyra.


Eyang tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Eyang, apakabar?" seru Aqila dengan memeluk Eyang Puteri.


"Eyang baik-baik saja Nak, bagaimana honeymoonnya, lancar?"


"Lancar dong Eyang," sahut Raffa.


"Apaan sih Mas," ucap Aqila dengan mencubit gemas pinggang Raffa.


"Aw, sakit Sayang."


"Mommy..." panggil Cyra.


Aqila langsung menoleh kearah Cyra yang sekarang ada di pangkuan Raffa.


"Cyra Sayang."


"Bu guru cantik, kata Daddy, Cyra boleh memanggil Bu guru dengan sebutan Mommy, apa Cyra boleh memanggil Mommy mulai dari sekarang?" tanya Cyra dengan tatapan sendunya.


Aqila tersenyun dan menganggukkan kepalanya...


"Boleh Sayang."


"Asyik, Cyra punya Mommy sekarang," teriak Cyra dan menarik leher Aqila dan mencium pipi Aqila.


Semuanya pun tertawa melihat tingkah Cyra yang sangat menggemaskan itu. Didalam mobil, Cyra tidak mau jauh-jauh dari Aqila bahkan saat ini Cyra sedang tidur di pangkuan Aqila.


"Apa sekarang Mommy akan tinggal bersama kita di rumah?" tanya Cyra.


"Iya Sayang."


"Yeaaayyy, nanti Cyra tidur sama Mommy ya."


"Apa? no..no..no..Cyra tidak boleh tidur dengan Mommy, hanya Daddy yang boleh tidur dengan Mommy," seru Raffa.


"Tidak mau, Cyra mau tidur sama Mommy kan Daddy sudah sering tidur sama Mommy, kemarin juga di Amerika Daddy tidur sama Mommy."


"Hai, siapa yang sering tidur sama Mommy? Daddy baru saja satu minggu tidur bareng Mommy, Daddy belum puas masih ingin tidur bareng Mommy," keluh Raffa.


Aqila tampak pusing mendengar perseteruan antara Cyra dan Raffa, hingga akhirnya Aqila menjewer telinga Raffa sampai Raffa meringis.


"Sayang, kenapa telinga aku di jewer sih?" keluh Raffa.


"Kamu itu Mas, tidak malu apa bertengkar dengan anak kecil?"


"Jewer saja Mommy, Daddy nakal dan jahat tidak mengizinkan Cyra tidur dengan Mommy," adu Cyra.


"Ya sudah, nanti malam Cyra tidur sama Mommy ya."


"Memang boleh, Mommy?"


"Boleh."


"Horeee....Cyra sayang Mommy," sahut Cyra dengan memeluk Aqila.


"Sayang, kok gitu? kita baru seminggu loh masih suasana pengantin baru, aku tidak mau ya kalau Cyra mengganggu honeymoon kita," protes Raffa.


"Mas jangan mulai deh," ucap Aqila dengan melototkan matanya kearah Raffa.


"Kalau begini jadinya, aku nyesel menyetujui usul kamu untuk pulang, kalau tahu akan seperti ini aku akan menetap disana selama satu tahun," gerutu Raffa dengan memalingkan wajahnya kearah luar jendela.


Eyang dan Pak Burhan yang berada di depan hanya bisa tersenyum mendengar perseteruan antara mereka bertiga tanpa berniat ikut bicara.


Sesampainya di rumah, Raffa langsung turun dari mobilnya tanpa bicara sepatah kata pun dengan wajah yang cemberut.


"Astaga, kelakuanmu Raffa seperti anak kecil saja," seru Eyang dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Cyra Sayang, kamu sama Eyang dulu ya, Mommy mau membujuk Daddymu dulu, dia marah sama Mommy," seru Aqila dengan lembut.


"Iya Mommy."


Aqila pun langsung naik ke atas menuju kamar Raffa, sesampainya di kamar terlihat Raffa sedang selonjoran di atas tempat tidur dengan mengotak-ngatik ponselnya.


"Mas, Mas tidak malu bersikap seperti anak kecil kaya gini?"


Raffa tidak menjawab bahkan Raffa menganggap Aqila seperti tidak ada.


"Mas..." teriak Aqila dengan mengambil ponsel Raffa dari tangan Raffa.


Raffa tetap tidak bergeming, malah sekarang Raffa merebahkan tubuhnya dan membelakangi Aqila. Aqila merasa jengkel karena tidak di anggap.


Aqila mulai memikirkan sesuatu, hingga muncullah sebuah ide gila di dalam otak cantiknya. Aqila perlahan melepaskan semua pakaiannya dan hanya tersisa *** dan ****** *****, dengan centilnya Aqila berjalan ke hadapan Raffa dan menyimpan ponsel Raffa di nakas yang berada tepat di hadapan Raffa.

__ADS_1


Seketika mata Raffa melotot, bahkan Raffa dengan susah payah menelan salivanya melihat Aqila seperti itu. Tanpa banyak basa-basi, Raffa langsung menarik Aqila dan mengunci Aqila di bawah tubuhya.


"Ternyata istriku sudah pandai menggoda ya," seru Raffa.


"Ish..ish..ish..siapa yang menggoda, aku gerah mau mandi, awas..." sahut Aqila.


"Kalau begini caranya kamu tidak akan bisa kabur Sayang, salah sendiri sudah memancing kucing lapar dengan ikan," ucap Raffa dengan mengedipkan matanya.


Dengan cepat dan semangat, Raffa langsung melepas semua pakaiannya dan melemparnya entah kemana. Aqila hanya bisa cekikikan karena dia sudah berhasil membuat Raffa tidak marah lagi meskipun pada kenyataannya Aqila harus mengabaikan harga dirinya untuk menggoda Raffa.


Setelah pergulatan panasnya, Raffa langsung tepar di samping Aqila. Aqila memperhatikan wajah suaminya itu dan membelai pipi Raffa.


"Rasain, capek kan? makannya jangan sok-sokan buat drama-drama deh,aku heran sama kamu Mas kok sepertinya stamina kamu kuat banget tidak ada lelahnya," gumam Aqila dengan senyumannya.


Tidak lama kemudian, Aqila pun menyusul Raffa terlelap tidur. Selama satu minggu berada di Amerika, pagi, siang, malam, Raffa tidak henti-hentinya menggarap Aqila hingga sesampainya di Indonesia, Aqila pikir dia bisa langsung istirahat setelah perjalanan panjangnya.


Tapi ternyata Raffa malah membuat drama yang mengharuskan Aqila mengabaikan harga dirinya demi perdamaian dunia.


***


"Sayang, kamu kenapa sepertinya dari kemarin kamu melamun terus?" tanya Jorge.


"Ah, tidak apa-apa Jorge aku hanya kelelahan saja."


"Ya sudah kamu istirahat saja, aku mau pergi ke Jogja dulu mau mengambil berkas-berkas yang sangat diperlukan mungkin aku tidak akan pulang malam ini, kamu tidak apa-apa kan kalau aku ditinggal sebentar?" tanya Jorge.


"Apa perlu aku temani, Jorge?"


"Tidak usah, aku cuma mau mengambil berkas saja kamu diam saja disini kasihan Louise, aku usahakan besok pulang pagi-pagi."


"Ya sudah kamu hati-hati ya."


"Iya, kamu juga istirahat ya jangan terlalu capek dan jangan banyak pikiran."


"Iya Sayang."


"Kalau begitu aku berangkat dulu."


Jorge pergi dan mencium bibir Clarissa sebelum dia berangkat.


"Hati-hati Jorge, kalau sudah sampai hubungi aku ya."


"Pasti Sayang, bye."


Jorge pun pergi meninggalkan Clarissa seorang diri di kamarnya.


"Bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu dengan Lisa?" gumam Clarissa.


***


Sore pun tiba, Clarissa berencana akan ke rumah Eyang kembali. Clarissa masih penasaran dan ingin melihat wajah anaknya yang saat ini sudah berusia lima tahun. Clarissa sangat merindukan anakknya dan ingin sekali memeluknya.


Clarissa memasuki mobilnya dan melajukan mobilnya menuju rumah Eyang. Sesampainya disana, Clarissa tampak celingukkan dan Clarissa pun nekad mengintip ke dalam rumah dari celah di pagar rumah Eyang.


"Lisa, anakku," seru Clarissa.


Bi Ria tampak terkejut dengan kedatangan Clarissa yang tiba-tiba dan dengan cepat Bi Ria menarik tubuh Cyra ke dalam dekapannya.


"Kenapa kamu bisa masuk?" tanya Bi Ria panik.


"Bi, aku mohon biarkan aku memeluk anakku sebentar saja," seru Clarissa dengan deraian airmata.


"Tidak, lebih baik sekarang kamu pergi dari rumah ini sebelum aku berteriak dan Pak Rusdi mengusir kamu," sahut Bi Ria.


"Bi, siapa Tante itu?" tanya Cyra.


"Lisa Sayang ini Mama kamu Nak, ayo sini Nak peluk Mama," bujuk Clarissa dengan berusaha mendekati Cyra.


"Siapa kamu? Cyra tidak punya Mama, Cyra hanya punya Mommy Aqila," sahut Cyra.


Hancur sudah hati Clarissa saat mendengar anakknya mengatakan kalau dirinya tidak mempunyai Mama.


"Sayang, ini Mama kamu, orang yang sudah melahirkan kamu."


"Clarissa stop..." teriak Eyang yang baru saja keluar dari rumahnya.


"Eyang aku mohon, biarkan aku memeluk anakku, aku sangat merindukannya."


"Rindu? apa saya tidak salah dengar? kalau kamu rindu, kenapa kamu baru datang sekarang setelah dia sudah berusia lima tahun? Bi Ria bawa Cyra masuk," seru Eyang.


"Baik Eyang, ayo Sayang kita masuk."


"Bi Ria tolong biarkan aku memeluk anakku."


Disaat laissa ingin mengejar Cyra, Eyang langsung menahan tangan.


"Mau kemana kamu?"


"Eyang, aku mohon aku adalah Mamanya yang sudah melahirkannya."


"Tidak, setelah apa yang kamu lakukan terhadap Cyra, kamu tidak pantas disebut sorang Mama," bentak Eyang.


"Lisa...Lisa...keluar Sayang, Mama sangat merindukanmu ayo ikut pulang bersama Mama, Sayang," teriak Clarissa seperti orang gila.


"Dia namanya Cyra bukan Lisa," bentak Eyang.


Sementara itu, Raffa baru saja selesai mandi dan Aqila sedang merias dirinya di depan cermin.


"Mas, di bawah ada apa? kok sepertinya Eyang teriak-teriak."


"Masa sih? sebentar aku pakai baju dulu."


Raffa dan Aqila tergesa-gesa turun ke bawah, di lihatnya Cyra yang menangis ketakutan di pelukkan Bi Ria.


"Bi, ada apa ini? kenapa Cyra nangis?" tanya Aqila.

__ADS_1


"Mommy, Cyra takut," seru Cyra dengan berlari ke pelukkan Aqila.


"Lisa..Lisa..ayo keluar Nak, ini Mama," teriak Clarissa.


Raffa yang mendengar teriakkan itu langsung menuju luar disusul oleh Bi Ria dan Aqila yang menggendong Cyra.


"Clarissa, ada apa lagi kamu kesini?" teriak Raffa.


"Mas, aku mohon biarkan aku memeluk anakku."


"Anakmu? siapa yang kamu maksud anakmu?" tanya Raffa.


Eyang dan Bi Ria hanya mampu diam dan menundukkan kepalanya.


"Lisa..ah maksud aku Cyra, dia anakku."


"Apa?" sahut Raffa dan Aqila bersamaan.


"Jangan ngaco kamu, Eyang mengadopsi Cyra dari Panti asuhan, sudah lebih baik sekarang kamu pergi dari sini, aku sudah muak melihat wajahmu," usir Raffa.


"Tapi Mas, Cyra beneran anakku kalau tidak percaya kamu bisa tanya kepada Eyang."


"Pak Rusdi, usir wanita ini dan jangan sampai wanita ini masuk kembali ke rumah ini," seru Raffa.


"Baik Tuan."


Pak Rusdi pun menarik Clarissa untuk keluar dari rumah itu.


"Mas Raffa, Cyra adalah anakku, aku tidak bohong Mas," teriak Clarissa.


Semua orang tidak memperdulikannya dan langsung masuk ke dalam rumah. Sesaat mereka terdiam, tidak ada yang mau memulai pembicaraan. Sedangkan Cyra dari tadi sudah menangis di pangkuan Aqila, Cyra sangat takut dengan Raffa.


"Eyang, coba jelaskan semuanya, apa yang di katakan wanita itu benar?" tanya Raffa datar tanpa melihat ke arah Eyang.


"Maafkan Eyang, Raffa."


Seketika Raffa menoleh ke arah Eyang dengan mata yang sudah memerah menahan amarah.


"Jadi, yang di katakan wanita itu benar kalau Cyra adalah anak dia?" tanya Raffa menahan amarahnya.


Aqila menyerahkan Cyra kepada Bi Ria untuk di bawa dulu ke kamarnya. Aqila mendekati Raffa dan mengusap lembut tangan Raffa.


"Mas, sabar."


"Tolong Eyang ceritakan semuanya dengan jelas tanpa ada yang di sembunyikan lagi," bentak Raffa.


Eyang dan Aqila sampai terlonjak kaget mendengar bentakan Raffa.


"Mas, jangan bentak Eyang mungkin Eyang punya alasan lain mengapa selama ini Eyang menyembunyikan semuanya," ucap Aqila dengan lembut.


Eyang menghela nafasnya dan menyiapkan kata-kata untuk menjelaskan semuanya kepada Raffa. Perlahan Eyang mulai menceritakan awal mula menemukan Cyra dan memutuskan untuk merawatnya.


Raffa tampak mengusap wajahnya dengan kasar, jadi selama ini dia menyayangi anak dari wanita yang sangat dia benci. Tanpa bicara sepatah katapun, Raffa beranjak dari duduknua dan pergi meninggalkan Eyang dan Aqila menuju kamarnya.


"Eyang, maafkan Mas Raffa biar Aqila yang bicara dengan Mas Raffa," seru Aqila.


Aqila pun menyusul Raffa ke kamarnya, terlihat Raffa sedang berdiri di balkon kamarnya. Raffa begitu terlihat emosi karena selama bertahun-tahun Eyang membohonginya. Perlahan Aqila mendekat dan memeluk Raffa dari belakang.


"Mas, Eyang tidak salah justru Eyang sangat baik mau mengurus Cyra, walaupun itu terjadi kepadaku, aku pun akan melakukan hal yang sama seperti Eyang."


Raffa membalikkan tubuhnya dan menghadap Aqila.


"Tapi kenapa Eyang menyembunyikan semuanya Sayang?"


"Mas, Eyang tahu kalau kamu itu sangat membenci Clarissa kalau Eyang memberi tahukan yang sebenarnya sudah pasti kamu tidak akan menyetujui Cyra berada disini, apa kamu tega melihat bayi itu di serahkan ke Panti asuhan?"


Raffa membawa Aqila ke dalam pelukkannya.


"Terus aku harus bagaimana sekarang? jujur, saat ini aku memang sangat menyayangi Cyra seperti anakku sendiri."


"Ya sudah, kita pertahankan Cyra saat ini Clarissa tidak berhak mengambil Cyra kembali setelah dengan kejamnya dia membuang Cyra."


"Apa kamu tidak apa-apa kalau kita mengurus Cyra? sementara kamu tahu kan Cyra anak siapa?" tanya Raffa dengan menatap lekat-lekat mata Aqila.


"Tidak Mas, aku juga saat ini sudah menyayangi Cyra dan aku tidak rela Cyra di ambil oleh Clarissa, enak saja setelah dengan teganya dia membuang Cyra sekarang dengan entengnya dia mau mengambil Cyra, aku tidak akan membiarkannya," sahut Aqila dengan seriusnya.


Raffa yang melihat expresi wajah Aqila seperti itu menjadi gemas, Raffa mencium bibir Aqila dengan gemasnya membuat Aqila memukul dada Raffa berkali-kali supaya Raffa melepaskannya karena Aqila tahu kalau di teruskan akhirnya akan berakhir di ranjang.


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


πŸ“š


Yuk siapa lagi yang mau orderπŸ€—πŸ€—




Jangan lupa


like


vote n


komen


TERIMA KASIH


LOVE YOU

__ADS_1


__ADS_2